#2010 Memories
Januari
*Pertanggungjawaban penelitian expe kelompok hompimpa alaihum gambreng..
*TOT TC 2010
Februari
Apa ya??
Tuhan menjawab doa yang Dia tahan selama 2 tahun lamanya.. Power Rangers pun berkumpul walau hanya beberapa jam.
Maret
Mmm.. Gue cuma inget ini awal semester baru..
Selain itu.. (-_-)
April
*Dan amanah itu pun tertuju pada saya sodara-sodara aka Direktur Utama TC
*Happy birthday to me.. =)
terima kasih untuk semua ucapan dan doanya di usia yang kini beranjak menuju dewasa awal.
Mei
*Ingatlah Hari Ini.. @Dufan 1405 with Acid, Amel, Arini, Arki, Babe, Eda, Ipul..
*99minutes yang terbuang begitu saja.. Mereka hilang, God..
Juni
(--'') yang gue inget ini adalah bulan deadline tugas dan UAS.
Juli
Holiday! Yang maha lama...
Agustus
Happy anniversary, RRG...
September
*I'm at Bali...
*I'm single but not available
Oktober
Dapet beasiswa dan mengganti Bleki dengan Rheddy.. =)
November
Tuhan.. Bulan ini gue ngapain ya??? Gak inget parah...
Desember
*Jalan bareng Bd1 @Kota Tua
*Gue relapse lagi karena mereka, God.. What do you think about them, Guys?! It's so BULLSHIT!!!
Gudbye my 2010..
Saya mungkin telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga, tapi lebih dari itu, saya mendapatkan lebih banyak dari apa yang telah tiada..
Friday, December 31, 2010
Friday, December 24, 2010
God, please...
Tuhan..
Bahkan di malam ini saya tidak mampu membayangkan apa yang terjadi esok..
Bukan tak mampu.. Tapi tak lagi berani.
Ya, besok..
Kata ganti dari dua buah angka yang bila dijumlahkan akan membentuk sebuah angka sempurna, sembilan..
Tapi kali ini saya memilih sebuah angka ganjil untuk mengganti 2+7 menjadi 2+5..
Yang saya tahu, Kau menyukai angka 7..
Kau ciptakan 7 hari dalam seminggu
7 Samudera.. 7 Benua.. 7 Lapis Langit.. 7 Lapis menuju inti Bumi..
Dan banyak angka 7 Kau toreh dalam firmanMu
Jadi saya pikir Kau akan melapangkan jalanNya..
Jalan kami dengan kuasaMu *amiinn..
Tuhan..
Saya telah melupakan -ya, berusaha ikhlas- atas apa yang terjadi dan yang telah terlewati..
Sangat mudah bagiMu untuk tidak lagi memberi kesempatan pada kami
Saya melewatinya, Tuhan..
Saya menerimanya..
Dan saya baik-baik saja untuk itu..
Saya tlah cukup berusaha untuk meminta, untuk mencoba dan tak berkata berbagai rupa atas apa yang saat ini Kau uji coba
Saya tlah menunggu lebih dari 1000 hari
Lebih dari apa yang tak saya kira akan membuat saya bertahan begitu lama
Kalau saya boleh bertanya,
'Sampai kapan saya akan berusaha meraih apa yang selama ini tak saya tahu dimana ujungnya?'
'Sebegitu berharganyakah hingga kau buat kami begitu jauh untuk menjadi nyata?'
'Sebesar apa Kau sayangi kami sampai Kau bentuk semua ini menjadi dunia yang jauh dari mimpi yang sempurna?'
'Serumit itukah, Tuhan? Untuk membuat saya percaya kalau kami Kau cipta untuk 'ada'?'
Malam ini saya tak peduli
Setelah segala cara saya coba untuk mempertahankan apa yang saya coba percaya
Mungkin saya menyerah..
Akan menyerah..
Namun sekali ini saja, saya mohon..
Biarkan esok 'ada'..
Bahkan di malam ini saya tidak mampu membayangkan apa yang terjadi esok..
Bukan tak mampu.. Tapi tak lagi berani.
Ya, besok..
Kata ganti dari dua buah angka yang bila dijumlahkan akan membentuk sebuah angka sempurna, sembilan..
Tapi kali ini saya memilih sebuah angka ganjil untuk mengganti 2+7 menjadi 2+5..
Yang saya tahu, Kau menyukai angka 7..
Kau ciptakan 7 hari dalam seminggu
7 Samudera.. 7 Benua.. 7 Lapis Langit.. 7 Lapis menuju inti Bumi..
Dan banyak angka 7 Kau toreh dalam firmanMu
Jadi saya pikir Kau akan melapangkan jalanNya..
Jalan kami dengan kuasaMu *amiinn..
Tuhan..
Saya telah melupakan -ya, berusaha ikhlas- atas apa yang terjadi dan yang telah terlewati..
Sangat mudah bagiMu untuk tidak lagi memberi kesempatan pada kami
Saya melewatinya, Tuhan..
Saya menerimanya..
Dan saya baik-baik saja untuk itu..
Saya tlah cukup berusaha untuk meminta, untuk mencoba dan tak berkata berbagai rupa atas apa yang saat ini Kau uji coba
Saya tlah menunggu lebih dari 1000 hari
Lebih dari apa yang tak saya kira akan membuat saya bertahan begitu lama
Kalau saya boleh bertanya,
'Sampai kapan saya akan berusaha meraih apa yang selama ini tak saya tahu dimana ujungnya?'
'Sebegitu berharganyakah hingga kau buat kami begitu jauh untuk menjadi nyata?'
'Sebesar apa Kau sayangi kami sampai Kau bentuk semua ini menjadi dunia yang jauh dari mimpi yang sempurna?'
'Serumit itukah, Tuhan? Untuk membuat saya percaya kalau kami Kau cipta untuk 'ada'?'
Malam ini saya tak peduli
Setelah segala cara saya coba untuk mempertahankan apa yang saya coba percaya
Mungkin saya menyerah..
Akan menyerah..
Namun sekali ini saja, saya mohon..
Biarkan esok 'ada'..
Wednesday, December 22, 2010
Selamat Hari Ibu, Buns.. =)
Kakak selalu sayang Bunda..
Maaf aku suka bikin salah
Maaf aku sering gak nurut
Maaf aku sering bikin Bunda kesal
Maaf aku juga sering buat Bunda cemas
Makasih udah selalu ada dan akan selalu ada untuk aku, Nduty, Adek dan Ayah..
Aku nggak bisa bikin kata-kata yang lebih oke tapi aku mau Bunda selalu tau..
Aku sayang Bunda!!!
Sayang,. Sayang,. Sayaaaaaaaangg!!!
Maaf aku suka bikin salah
Maaf aku sering gak nurut
Maaf aku sering bikin Bunda kesal
Maaf aku juga sering buat Bunda cemas
Makasih udah selalu ada dan akan selalu ada untuk aku, Nduty, Adek dan Ayah..
Aku nggak bisa bikin kata-kata yang lebih oke tapi aku mau Bunda selalu tau..
Aku sayang Bunda!!!
Sayang,. Sayang,. Sayaaaaaaaangg!!!
Thursday, December 16, 2010
Sebuah pemahaman
Saya sebenarnya tdak tau harus menulis apa..
Sebuah kata yang mendadak begitu sering terucap..
Galau..
Entah apa sebenarnya makna kata tersebut, saya hanya tau itu sebuah kata yang mendeskripsikan perasaan tak menentu..
Dikarenakan apa?
Hahahaha
entahlah..
Saya sedang galau jadi wajar saja jika saya tak mampu menjelaskan lebih lanjut..
Saya galau.. Ya, saya galau..
Pada akhirnya saya memahami..
Inilah saatnya..
Sebuah kata yang mendadak begitu sering terucap..
Galau..
Entah apa sebenarnya makna kata tersebut, saya hanya tau itu sebuah kata yang mendeskripsikan perasaan tak menentu..
Dikarenakan apa?
Hahahaha
entahlah..
Saya sedang galau jadi wajar saja jika saya tak mampu menjelaskan lebih lanjut..
Saya galau.. Ya, saya galau..
Pada akhirnya saya memahami..
Inilah saatnya..
Saturday, December 11, 2010
A
Gores.. Goresan.. Digores.. Menggores.. Tergores.. Digoreskan.. Menggoreskan.. Tergoreskan..
Luka ini milikmukah?
Milikkukah?
Milik kitakah?
Ini tanyaku, bukan milikmu
Jawablah dengan berbicara
Diam jika tak menuntut kata
Sayangnya aku menginginkan suara
Memaksamu bertutur kata
Memberikan telinga
Bersua dalam berbagai rupa
Bercitra di dalam senja
Aku tlah memberikan semua
Namun tidak untuk cinta
'ia' menunggu bukan memuja
Terpejam dalam isakan mata
Yang tak jua dapat kau jaga
Kau ada tapi bukan untuk mencinta
Ada dalam bentuk realita tak nyata
Luka ini milikmukah?
Milikkukah?
Milik kitakah?
Ini tanyaku, bukan milikmu
Jawablah dengan berbicara
Diam jika tak menuntut kata
Sayangnya aku menginginkan suara
Memaksamu bertutur kata
Memberikan telinga
Bersua dalam berbagai rupa
Bercitra di dalam senja
Aku tlah memberikan semua
Namun tidak untuk cinta
'ia' menunggu bukan memuja
Terpejam dalam isakan mata
Yang tak jua dapat kau jaga
Kau ada tapi bukan untuk mencinta
Ada dalam bentuk realita tak nyata
Friday, December 10, 2010
Siapkah?
Disaat semua bersorak menyambut hari baru, aku justru terpaku..
Dan berfikir untuk tak terlarut dalam haru
Aku melangkah
Menjauhkah?
Menghindarkah?
Tidak..
Aku butuh waktu..
Untuk tidak berlari..
Mencoba berhenti
Lalu memutuskan..
Siapkah aku mengakhiri disaat seluruh dunia tengah bersorak untuk memulai?
Dan berfikir untuk tak terlarut dalam haru
Aku melangkah
Menjauhkah?
Menghindarkah?
Tidak..
Aku butuh waktu..
Untuk tidak berlari..
Mencoba berhenti
Lalu memutuskan..
Siapkah aku mengakhiri disaat seluruh dunia tengah bersorak untuk memulai?
Sunday, December 5, 2010
Ode to my Rangers
Terhitung sembilan peredaran bulan saat terakhir kali kita duduk melingkari meja
Bersenda dengan tawa dan iringan canda gembira
Berteman keremangan cahaya dan berjuta rasa oleh apa yang dikatakan sebagai makna
Kita 'ada'..
Di bulan cinta..
Freyja's day..
Dua puluh enam dimana Venus bermain dengan Anglo-Saxon miliknya..
Di perpanjangan Sun's day yang kan berganti Moon's day ini..
Katakan ia bernama rindu
Sesuatu yang tak terdefinisi meski tlah kumainkan logikaku
Meski tlah begitu lama bertahan dalam kumparan waktu
Tak tersentuh oleh sisi sudut, hingga sela-sela nuraniku
Pada mereka yang kusebut masa lalu
Pada hati yang terlanjur beku oleh sesuatu yang kini menjadi kaku
Bukan untukku..
Bukan pula untukmu..
Tapi untuk kita..
Sesuatu yang kuanggap tiada namun tetap 'ada'
Meski dalam wujud yang telah berbeda
(usang, tapi riang.
biarlah punah, bilakah harus musnah..
semoga tetap indah..)
Seperti itulah yang terjadi disini..
Kubiarkan ia membumi dalam mimpi..
Tanpa caci, tanpa maki..
Karena semua itu pernah menjadi sesuatu yang sangat-sangat kusayangi..
Tetap kuhargai..
Sampai kini..
(hingga nanti, mungkin seperti cincin yang nantinya akan melingkar pada jari jari, sendiri-sendiri, ya menuju pada tujuannya..
nikmati saja aturan mainnya.
semua bukan milik kalian, sadar?!
dan Dia yang bolak balikkan hati.
hadapi saja, walau pa...hit dalam tebu, tetap saja; manis..)
Dia tahu apa yang aku mau..
Apa yang mereka mau..
Apa yang kita mau..
Dia memberi waktu..
Membuatku menyadari bahwa ketidakpastian inilah yang paling pasti..
Dari semua emosi, anarki hingga kata-kata yang tak lagi memakai hati
Tapi aku tahu, semua masih tersimpan begitu rapi, disini..
(kau mengerti kuasa Dia, tapi yang lain? Haha.
Beritakan pada kawan, sentuh ruang2 terdalam pada mereka, terangkan, hanya perkara waktu dan keikhlasan. Mungkin..)
kuberitakan padanya namun tak kuceritakan mengapa..
kusimpan hatiku namun tidak dengan potongan pikiranku...
mereka 'ada'...
dan tetap ada meski kini telah kukembalikan padaNya...
(sebab apa dikembalikan? Entah jarak pisahkan atau.. Ahhh.. Hanya hati. Selamat menjadi pecinta sejati kawan. Biarkan bintang iri saksisan panorama muda mudi adu rasa. Ku beritahu, sejatinya itu buah keimanan :)
Maka.. Tengoklah pada kabar iman ketika itu tiada seindah kala pertama..
Pernah melihat nyawa nyawa adu hebat? Sorak sahut bak pengantin ingin temu kala pagi..
Pernah rayai kala merdeka berpuluh tahun belakang? Dan aku hanya ingat tarik menarik 1, merebut yang 1, c...epattt.
Yaa, seperti yang ini.
satu kosong!!!!)
Bersenda dengan tawa dan iringan canda gembira
Berteman keremangan cahaya dan berjuta rasa oleh apa yang dikatakan sebagai makna
Kita 'ada'..
Di bulan cinta..
Freyja's day..
Dua puluh enam dimana Venus bermain dengan Anglo-Saxon miliknya..
Di perpanjangan Sun's day yang kan berganti Moon's day ini..
Katakan ia bernama rindu
Sesuatu yang tak terdefinisi meski tlah kumainkan logikaku
Meski tlah begitu lama bertahan dalam kumparan waktu
Tak tersentuh oleh sisi sudut, hingga sela-sela nuraniku
Pada mereka yang kusebut masa lalu
Pada hati yang terlanjur beku oleh sesuatu yang kini menjadi kaku
Bukan untukku..
Bukan pula untukmu..
Tapi untuk kita..
Sesuatu yang kuanggap tiada namun tetap 'ada'
Meski dalam wujud yang telah berbeda
(usang, tapi riang.
biarlah punah, bilakah harus musnah..
semoga tetap indah..)
Seperti itulah yang terjadi disini..
Kubiarkan ia membumi dalam mimpi..
Tanpa caci, tanpa maki..
Karena semua itu pernah menjadi sesuatu yang sangat-sangat kusayangi..
Tetap kuhargai..
Sampai kini..
(hingga nanti, mungkin seperti cincin yang nantinya akan melingkar pada jari jari, sendiri-sendiri, ya menuju pada tujuannya..
nikmati saja aturan mainnya.
semua bukan milik kalian, sadar?!
dan Dia yang bolak balikkan hati.
hadapi saja, walau pa...hit dalam tebu, tetap saja; manis..)
Dia tahu apa yang aku mau..
Apa yang mereka mau..
Apa yang kita mau..
Dia memberi waktu..
Membuatku menyadari bahwa ketidakpastian inilah yang paling pasti..
Dari semua emosi, anarki hingga kata-kata yang tak lagi memakai hati
Tapi aku tahu, semua masih tersimpan begitu rapi, disini..
(kau mengerti kuasa Dia, tapi yang lain? Haha.
Beritakan pada kawan, sentuh ruang2 terdalam pada mereka, terangkan, hanya perkara waktu dan keikhlasan. Mungkin..)
kuberitakan padanya namun tak kuceritakan mengapa..
kusimpan hatiku namun tidak dengan potongan pikiranku...
mereka 'ada'...
dan tetap ada meski kini telah kukembalikan padaNya...
(sebab apa dikembalikan? Entah jarak pisahkan atau.. Ahhh.. Hanya hati. Selamat menjadi pecinta sejati kawan. Biarkan bintang iri saksisan panorama muda mudi adu rasa. Ku beritahu, sejatinya itu buah keimanan :)
Maka.. Tengoklah pada kabar iman ketika itu tiada seindah kala pertama..
Pernah melihat nyawa nyawa adu hebat? Sorak sahut bak pengantin ingin temu kala pagi..
Pernah rayai kala merdeka berpuluh tahun belakang? Dan aku hanya ingat tarik menarik 1, merebut yang 1, c...epattt.
Yaa, seperti yang ini.
satu kosong!!!!)
Dia Boleh Tahu
Waktu kini berbeda dan aku tak lagi sama
Kuharap mereka tahu bahwa inilah harga dari sebuah 'rasa'
Usaha dari apa yang telah tercipta dari pernyataan lugasNya yang tak pernah terdengar oleh telinga
Tak terlihat oleh mata, dan dengan pasti tak terasa oleh semua panca indera
Kini, aku akan membuka semuanya..
Aku datang padanya disaat aku tak tahu harus berlari kemana
Sekali lagi kukatakan, 'aku datang padanya. Aku yang mendatanginya..'
Tak disangka..
Mengapa mereka melihatnya berbeda?
Bahkan mungkin mereka menyalahkannya,menyalahkanku, menyalahkan diri mereka..
Terserah..
Tapi kukatakan sekarang..
Aku yang memintanya untuk 'ada'..
Jadi jangan menyalahkannya jika aku tak lagi sama
Aku hanya tak mau lagi berada dalam dilema
Aku bahkan tak mau lagi mengulang waktu dimana aku telah berjalan tanpa siapa-siapa
Dia tak menjanjikan apa-apa, tak pernah menjanjikan apa-apa
Hanya saja, bersamanya selalu ada cerita
Mungkinkah?
Terserah mereka mau percaya atau tidak..
Paling tidak kepadanya aku mencoba percaya
Aku belajar menghargai apa yang disebut 'makna'
Belajar mengungkap rasa yang takkan teraba jika ku tak mampu berkata-kata
Dan apa yang takkan terungkap jika aku terus bermain dengan logika..
Dia boleh tahu..
Saat ini, seperti itulah aku..
Hidup dalam banyak dunia yang tak lagi sama dengan sebelumnya..
Kuharap mereka tahu bahwa inilah harga dari sebuah 'rasa'
Usaha dari apa yang telah tercipta dari pernyataan lugasNya yang tak pernah terdengar oleh telinga
Tak terlihat oleh mata, dan dengan pasti tak terasa oleh semua panca indera
Kini, aku akan membuka semuanya..
Aku datang padanya disaat aku tak tahu harus berlari kemana
Sekali lagi kukatakan, 'aku datang padanya. Aku yang mendatanginya..'
Tak disangka..
Mengapa mereka melihatnya berbeda?
Bahkan mungkin mereka menyalahkannya,menyalahkanku, menyalahkan diri mereka..
Terserah..
Tapi kukatakan sekarang..
Aku yang memintanya untuk 'ada'..
Jadi jangan menyalahkannya jika aku tak lagi sama
Aku hanya tak mau lagi berada dalam dilema
Aku bahkan tak mau lagi mengulang waktu dimana aku telah berjalan tanpa siapa-siapa
Dia tak menjanjikan apa-apa, tak pernah menjanjikan apa-apa
Hanya saja, bersamanya selalu ada cerita
Mungkinkah?
Terserah mereka mau percaya atau tidak..
Paling tidak kepadanya aku mencoba percaya
Aku belajar menghargai apa yang disebut 'makna'
Belajar mengungkap rasa yang takkan teraba jika ku tak mampu berkata-kata
Dan apa yang takkan terungkap jika aku terus bermain dengan logika..
Dia boleh tahu..
Saat ini, seperti itulah aku..
Hidup dalam banyak dunia yang tak lagi sama dengan sebelumnya..
Peran
Aku menatapnya dari tengah pikiran
Buram..
Jika dapat kau berada di ujung pandangan, akan lelah kuteruskan bermain dengan apa yang kutampakkan
Kau pun tak sadar bahwa kini aku tengah bermain peran
Hingga tanpa sadar tlah membuat kesalahan dari apa yang disebut keadaan
Yang mengikut pelan apa yang dikatakan sebagai penyerahan atas apa yang kini kulakonkan
Seandainya kau tahu apa yang saat ini kupikirkan, mungkin kau akan beranjak dari ketakutan dan membiarkanku untuk mengatakan..
Aku pun ketakutan..
Maka itu aku memilih untuk bermain peran..
Buram..
Jika dapat kau berada di ujung pandangan, akan lelah kuteruskan bermain dengan apa yang kutampakkan
Kau pun tak sadar bahwa kini aku tengah bermain peran
Hingga tanpa sadar tlah membuat kesalahan dari apa yang disebut keadaan
Yang mengikut pelan apa yang dikatakan sebagai penyerahan atas apa yang kini kulakonkan
Seandainya kau tahu apa yang saat ini kupikirkan, mungkin kau akan beranjak dari ketakutan dan membiarkanku untuk mengatakan..
Aku pun ketakutan..
Maka itu aku memilih untuk bermain peran..
G I L A
Apa kata mereka itu gila!
Maaf jika kukatakan dengan terbuka
Aku ingin menutup telinga meski sebenarnya aku tak kuasa
Mereka hanya menggoyang realita bahwa kita ada..
Sudahlah..
Yang kuputuskan bukanlah sesuatu yang sia-sia
Tidak juga yang bertentangan dengan norma
Hanya sedikit melenceng dari apa yang mereka sebut realita cita-cita
Aku hanya ingin berteman dengan asa, bahagia dan penuh tawa
Cukuplah..
Aku mengerti mereka ingin agar aku tak kecewa dan kuhargai itu
Terima kasih untuk segala sesuatu
Karna bagiku sudah lebih dari cukup sebuah doa darimu
Untuk aku..
Hidupku..
Juga eksistensi mayaku..
Maaf jika kukatakan dengan terbuka
Aku ingin menutup telinga meski sebenarnya aku tak kuasa
Mereka hanya menggoyang realita bahwa kita ada..
Sudahlah..
Yang kuputuskan bukanlah sesuatu yang sia-sia
Tidak juga yang bertentangan dengan norma
Hanya sedikit melenceng dari apa yang mereka sebut realita cita-cita
Aku hanya ingin berteman dengan asa, bahagia dan penuh tawa
Cukuplah..
Aku mengerti mereka ingin agar aku tak kecewa dan kuhargai itu
Terima kasih untuk segala sesuatu
Karna bagiku sudah lebih dari cukup sebuah doa darimu
Untuk aku..
Hidupku..
Juga eksistensi mayaku..
Tuesday, November 23, 2010
Apakah Anda Percaya?
Banyak yang mengatakan kalo seseorang yang cerdas dengan ESQ tinggi mampu mendapatkan apa yang dia mau.. Benarkah begitu?
Banyak pula seseorang dengan kapasitas rata-rata mampu mendapatkan apa pun yang dia mau, bahkan melampaui apa yang didapat mereka yang memiliki ESQ tinggi tersebut. Sebagian besar mengatakan itu terjadi karena keberuntungan.
Apa anda percaya dengan yang dinamakan faktor keberuntungan?
Seingat saya, jarang bahkan tak pernah saya menemukan faktor keberuntungan menjadi IV maupun DV dalam sebuah penelitian -maaf jika ternyata ada penelitian yang menjadikan keberuntungan sebagai objek. Hanya saja saya memang belum pernah membaca penelitian tsb-. Dengan kata lain, keberuntungan bukanlah sebuah konstruk yang mampu didefinisikan secara gamblang dan ilmiah.
Saya sendiri bukan tipikal manusia penganut faktor 'Luck'. Bagi saya ada begitu banyak alasan rasional yang dapat dijabarkan untuk menghargai dan mengapresiasi keberhasilan seseorang dibandingkan menjadikan keberuntungan mereka sebagai excuse keberhasilan mereka.
Meski tak menganut faktor tsb, entah mengapa dalam beberapa hal saya beruntung.
Ada beberpa kejadian penting yang berujung pada keberhasilan dan saya menganggap saya BERUNTUNG..
*bersambung
Ngantuk gw..
Banyak pula seseorang dengan kapasitas rata-rata mampu mendapatkan apa pun yang dia mau, bahkan melampaui apa yang didapat mereka yang memiliki ESQ tinggi tersebut. Sebagian besar mengatakan itu terjadi karena keberuntungan.
Apa anda percaya dengan yang dinamakan faktor keberuntungan?
Seingat saya, jarang bahkan tak pernah saya menemukan faktor keberuntungan menjadi IV maupun DV dalam sebuah penelitian -maaf jika ternyata ada penelitian yang menjadikan keberuntungan sebagai objek. Hanya saja saya memang belum pernah membaca penelitian tsb-. Dengan kata lain, keberuntungan bukanlah sebuah konstruk yang mampu didefinisikan secara gamblang dan ilmiah.
Saya sendiri bukan tipikal manusia penganut faktor 'Luck'. Bagi saya ada begitu banyak alasan rasional yang dapat dijabarkan untuk menghargai dan mengapresiasi keberhasilan seseorang dibandingkan menjadikan keberuntungan mereka sebagai excuse keberhasilan mereka.
Meski tak menganut faktor tsb, entah mengapa dalam beberapa hal saya beruntung.
Ada beberpa kejadian penting yang berujung pada keberhasilan dan saya menganggap saya BERUNTUNG..
*bersambung
Ngantuk gw..
Thursday, October 21, 2010
It's Time...
dan saatnya saya berusaha, berdoa dan menjaga mata dari keinginan untuk meninggalkan dunia yang teraba oleh panca indera...
Tuesday, August 24, 2010
Sesimpel ini kok...
Rasanya seperti diangkat tinggi-tinggi lalu dilepas..
BUMM!!
Seperti itu bunyinya saat kembali bersentuhan dengan bumi
Dapat dipastikan ada lebam, luka, baret, bengkak bahkan patah
Tenang.. Tidak sampai mati kok ^_^
Karena semua itu hampir menjadi rutinitas
Jadi, ya nikmati saja..
Sekali lagi...
Semua itu tak membuatnya mati
Hanya membutuhkan waktu untuk memulihkan diri dan mengisi kekosongan energi
Untuk kembali diangkat tinggi lalu dihempas lagi
Dia tidak mati, setidaknya hingga saat ini ia belum mati
Hanya lelah sekali..
Mencoba mengatasi hati yang memaksanya terus berlari
Dia telah berlari mengejarmu
Dia telah bersabar menunggumu
Dia telah bermimpi dibelakangmu
Apalagi yang harus dia lakukan untukmu??
Sepertinya kau senang melihatnya bimbang dihadapanmu
Jangan kau minta ia pergi, karena itu sama saja kau menginginkannya mati
Jangan kau minta ia menunggu, karena itu hanya membuatnya ragu
Jangan kau minta ia bermimpi, karena itu hanya mengingatkannya pada janji yang tak bisa kau tepati
Jangan kau minta ia berlari, karena itu hanya membuatnya tak mampu lagi berdiri
Jangan kau minta ia 'ada', karena itu hanya membuatnya terus terjaga
Tapi beri ia arti bahwa kau akan tetap ada disisi
Beri ia hati, tanpa kau perlu berjanji
Karena ia hanya butuh tempat aman yang nyaman
Yang membuatnya percaya untuk bersandar...
BUMM!!
Seperti itu bunyinya saat kembali bersentuhan dengan bumi
Dapat dipastikan ada lebam, luka, baret, bengkak bahkan patah
Tenang.. Tidak sampai mati kok ^_^
Karena semua itu hampir menjadi rutinitas
Jadi, ya nikmati saja..
Sekali lagi...
Semua itu tak membuatnya mati
Hanya membutuhkan waktu untuk memulihkan diri dan mengisi kekosongan energi
Untuk kembali diangkat tinggi lalu dihempas lagi
Dia tidak mati, setidaknya hingga saat ini ia belum mati
Hanya lelah sekali..
Mencoba mengatasi hati yang memaksanya terus berlari
Dia telah berlari mengejarmu
Dia telah bersabar menunggumu
Dia telah bermimpi dibelakangmu
Apalagi yang harus dia lakukan untukmu??
Sepertinya kau senang melihatnya bimbang dihadapanmu
Jangan kau minta ia pergi, karena itu sama saja kau menginginkannya mati
Jangan kau minta ia menunggu, karena itu hanya membuatnya ragu
Jangan kau minta ia bermimpi, karena itu hanya mengingatkannya pada janji yang tak bisa kau tepati
Jangan kau minta ia berlari, karena itu hanya membuatnya tak mampu lagi berdiri
Jangan kau minta ia 'ada', karena itu hanya membuatnya terus terjaga
Tapi beri ia arti bahwa kau akan tetap ada disisi
Beri ia hati, tanpa kau perlu berjanji
Karena ia hanya butuh tempat aman yang nyaman
Yang membuatnya percaya untuk bersandar...
Sunday, August 15, 2010
Ini Bukan Akhir
Cinta itu makna
Sakit itu nada
Hidup itu dunia
Kita adalah kumpulan rasa
Maka biarkan semua menjadi jejak hidup kami
Para pecinta..
Aku bertanya tentang apa yang disebut 'berbeda'
Yang kudapat hanya tanda bahwa kita tak lagi sama
Aku bertanya tentang apa yang disebut 'melepas'
Yang aku tau, aku sanggup meski aku tak mau
Aku bertanya tentang apa yang disebut 'bertahan'
Yang kulakukan aku menunggu meski semua kini hanya tersisa serpihan dari apa yang pernah 'ada'
Ketika kukatakan aku tidak ingin melihatnya, pada detik yang sama aku mengingatnya
Ketika aku yakin untuk melepasnya, pada detik yang sama aku yakin untuk mempertahankannya
Ketika kuputuskan untuk pergi darinya, pada detik yang sama aku memutuskan untuk tetap berada disisinya
Taukah kau seperti apa rasanya menjadi aku?
Mungkin kau tak tau..
Setidaknya kutulis ini agar kau mengerti
Seperti itulah saat terindah yang pernah kau berikan
Sayangnya saat itu kau tak ada..
Atau bahkan sebenarnya kau menyadari bahwa situasi ini ada
Namun menutup mata
Yeahh..
Seperti itulah kita..
Yang mau tak mau mencoba mengerti..
Bahwa tidak akan pernah ada yang sama pada situasi yang telah berbeda
Ini untukku.. Untukmu.. Untuk mereka.. Untuk kita..
Ini bukan akhir..
Sakit itu nada
Hidup itu dunia
Kita adalah kumpulan rasa
Maka biarkan semua menjadi jejak hidup kami
Para pecinta..
Aku bertanya tentang apa yang disebut 'berbeda'
Yang kudapat hanya tanda bahwa kita tak lagi sama
Aku bertanya tentang apa yang disebut 'melepas'
Yang aku tau, aku sanggup meski aku tak mau
Aku bertanya tentang apa yang disebut 'bertahan'
Yang kulakukan aku menunggu meski semua kini hanya tersisa serpihan dari apa yang pernah 'ada'
Ketika kukatakan aku tidak ingin melihatnya, pada detik yang sama aku mengingatnya
Ketika aku yakin untuk melepasnya, pada detik yang sama aku yakin untuk mempertahankannya
Ketika kuputuskan untuk pergi darinya, pada detik yang sama aku memutuskan untuk tetap berada disisinya
Taukah kau seperti apa rasanya menjadi aku?
Mungkin kau tak tau..
Setidaknya kutulis ini agar kau mengerti
Seperti itulah saat terindah yang pernah kau berikan
Sayangnya saat itu kau tak ada..
Atau bahkan sebenarnya kau menyadari bahwa situasi ini ada
Namun menutup mata
Yeahh..
Seperti itulah kita..
Yang mau tak mau mencoba mengerti..
Bahwa tidak akan pernah ada yang sama pada situasi yang telah berbeda
Ini untukku.. Untukmu.. Untuk mereka.. Untuk kita..
Ini bukan akhir..
Wednesday, August 4, 2010
Males Mikirin Judul =p
Mau cerita apa ya?? Nggak tau juga mau cerita apa.. *geblek.. Tapi yang lagi geblek ini imut2.. -dibolehin ya skali-kali narsis.. sebelom gue kepikiran aplot video gue yg genjrang-genjreng sama My Alle dengan lagu ‘Salahkah’ yang mulai banyak fansnya =p
hahaha.. ini kelakuan hanya terjadi pada tanggal 3 Agustus kayaknya..
Bisa gitu gue ngejalanin dua suasana hati sekaligus.. Seneng plus ancur lebur yang masi gak jelas.. *lebay
Ehh gila.. Kayaknya gue emang rada2 gak waras dah.. Atau emang obsesif kompulsif gue makin parah??
Cuma gara2 satu huruf di satu mata kuliah yang paling bikin gue kekurangan waktu tidur di semester 6, bisa ngerusak suasana hati gue seharian. Ngamuk2, maki2 (walo yang gue maki2 juga diri gue sendiri), eh ujung2nya sekarang gue cekikikan geli kalo inget kelakuan gue tadi terutama saat gue curhat via SMS yang super duper stupid and childish *lebih tepatnya keras kepala itu. Makin berasa aja kalo jaman dulu gue emang difficult child. hahaha
Mungkin banyak yang ngira, nyangka, menebak-nebak atau parahnya yakin kalo kelakuan gue ini karena sirikan dan nggak mau ngalah. Tapi gue akan bilang NGGAK!
Gue emang gila kompetisi dan butuh banyak kompetitor. Bisa dibilang hidup gue garing tanpa kompetisi, tapi gue bukan tipikal yang gagal terus bakal nyalahin orang lain atau nyari kesalahan orang lain. NGGAKLAH!!
Kegagalan gue is kegagalan saya is kegagalanku is kegagalan seorang aish..
Gue yang gagal ya berarti saat itu juga terjadi pertempuran ‘disini’.
Antara GUE, AKU dan SAYA!
Nggak ada variabel lain disitu.. Alamak.. Gue berasa LoC Internal boo.. hahaa
Tapi ya mau gimana lagi.. Tadi emang bawaannya sesek napas gue..
Kalo boleh inget kata2 Wali kelas gue jaman eSDe.. Beliau bilang..
‘Gini nih mental juara kelas.. Nggak bisa lihat soal nganggur. Maunya dikerjain. Angkat tangan paling cepet. Giliran posisinya diambil, bisa dipastiin bagi rapor berikutnya, posisi juaranya diambil lagi..’
Hadeuuhh Bueeee… Mental juara kadang membuat saya gila!! *Siapa suruh lo gila?!
Banyak yang bilang yang penting itu bukan nilai tapi ilmu. Buat gue ilmu sama nilai sama pentingnya *tolong prinsip saya ini tidak disamakan dengan maruk yaa ini bentuk lain dari usaha. Dan selama ini gue berusaha keras *cailehh… sing: ‘Kerja keras bagai kuda… Dicambuk dan didera… untuk dapet si ilmu itu sejalan ama si nilai. Nilai begitu ya karena ilmu gue disitu emang sebegitu-lahh alias bisa dipertanggung jawabkan sesuai dengan apa yang tercantum di situ walopun kemampuan recall gue juga kadang-kadang suka konslet.. Makanya gue rada2 syok dengan kejadian hari ini *lebai lagi gue..
Hari dimana gue ngerasa stupid bin moroon!!!
Entahlah.. Tapi gue dipesenin kalo gue gak boleh ngatain diri gue kayak gitu karena sebenernya gue tuh nggak stupid apalagi moroon *terima kasih atas kepercayaannya menuliskan seperti itu dan membuat sedikit rasa percaya diri saya kembali. Sekarang saya sudah lebih baik daripada beberapa jam yang lalu..
Perasaan daritadi gue tuh ngomel2 buat katarsis aja gitu. Biar nggak direpres. Abisan udah kebanyakan yang di repres jadi kalo makin banyak ntar meledak lagi. Masa gue belom jadi Psikolog udah disuruh bolak-balik ke ruang konsultasi duluan?? Makasih… Nggak dulu yaaa.. haa
Seperti inilah status facebook gue beberapa jam yang lalu..
Kata gue : “Why me, God??”
Kata Tuhan : “Why not, Honey..”
*Tapi saya beneran sedih nih, Tuhan…
Untuk malam ini aja… Ijinin yaaa… Besok udah nggak kok..
Promise.. ^_^ v
Dan dinihari ini gue kembali ingat dengan satu kata klise tapi pamungkas yang dari jaman dulu selalu gue bisikin dalam hati gue setiap kali gue nge-down..
C’mon, Ish…
Rencana Allah selalu indah kok…
Tunggu aja..
Allah tau.. Tapi nunggu…
Nunggu lo bikin perubahan buat diri lo…
Bukan ngeliatin lo guling-gulingan, marah-marah, nangis-nangis, maki-maki nggak jelas kayak anak kelas 4 eSDe yang nggak bisa masuk Dufan karena DUFAN lagi rame banget!*hubungannya apa? Ayo coba direnungkan.. Gue udah dapet jawabannya 10 tahun yang lalu..
Hidup lo ada di tangan lo..
Bukan di tangan bonyok lo, bukan di tangan temen-temen lo, dosen lo, apalagi di tangan pacar lo..
Jalani hidup lo.. Tapi NGGAK PAKE CENGENG!!
*Okay.. Selesai sampai sini cerita tanpa judulnya…
Paling nggak thanks to YOU yang udah pada bersedia menemani saya mencurahkan seluruh isi hati, jiwa dan raga. Hwaaa… bener tuh kayaknya interpretasi HTP gue yang menyebutkan kalo gue membutuhkan banyak sekali dukungan!!
Makasih juga buat kakak-kakak mentorku yang bersedia direpotkan dan diganggu juniormu ini..
Dan itu telah banyak saya dapatkan dari kamu.. kamu.. dan kamu..
Tengkyu everybody..!!
Gue akan nuntasin apa yang masih membuat gue penasaran sampai sampe gue nggak minat untuk tidur padahal malam sebelumnya gue baru bobok jam setengah 4 dan bangun jam 6 pagi.
Dan hasilnya…
Terserah Kau, Tuhan..
Saya pasrah… Paling tidak saya sudah berusaha.. Dan saya percaya..
RencanaMu selalu indah..
Sekalipun itu untuk saya.. HambaMu yang sholatnya masih suka bolong-bolong.. Masih suka ngebokis dan melakukan hal-hal di luar kelakuan manusia normal *Sekalipun gue harus ngulang.. Itu tetep indah kok.. Pasti ada maksud dibalik semua itu.. ^_^
Tidak akan pernah ada yang menggantikan posisiMu..
Kau-lah kekuatan terbesar dalam hidupku..
*Jiahhhh.. panjang juga ya curhat abal-abal gue…
GUBRAK! GASRUK! GEDEBUK!
hahaha.. ini kelakuan hanya terjadi pada tanggal 3 Agustus kayaknya..
Bisa gitu gue ngejalanin dua suasana hati sekaligus.. Seneng plus ancur lebur yang masi gak jelas.. *lebay
Ehh gila.. Kayaknya gue emang rada2 gak waras dah.. Atau emang obsesif kompulsif gue makin parah??
Cuma gara2 satu huruf di satu mata kuliah yang paling bikin gue kekurangan waktu tidur di semester 6, bisa ngerusak suasana hati gue seharian. Ngamuk2, maki2 (walo yang gue maki2 juga diri gue sendiri), eh ujung2nya sekarang gue cekikikan geli kalo inget kelakuan gue tadi terutama saat gue curhat via SMS yang super duper stupid and childish *lebih tepatnya keras kepala itu. Makin berasa aja kalo jaman dulu gue emang difficult child. hahaha
Mungkin banyak yang ngira, nyangka, menebak-nebak atau parahnya yakin kalo kelakuan gue ini karena sirikan dan nggak mau ngalah. Tapi gue akan bilang NGGAK!
Gue emang gila kompetisi dan butuh banyak kompetitor. Bisa dibilang hidup gue garing tanpa kompetisi, tapi gue bukan tipikal yang gagal terus bakal nyalahin orang lain atau nyari kesalahan orang lain. NGGAKLAH!!
Kegagalan gue is kegagalan saya is kegagalanku is kegagalan seorang aish..
Gue yang gagal ya berarti saat itu juga terjadi pertempuran ‘disini’.
Antara GUE, AKU dan SAYA!
Nggak ada variabel lain disitu.. Alamak.. Gue berasa LoC Internal boo.. hahaa
Tapi ya mau gimana lagi.. Tadi emang bawaannya sesek napas gue..
Kalo boleh inget kata2 Wali kelas gue jaman eSDe.. Beliau bilang..
‘Gini nih mental juara kelas.. Nggak bisa lihat soal nganggur. Maunya dikerjain. Angkat tangan paling cepet. Giliran posisinya diambil, bisa dipastiin bagi rapor berikutnya, posisi juaranya diambil lagi..’
Hadeuuhh Bueeee… Mental juara kadang membuat saya gila!! *Siapa suruh lo gila?!
Banyak yang bilang yang penting itu bukan nilai tapi ilmu. Buat gue ilmu sama nilai sama pentingnya *tolong prinsip saya ini tidak disamakan dengan maruk yaa ini bentuk lain dari usaha. Dan selama ini gue berusaha keras *cailehh… sing: ‘Kerja keras bagai kuda… Dicambuk dan didera… untuk dapet si ilmu itu sejalan ama si nilai. Nilai begitu ya karena ilmu gue disitu emang sebegitu-lahh alias bisa dipertanggung jawabkan sesuai dengan apa yang tercantum di situ walopun kemampuan recall gue juga kadang-kadang suka konslet.. Makanya gue rada2 syok dengan kejadian hari ini *lebai lagi gue..
Hari dimana gue ngerasa stupid bin moroon!!!
Entahlah.. Tapi gue dipesenin kalo gue gak boleh ngatain diri gue kayak gitu karena sebenernya gue tuh nggak stupid apalagi moroon *terima kasih atas kepercayaannya menuliskan seperti itu dan membuat sedikit rasa percaya diri saya kembali. Sekarang saya sudah lebih baik daripada beberapa jam yang lalu..
Perasaan daritadi gue tuh ngomel2 buat katarsis aja gitu. Biar nggak direpres. Abisan udah kebanyakan yang di repres jadi kalo makin banyak ntar meledak lagi. Masa gue belom jadi Psikolog udah disuruh bolak-balik ke ruang konsultasi duluan?? Makasih… Nggak dulu yaaa.. haa
Seperti inilah status facebook gue beberapa jam yang lalu..
Kata gue : “Why me, God??”
Kata Tuhan : “Why not, Honey..”
*Tapi saya beneran sedih nih, Tuhan…
Untuk malam ini aja… Ijinin yaaa… Besok udah nggak kok..
Promise.. ^_^ v
Dan dinihari ini gue kembali ingat dengan satu kata klise tapi pamungkas yang dari jaman dulu selalu gue bisikin dalam hati gue setiap kali gue nge-down..
C’mon, Ish…
Rencana Allah selalu indah kok…
Tunggu aja..
Allah tau.. Tapi nunggu…
Nunggu lo bikin perubahan buat diri lo…
Bukan ngeliatin lo guling-gulingan, marah-marah, nangis-nangis, maki-maki nggak jelas kayak anak kelas 4 eSDe yang nggak bisa masuk Dufan karena DUFAN lagi rame banget!*hubungannya apa? Ayo coba direnungkan.. Gue udah dapet jawabannya 10 tahun yang lalu..
Hidup lo ada di tangan lo..
Bukan di tangan bonyok lo, bukan di tangan temen-temen lo, dosen lo, apalagi di tangan pacar lo..
Jalani hidup lo.. Tapi NGGAK PAKE CENGENG!!
*Okay.. Selesai sampai sini cerita tanpa judulnya…
Paling nggak thanks to YOU yang udah pada bersedia menemani saya mencurahkan seluruh isi hati, jiwa dan raga. Hwaaa… bener tuh kayaknya interpretasi HTP gue yang menyebutkan kalo gue membutuhkan banyak sekali dukungan!!
Makasih juga buat kakak-kakak mentorku yang bersedia direpotkan dan diganggu juniormu ini..
Dan itu telah banyak saya dapatkan dari kamu.. kamu.. dan kamu..
Tengkyu everybody..!!
Gue akan nuntasin apa yang masih membuat gue penasaran sampai sampe gue nggak minat untuk tidur padahal malam sebelumnya gue baru bobok jam setengah 4 dan bangun jam 6 pagi.
Dan hasilnya…
Terserah Kau, Tuhan..
Saya pasrah… Paling tidak saya sudah berusaha.. Dan saya percaya..
RencanaMu selalu indah..
Sekalipun itu untuk saya.. HambaMu yang sholatnya masih suka bolong-bolong.. Masih suka ngebokis dan melakukan hal-hal di luar kelakuan manusia normal *Sekalipun gue harus ngulang.. Itu tetep indah kok.. Pasti ada maksud dibalik semua itu.. ^_^
Tidak akan pernah ada yang menggantikan posisiMu..
Kau-lah kekuatan terbesar dalam hidupku..
*Jiahhhh.. panjang juga ya curhat abal-abal gue…
GUBRAK! GASRUK! GEDEBUK!
Tuesday, July 27, 2010
Power Rangers-ku…
Tiga tahun dua bulan tepat hari ini…
Terima kasih untuk segalanya…
Sayangnya… Waktunya.. Kenangannya…
Gue nggak mau nunggu lagi… So, hari ini gue cuma mau bilang…
Gue nggak akan lagi dateng ke tempat itu…
Nggak 10 bulan lagi atau 22 bulan lagi…
Udahan yaaaa…
Tiga tahun udah cukup untuk gue dapet penjelasan atas segalanya…
Kita selesai…
You’re the best I ever had..
Forever and ever…
Mungkin selama ini gue yang terlalu banyak berekspektasi..
Kita tetep temen tapi untuk hal yang satu itu…
I’m so sorry..
Gue udah nggak kuat.. hehehe
Gue nggak akan bakar buku kita…
Gue akan simpan tuh buku di tempat paling aman dan nyaman untuk gue..
Untuk kita…
^_^
Terima kasih untuk segalanya…
Sayangnya… Waktunya.. Kenangannya…
Gue nggak mau nunggu lagi… So, hari ini gue cuma mau bilang…
Gue nggak akan lagi dateng ke tempat itu…
Nggak 10 bulan lagi atau 22 bulan lagi…
Udahan yaaaa…
Tiga tahun udah cukup untuk gue dapet penjelasan atas segalanya…
Kita selesai…
You’re the best I ever had..
Forever and ever…
Mungkin selama ini gue yang terlalu banyak berekspektasi..
Kita tetep temen tapi untuk hal yang satu itu…
I’m so sorry..
Gue udah nggak kuat.. hehehe
Gue nggak akan bakar buku kita…
Gue akan simpan tuh buku di tempat paling aman dan nyaman untuk gue..
Untuk kita…
^_^
Monday, July 26, 2010
Tuhan.. Aku mau curhat yaaa...
Tuhan..
Saat ku mulai menulis di sini.. Aku tau, aku akan banyak menangisi diriku, kebodohanku…
Bahkan dapat kukatakan inilah sisi rapuh dalam hidupku, ketakutanku..
Ketakutan yang sama yang pernah muncul padaku bertahun-tahun lalu.
Aku tau, kau tau sekali apa yang tengah kurasakan saat ini..
Mimpi-mimpiku.. Keinginanku.. Kebimbangan bahkah hal yang mungkin tak kusadari.
Tuhan..
Aku kangen sekali.. Aku kangen mereka sekalipun aku tak ingin bersama mereka.
Tapi aku membenci apa yang disebut kecanggungan. Aku benci saat ini.
Apa yang kusebut dengan situasi yang ‘mematikan’ eksistensiku sebagai seorang manusia.
Sebagai seorang manusia yang dilepaskan tanpa sedikitpun niat menahanku untuk tetap tinggal.
Tuhan..
Saat ini aku ingin berbicara tentang mereka yang hampir tiga tahun lamanya bersamaku.
Semua yang diawali sebuah perkenalan. Adaptasi tanpa rasa saling memiliki.
Semua yang berjalan dalam rumah mereka sendiri selama 365 hari hingga akhirnya Kau beri janji.
Kau janjikan kami sebuah home bukan house yang dapat kami tempati 3 x 365 hari lagi. Jumlah yang jauh lebih lama dari 365 hari membosankan yang awalnya Kau berikan pada kami.
Kau berikan itu pada kami hingga membuat kami dapat tinggal dengan rasa yang tak lagi tanpa memiliki.
Jujur, aku tak pernah tau apa yang ada dalam pikiran mereka. Yang aku tau aku merasa nyaman-nyaman saja bersama mereka.
Sungguh Tuhan!
Aku sangat nyaman berada disana. Dan malam ini aku sangat berharap kalau saat itu mereka pun nyaman tinggal bersamaku dalam home yang luas dan penuh tawa itu.
½ x 365 pertama, aku tahu aku menemukan kembali apa yang disebut Two-D.
Saat-saat aku dengan bebasnya keluar masuk dalam lingkar yang sebenarnya mengikatku.
½ x 365 kedua, aku tahu bahwa cinta selalu ada dan ‘no heart feelings’ hanya sebuah tanda tanya.
Tapi aku percaya, itulah saat-saat merajanya sebuah masa bahkan yang paling menggila, kamilah sang penguasa. Inilah Glatto Splato kedua yang pernah hidup dan membuat duniaku berwarna.
½ x 365 ketiga, rasanya aku tak berani mengatakan apa-apa. Saat dimana semua begitu menekan namun aku tak mampu berteriak menyebut nama mereka. Tak ingin melibatkan mereka. Saat dimana aku tau, aku bermain dengan hati. Aku menyisakan hatiku untuk mereka.
½ x 365 keempat, semua dimulai dengan air mata.
Kau tau? Tak sampai hati aku melihat mereka seperti itu.
Seolah kembali berhadapan dengan The Black Team. Ada keengganan, tapi aku tau aku marah jika ada yang menyakiti mereka. Bahkan aku tak terima saat beberapa dari orang di luar kami mulai berkata yang sebenarnya tentang kami. Yang mungkin saat itu tak kami sadari. Kami telah berubah.
Tempat itu menjadi lebih buruk dari 365 hari paling awal yang belum Kau janjikan apa-apa.
Tuhan..
Aku sayang sekali dengan mereka…
Duhh.. berkaca-kaca lagi deh nulisnya.
Aku menyadari roda berputar. Ada masanya kami superior dan mungkin inilah saatnya kami tampak begitu inferior –setidaknya seperti itu dimataku-.
Tapi sekali lagi aku ingin mengatakan.. Aku sangat sayang mereka.
Aku akan memberitahukan kepadaMu mengapa aku bisa begitu meyayangi mereka.
Tapi sebelum itu, aku juga ingin mengatakan mengapa aku ‘membenci’ mereka.
Aku kehilangan ‘home’. Bahkan mereka tak lagi membuat ‘house’, tapi lebih memilih tinggal di apartemen mereka. Sendirian.
Aku akan sangat bersalah – menurut beberapa orang- jika menjadikan berbagai assignments sebagai excuse yang membuat semua situasi menjadi seperti ini. Tapi kenyataannya sampai saat ini, memang itulah alasan yang sering kumaki karena telah menghilangkan ‘home’ku.
Aku muak dengan semua yang tampak begitu ‘baik’ di tengah suasana hatiku yang sangat buruk.
Entah mereka yang benar-benar ‘baik’ atau berusaha tampak ‘baik’, aku menganggap ‘baik’ = palsu.
Atau bahkan memang aku-lah yang telah mengacaukan semua yang kini nampak baik.
Aku tak mendapat pembenaran jika memilih salah satunya karena kedua alasan itu adalah yang sebenarnya. Aku memang telah sangat tidak adil pada mereka, tapi aku hanya ingin mengungkapkan apa yang saat ini aku rasakan.
Tapi sekali lagi kukatakan.. Aku sayang mereka dengan alasan yang berkali lipat banyaknya dibandingkan dari apa yang telah membuatku ‘malas’ dengan mereka.
Mereka yang selalu membuatku tertawa, bahkan disaat paling mengenaskan yang saat itu menimpaku.
Mereka membuatku lupa bahwa tanggal 27 itu ada di setiap bulannya nahkan disetiap tahunnya.
Mereka adalah tumbuhan yang mengajakku tumbuh, belajar dan bangkit dari ‘kematian’.
Merekalah kegilaan dan kebandelan yang kerap kami ekspresikan sebagai bentuk dari kebebasan.
Pada dasarnya mereka sangatlah baik dan jauh dari palsu.
Aku tau, palsu hanya bentuk dari adaptasi, bukan?
Bentuk repres sebagai kata ganti dari melindungi.
Melindungi siapa lagi kalau bukan melindungi eksistensi kami.
Aku berani bertaruh, tak hanya aku yang merasakan hal seperti ini. Ketidakwarasan ini. Keanehan ini.
Tapi aku lebih berani lagi untuk bertaruh bahwa tak hanya aku yang menginginkan dan berusaha agar ‘home’ itu kembali.
Tuhan..
Aku mohon di 365 hari terakhir yang akan Kau berikan nanti, Kau kembalikan ‘home’ kami.
Bukan kami tak menginginkan apartemen yang juga kau berikan, tapi tolong..
Untuk kali ini kembalikan kami.
Tak hanya ‘home’, tapi kami..
Tak hanya aku dan mereka, tapi kami..
Tuhan..
Sungguh aku begitu familiar dengan situasi ini. Aku tak ingin mengulang waktu yang salah itu lagi.
Jadi aku mohon..
Dimanapun mereka berada saat ini, jaga mereka ya, Tuhan..
Karena aku sayang mereka..
S A Y A N G . . .
Saat ku mulai menulis di sini.. Aku tau, aku akan banyak menangisi diriku, kebodohanku…
Bahkan dapat kukatakan inilah sisi rapuh dalam hidupku, ketakutanku..
Ketakutan yang sama yang pernah muncul padaku bertahun-tahun lalu.
Aku tau, kau tau sekali apa yang tengah kurasakan saat ini..
Mimpi-mimpiku.. Keinginanku.. Kebimbangan bahkah hal yang mungkin tak kusadari.
Tuhan..
Aku kangen sekali.. Aku kangen mereka sekalipun aku tak ingin bersama mereka.
Tapi aku membenci apa yang disebut kecanggungan. Aku benci saat ini.
Apa yang kusebut dengan situasi yang ‘mematikan’ eksistensiku sebagai seorang manusia.
Sebagai seorang manusia yang dilepaskan tanpa sedikitpun niat menahanku untuk tetap tinggal.
Tuhan..
Saat ini aku ingin berbicara tentang mereka yang hampir tiga tahun lamanya bersamaku.
Semua yang diawali sebuah perkenalan. Adaptasi tanpa rasa saling memiliki.
Semua yang berjalan dalam rumah mereka sendiri selama 365 hari hingga akhirnya Kau beri janji.
Kau janjikan kami sebuah home bukan house yang dapat kami tempati 3 x 365 hari lagi. Jumlah yang jauh lebih lama dari 365 hari membosankan yang awalnya Kau berikan pada kami.
Kau berikan itu pada kami hingga membuat kami dapat tinggal dengan rasa yang tak lagi tanpa memiliki.
Jujur, aku tak pernah tau apa yang ada dalam pikiran mereka. Yang aku tau aku merasa nyaman-nyaman saja bersama mereka.
Sungguh Tuhan!
Aku sangat nyaman berada disana. Dan malam ini aku sangat berharap kalau saat itu mereka pun nyaman tinggal bersamaku dalam home yang luas dan penuh tawa itu.
½ x 365 pertama, aku tahu aku menemukan kembali apa yang disebut Two-D.
Saat-saat aku dengan bebasnya keluar masuk dalam lingkar yang sebenarnya mengikatku.
½ x 365 kedua, aku tahu bahwa cinta selalu ada dan ‘no heart feelings’ hanya sebuah tanda tanya.
Tapi aku percaya, itulah saat-saat merajanya sebuah masa bahkan yang paling menggila, kamilah sang penguasa. Inilah Glatto Splato kedua yang pernah hidup dan membuat duniaku berwarna.
½ x 365 ketiga, rasanya aku tak berani mengatakan apa-apa. Saat dimana semua begitu menekan namun aku tak mampu berteriak menyebut nama mereka. Tak ingin melibatkan mereka. Saat dimana aku tau, aku bermain dengan hati. Aku menyisakan hatiku untuk mereka.
½ x 365 keempat, semua dimulai dengan air mata.
Kau tau? Tak sampai hati aku melihat mereka seperti itu.
Seolah kembali berhadapan dengan The Black Team. Ada keengganan, tapi aku tau aku marah jika ada yang menyakiti mereka. Bahkan aku tak terima saat beberapa dari orang di luar kami mulai berkata yang sebenarnya tentang kami. Yang mungkin saat itu tak kami sadari. Kami telah berubah.
Tempat itu menjadi lebih buruk dari 365 hari paling awal yang belum Kau janjikan apa-apa.
Tuhan..
Aku sayang sekali dengan mereka…
Duhh.. berkaca-kaca lagi deh nulisnya.
Aku menyadari roda berputar. Ada masanya kami superior dan mungkin inilah saatnya kami tampak begitu inferior –setidaknya seperti itu dimataku-.
Tapi sekali lagi aku ingin mengatakan.. Aku sangat sayang mereka.
Aku akan memberitahukan kepadaMu mengapa aku bisa begitu meyayangi mereka.
Tapi sebelum itu, aku juga ingin mengatakan mengapa aku ‘membenci’ mereka.
Aku kehilangan ‘home’. Bahkan mereka tak lagi membuat ‘house’, tapi lebih memilih tinggal di apartemen mereka. Sendirian.
Aku akan sangat bersalah – menurut beberapa orang- jika menjadikan berbagai assignments sebagai excuse yang membuat semua situasi menjadi seperti ini. Tapi kenyataannya sampai saat ini, memang itulah alasan yang sering kumaki karena telah menghilangkan ‘home’ku.
Aku muak dengan semua yang tampak begitu ‘baik’ di tengah suasana hatiku yang sangat buruk.
Entah mereka yang benar-benar ‘baik’ atau berusaha tampak ‘baik’, aku menganggap ‘baik’ = palsu.
Atau bahkan memang aku-lah yang telah mengacaukan semua yang kini nampak baik.
Aku tak mendapat pembenaran jika memilih salah satunya karena kedua alasan itu adalah yang sebenarnya. Aku memang telah sangat tidak adil pada mereka, tapi aku hanya ingin mengungkapkan apa yang saat ini aku rasakan.
Tapi sekali lagi kukatakan.. Aku sayang mereka dengan alasan yang berkali lipat banyaknya dibandingkan dari apa yang telah membuatku ‘malas’ dengan mereka.
Mereka yang selalu membuatku tertawa, bahkan disaat paling mengenaskan yang saat itu menimpaku.
Mereka membuatku lupa bahwa tanggal 27 itu ada di setiap bulannya nahkan disetiap tahunnya.
Mereka adalah tumbuhan yang mengajakku tumbuh, belajar dan bangkit dari ‘kematian’.
Merekalah kegilaan dan kebandelan yang kerap kami ekspresikan sebagai bentuk dari kebebasan.
Pada dasarnya mereka sangatlah baik dan jauh dari palsu.
Aku tau, palsu hanya bentuk dari adaptasi, bukan?
Bentuk repres sebagai kata ganti dari melindungi.
Melindungi siapa lagi kalau bukan melindungi eksistensi kami.
Aku berani bertaruh, tak hanya aku yang merasakan hal seperti ini. Ketidakwarasan ini. Keanehan ini.
Tapi aku lebih berani lagi untuk bertaruh bahwa tak hanya aku yang menginginkan dan berusaha agar ‘home’ itu kembali.
Tuhan..
Aku mohon di 365 hari terakhir yang akan Kau berikan nanti, Kau kembalikan ‘home’ kami.
Bukan kami tak menginginkan apartemen yang juga kau berikan, tapi tolong..
Untuk kali ini kembalikan kami.
Tak hanya ‘home’, tapi kami..
Tak hanya aku dan mereka, tapi kami..
Tuhan..
Sungguh aku begitu familiar dengan situasi ini. Aku tak ingin mengulang waktu yang salah itu lagi.
Jadi aku mohon..
Dimanapun mereka berada saat ini, jaga mereka ya, Tuhan..
Karena aku sayang mereka..
S A Y A N G . . .
Friday, April 30, 2010
Warna-Warni Duniaku
Dua puluh satu..
Cukup tertatih jika mengingat apa yang telah saya lakukan dari bertemunya sperma dan sel telur hingga tepat di 29 April dua puluh satu tahun lalu untuk pertama kalinya saya melihat dunia. Sadar nggak sadar sekarang saya dihadapkan pada apa yang disebut dewasa awal. De-wa-sa- a-wal. Dalam perkembangan dimana saat inilah dimana konflik akan semakin memuncak dengan catatan, saya akan selalu menikmatinya. Dengan mereka yang telah ada dan selalu ada dalam dua puluh satu tahun perjalanan hidup seorang ‘Aku’.
Ini adalah mimpiku. Khayalan dari segala situasi yang kerap kali menyapaku.
Pagi, siang, sore dan malam hari.
Mungkin inilah ucapan terima kasih. Terima kasih atas apa yang telah saya lihat, dengar dan rasakan. Lebih dari itu, ini yang dapat saya lakukan atas segala apresiasi dan kesediaan mereka yang selalu mengulurkan tangan dan menjadi malaikat kecil di Bumi Allah yang ‘kecil’ ini. Tak besar, bahkan tak sepadan dengan apa yang telah mereka berikan kepada saya. Kepada hidup saya.
Untuk mereka, sosok-sosok cerita dalam realita yang telah lama tertulis dalam Lauhul Mahfuzh. Mereka, yang menjadi ‘hidup’ku yang sangat indah, menggugah, bahkan jauh dari kata lelah.
Allah SWT...
Bukan mereka namun DIA-lah kekuatan terbesar di alam ini. Yang telah hidupkanku dua kali dan memberiku empat peradaptasian. Buat aku selalu takut untuk mengingkari kekuasaanMu. aisH percaya bahwa Rencana Allah Selalu Indah pada waktunya. Yang membuatku untuk agar tak pernah lupa bahwa aku selalu ada untuk mengingat, mengilhami dan meresapi setiap detik dari sebuah masa. Membuatku lupa dan tak peduli dengan adanya TEMAN SEMUSIM yang kerap kali membuatku jengkel, membuatku kehilangan hingga akhirnya musim menggantinya. Dengan para TERORIS yang sebenarnya sangat ingin kuhajar dengan tanganku sendiri., -sayangnya saya nggak pernah tau dimana saya bisa ketemu si teroris itu!!! -
Karena aku tau… Ada yang lebih indah dari sekepal rasa jengkelku. Ada yang lebih damai dari sekedar kamulflase jihad yang mendahului jalan Allah.
Keluargaku...
Ayah-Bunda yang ngijinin aisH ngabisin listrik tiap malem. Yang –pasti- dengan terpaksa merelakan aisH pergi malam dan pulang pagi kalau niat devilnya lagi memuncak. Maaf, kalo lebih sering menjadi pemberontak ketimbang anak manis. aisH mau dan akan terus berusaha jadi yang terbaik untuk keduanya. Sungguh!
Nduty... You’re the best hacker!! (n_n) And tHe best enemy and rival in my life!!, Yang nggak pernah bosen denger rengekan konyol gue kalau ada masalah dengan hal-hal yang berbau elektronik. Hahaha...
Adek... Yang selalu bikin ketawa dengan tingkah AbeGe-nya yang sepertinya jaman gue ABeGe nggak pernah sekaco dan sekonyol dia. Biar gitu, teruslah konyol dan polos dihadapan gue karena itu inspirasi!
All my big Famz!!!
Mbah Akung, Mbah Uti, Tante-tante, Oom-oom and all Grand Children Kadiran (My Sista&Brotha... Ica, Niar, Ina, Nana, Rama, Apid, Oca, Nadin, Hafiz, Ais, dan Ihsan) yang membuat aisH selalu kangen Bali!!
Bude-bude, Pakde-pakde dan Mbak-Masku semua…
Kakak, Mbak, Nduut, Nong-nong, Sayang... Sapaan itu yang selalu kutunggu saat lelah membiusku. Dengan semua celotehan yang membuatku semangat untuk buktikan kerja kerasku bukan sekedar omong kosong.
Sekolahku… Tempat dimana kudapatkan bertumpuk tugas yang akhirnya membuatku meng'GILA'.
Jaman dimana saya berlari-larian di gang kecil di TK Aisyiyyah II Denpasar sambil berlakon sebagai Power Rangers, dengan setiap hari ditunggui Mbah Uti dan dengan jajanan yang masih bisa dibeli dengan koin 25 perak. Dengan teman-teman yang Alhamdulillah masih bisa ditemukan via Facebook. Semoga akan ada waktu dimana saya dapat bertatap muka dengan mereka yang sudah hampir 16 tahun tidak saya temui. Waktu dimana saya menghabiskan tiga tahun berseragam merah-putih di SD Muhammadiyyah II yang kembali saya bersyukur masih dapat menemukan mereka via Facebook. Mungkin waktu itu terlalu singkat. Tapi saya tetap dapat mengingatnya dengan rapi di sini.
Beranjak ke Jakarta.. SDN Kramat Jati 12 Pagi yang memberikan saya sebuah tempat dan ‘monyet’. Tempat dimana saya mulai belajar untuk berdikari dan bergelut dalam kompetisi.
Dhoerent Garden aka Trelandi’z aka anak-anak Al-Mukriyah yang pada gokil-gokil dengan segala kebandelan masa pubertas… hahaha
Naungan yang menunjukkan padaku tentang keindahan sebuah zaman keemasan, panasnya retorika, berkuasanya kisah cinta, revolusi jiwa hingga melegendanya SEBUAH KISAH KLASIK yang tak pernah mati.,
SMP Negeri 150 Jakarta aka V-Gho... Specially 2001. The Black Team yang mengajarkan awal dari kebersamaan. Pengurus OSIS V-Gho tahun ajaran 2002/2003 dan MPK 2003/2004. Kabinet kita adalah pertarungan retorika!!
DHEVA yang menjadi pelarian terbaik saat jenuh mulai menggerogoti hari para ABeGe labil yang membuat saya semakin mencintai karya seni khususnya musik.
SMA Negeri 42 Jakarta… Angkatan 23..
Glatto Splato aka X-1 adalah awal ‘kebandelan’ intelek yang nggak akan terlupa. XI-IPA 2 adalah perenungan akan sebuah kesaljuan uang menyenangkan sekaligus menegangkan. Dan penutup putih abu-abuku dimana kenangan terindah masa sekolahku dapat tercipta dan tawa di Explode Passion aka XII-IPA 1 menjadi semakin menggelora.
Untuk semua GURU yang menorehkan arti di awal dan penghujung sekolahku. Nggak tau apa jadinya seorang ‘aku’ tanpa mereka yang dinamakan guru.
Batu loncatan lain yang ikut membuat coretan…
Senior and Junior Paskibra 42, angkatan 23 (Hidup TRAFO!!!!! Hehehehe...), Empat sekawan di paskibra 42 angkatan 23 yang berjuang bareng selama 3 bulan di Walkot, PPI-JT (Makasih udah kasih aisH kesempatan untuk dapet satu tempat di kelompok 17 saf 5 banjar 3 Paskibraka 2005), PPI 2005 (Dufan, M-Studio, sampe Chandra Dimuka bareng.... Gue selalu inget dan kangen Semua...)
Tempat yang menjadi pelabuhan dari ‘pertempuran hati’ku memilih masa depan.
Fak. Psikologi UIN Syahid angkatan 2007.
RRG yang aLways RiyuhRicuhGemyuruh... Entah apa yang Allah rencanakan dengan bertemunya gue dengan enam cewek yang ‘aneh’ ini. Yang selalu muncul dengan kelakuan-kelakuan ajaib yang bikin gue geleng-geleng kepala, melongo sampai sakit perut dengan kelakuan mereka yang jauh dari normal.
Mereka yang hampir tiga tahun ‘rawat jalan’ bersamaku di Bd1. Bd1 yang selalu berhasil buat gue ketawa meskipun saat itu mood gue sedang kacau-kacaunya… Celetukan kita selalu memberi ide baru buat gue. Apa pun!!! Sampe yang nggak penting sekalipun! Puisi sampai kata-kata tajam yang selalu membangkitkan kepercayaan diri gue. Gue pasti bakal kangen semua tawa dan cerita kita. Bd1 bener-bener penasihat terbaek sekaligus tergila yang pernah gue punya. Nggak ada kalimat laen yang bisa aisH bilang selain, “Nggak ada lo NGGAK RAME!! Kita HEBAT!!! SARAP!! GOKIL!!” Hahaha..
Gue nggak pernah nyeselin apa yang udah jadi keputusan gue. Sekalipun itu harus melepaskan ‘kursi panas’ di SPMB. Psikologi udah jadi tujuan gue sejak tahun pertama gue menginjakkan kaki di V-Gho.
Trainers Community yang kini akan menyita sebagian perhatian saya. Semoga semua ini menjadi awal yang baik yang juga akan berakhir dengan baik.
SaintArt.. Tempat dimana saya kembali dapat berlari dan meluapkan segala emosi lewat nada dan kata-kata. Saya titipkan satu mimpi saya disana. Kini..
DI3. Empat Adam dengan sosok berbeda yang memberikan banyak makna tentang apa fitrah yang sesungguhnya dari satu kata universal yang hingga kini belum kuketahui wujud juga keindahannya. Cinta. Huakakak...
Dosen-dosenku di Psikologi yang ‘lucu’ dan ‘menggemaskan’. Yang tanpa sadar sering ‘menelanjangi’ saya dengan kuliah-kuliahnya.Hehehe..
Untuk mereka yang memberiku ‘permainan jiwa’, pada sebuah tanggal yang sama. Saya belajar bertaruh dari Anda. Saya belajar memahami bahwa ‘melupakan janji’ adalah hal yang sangat manusiawi juga dari Anda. Dan saya sangat mengerti makna bahwa ‘introspeksi’ yang lama. Biarkan saya menunggu. Karena saya tahu, sampai kini kita masih melihat bintang yang sama. Sampai kini, kita masih menjejakkan kaki di atas bumi yang sama. Maka biarkan saya kembali bertaruh untuk Anda. Anugerah Indah yang pernah saya miliki..
Semua makhluk hidup yang mengenal, menyayangi dan perhatian pada saya meski hanya lewat foto dan sekelebat bahkan mungkin hanya lewat mimpi, juga sebaliknya akan saya kenal, sayangi dan perhatikan dan membaur dalam mimpi-mimpi saya… Terima kasih…
Aku… Masih menyimpan banyak terima kasih pada benda matiku: Mesin mengolah dan perombak kata yang selalu setia menemaniku hingga pagi buta; Segala sesuatu yang memperdengarkan nada indah kala kegelapan kamar menyelimutiku; My Allegro yang menjadi satu-satunya teman terbaik saat aku merasa sepi; Buku-bukuku mulai yang baru sampe yang bekas; Coffee, kuaci, bubble gum, snack, mineral water yang kata Nduty makin buat aku Nduut eh Chubby ding tepatnya.
Inspirasiku... Tak berarti tanpa mereka dalam hidup saya.
Ceritaku... adalah segala sesuatu yang kudapat saat mereka ada, hadir dan selalu bersama saya. Semua yang ada dalam diriku merupakan bentuk pencarian, keikhlasan juga ketakutanku. Bentuk kegembiraan, kesedihan, kebahagiaan, kemarahan, kesenangan, kekecewaan dan segala perasaan yang terungkap di dalamnya.
Colours in my life.
Sekali lagi... Rencana Allah selalu Indah...
Untuk waktu yang selalu mengajarkan aku sesuatu.
Mimpi-mimpi yang datang kala otakku telah jenuh dengan hadirnya rotasi waktu.
Curahan hati yang datang padaku dengan cucuran airmata dan senyum gembira.
Maaf, banyak salah dan juga kekurangan. Hanya ini yang bisa aisH kasih.
Dan untuk mereka yang selalu bilang ...
"Du/You/Elo/Ke/Ukh/Kamu/Anti/Ay/Aish BISA!!!"
TERIMA KASIH !!!!! ( ‘ , ‘ ) V
Cukup tertatih jika mengingat apa yang telah saya lakukan dari bertemunya sperma dan sel telur hingga tepat di 29 April dua puluh satu tahun lalu untuk pertama kalinya saya melihat dunia. Sadar nggak sadar sekarang saya dihadapkan pada apa yang disebut dewasa awal. De-wa-sa- a-wal. Dalam perkembangan dimana saat inilah dimana konflik akan semakin memuncak dengan catatan, saya akan selalu menikmatinya. Dengan mereka yang telah ada dan selalu ada dalam dua puluh satu tahun perjalanan hidup seorang ‘Aku’.
Ini adalah mimpiku. Khayalan dari segala situasi yang kerap kali menyapaku.
Pagi, siang, sore dan malam hari.
Mungkin inilah ucapan terima kasih. Terima kasih atas apa yang telah saya lihat, dengar dan rasakan. Lebih dari itu, ini yang dapat saya lakukan atas segala apresiasi dan kesediaan mereka yang selalu mengulurkan tangan dan menjadi malaikat kecil di Bumi Allah yang ‘kecil’ ini. Tak besar, bahkan tak sepadan dengan apa yang telah mereka berikan kepada saya. Kepada hidup saya.
Untuk mereka, sosok-sosok cerita dalam realita yang telah lama tertulis dalam Lauhul Mahfuzh. Mereka, yang menjadi ‘hidup’ku yang sangat indah, menggugah, bahkan jauh dari kata lelah.
Allah SWT...
Bukan mereka namun DIA-lah kekuatan terbesar di alam ini. Yang telah hidupkanku dua kali dan memberiku empat peradaptasian. Buat aku selalu takut untuk mengingkari kekuasaanMu. aisH percaya bahwa Rencana Allah Selalu Indah pada waktunya. Yang membuatku untuk agar tak pernah lupa bahwa aku selalu ada untuk mengingat, mengilhami dan meresapi setiap detik dari sebuah masa. Membuatku lupa dan tak peduli dengan adanya TEMAN SEMUSIM yang kerap kali membuatku jengkel, membuatku kehilangan hingga akhirnya musim menggantinya. Dengan para TERORIS yang sebenarnya sangat ingin kuhajar dengan tanganku sendiri., -sayangnya saya nggak pernah tau dimana saya bisa ketemu si teroris itu!!! -
Karena aku tau… Ada yang lebih indah dari sekepal rasa jengkelku. Ada yang lebih damai dari sekedar kamulflase jihad yang mendahului jalan Allah.
Keluargaku...
Ayah-Bunda yang ngijinin aisH ngabisin listrik tiap malem. Yang –pasti- dengan terpaksa merelakan aisH pergi malam dan pulang pagi kalau niat devilnya lagi memuncak. Maaf, kalo lebih sering menjadi pemberontak ketimbang anak manis. aisH mau dan akan terus berusaha jadi yang terbaik untuk keduanya. Sungguh!
Nduty... You’re the best hacker!! (n_n) And tHe best enemy and rival in my life!!, Yang nggak pernah bosen denger rengekan konyol gue kalau ada masalah dengan hal-hal yang berbau elektronik. Hahaha...
Adek... Yang selalu bikin ketawa dengan tingkah AbeGe-nya yang sepertinya jaman gue ABeGe nggak pernah sekaco dan sekonyol dia. Biar gitu, teruslah konyol dan polos dihadapan gue karena itu inspirasi!
All my big Famz!!!
Mbah Akung, Mbah Uti, Tante-tante, Oom-oom and all Grand Children Kadiran (My Sista&Brotha... Ica, Niar, Ina, Nana, Rama, Apid, Oca, Nadin, Hafiz, Ais, dan Ihsan) yang membuat aisH selalu kangen Bali!!
Bude-bude, Pakde-pakde dan Mbak-Masku semua…
Kakak, Mbak, Nduut, Nong-nong, Sayang... Sapaan itu yang selalu kutunggu saat lelah membiusku. Dengan semua celotehan yang membuatku semangat untuk buktikan kerja kerasku bukan sekedar omong kosong.
Sekolahku… Tempat dimana kudapatkan bertumpuk tugas yang akhirnya membuatku meng'GILA'.
Jaman dimana saya berlari-larian di gang kecil di TK Aisyiyyah II Denpasar sambil berlakon sebagai Power Rangers, dengan setiap hari ditunggui Mbah Uti dan dengan jajanan yang masih bisa dibeli dengan koin 25 perak. Dengan teman-teman yang Alhamdulillah masih bisa ditemukan via Facebook. Semoga akan ada waktu dimana saya dapat bertatap muka dengan mereka yang sudah hampir 16 tahun tidak saya temui. Waktu dimana saya menghabiskan tiga tahun berseragam merah-putih di SD Muhammadiyyah II yang kembali saya bersyukur masih dapat menemukan mereka via Facebook. Mungkin waktu itu terlalu singkat. Tapi saya tetap dapat mengingatnya dengan rapi di sini.
Beranjak ke Jakarta.. SDN Kramat Jati 12 Pagi yang memberikan saya sebuah tempat dan ‘monyet’. Tempat dimana saya mulai belajar untuk berdikari dan bergelut dalam kompetisi.
Dhoerent Garden aka Trelandi’z aka anak-anak Al-Mukriyah yang pada gokil-gokil dengan segala kebandelan masa pubertas… hahaha
Naungan yang menunjukkan padaku tentang keindahan sebuah zaman keemasan, panasnya retorika, berkuasanya kisah cinta, revolusi jiwa hingga melegendanya SEBUAH KISAH KLASIK yang tak pernah mati.,
SMP Negeri 150 Jakarta aka V-Gho... Specially 2001. The Black Team yang mengajarkan awal dari kebersamaan. Pengurus OSIS V-Gho tahun ajaran 2002/2003 dan MPK 2003/2004. Kabinet kita adalah pertarungan retorika!!
DHEVA yang menjadi pelarian terbaik saat jenuh mulai menggerogoti hari para ABeGe labil yang membuat saya semakin mencintai karya seni khususnya musik.
SMA Negeri 42 Jakarta… Angkatan 23..
Glatto Splato aka X-1 adalah awal ‘kebandelan’ intelek yang nggak akan terlupa. XI-IPA 2 adalah perenungan akan sebuah kesaljuan uang menyenangkan sekaligus menegangkan. Dan penutup putih abu-abuku dimana kenangan terindah masa sekolahku dapat tercipta dan tawa di Explode Passion aka XII-IPA 1 menjadi semakin menggelora.
Untuk semua GURU yang menorehkan arti di awal dan penghujung sekolahku. Nggak tau apa jadinya seorang ‘aku’ tanpa mereka yang dinamakan guru.
Batu loncatan lain yang ikut membuat coretan…
Senior and Junior Paskibra 42, angkatan 23 (Hidup TRAFO!!!!! Hehehehe...), Empat sekawan di paskibra 42 angkatan 23 yang berjuang bareng selama 3 bulan di Walkot, PPI-JT (Makasih udah kasih aisH kesempatan untuk dapet satu tempat di kelompok 17 saf 5 banjar 3 Paskibraka 2005), PPI 2005 (Dufan, M-Studio, sampe Chandra Dimuka bareng.... Gue selalu inget dan kangen Semua...)
Tempat yang menjadi pelabuhan dari ‘pertempuran hati’ku memilih masa depan.
Fak. Psikologi UIN Syahid angkatan 2007.
RRG yang aLways RiyuhRicuhGemyuruh... Entah apa yang Allah rencanakan dengan bertemunya gue dengan enam cewek yang ‘aneh’ ini. Yang selalu muncul dengan kelakuan-kelakuan ajaib yang bikin gue geleng-geleng kepala, melongo sampai sakit perut dengan kelakuan mereka yang jauh dari normal.
Mereka yang hampir tiga tahun ‘rawat jalan’ bersamaku di Bd1. Bd1 yang selalu berhasil buat gue ketawa meskipun saat itu mood gue sedang kacau-kacaunya… Celetukan kita selalu memberi ide baru buat gue. Apa pun!!! Sampe yang nggak penting sekalipun! Puisi sampai kata-kata tajam yang selalu membangkitkan kepercayaan diri gue. Gue pasti bakal kangen semua tawa dan cerita kita. Bd1 bener-bener penasihat terbaek sekaligus tergila yang pernah gue punya. Nggak ada kalimat laen yang bisa aisH bilang selain, “Nggak ada lo NGGAK RAME!! Kita HEBAT!!! SARAP!! GOKIL!!” Hahaha..
Gue nggak pernah nyeselin apa yang udah jadi keputusan gue. Sekalipun itu harus melepaskan ‘kursi panas’ di SPMB. Psikologi udah jadi tujuan gue sejak tahun pertama gue menginjakkan kaki di V-Gho.
Trainers Community yang kini akan menyita sebagian perhatian saya. Semoga semua ini menjadi awal yang baik yang juga akan berakhir dengan baik.
SaintArt.. Tempat dimana saya kembali dapat berlari dan meluapkan segala emosi lewat nada dan kata-kata. Saya titipkan satu mimpi saya disana. Kini..
DI3. Empat Adam dengan sosok berbeda yang memberikan banyak makna tentang apa fitrah yang sesungguhnya dari satu kata universal yang hingga kini belum kuketahui wujud juga keindahannya. Cinta. Huakakak...
Dosen-dosenku di Psikologi yang ‘lucu’ dan ‘menggemaskan’. Yang tanpa sadar sering ‘menelanjangi’ saya dengan kuliah-kuliahnya.Hehehe..
Untuk mereka yang memberiku ‘permainan jiwa’, pada sebuah tanggal yang sama. Saya belajar bertaruh dari Anda. Saya belajar memahami bahwa ‘melupakan janji’ adalah hal yang sangat manusiawi juga dari Anda. Dan saya sangat mengerti makna bahwa ‘introspeksi’ yang lama. Biarkan saya menunggu. Karena saya tahu, sampai kini kita masih melihat bintang yang sama. Sampai kini, kita masih menjejakkan kaki di atas bumi yang sama. Maka biarkan saya kembali bertaruh untuk Anda. Anugerah Indah yang pernah saya miliki..
Semua makhluk hidup yang mengenal, menyayangi dan perhatian pada saya meski hanya lewat foto dan sekelebat bahkan mungkin hanya lewat mimpi, juga sebaliknya akan saya kenal, sayangi dan perhatikan dan membaur dalam mimpi-mimpi saya… Terima kasih…
Aku… Masih menyimpan banyak terima kasih pada benda matiku: Mesin mengolah dan perombak kata yang selalu setia menemaniku hingga pagi buta; Segala sesuatu yang memperdengarkan nada indah kala kegelapan kamar menyelimutiku; My Allegro yang menjadi satu-satunya teman terbaik saat aku merasa sepi; Buku-bukuku mulai yang baru sampe yang bekas; Coffee, kuaci, bubble gum, snack, mineral water yang kata Nduty makin buat aku Nduut eh Chubby ding tepatnya.
Inspirasiku... Tak berarti tanpa mereka dalam hidup saya.
Ceritaku... adalah segala sesuatu yang kudapat saat mereka ada, hadir dan selalu bersama saya. Semua yang ada dalam diriku merupakan bentuk pencarian, keikhlasan juga ketakutanku. Bentuk kegembiraan, kesedihan, kebahagiaan, kemarahan, kesenangan, kekecewaan dan segala perasaan yang terungkap di dalamnya.
Colours in my life.
Sekali lagi... Rencana Allah selalu Indah...
Untuk waktu yang selalu mengajarkan aku sesuatu.
Mimpi-mimpi yang datang kala otakku telah jenuh dengan hadirnya rotasi waktu.
Curahan hati yang datang padaku dengan cucuran airmata dan senyum gembira.
Maaf, banyak salah dan juga kekurangan. Hanya ini yang bisa aisH kasih.
Dan untuk mereka yang selalu bilang ...
"Du/You/Elo/Ke/Ukh/Kamu/Anti/Ay/Aish BISA!!!"
TERIMA KASIH !!!!! ( ‘ , ‘ ) V
Friday, April 9, 2010
FILM DOKUMENTER DI AWAL SEMESTER
Rabu, 24 Maret 2010 adalah hari yang sama dengan hari-hari sebelumnya…
Hari dimana bergulir dengan dimulainya dinihari, fajar, pagi, tengah hari, siang, sore, petang dan malam. Hari dimana jam berdetak 60 detik setiap menit, 60 menit setiap satu jam dan 24 jam sehari. Hari dimana sholat wajib dilakukan 5 waktu sehari, 17 rakaat sehari dari takbiratul ihram hingga salam.
Hari yang dimulai dengan perkuliahan pada pukul 10.20 hingga 15.50. Hari dimana 6B masih disebut Bd1. Masih berisi manusia-manusia yang sama dengan kelakuan yang nyaris ‘gila’ di setiap harinya. Hari dimana kelas masih dipakai secara bergantian. Hari yang… Entah apa lagi yang harus dijabarkan untuk mengungkapkan bahwa secara umum, hari itu adalah hari yang sama dengan hari-hari lain. HARI YANG SAMA…
Berhari-hari berlalu dan pada kenyataannya semua memaksa untuk kembali pada hari itu. Maka jelas, hari itu tak dapat dikatakan sebagai hari yang sama. Hari itu berbeda. Sangat berbeda. Begitu berbeda.
Hari yang mengubah begitu banyak ‘isi’ karena sebuah konstitusi. Hari yang begitu menguras hati dalam pergulatan nurani. Hari yang membuat kami berpikir dari banyak dan terlalu banyak sisi hingga saya –jika tidak boleh digeneralisasikan akan saya katakan KAMI- merasa inilah ‘panggung sandiwara’ selanjutnya yang kembali menawarkan sebuah peran antagonis maupun protagonis dimana kami akan terlibat tanpa harus berujung mati.
Panggung Sandiwara…
Tanpa bermaksud menyinggung pihak manapun, tapi bagi saya, panggung sandiwara kali ini tak sebesar dan semegah apa yang pernah saya jalani sebelumnya. Yang mungkin mereka semua tak tahu seperti apa panggung yang –menurut saya- megah. Pada panggung sandiwara yang hingga saat ini pun belum mencapai ending.
Pertunjukan kali ini cukup menegangkan namun buruk! Alurnya berantakan. Skripnya dibuat terlalu terburu-buru hingga satu sama lain terasa pecah dalam akting yang pas-pasan bahkan cenderung dibuat-buat oleh beberapa pemain. Pertunjukannya membosankan karena beberapa scene hanya mengulang dari scene sebelumnya! Berlebihan dan terlalu mengada-ada. Lebih cocok disebut sebagai sinetron daripada sebuah film dokumenter!
Tapi apa alasan yang membuat saya begitu ingin terlibat dan ‘bermain’ disana?
Pertama, sandiwara ini membutuhkan begitu banyak pemain untuk mengisi setiap peran yang dibutuhkan. Saya katakan beberapa dari mereka tak mampu memainkan perannya dengan baik, tapi lebih banyak lagi peran-peran yang dilakukan dengan sangat baik.
Kedua, sandiwara ini menghabiskan budget yang tidak sedikit. Setidaknya untuk membuatnya saja, kini memasuki minggu ketiga dengan skrip yang masih belum selesai dan melihat ratingnya yang semakin memanas ini, sudah tentu akan memperpanjang masa penayangannya secara otomatis, honor yang saya dapatkan akan semakin besar. –Oh ya? Benarkah begitu??-
Ketiga, sandiwara ini dapat membuat saya tertawa dan menangis di saat yang bersamaan. Hebat bukan? –Bipolar banget!!-
Keempat, sandiwara ini belum memiliki judul dan sepertinya, PH baru akan memberikan judul ketika sandiwara ini selesai dibuat dan itu membuat saya bertanya-tanya sekaligus ingin tahu.
Kelima, alasan terpenting dan paling penting!! Dapat saya katakan bahwa saya –kami- terpilih bermain dalam panggung sandiwara ini. Saya yakin, kami tidak pernah mau menjadi bagian dari semua ini. Semua ini bukan keinginan kami!
Saya mencoba memahami satu hal.
KAMI TERPILIH BUKAN KARENA KEINGINAN KAMI. TAKDIR YANG MEMILIH KAMI.
Katakanlah ini bukan LoC External. Tapi..
Karena Dia percaya bahwa kami dapat sabar menunggu revisi skrip yang tak kunjung selesai. Karena Dia percaya bahwa kami kuat menjalani dan menyelesaikan setiap scenenya. Karena Dia percaya bahwa kami sebagai pemegang kendali yang akan terus hidup meski dihujani rasa tak berarti. Karena Dia percaya bahwa kami pantas mendapat bonus ‘rasa sayang’Nya dengan cara yang berbeda. Karena Dia percaya bahwa kami adalah pemain watak yang paling berhak mendapat kesempatan menghidupkan alur cerita yang terlanjur berantakan. Karena Dia percaya bahwa kami yang akan mengantar panggung ini di puncak penghargaan megahnya penguasa anarki. Karena Dia percaya bahwa kami dapat mengubah imej sinetron ini menjadi sebuah film dokumenter yang akan terekam tak pernah mati di setiap pemain dan penontonnya.
Karena Dia menyayangi kami..
Hari dimana bergulir dengan dimulainya dinihari, fajar, pagi, tengah hari, siang, sore, petang dan malam. Hari dimana jam berdetak 60 detik setiap menit, 60 menit setiap satu jam dan 24 jam sehari. Hari dimana sholat wajib dilakukan 5 waktu sehari, 17 rakaat sehari dari takbiratul ihram hingga salam.
Hari yang dimulai dengan perkuliahan pada pukul 10.20 hingga 15.50. Hari dimana 6B masih disebut Bd1. Masih berisi manusia-manusia yang sama dengan kelakuan yang nyaris ‘gila’ di setiap harinya. Hari dimana kelas masih dipakai secara bergantian. Hari yang… Entah apa lagi yang harus dijabarkan untuk mengungkapkan bahwa secara umum, hari itu adalah hari yang sama dengan hari-hari lain. HARI YANG SAMA…
Berhari-hari berlalu dan pada kenyataannya semua memaksa untuk kembali pada hari itu. Maka jelas, hari itu tak dapat dikatakan sebagai hari yang sama. Hari itu berbeda. Sangat berbeda. Begitu berbeda.
Hari yang mengubah begitu banyak ‘isi’ karena sebuah konstitusi. Hari yang begitu menguras hati dalam pergulatan nurani. Hari yang membuat kami berpikir dari banyak dan terlalu banyak sisi hingga saya –jika tidak boleh digeneralisasikan akan saya katakan KAMI- merasa inilah ‘panggung sandiwara’ selanjutnya yang kembali menawarkan sebuah peran antagonis maupun protagonis dimana kami akan terlibat tanpa harus berujung mati.
Panggung Sandiwara…
Tanpa bermaksud menyinggung pihak manapun, tapi bagi saya, panggung sandiwara kali ini tak sebesar dan semegah apa yang pernah saya jalani sebelumnya. Yang mungkin mereka semua tak tahu seperti apa panggung yang –menurut saya- megah. Pada panggung sandiwara yang hingga saat ini pun belum mencapai ending.
Pertunjukan kali ini cukup menegangkan namun buruk! Alurnya berantakan. Skripnya dibuat terlalu terburu-buru hingga satu sama lain terasa pecah dalam akting yang pas-pasan bahkan cenderung dibuat-buat oleh beberapa pemain. Pertunjukannya membosankan karena beberapa scene hanya mengulang dari scene sebelumnya! Berlebihan dan terlalu mengada-ada. Lebih cocok disebut sebagai sinetron daripada sebuah film dokumenter!
Tapi apa alasan yang membuat saya begitu ingin terlibat dan ‘bermain’ disana?
Pertama, sandiwara ini membutuhkan begitu banyak pemain untuk mengisi setiap peran yang dibutuhkan. Saya katakan beberapa dari mereka tak mampu memainkan perannya dengan baik, tapi lebih banyak lagi peran-peran yang dilakukan dengan sangat baik.
Kedua, sandiwara ini menghabiskan budget yang tidak sedikit. Setidaknya untuk membuatnya saja, kini memasuki minggu ketiga dengan skrip yang masih belum selesai dan melihat ratingnya yang semakin memanas ini, sudah tentu akan memperpanjang masa penayangannya secara otomatis, honor yang saya dapatkan akan semakin besar. –Oh ya? Benarkah begitu??-
Ketiga, sandiwara ini dapat membuat saya tertawa dan menangis di saat yang bersamaan. Hebat bukan? –Bipolar banget!!-
Keempat, sandiwara ini belum memiliki judul dan sepertinya, PH baru akan memberikan judul ketika sandiwara ini selesai dibuat dan itu membuat saya bertanya-tanya sekaligus ingin tahu.
Kelima, alasan terpenting dan paling penting!! Dapat saya katakan bahwa saya –kami- terpilih bermain dalam panggung sandiwara ini. Saya yakin, kami tidak pernah mau menjadi bagian dari semua ini. Semua ini bukan keinginan kami!
Saya mencoba memahami satu hal.
KAMI TERPILIH BUKAN KARENA KEINGINAN KAMI. TAKDIR YANG MEMILIH KAMI.
Katakanlah ini bukan LoC External. Tapi..
Karena Dia percaya bahwa kami dapat sabar menunggu revisi skrip yang tak kunjung selesai. Karena Dia percaya bahwa kami kuat menjalani dan menyelesaikan setiap scenenya. Karena Dia percaya bahwa kami sebagai pemegang kendali yang akan terus hidup meski dihujani rasa tak berarti. Karena Dia percaya bahwa kami pantas mendapat bonus ‘rasa sayang’Nya dengan cara yang berbeda. Karena Dia percaya bahwa kami adalah pemain watak yang paling berhak mendapat kesempatan menghidupkan alur cerita yang terlanjur berantakan. Karena Dia percaya bahwa kami yang akan mengantar panggung ini di puncak penghargaan megahnya penguasa anarki. Karena Dia percaya bahwa kami dapat mengubah imej sinetron ini menjadi sebuah film dokumenter yang akan terekam tak pernah mati di setiap pemain dan penontonnya.
Karena Dia menyayangi kami..
Monday, March 1, 2010
Ini Hanya Sebuah Tulisan Tentang Cinta
Cinta itu ada untuk membuat kita tetap hidup bukan menjadi mayat hidup...
Saya memang belum pernah memiliki love story yang sukses dengan seseorang. Tapi saya selalu belajar setiap kali saya mendengarkan dengan penuh perhatian –semoga tidak dianggap berlebihan karena memang begitu kenyataannya- cerita cinta teman-teman saya. Setiap cerita pasti memiliki pelajaran juga memberi inspirasi. Namun tak dapat dipungkiri hati kecil saya amat sangat bosan dengan roman picisan yang menimpa banyak teman-teman saya.
Suka-sukaan, gombal berlebihan, jadian, backstreet, putus, selingkuh, orangtua tidak setuju, de-el-el. Tidak adakah masalah lain yang harus diperdengarkan selain cinta???
Alamaaakk!!! Ini cinta ini gila!
Saya banyak mendengar pasangan yang tidak tau bagaimana menghadapi pasangan yang tidak mau mendengarkan penjelasan pasangannya, tidak percaya dengan pasangannya. Padahal sebenarnya mereka sama-sama sayang. Sama-sama memiliki ‘rasa’ itu. Hanya saja, saya pikir mereka tidak bisa mencari solusi kalau masih dalam keadaan kalut. Pertengkaran yang terjadi bisa jadi karena mereka masih ‘panas’. Banyak juga yang mengatakan bahwa mereka capek untuk melanjutkan hubungan dan memilih untuk putus. Begitu banyak alasan yang menurut saya terlalu mengada-ada. Seolah mereka lupa kalau sesuatu yang ‘manis’ pernah terjadi.
Sebenarnya –seringkali- saya ingin tertawa setiap kali ada teman yang meminta pendapat saya tentang hal tersebut –cinta-. Bukan maksud saya mengejek, meledek atau tak ingin membantu. Tapi bagaimana saya dapat membantu jika –bahkan- mereka –seharusnya- tau bahwa sejarah cinta saya nol. Saya pun gagal dan berakhir dengan lima huruf. P-U-T-U-S. Meski menurut saya, putus tidak menyelesaikan masalah jika masih bisa dibicarakan baik-baik. Lain lagi ceritanya kalau ada yang selingkuh.
Pasangan mana sih yang rela pasangannya mesra-mesraan sama orang lain di depannya?
Satu hal yang harus kamu tau –dan mungkin kamu udah tau-, cewek butuh cowok yang bisa mendengar apa yang tidak bisa dia katakan, begitu juga sebaliknya. Kalau kamu cemburu, berarti kamu tidak percaya dengan pasanganmu, sedangkan makanan pokok cinta tuh percaya. Bodoh aja kalau kamu memutuskan hubungan dengan seseorang hanya karena jealous. Karena tidak bisa menyuapkan makanan pokok itu. Kalau kamu tidak bisa memberikan makanan tersebut, lebih baik tidak usah pacaran de-el-el. Saya tidak ingin menyebut kata ta’aruf karena pada kenyataannya begitu banyak yang salah memaknai kata tersebut karena tidak ingin menyebut nama jalinan asmaranya dengan pacaran. Di sisi lain, dalam cinta tidak baik mengenal kata gengsi. Makan tuh gengsi! Karena masalah tidak akan selesai dengan gengsi. Kalau kata Kotak, ’Pelan-pelan Saja’ karena semua membutuhkan proses. Butuh introspeksi.
You’ll never know what you’ve, till you lost it.
Kembali bukan berarti saya melebih-lebihkan. Ini hanya sebatas pandangan saya. Dari kacamata saya. Yang akhirnya membuat saya berpikir bahwa seseorang yang mempunyai kecenderungan rasa memiliki yang sangat besar akan sangat protektif terhadap pasangannya. Dia tidak bisa membagi sesuatu yang menurut dia memang tidak bisa dibagi. Mungkin juga dia pernah merasakan kehilangan sesuatu yang cukup berarti baginya dan sekarang dia tidak mau lagi merasakan kehilangan.
“Itu possesif!”, sahut suara yang lain.
Ya –saya tidak membantah hal tersebut-.
Seseorang yang bersikap seperti itu –mudah-mudahan benar- karena dia sayang –itu yang saya bicarakan dengan salah seorang sepupu saya pada suatu malam-. Sekali lagi, coba kamu dengar apa yang tidak bisa dia ungkapkan. Mencoba berpikir dan memposisikan seandainya kamu yang ada di posisinya.
Pengibaratan cinta sesama manusia –terutama lawan jenis- yang saya dapat dari salah seorang teman saya adalah ‘Cinta itu seperti pasir. Semakin kuat kita menggenggamnya, lama-lama pasir dalam genggaman kita akan habis.’
Yap! Cemburu memang salah satu tanda cinta. Tapi keseringan cemburu hanya akan membuat ‘pasir-pasir’ itu habis. H-A-B-I-S. Kebanyakan dari mereka –bahkan- udah jadi budak cinta. Jadi algojo atas perasaan mereka sendiri. Rela melakukan segala macam cara untuk dapat –yang kata mereka- cinta mereka. Menyatakan diri sebagai pemilik dan membuat orang lain segan menjalin hubungan pertemanan karena hal tersebut. Yang menurut saya, belum tentu itu milik mereka. Kalau kata Kahlil Gibran, ‘Cinta bukan memiliki ataupun dimiliki. Karena cinta tlah cukup untuk cinta’. Dia anugerah dan kamu tidak bisa menolak kalau tuh panah udah menancap di dasar hati kamu. Dia sulit banget disembunyiin dan gilanya, udah kayak jelangkung. Datang tak dijemput pulang tak diantar. Terkadang tanpa sadar, sekesel-keselnya kamu pada pasanganmu, tetep aja di mata kamu cinta itu tidak pernah padam. Malah mungkin makin menggebu-gebu aja.
Cinta itu datang dari bermacam-macam rasa dan semua tergantung sama peramunya. Salah ngeramu aja, bisa jadi bencana. Mending kalau bencananya kecil. Kamu lihat aja di tivi-tivi. Pembunuhan bisa terjadi atas dasar cinta lho! Padahal cinta kan tak selamanya manis. Kadang ada pahitnya, asemnya sampai bau busuknya juga ada. Tapi seringkali orang yang sedang jatuh cinta lupa kalau mereka bakal ngelewati fase-fase itu juga. Maunya enak terus tapi giliran nanggung akibatnya kocar-kacir. Halah!
Satu lagi yang saya dapat dari teman saya, ‘Sebuah hubungan tuh ibarat rumah. Percaya jadi pondasinya. Jangan harap deh punya rumah yang kokoh kalau pondasinya aja berantakan. Dan yang tidak kalah penting, jangan pernah kamu membangun rumah di atas puing-puing rumah yang masih berantakan.’ Tuh sama aja hal bodoh yang dilakukan oleh orang bodoh.
Nonsense! Capek. Percuma. Sia-sia dan buang-buang waktu. Makan ati.
Saya –juga- paling malas menemani teman saya yang memaksakan senyumnya untuk meyakinkan orang lain bahwa dia ’baik-baik’ saja. Padahal hatinya sedang porak-poranda. Jangan sampai jadi mayat hidup, -zombie versi bego- hanya karena cinta. Kalau saya melihat orang-orang pada desperado gara-gara karena tidak bisa in control dalam menghadapi lope-lope, apalah itu, devil dalam diri saya rasanya ingin… Menghancurkan orang yang membuat cinta menjadi sesuatu yang salah. Bukan apa-apa. Bagi saya dan –baru saya sadari- ada dalam salah satu lirik pada lagu Nidji yang menyebutkan bahwa, ‘Cinta tak akan pernah salah’.
Yeah.. Cinta tidak pernah salah. Yang salah adalah cara seseorang memaknai cinta itu sendiri. Pada dasarnya, cinta bisa dipelajari dari lingkungan, pengalaman sendiri maupun orang lain, juga dari buku –satu hal yang membuat saya mengerutkan dahi, kenapa di toko-toko buku, buku-buku tentang cinta ini terhampar pada rak yang bertuliskan PSIKOLOGI?? Seolah-olah seorang psikolog adalah pakar cinta-. Banyak kok yang bisa buat orang mengerti, memahami dan memaknai apa itu cinta tanpa perlu turun tangan langsung ke lubang cinta itu. Tanpa perlu melabeli kata JATUH di depan kata CINTA. Dan untuk dapat memahaminya, saya rasa nangis-nangis, pusing, stres, ngelamun dan desperado itu TIDAK PERLU...!!”
Karena cinta itu selalu datang dan kita tidak akan pernah bisa untuk menghindar.
Karena cinta itu telah datang dan takkan pergi sampai sekarang.
Karena cinta itu ada bahkan sejak kita belum menyadarinya.
Karena cinta itu yang memberi kebahagiaan, bukan penderitaan.
Karena cinta itu adalah kehidupan, bukan kematian.
Karena cinta itu wujud dari tangan TUHAN yang membuat kita tetap bertahan..
Ps. Tulisan ini –sangat- mungkin mendapat lebih banyak cercaan. Hehehe..
Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan..
Ini hanya sebuah tulisan tentang cinta dari seseorang yang tidak sedang jatuh cinta..
Ini hanya sebuah tulisan tentang cinta dari seseorang yang pernah jatuh cinta..
Ini hanya sebuah tulisan tentang cinta dari seseorang yang pernah menangis karena cinta..
Ini hanya sebuah tulisan tentang cinta dari seseorang yang pernah tertawa karena cinta..
Ini hanya sebuah tulisan tentang cinta dari seseorang yang pernah terluka oleh cinta..
Ini hanya sebuah tulisan tentang cinta dari seseorang yang pernah bahagia oleh cinta..
Ini hanya sebuah tulisan tentang cinta dari seseorang yang memiliki cinta..
Jakarta, 21 Februari 2010
Pukul. 00.59 WIB
Saya memang belum pernah memiliki love story yang sukses dengan seseorang. Tapi saya selalu belajar setiap kali saya mendengarkan dengan penuh perhatian –semoga tidak dianggap berlebihan karena memang begitu kenyataannya- cerita cinta teman-teman saya. Setiap cerita pasti memiliki pelajaran juga memberi inspirasi. Namun tak dapat dipungkiri hati kecil saya amat sangat bosan dengan roman picisan yang menimpa banyak teman-teman saya.
Suka-sukaan, gombal berlebihan, jadian, backstreet, putus, selingkuh, orangtua tidak setuju, de-el-el. Tidak adakah masalah lain yang harus diperdengarkan selain cinta???
Alamaaakk!!! Ini cinta ini gila!
Saya banyak mendengar pasangan yang tidak tau bagaimana menghadapi pasangan yang tidak mau mendengarkan penjelasan pasangannya, tidak percaya dengan pasangannya. Padahal sebenarnya mereka sama-sama sayang. Sama-sama memiliki ‘rasa’ itu. Hanya saja, saya pikir mereka tidak bisa mencari solusi kalau masih dalam keadaan kalut. Pertengkaran yang terjadi bisa jadi karena mereka masih ‘panas’. Banyak juga yang mengatakan bahwa mereka capek untuk melanjutkan hubungan dan memilih untuk putus. Begitu banyak alasan yang menurut saya terlalu mengada-ada. Seolah mereka lupa kalau sesuatu yang ‘manis’ pernah terjadi.
Sebenarnya –seringkali- saya ingin tertawa setiap kali ada teman yang meminta pendapat saya tentang hal tersebut –cinta-. Bukan maksud saya mengejek, meledek atau tak ingin membantu. Tapi bagaimana saya dapat membantu jika –bahkan- mereka –seharusnya- tau bahwa sejarah cinta saya nol. Saya pun gagal dan berakhir dengan lima huruf. P-U-T-U-S. Meski menurut saya, putus tidak menyelesaikan masalah jika masih bisa dibicarakan baik-baik. Lain lagi ceritanya kalau ada yang selingkuh.
Pasangan mana sih yang rela pasangannya mesra-mesraan sama orang lain di depannya?
Satu hal yang harus kamu tau –dan mungkin kamu udah tau-, cewek butuh cowok yang bisa mendengar apa yang tidak bisa dia katakan, begitu juga sebaliknya. Kalau kamu cemburu, berarti kamu tidak percaya dengan pasanganmu, sedangkan makanan pokok cinta tuh percaya. Bodoh aja kalau kamu memutuskan hubungan dengan seseorang hanya karena jealous. Karena tidak bisa menyuapkan makanan pokok itu. Kalau kamu tidak bisa memberikan makanan tersebut, lebih baik tidak usah pacaran de-el-el. Saya tidak ingin menyebut kata ta’aruf karena pada kenyataannya begitu banyak yang salah memaknai kata tersebut karena tidak ingin menyebut nama jalinan asmaranya dengan pacaran. Di sisi lain, dalam cinta tidak baik mengenal kata gengsi. Makan tuh gengsi! Karena masalah tidak akan selesai dengan gengsi. Kalau kata Kotak, ’Pelan-pelan Saja’ karena semua membutuhkan proses. Butuh introspeksi.
You’ll never know what you’ve, till you lost it.
Kembali bukan berarti saya melebih-lebihkan. Ini hanya sebatas pandangan saya. Dari kacamata saya. Yang akhirnya membuat saya berpikir bahwa seseorang yang mempunyai kecenderungan rasa memiliki yang sangat besar akan sangat protektif terhadap pasangannya. Dia tidak bisa membagi sesuatu yang menurut dia memang tidak bisa dibagi. Mungkin juga dia pernah merasakan kehilangan sesuatu yang cukup berarti baginya dan sekarang dia tidak mau lagi merasakan kehilangan.
“Itu possesif!”, sahut suara yang lain.
Ya –saya tidak membantah hal tersebut-.
Seseorang yang bersikap seperti itu –mudah-mudahan benar- karena dia sayang –itu yang saya bicarakan dengan salah seorang sepupu saya pada suatu malam-. Sekali lagi, coba kamu dengar apa yang tidak bisa dia ungkapkan. Mencoba berpikir dan memposisikan seandainya kamu yang ada di posisinya.
Pengibaratan cinta sesama manusia –terutama lawan jenis- yang saya dapat dari salah seorang teman saya adalah ‘Cinta itu seperti pasir. Semakin kuat kita menggenggamnya, lama-lama pasir dalam genggaman kita akan habis.’
Yap! Cemburu memang salah satu tanda cinta. Tapi keseringan cemburu hanya akan membuat ‘pasir-pasir’ itu habis. H-A-B-I-S. Kebanyakan dari mereka –bahkan- udah jadi budak cinta. Jadi algojo atas perasaan mereka sendiri. Rela melakukan segala macam cara untuk dapat –yang kata mereka- cinta mereka. Menyatakan diri sebagai pemilik dan membuat orang lain segan menjalin hubungan pertemanan karena hal tersebut. Yang menurut saya, belum tentu itu milik mereka. Kalau kata Kahlil Gibran, ‘Cinta bukan memiliki ataupun dimiliki. Karena cinta tlah cukup untuk cinta’. Dia anugerah dan kamu tidak bisa menolak kalau tuh panah udah menancap di dasar hati kamu. Dia sulit banget disembunyiin dan gilanya, udah kayak jelangkung. Datang tak dijemput pulang tak diantar. Terkadang tanpa sadar, sekesel-keselnya kamu pada pasanganmu, tetep aja di mata kamu cinta itu tidak pernah padam. Malah mungkin makin menggebu-gebu aja.
Cinta itu datang dari bermacam-macam rasa dan semua tergantung sama peramunya. Salah ngeramu aja, bisa jadi bencana. Mending kalau bencananya kecil. Kamu lihat aja di tivi-tivi. Pembunuhan bisa terjadi atas dasar cinta lho! Padahal cinta kan tak selamanya manis. Kadang ada pahitnya, asemnya sampai bau busuknya juga ada. Tapi seringkali orang yang sedang jatuh cinta lupa kalau mereka bakal ngelewati fase-fase itu juga. Maunya enak terus tapi giliran nanggung akibatnya kocar-kacir. Halah!
Satu lagi yang saya dapat dari teman saya, ‘Sebuah hubungan tuh ibarat rumah. Percaya jadi pondasinya. Jangan harap deh punya rumah yang kokoh kalau pondasinya aja berantakan. Dan yang tidak kalah penting, jangan pernah kamu membangun rumah di atas puing-puing rumah yang masih berantakan.’ Tuh sama aja hal bodoh yang dilakukan oleh orang bodoh.
Nonsense! Capek. Percuma. Sia-sia dan buang-buang waktu. Makan ati.
Saya –juga- paling malas menemani teman saya yang memaksakan senyumnya untuk meyakinkan orang lain bahwa dia ’baik-baik’ saja. Padahal hatinya sedang porak-poranda. Jangan sampai jadi mayat hidup, -zombie versi bego- hanya karena cinta. Kalau saya melihat orang-orang pada desperado gara-gara karena tidak bisa in control dalam menghadapi lope-lope, apalah itu, devil dalam diri saya rasanya ingin… Menghancurkan orang yang membuat cinta menjadi sesuatu yang salah. Bukan apa-apa. Bagi saya dan –baru saya sadari- ada dalam salah satu lirik pada lagu Nidji yang menyebutkan bahwa, ‘Cinta tak akan pernah salah’.
Yeah.. Cinta tidak pernah salah. Yang salah adalah cara seseorang memaknai cinta itu sendiri. Pada dasarnya, cinta bisa dipelajari dari lingkungan, pengalaman sendiri maupun orang lain, juga dari buku –satu hal yang membuat saya mengerutkan dahi, kenapa di toko-toko buku, buku-buku tentang cinta ini terhampar pada rak yang bertuliskan PSIKOLOGI?? Seolah-olah seorang psikolog adalah pakar cinta-. Banyak kok yang bisa buat orang mengerti, memahami dan memaknai apa itu cinta tanpa perlu turun tangan langsung ke lubang cinta itu. Tanpa perlu melabeli kata JATUH di depan kata CINTA. Dan untuk dapat memahaminya, saya rasa nangis-nangis, pusing, stres, ngelamun dan desperado itu TIDAK PERLU...!!”
Karena cinta itu selalu datang dan kita tidak akan pernah bisa untuk menghindar.
Karena cinta itu telah datang dan takkan pergi sampai sekarang.
Karena cinta itu ada bahkan sejak kita belum menyadarinya.
Karena cinta itu yang memberi kebahagiaan, bukan penderitaan.
Karena cinta itu adalah kehidupan, bukan kematian.
Karena cinta itu wujud dari tangan TUHAN yang membuat kita tetap bertahan..
Ps. Tulisan ini –sangat- mungkin mendapat lebih banyak cercaan. Hehehe..
Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan..
Ini hanya sebuah tulisan tentang cinta dari seseorang yang tidak sedang jatuh cinta..
Ini hanya sebuah tulisan tentang cinta dari seseorang yang pernah jatuh cinta..
Ini hanya sebuah tulisan tentang cinta dari seseorang yang pernah menangis karena cinta..
Ini hanya sebuah tulisan tentang cinta dari seseorang yang pernah tertawa karena cinta..
Ini hanya sebuah tulisan tentang cinta dari seseorang yang pernah terluka oleh cinta..
Ini hanya sebuah tulisan tentang cinta dari seseorang yang pernah bahagia oleh cinta..
Ini hanya sebuah tulisan tentang cinta dari seseorang yang memiliki cinta..
Jakarta, 21 Februari 2010
Pukul. 00.59 WIB
Friday, February 19, 2010
Cerpen Gagal gW....
Bali di Hatiku
Hari pertama di Bali…
Siang ini langit begitu cerah. Pantulan cahaya matahari membentuk bayangan hitam yang mengikuti langkahnya. Panas. Aira mempercepat langkahnya mensejajari langkah Randy, kakaknya, yang telah berjalan lebih dulu dengan trolley yang penuh barang. Randy dan Aira disambut oleh Caca dan Dini, kedua sepupunya. Mereka berpelukan erat dan cipika-cipiki saking kangennya karena hampir satu tahun lamanya mereka tak bertemu. Kedua sepupu Aira ini menetap di Yogyakarta dan mereka telah berjanji menghabiskan waktu liburan mereka di Bali. Setelah melepas kangen, mereka langsung meluncur ke Jalan Legian daerah Kuta. Daerah ini merupakan kawasan yang banyak didatangi oleh wisatawan.
Disanalah monumen ‘Ground Zero’ berdiri. Monumen ini dibangun untuk mengenang korban-korban ledakan Bom Bali I yang terjadi 12 Oktober 2002 silam. Dari monumen ‘Ground Zero’, perjalanan berlanjut menuju pantai Kuta yang juga tak jauh dari bandara Ngurah Rai. Masih ada waktu untuk melihat keindahan sunset di pantai Kuta sebelum menuju rumah Eyang Soedibyo untuk beristirahat.
***
Esok… Esoknya… Dan esoknya… Aira, Randy, Caca dan Dhini terus berwisata ke berbagai tempat dengan satu hari untuk beristirahat sebagai selingannya. Mereka mengunjungi berbagai tempat mulai dari Tanah Lot yang menurut legenda pura di Tanah Lot ini dijaga sejenis ular laut yang memiliki ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan sangat beracun, juga menikmati kesejukan dan indahnya danau di Bedugul, menyusuri hamparan pasir di pantai Dream Land, bermain kano di pantai Sanur, mengunjungi Bali Art Centre, keluar masuk pusat perbelanjaan di sepanjang Jalan Sudirman dan Jalan Teuku Umar hingga berbelanja di pasar Sukawati.
Hari ini, Aira, Caca dan Dhini mengarahkan tujuan berikutnya dengan mengunjungi Garuda Wisnu Kencana atau yang akrab disebut GWK yang berlokasi di Bukit Unggasan. Randy yang lelah menemani adik dan kedua sepupunya yang super heboh berjalan-jalan memilih beristirahat di rumah Eyang Soedibyo. GWK sendiri merupakan karya masterpiece Bali, I Nyoman Nuarta. Patung tersebut berwujud Dewa Wisnu yang dalam agama Hindu adalah Dewa Pelindung yang sedang mengendarai burung Garuda.
Aira terkagum-kagum dengan apa yang tengah dilihatnya. GWK merupakan bukit kapur yang disulap menjadi keindahan yang patut disyukuri. Seniman-seniman Bali begitu berbakat dan terlatih untuk membentuk bongkahan-bongkahan bukit kapur menjadi tempat wisata yang menarik. GWK dapat dikatakan sebagai kota mini karena memiliki berbagai fasilitas di tanah seluas puluhan hektar. Dari atas, pemandangan pantai Kuta dan Jimbaran terlihat begitu indah. Saat ini GWK dikembangkan sebagai taman budaya bagi pariwisata Bali dan Indonesia.
Lelah berjalan diantara bukit kapur, Aira, Caca dan Dhini merasakan bunyi di perut mereka. Ternyata sudah waktunya makan siang.
“Kita lunch di café yang ada hotspotnya ya…” Pinta Aira pada Caca yang bertindak sebagai driver.
“Beres, Sist…” Caca mengacungkan jempolnya.
Mobil pun meninggalkan kawasan GWK.
Selama beberapa menit mereka berkendaraan menyusuri jalan-jalan Bali yang cenderung lebih sepi jika dibandingkan dengan Jakarta. Dalam hari Aira bersyukur, apa jadinya jika ia kembali bertemu dengan macet. Bisa-bisa niatnya untuk refreshing akan gagal total.
“Kiri, Kak!” Seru Dhini seperti menghentikan angkot. Tangannya menunjuk sebuah café di pinggir jalan. Sebuah papan menunjukkan bahwa café tersebut dilengkapi dengan hotspot. Logo Speedy terlihat jelas dibawah tulisan hotspot dan membuat Caca menepikan mobil.
Mereka masuk dan memilih duduk di dekat jendela agar view di luar café masih dapat mereka nikmati. Seorang pelayan café datang menanyakan pesanan makanan. Usai memesan makanan, Aira mulai sibuk dengan laptopnya. Seperti ABG kebanyakan, Aira yang juga penggila situs-situs pertemanan seperti Friendster, Hi5, Facebook, Twitter, Plurk, Tumblr dan lain-lain mulai bertingkah seperti cacing kepanasan.
Dia membuka account facebook miliknya dan memulai dengan mengganti status pada home miliknya. ‘Abis marathon di GWK buat gue laper!!!!’, begitulah bunyi status baru Aira. Agak berlebihan memang. Lebai, begitu ucap beberapa teman-temannya. Namun seperti itulah cara Aira berekspresi. Setelah merubah status facebooknya, Aira mulai mengecek notificationnya yang mendadak membludak karena sudah beberapa hari dia tak menjamah dunia mayanya.
“Pasti habis bikin status lebai ya, Kak?” Dhini mencibir melihat tingkah kakak sepupunya. Selama beberapa saat Aira telah terbius oleh pesona facebook.
“Nggak kok.” Aira mengelak sambil memeletkan lidahnya. Dihadapannya, kedua sepupunya juga tampak sibuk dengan BB mereka.
“Hahahaha… Nggak apanya? Lebai kali ke’, Kak!” Dhini tertawa membaca status baru Aira dari BB-nya. Disebelahnya Caca ikut tertawa membaca status baru Aira.
“Sekalian aja ke’ tulis, ‘Abis manjatin bukit kapur di GWK… Capek!!!’.” Caca ikut meledek Aira.
“Yeeee.. Ke’ juga pada suka lebai kalau bikin status.” Beberapa hari di Bali membuat logat ketiganya tak ubahnya dengan mereka yang telah lama tinggal di Bali.
“Itu biar eksis, Kak…” Dhini terkekeh.
“Tuh tau…” Aira tertawa. Dia mulai menjawab satu per satu notification yang masuk.
Dari sekian banyak situs pertemanan, facebook adalah favorit Aira. Terbukti dari jumlah teman Aira yang mencapat angka lebih dari seribu. Lewat facebook, selain mendapat banyak teman baru, Aira juga menemukan teman-teman lamanya. Mulai dari teman TK dan SD selama ia masih tinggal di Bali, sampai teman SMP dan SMA pun tumplek ruah di facebooknya. Di rumah pun setiap hari Aira tak pernah absen untuk online. Beruntung kedua orangtuanya memfasilitasinya dengan sebuah laptop dan Speedy. Asalkan nilai pelajaran Aira tidak jatuh, Aira mendapat kebebasan untuk mengakses berbagai informasi melalui Speedy yang memang terjamin memiliki koneksi yang cepat dalam mengakses informasi dan memiliki berbagai penawaran yang menggiurkan bagi pelanggannya. Dengan Speedy pula Aira terbiasa mencari referensi untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya.
Beberapa notification yang masuk mengomentari status ‘lebai’ Aira. Aira membacanya dengan senyum tersungging sampai sebuah ajakan chat membuat Aira terkejut.
‘Allo, Aira.. Ini Tania, temen SD kamu dulu… Masih inget gak?? Kamu lagi di Bali ya??? Ketemuan yuk!!!’
Aira tercenung sejenak memandangi foto Tania. Mereka memang baru berteman di facebook. Dia mencoba mengingat Tania. Tania adalah teman SD-nya. Sudah tujuh tahun mereka tak bertemu dan itu menggelitik hari Aira untuk menerima ajakan Tania.
‘Tania… Inget-inget! Iya, aku lagi di Bali nih!! Ketemuan?? Hayuk!!! Kapan??’
Chatting via facebook berlanjut, mereka pun membuat janji untuk bertemu di salah satu tempat di kota Denpasar.
“Makan, Ra.” Teguran Caca membuat Aira tersadar. Pesanan mereka telah datang. Aira menyingkirkan laptopnya dan mulai melahap ayam bakar bumbu Bali pesanan mereka.
***
Hari ini adalah hari terakhir Aira di Bali. Besok siang ia akan kembali ke Jakarta. Aira melirik jam tangannya sekilas lalu kembali berkonsentrasi menatap jalanan. Kali ini ia pergi sendirian. Setelah mengantar Caca dan Dhini ke sebuah pusat perbelanjaan, Aira pamit untuk memenuhi janjinya bertemu dengan Tania. Pelan, Aira membawa Avanza biru milik Eyang Soedibyo menyusuri jalan-jalan di kota Denpasar.
Setelah melewati SMANSA Denpasar dan pasar Kreneng, Aira membelokkan mobil menyusuri Jalan Kapten Japa. Meski telah lama tinggal di Jakarta, Aira tak pernah lupa jalan-jalan di kota kelahirannya.
Rupanya Aira menuju Lapangan Puputan Renon atau yang juga disebut Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Denpasar. Di lapangan yang terletak di depan Kantor Gubernur Kepala Daerah Propinsi Bali yang juga di depan Gedung DPRD Propinsi Bali Niti Mandala Renon terdapat Monumen Bajra Sandhi. Monumen ini merupakan Perjuangan Rakyat Bali untuk memberi hormat pada para pahlawan. Di sinilah Aira dan Tania berjanji untuk bertemu. Perlahan Aira turun dan menuju sebuah anak tangga yang terdekat dari pintu monumen.
“Lapangannya luas ya, Ra.” Aira terperangah mendengar sapaan yang terdengar dari belakang. Ia berbalik dan mendapati seorang gadis berkulit putih tersenyum kepadanya. Kaos pink dengan aksesoris senada membuat Aira ikut tersenyum. Pinky Girl, sebutan untuk sahabat kecilnya ini tak berubah. Tania masih mencintai warna girly itu.
“Yang di tengah ini monumennya. Di dalam monumen ini ada ruang informasi, ruang keperpustakaan, ruang pameran, ruang pertemuan, ruang administrasi, gedung dan toilet. Ada juga pajangan miniatur perjuangan rakyat Bali dari masa ke masa. Tempat ini digolongkan dalam jenis museum khusus. Pelestarian sejarah dan kebudayaannya benar-benar dijaga lho, Ra. Maka dari itu, kita sebagai generasi mudah jangan hanya tahu segala macam hal yang terdapat di luar negeri. Justru yang di dalam negeri dulu yang perlu digali. Jadi nggak ada lagi hasil kebudayaan kita yang diambil alih dan diakui negara lain.” Dengan penuh semangat Tania memberi penjelasan mengenai apa yang ia ketahui tentang tempat ini.
“Kita janjian ketemu bukan untuk buat kamu mendadak jadi tour guide gini kan, Tan?” Aira merespon penjelasan Tania dengan senyum geli. Setiap kali bersama Tania, ia selalu mendapatkan hal-hal baru yang menyenangkan dan mengenyangkan wawasannya. Selain Pinky Girl, Tania layak mendapat julukan Ensiklopedia Berjalan. Tania memang berbeda. Maka Aira tak heran saat Tania mengajaknya bertemu di lapangan Renon, bukan di mall seperti layaknya ABG lainnya.
“Itu bonusnya! Yang pasti, aku mau ketemu kamu! Kangen!!” Tania langsung berhambur ke pelukan Aira. Aira balas memeluk Tania sambil tertawa-tawa.
Satu jam mereka habiskan untuk berputar-putar mengelilingi monumen. Tak lupa mengobrol seru sambil menyantap es kelapa muda seperti layaknya jaman SD dulu. Karena hari semakin sore, Aira dan Tania berpisah. Mereka berjanji untuk saling bertukar kabar sesampainya Aira di Jakarta.
***
Siang ini Aira kembali berada di perut si Burung Besi. Belum ada satu jam meninggalkan Bali rasanya Aira sudah kembali merindukan kota kelahirannya. Merindukan keluarga besarnya. Kedua sepupu gilanya, Caca, Dhini juga Tania. Ia tak dapat memejamkan mata. Di sebelahnya, Randy telah tertidur dengan mulut menganga dan telinga tertutup earphone yang tersambung pada ipod-nya. Dalam hatinya Aira bersenandung. Sungguh indah di pulau Bali… Pulau Dewata, menawan hati… Sayang-sayang waktuku pulang teringat selalu di pulau ini… Begitulah sepenggal lirik lagu Tina Toon yang berjudul Pulau Bali. Seperti itu pula yang dirasakan Aira sekarang.
Rasanya Aira ingin segera sampai di rumah untuk menyalakan laptop lalu mengkoneksikannya dengan Speedy dan kembali berselancar di dunia maya. Speedy membuatnya bertemu dengan barbagai wajah di belahan bumi manapun. Speedy membantunya menemukan berbagai informasi dengan cepat dan akurat. Speedy memudahkannya bertukar kabar dengan keluarganya. Dan Speedy membuatnya menemukan sahabat-sahabat baru!
SPEEDY…
Speed that you can trust...
-Cerpen yang gue kirim di salah satu lomba nulis..-
Hari pertama di Bali…
Siang ini langit begitu cerah. Pantulan cahaya matahari membentuk bayangan hitam yang mengikuti langkahnya. Panas. Aira mempercepat langkahnya mensejajari langkah Randy, kakaknya, yang telah berjalan lebih dulu dengan trolley yang penuh barang. Randy dan Aira disambut oleh Caca dan Dini, kedua sepupunya. Mereka berpelukan erat dan cipika-cipiki saking kangennya karena hampir satu tahun lamanya mereka tak bertemu. Kedua sepupu Aira ini menetap di Yogyakarta dan mereka telah berjanji menghabiskan waktu liburan mereka di Bali. Setelah melepas kangen, mereka langsung meluncur ke Jalan Legian daerah Kuta. Daerah ini merupakan kawasan yang banyak didatangi oleh wisatawan.
Disanalah monumen ‘Ground Zero’ berdiri. Monumen ini dibangun untuk mengenang korban-korban ledakan Bom Bali I yang terjadi 12 Oktober 2002 silam. Dari monumen ‘Ground Zero’, perjalanan berlanjut menuju pantai Kuta yang juga tak jauh dari bandara Ngurah Rai. Masih ada waktu untuk melihat keindahan sunset di pantai Kuta sebelum menuju rumah Eyang Soedibyo untuk beristirahat.
***
Esok… Esoknya… Dan esoknya… Aira, Randy, Caca dan Dhini terus berwisata ke berbagai tempat dengan satu hari untuk beristirahat sebagai selingannya. Mereka mengunjungi berbagai tempat mulai dari Tanah Lot yang menurut legenda pura di Tanah Lot ini dijaga sejenis ular laut yang memiliki ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan sangat beracun, juga menikmati kesejukan dan indahnya danau di Bedugul, menyusuri hamparan pasir di pantai Dream Land, bermain kano di pantai Sanur, mengunjungi Bali Art Centre, keluar masuk pusat perbelanjaan di sepanjang Jalan Sudirman dan Jalan Teuku Umar hingga berbelanja di pasar Sukawati.
Hari ini, Aira, Caca dan Dhini mengarahkan tujuan berikutnya dengan mengunjungi Garuda Wisnu Kencana atau yang akrab disebut GWK yang berlokasi di Bukit Unggasan. Randy yang lelah menemani adik dan kedua sepupunya yang super heboh berjalan-jalan memilih beristirahat di rumah Eyang Soedibyo. GWK sendiri merupakan karya masterpiece Bali, I Nyoman Nuarta. Patung tersebut berwujud Dewa Wisnu yang dalam agama Hindu adalah Dewa Pelindung yang sedang mengendarai burung Garuda.
Aira terkagum-kagum dengan apa yang tengah dilihatnya. GWK merupakan bukit kapur yang disulap menjadi keindahan yang patut disyukuri. Seniman-seniman Bali begitu berbakat dan terlatih untuk membentuk bongkahan-bongkahan bukit kapur menjadi tempat wisata yang menarik. GWK dapat dikatakan sebagai kota mini karena memiliki berbagai fasilitas di tanah seluas puluhan hektar. Dari atas, pemandangan pantai Kuta dan Jimbaran terlihat begitu indah. Saat ini GWK dikembangkan sebagai taman budaya bagi pariwisata Bali dan Indonesia.
Lelah berjalan diantara bukit kapur, Aira, Caca dan Dhini merasakan bunyi di perut mereka. Ternyata sudah waktunya makan siang.
“Kita lunch di café yang ada hotspotnya ya…” Pinta Aira pada Caca yang bertindak sebagai driver.
“Beres, Sist…” Caca mengacungkan jempolnya.
Mobil pun meninggalkan kawasan GWK.
Selama beberapa menit mereka berkendaraan menyusuri jalan-jalan Bali yang cenderung lebih sepi jika dibandingkan dengan Jakarta. Dalam hari Aira bersyukur, apa jadinya jika ia kembali bertemu dengan macet. Bisa-bisa niatnya untuk refreshing akan gagal total.
“Kiri, Kak!” Seru Dhini seperti menghentikan angkot. Tangannya menunjuk sebuah café di pinggir jalan. Sebuah papan menunjukkan bahwa café tersebut dilengkapi dengan hotspot. Logo Speedy terlihat jelas dibawah tulisan hotspot dan membuat Caca menepikan mobil.
Mereka masuk dan memilih duduk di dekat jendela agar view di luar café masih dapat mereka nikmati. Seorang pelayan café datang menanyakan pesanan makanan. Usai memesan makanan, Aira mulai sibuk dengan laptopnya. Seperti ABG kebanyakan, Aira yang juga penggila situs-situs pertemanan seperti Friendster, Hi5, Facebook, Twitter, Plurk, Tumblr dan lain-lain mulai bertingkah seperti cacing kepanasan.
Dia membuka account facebook miliknya dan memulai dengan mengganti status pada home miliknya. ‘Abis marathon di GWK buat gue laper!!!!’, begitulah bunyi status baru Aira. Agak berlebihan memang. Lebai, begitu ucap beberapa teman-temannya. Namun seperti itulah cara Aira berekspresi. Setelah merubah status facebooknya, Aira mulai mengecek notificationnya yang mendadak membludak karena sudah beberapa hari dia tak menjamah dunia mayanya.
“Pasti habis bikin status lebai ya, Kak?” Dhini mencibir melihat tingkah kakak sepupunya. Selama beberapa saat Aira telah terbius oleh pesona facebook.
“Nggak kok.” Aira mengelak sambil memeletkan lidahnya. Dihadapannya, kedua sepupunya juga tampak sibuk dengan BB mereka.
“Hahahaha… Nggak apanya? Lebai kali ke’, Kak!” Dhini tertawa membaca status baru Aira dari BB-nya. Disebelahnya Caca ikut tertawa membaca status baru Aira.
“Sekalian aja ke’ tulis, ‘Abis manjatin bukit kapur di GWK… Capek!!!’.” Caca ikut meledek Aira.
“Yeeee.. Ke’ juga pada suka lebai kalau bikin status.” Beberapa hari di Bali membuat logat ketiganya tak ubahnya dengan mereka yang telah lama tinggal di Bali.
“Itu biar eksis, Kak…” Dhini terkekeh.
“Tuh tau…” Aira tertawa. Dia mulai menjawab satu per satu notification yang masuk.
Dari sekian banyak situs pertemanan, facebook adalah favorit Aira. Terbukti dari jumlah teman Aira yang mencapat angka lebih dari seribu. Lewat facebook, selain mendapat banyak teman baru, Aira juga menemukan teman-teman lamanya. Mulai dari teman TK dan SD selama ia masih tinggal di Bali, sampai teman SMP dan SMA pun tumplek ruah di facebooknya. Di rumah pun setiap hari Aira tak pernah absen untuk online. Beruntung kedua orangtuanya memfasilitasinya dengan sebuah laptop dan Speedy. Asalkan nilai pelajaran Aira tidak jatuh, Aira mendapat kebebasan untuk mengakses berbagai informasi melalui Speedy yang memang terjamin memiliki koneksi yang cepat dalam mengakses informasi dan memiliki berbagai penawaran yang menggiurkan bagi pelanggannya. Dengan Speedy pula Aira terbiasa mencari referensi untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya.
Beberapa notification yang masuk mengomentari status ‘lebai’ Aira. Aira membacanya dengan senyum tersungging sampai sebuah ajakan chat membuat Aira terkejut.
‘Allo, Aira.. Ini Tania, temen SD kamu dulu… Masih inget gak?? Kamu lagi di Bali ya??? Ketemuan yuk!!!’
Aira tercenung sejenak memandangi foto Tania. Mereka memang baru berteman di facebook. Dia mencoba mengingat Tania. Tania adalah teman SD-nya. Sudah tujuh tahun mereka tak bertemu dan itu menggelitik hari Aira untuk menerima ajakan Tania.
‘Tania… Inget-inget! Iya, aku lagi di Bali nih!! Ketemuan?? Hayuk!!! Kapan??’
Chatting via facebook berlanjut, mereka pun membuat janji untuk bertemu di salah satu tempat di kota Denpasar.
“Makan, Ra.” Teguran Caca membuat Aira tersadar. Pesanan mereka telah datang. Aira menyingkirkan laptopnya dan mulai melahap ayam bakar bumbu Bali pesanan mereka.
***
Hari ini adalah hari terakhir Aira di Bali. Besok siang ia akan kembali ke Jakarta. Aira melirik jam tangannya sekilas lalu kembali berkonsentrasi menatap jalanan. Kali ini ia pergi sendirian. Setelah mengantar Caca dan Dhini ke sebuah pusat perbelanjaan, Aira pamit untuk memenuhi janjinya bertemu dengan Tania. Pelan, Aira membawa Avanza biru milik Eyang Soedibyo menyusuri jalan-jalan di kota Denpasar.
Setelah melewati SMANSA Denpasar dan pasar Kreneng, Aira membelokkan mobil menyusuri Jalan Kapten Japa. Meski telah lama tinggal di Jakarta, Aira tak pernah lupa jalan-jalan di kota kelahirannya.
Rupanya Aira menuju Lapangan Puputan Renon atau yang juga disebut Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Denpasar. Di lapangan yang terletak di depan Kantor Gubernur Kepala Daerah Propinsi Bali yang juga di depan Gedung DPRD Propinsi Bali Niti Mandala Renon terdapat Monumen Bajra Sandhi. Monumen ini merupakan Perjuangan Rakyat Bali untuk memberi hormat pada para pahlawan. Di sinilah Aira dan Tania berjanji untuk bertemu. Perlahan Aira turun dan menuju sebuah anak tangga yang terdekat dari pintu monumen.
“Lapangannya luas ya, Ra.” Aira terperangah mendengar sapaan yang terdengar dari belakang. Ia berbalik dan mendapati seorang gadis berkulit putih tersenyum kepadanya. Kaos pink dengan aksesoris senada membuat Aira ikut tersenyum. Pinky Girl, sebutan untuk sahabat kecilnya ini tak berubah. Tania masih mencintai warna girly itu.
“Yang di tengah ini monumennya. Di dalam monumen ini ada ruang informasi, ruang keperpustakaan, ruang pameran, ruang pertemuan, ruang administrasi, gedung dan toilet. Ada juga pajangan miniatur perjuangan rakyat Bali dari masa ke masa. Tempat ini digolongkan dalam jenis museum khusus. Pelestarian sejarah dan kebudayaannya benar-benar dijaga lho, Ra. Maka dari itu, kita sebagai generasi mudah jangan hanya tahu segala macam hal yang terdapat di luar negeri. Justru yang di dalam negeri dulu yang perlu digali. Jadi nggak ada lagi hasil kebudayaan kita yang diambil alih dan diakui negara lain.” Dengan penuh semangat Tania memberi penjelasan mengenai apa yang ia ketahui tentang tempat ini.
“Kita janjian ketemu bukan untuk buat kamu mendadak jadi tour guide gini kan, Tan?” Aira merespon penjelasan Tania dengan senyum geli. Setiap kali bersama Tania, ia selalu mendapatkan hal-hal baru yang menyenangkan dan mengenyangkan wawasannya. Selain Pinky Girl, Tania layak mendapat julukan Ensiklopedia Berjalan. Tania memang berbeda. Maka Aira tak heran saat Tania mengajaknya bertemu di lapangan Renon, bukan di mall seperti layaknya ABG lainnya.
“Itu bonusnya! Yang pasti, aku mau ketemu kamu! Kangen!!” Tania langsung berhambur ke pelukan Aira. Aira balas memeluk Tania sambil tertawa-tawa.
Satu jam mereka habiskan untuk berputar-putar mengelilingi monumen. Tak lupa mengobrol seru sambil menyantap es kelapa muda seperti layaknya jaman SD dulu. Karena hari semakin sore, Aira dan Tania berpisah. Mereka berjanji untuk saling bertukar kabar sesampainya Aira di Jakarta.
***
Siang ini Aira kembali berada di perut si Burung Besi. Belum ada satu jam meninggalkan Bali rasanya Aira sudah kembali merindukan kota kelahirannya. Merindukan keluarga besarnya. Kedua sepupu gilanya, Caca, Dhini juga Tania. Ia tak dapat memejamkan mata. Di sebelahnya, Randy telah tertidur dengan mulut menganga dan telinga tertutup earphone yang tersambung pada ipod-nya. Dalam hatinya Aira bersenandung. Sungguh indah di pulau Bali… Pulau Dewata, menawan hati… Sayang-sayang waktuku pulang teringat selalu di pulau ini… Begitulah sepenggal lirik lagu Tina Toon yang berjudul Pulau Bali. Seperti itu pula yang dirasakan Aira sekarang.
Rasanya Aira ingin segera sampai di rumah untuk menyalakan laptop lalu mengkoneksikannya dengan Speedy dan kembali berselancar di dunia maya. Speedy membuatnya bertemu dengan barbagai wajah di belahan bumi manapun. Speedy membantunya menemukan berbagai informasi dengan cepat dan akurat. Speedy memudahkannya bertukar kabar dengan keluarganya. Dan Speedy membuatnya menemukan sahabat-sahabat baru!
SPEEDY…
Speed that you can trust...
-Cerpen yang gue kirim di salah satu lomba nulis..-
Bentuk syukur yang tak mampu menggantikan nikmatNya
Pagi ini gue lihat dengan jelas salah satu potret buruk mungkin ini yang termasuk paling buruk dari yang terburuk di negara ini. Udah kayak lagunya Andra and the backbone. Lagi… Lagi… dan Lagi… Rasanya sedih banget!!!
Ngelihat bayi yang baru beberapa bulan -atau mungkin masih hitungan hari- menghirup napas dunia harus kembali ke pangkuanNya karena kemiskinan. Mungkin dulu gue juga hampir lewat alias koit yang nggak lain Englishnya tuh pass away tapi bukan karena kemiskinan. Nggak tau deh apa sebabnya, gue juga nggak mau tau pastinya kenapa. Tapi kata Bundaku tercinta and tersayang… Sebulan setelah gue dilahirin dan mencium aura setan di sekeliling, gue dirawat di rumah sakit dan langsung ditemani dokter, suster and nggak ketinggalan jarum infus. Itu kali’ yang sampai sekarang buat gue agak malay diajak ke rumah sakit atau ketemu dokter.
Masih di TV, gue ngelihat bocah berumur di bawah sepuluh tahun –tapi nggak kelihatan berusia sepuluh tahun- harus mengalami gizi buruk karena ketiadaan makanan dan obat di rumahnya. Badan tuh bocah kuruuuuuuusss…. Banget! Cuma tulang yang berbalut kulit. Mulutnya terus terbuka seperti huruf ‘O’. Gue perhatiin anatomi tubuhnya juga nggak berfungsi dengan semestinya. Menyedihkan...
Gue nangis -untung aja udah pagi buta dan orang rumah udah pada bobok. Nggak lucu aja kalau gue kegep nangis gara-gara nonton TV. Belum ada judul tuh! Dan ngelihat si anak itu hanya dikasih makan bubur putih yang enceeerr… banget! Plus air putih yang KATANYA sebagai pengganti susu. Orang tuanya nggak bisa beli susu atau memang si anak yang udah nggak bisa lagi mencerna makanan selain dua jenis makanan dan minuman yang tadi gue sebut. Gue nggak berani berspekulasi.
Sedih aja karena situasi yang gue lihat beda banget sama keadaan di rumah gue yang setiap hari makanan tersedia dengan lengkap. Mau pagi, siang sampai malam dan ketemu pagi lagi. Bundaku nggak akan pernah ngebiarin anak-anaknya kelaparan! Kata Bundaku kalau lapar kita nggak bisa mikir! Pantes aja Bundaku pinter wong Bundaku nggak pernah lapar. Hehehe…
Belum pernah sekalipun dalam hidup gue ngerasain hanya makan dengan bubur encer dan air putih. Kalau pun gue sakit paling nggak bubur yang dibuat untuk gue tuh kental dan nggak hanya bubur. Pasti ada aksesoris tambahan macam ayam suwir, daging pokoknya banyak, di permukaannya yang buat lidah gue yang pahit jadi berselera untuk menyantapnya meski hanya beberapa suap. Dan nggak lama tayangan berganti memperlihatkan seorang anak perempuan mungkin juga berumur kurang dari sepuluh tahun. Dia harus menderita saat perawat dan dokter berusaha membersihkan luka menganga yang terus mengucurkan darah dari tangan dan lengannya akibat gigitan anjing.
Dasar Anjing! Memang nggak ada makanan lain apa selain ngegigitin tangan??!! Sekali-sekali makan rumput kan cukup sehat dan nggak buat si Anjing menjemput maut terus mati! Bervitamin lagi! Anggap aja sayur. Majikannya juga nggak tau diri! Mau ngelepas anjing dari kandangnya atau memang sengaja dibuang! Gue nggak peduli yang pasti Anjing gila itu udah merugikan.
Pihak rumah sakit hanya memberi anak itu antiseptik tanpa suntikan anti rabies. Aduhh... Pasti sakit banget rasanya! Gue nggak kebayang. Gue lihat anak itu terus nangis dan ibunya duduk di sebelahnya berusaha menenangkan anak itu.
Kalau Bundaku yang jadi si ibu and gue jadi anaknya… Atau malah gue yang jadi si ibu and punya anak yang kegigit anjing… Gue yakin banget Bundaku bakal ngelakuin apa aja yang penting gue dapat suntikan rabies and nggak nangis lagi. Bodo’ amat dengan semua harga yang harus Bundaku bayar. Yang penting anaknya sembuh. Itu juga yang bakal gue lakuin. Yahhh… Gue sadar banget semua masalah mereka bermuara pada uang…
Karena orang tuanya nggak punya uang untuk membiayai pengobatannya.
Karena rumah sakit udah nggak peduli lagi dengan seonggok kartu askes.
Karena lebih dari satu triliyun pemerintah kita berhutang pada rumah sakit.
Masih banyak ‘karena’ yang lain dan membuat pihak rumah sakit tidak memberikan pelayanan yang maksimal. Pelayanan yang seharusnya layak pasien dapatkan dari suster dan dokternya. Sayangnya semua baru akan bergerak bila iming-iming uang sudah ada di tangannya. Kalau gitu dimana sumpah yang pernah diambil sebelum mereka memperoleh jubah putih dan stetoskop yang selalu menggantung di leher mereka. Gue nggak skeptis, gue percaya masih ada orang baik yang selalu bersedia menjadi perantara bagi sesamanya. Jumlahnya aja yang nggak sebanding dengan yang membutuhkan uluran tangan.
Ijinkan aku memberikan cintaMu lewat tanganku...
Hari gini siapa sih yang nggak tertarik sama uang, fulus, duit, doku, hepeng dan banyak istilah lainnya. Gue juga nggak bakal nolak kalau dikasih. Asal dengan cara yang halal. Nurani kadang tak terkendali.
Kemudian tayangan pun beralih pada satu situasi yang sudah tak asing lagi. Banjir yang lagi-lagi –LAGI- merendam banyak kota di negeri ini. Bibir pantai di Ancol semakin lama semakin pendek aja. Nggak lucu deh kalau beberapa tahun lagi Jakarta udah the end! Lama-lama kita harus belajar sama Belanda dengan dam-nya yang bisa survive di bawah laut. Ini membuat deretan PR pemerintah semakin bertambah panjang dan mungkin bisa buat kita nggak naik kelas lagi! Sampai kapan kita mau terus berada di posisi tiga berteman dengan negara-negara yang melarat alias miskin. Parahnya Indonesia nggak hanya miskin materi tapi juga miskin moral. Dan hebatnya! Nggak sedikit juga mereka yang miskin moral ini mulai nyari dan udah dapat kambing hitam untuk dipersalahkan atas semua yang terjadi saat ini. Gue nyaris bosen mengikuti semua gosip yang sangat benar itu. Yang mana wakil rakyat di ‘sono’ banyak yang ketahuan korupsi, selingkuh sampai in action dalam video mesum.
Apa kabar dunia?? Teteeep Kacau!!!
Belum lagi hal lain yang bakal ngabisin pagi gue ini –mungkin bahkan seluruh hidup- kalau yang gue lakuin membongkar segala kemirisan yang terjadi di Indonesia. Kapan ya Indonesia berubah dari negara berkembang –baca: melarat- menjadi negara adi kuasa bak Amerika Serikat. Hufff... Ngebayangin pun rasanya gue takut. Takut kecewa atas ekspektasi gue ini.
Separah itukah yang selama ini sempat terabaikan oleh hidup gue yang baru menginjak usia 19? Kemana aja gue selama ini??
Jawabannya tidur di kamar setelah begadang semalam ngantuk buat bikin novel emosional yang udah empat tahun ini nggak jadi-jadi karena banyak sebab bertema ‘Kepuasan Diri versi A-N-A’. -ANA tuh inisial gue-
Tiap dapat libur kuliah, dunia gue seolah terbalik. Tidur di waktu Subuh bangun udah Zuhur aja. Tidur pagi dan melek tengah malam. Selalu kayak gitu. Jadi anak kalong yang nggak sehat tapi tetap optimis berusaha!!
Mungkin gue udah sering denger berita kayak gitu tapi baru pagi ini gue bener-bener terhanyut dengan semua tayangan itu. Gue bisa sampai merinding dan empati –satu sikap yang jarang banget gue tunjukin di depan umum- tiba-tiba datang begitu dalam. Sangat menyentuh...
Kenapa harus mereka yang ikut menanggung kebopengan dari negara ini??
Tapi gue juga mencoba melihat dari sisi lain. Mungkin juga hukum alam yang harus mereka terima karena belum juga diintrospeksi. Who knows??!
Gue yakin di luar sana masih banyak cerita yang bisa mengoyak-oyak batin gue. Yang selama ini berusaha terus gue tutup mata dan kuping gue tiap kali Bundaku menceritakan topik berita yang telah ditontonnya. Malam eh pagi ini nggak sengaja dan kecolongan. Nggak sengaja ganti channel tipi pas lagi asyik-asyiknya nonton iklan yang memotong DVD The Ring Two yang iseng banget gue tonton sendirian. Ternyata buat banyak pelajaran dalam hidup gue. Paling nggak kecolongan berhasil buka mata dan kuping gue yang sempat ketutup. Itu bisa buat gue lebih bersyukur.
Bersyukur karena udah dikasih banyak warna dalam hidup gue. Selain Hitam dan Putih ternyata masih ada Abu-Abu. Warna terakhir adalah tempat gue bergerak bebas dan selalu jadi pegangan gue. Setiap orang nggak seputih dan sehitam yang elo kira kok. Kalau kulit lo hitam mah udah dari sononya kali’ ye... Kalau nggak salahin Bunda lo kenapa ngawinin Bokap yang hitam dan sebaliknya.
Just kidding... Semua harus disyukuri...
Bersyukur karena masih diijinin buka mata setiap harinya.
Bersyukur karena oksigen yang gue hirup tiap hari nggak perlu bayar dan nyampah CO2 juga nggak pakai pajak kayak kendaraan dan rumah. Not for sale!
Bersyukur karena Tuhan masih ngasih kepercayaan sama gue untuk memecahkan banyak masalah. Mau penting atau nggak, gue nggak peduli. Pastinya buat gue terus introspeksi.
Bersyukur karena masih punya orang tua yang lengkap.
Bersyukur karena masih punya dua pasang Eyang Kakung dan Eyang Uti yang sayang sama gue, punya tante-oom dan sepupu-sepupu yang kompak banget kalau disuruh bikin rusuh. Bersyukur karena masih memiliki keluarga besar yang… Gue nggak punya kata-kata yang menakjubkan dan pantas untuk menggambarkan betapa bersyukurnya gue dilahirkan ke dunia tanpa cacat fisik.
Bersyukur karena masih dikelilingi keluarga yang solid biarpun kadang menjengkolkan. Nggak ada yang lebih menjengkolkan dan membahagiakan selain berada di dalam rumah lo sendiri. Percaya sama gue…
Bersyukur karena masih bisa makan sehari tiga kali walaupun yang lebih sering gue lakuin sih makan sehari sekali.
Bersyukur karena masih bisa tidur berselimut di kasur yang empuk di dalam rumah yang sampai saat ini belum pernah terendam banjir. Seumur hidup gue belum tau rasanya kena banjir tapi nyicipin akibatnya sih sering. Semoga Tuhan yang Maha Esa selalu berbaik hati dan menghindarkan gue dari banjir sampai ku menutup mata… Alasan tersimpel dan nggak neko-neko, gue nggak bisa berenang dan gue nggak mau mati tenggelam.
Bersyukur karena masih bisa ngerasain nikmatnya ngopi dan ngunyah bubble gum rasa mint sambil ngetik di depan laptop sampai pagi.
Bersyukur karena masih dibiarkan untuk berfantasi setiap detiknya. Gue akan coba mewujudkan semua fantasi gue berkali-kali lebih besar daripada DuFan yang udah beranak seribu kali lipat!
Bersyukur karena masih ada banyak manusia sehat lahir batin yang mau jadi teman sekaligus SxHxBxT makhluk lemot, kritis, narsis, childish, skeptis, kontroversial, dingin, egois, nyebelin, namun ngangenin and nggak akan pernah terlupakan kayak gue. Nidji buat lagu ‘Jangan Lupakan’ untuk semua makhluk yang nggak pernah mau dilupain. Buat mereka yang selalu nulis ‘Don’t Forget Me!’ di buku tahunan atau seragam sekolah temannya sesaat setelah Depdiknas mengumumkan kelulusan. Yup! Dilupain itu merupakan satu fase yang sangat menyebalkan. Jangan sampai deh menimpa gue karena gue juga berusaha keras untuk tidak melupakan.
Bersyukur karena masih dikasih kesempatan untuk merasakan sedikit kebanggaan melihat nama gue masuk koran dan mendapat ‘kursi panas’ di salah satu universitas negeri beberapa tahun lalu. Bersyukur karena dapat jurusan yang sesuai dengan minat gue.
Bersyukur karena masih bisa bolak-balik ke kampus dengan selamat meski sempat mengalami kehilangan ponsel yang buat masyarakat mungkin udah biasa aja. Buat gue nggak!!!
Bersyukur karena nilai-nilai UAS gue lumayan buat gue terhindar dari bisikan Bundaku meski belum sampai target yang gue harapkan.
Bersyukur karena masih diberi mata untuk melihat banyak ketegaran yang sangat memuakkan dan telinga untuk melewati masa yang penuh konflik gila ini.
Wow!! Kita harus bisa mendekorasi ulang Bunda Pertiwi. Bukan dengan sekedar doa namun juga analisa dan perbuatan nyata.
Bersyukur… Bersyukur… Dan Bersyukur… Atas banyak hal yang udah Tuhan kasih sama gue yang nggak bisa gue sebutin satu per satu. Gile aja lo kalau gue tulis satu per satu di sini, yang ada isinya bikin gue males buat baca ulang saking begitu Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Sang Pencipta.
Gue nggak mau sok idealis di sini karena semua idealisme gue nggak akan bisa terwujud hanya dengan ngeluh dan mengumbar banyak janji surga yang mungkin sangat berpeluang untuk buatin tiket emas untuk gue untuk semakin berlama-lama di neraka. Nanti… Gue nggak mau ada tayangan memalukan yang akan semua orang lihat nanti waktu perhitungan akan catatan malaikat.
Untuk semua makhluk hidup yang udah lulus kejar paket A, B dan C -yang bukan makhluk hidup gue harap nggak ikutan- yang mungkin bakal ketawa geli atau bahkan ngakak dan juga nggak menutup kemungkinan buat lo semua terpesona dengan segala uraian gue. Gue harap ada manfaatnya karena gue nggak belajar untuk lebai dan bukan omong kosong!
Itu yang bener-bener gue rasain pas nonton berita di salah satu stasiun televisi swasta dinihari ini. Itu yang gue rasain saat lagi-lagi ngelihat ketidakadilan merajalela dan tertawa gembira. Saat airmata kembali tertumpah tanpa sempat tertahan dan terjelaskan. Itu yang gue rasain sampai buat gue rela nggak bobok hanya untuk ber- Queen Drama kayak gini.
Cukup! Ini saatnya kita bergerak.
Berusaha keras merubah dunia… Di mulai dari diri kita sendiri…
It’s Me!!
Yang lagi kesambet jin ifrit karena kebanyakan begadang. Hehehe…
Ngelihat bayi yang baru beberapa bulan -atau mungkin masih hitungan hari- menghirup napas dunia harus kembali ke pangkuanNya karena kemiskinan. Mungkin dulu gue juga hampir lewat alias koit yang nggak lain Englishnya tuh pass away tapi bukan karena kemiskinan. Nggak tau deh apa sebabnya, gue juga nggak mau tau pastinya kenapa. Tapi kata Bundaku tercinta and tersayang… Sebulan setelah gue dilahirin dan mencium aura setan di sekeliling, gue dirawat di rumah sakit dan langsung ditemani dokter, suster and nggak ketinggalan jarum infus. Itu kali’ yang sampai sekarang buat gue agak malay diajak ke rumah sakit atau ketemu dokter.
Masih di TV, gue ngelihat bocah berumur di bawah sepuluh tahun –tapi nggak kelihatan berusia sepuluh tahun- harus mengalami gizi buruk karena ketiadaan makanan dan obat di rumahnya. Badan tuh bocah kuruuuuuuusss…. Banget! Cuma tulang yang berbalut kulit. Mulutnya terus terbuka seperti huruf ‘O’. Gue perhatiin anatomi tubuhnya juga nggak berfungsi dengan semestinya. Menyedihkan...
Gue nangis -untung aja udah pagi buta dan orang rumah udah pada bobok. Nggak lucu aja kalau gue kegep nangis gara-gara nonton TV. Belum ada judul tuh! Dan ngelihat si anak itu hanya dikasih makan bubur putih yang enceeerr… banget! Plus air putih yang KATANYA sebagai pengganti susu. Orang tuanya nggak bisa beli susu atau memang si anak yang udah nggak bisa lagi mencerna makanan selain dua jenis makanan dan minuman yang tadi gue sebut. Gue nggak berani berspekulasi.
Sedih aja karena situasi yang gue lihat beda banget sama keadaan di rumah gue yang setiap hari makanan tersedia dengan lengkap. Mau pagi, siang sampai malam dan ketemu pagi lagi. Bundaku nggak akan pernah ngebiarin anak-anaknya kelaparan! Kata Bundaku kalau lapar kita nggak bisa mikir! Pantes aja Bundaku pinter wong Bundaku nggak pernah lapar. Hehehe…
Belum pernah sekalipun dalam hidup gue ngerasain hanya makan dengan bubur encer dan air putih. Kalau pun gue sakit paling nggak bubur yang dibuat untuk gue tuh kental dan nggak hanya bubur. Pasti ada aksesoris tambahan macam ayam suwir, daging pokoknya banyak, di permukaannya yang buat lidah gue yang pahit jadi berselera untuk menyantapnya meski hanya beberapa suap. Dan nggak lama tayangan berganti memperlihatkan seorang anak perempuan mungkin juga berumur kurang dari sepuluh tahun. Dia harus menderita saat perawat dan dokter berusaha membersihkan luka menganga yang terus mengucurkan darah dari tangan dan lengannya akibat gigitan anjing.
Dasar Anjing! Memang nggak ada makanan lain apa selain ngegigitin tangan??!! Sekali-sekali makan rumput kan cukup sehat dan nggak buat si Anjing menjemput maut terus mati! Bervitamin lagi! Anggap aja sayur. Majikannya juga nggak tau diri! Mau ngelepas anjing dari kandangnya atau memang sengaja dibuang! Gue nggak peduli yang pasti Anjing gila itu udah merugikan.
Pihak rumah sakit hanya memberi anak itu antiseptik tanpa suntikan anti rabies. Aduhh... Pasti sakit banget rasanya! Gue nggak kebayang. Gue lihat anak itu terus nangis dan ibunya duduk di sebelahnya berusaha menenangkan anak itu.
Kalau Bundaku yang jadi si ibu and gue jadi anaknya… Atau malah gue yang jadi si ibu and punya anak yang kegigit anjing… Gue yakin banget Bundaku bakal ngelakuin apa aja yang penting gue dapat suntikan rabies and nggak nangis lagi. Bodo’ amat dengan semua harga yang harus Bundaku bayar. Yang penting anaknya sembuh. Itu juga yang bakal gue lakuin. Yahhh… Gue sadar banget semua masalah mereka bermuara pada uang…
Karena orang tuanya nggak punya uang untuk membiayai pengobatannya.
Karena rumah sakit udah nggak peduli lagi dengan seonggok kartu askes.
Karena lebih dari satu triliyun pemerintah kita berhutang pada rumah sakit.
Masih banyak ‘karena’ yang lain dan membuat pihak rumah sakit tidak memberikan pelayanan yang maksimal. Pelayanan yang seharusnya layak pasien dapatkan dari suster dan dokternya. Sayangnya semua baru akan bergerak bila iming-iming uang sudah ada di tangannya. Kalau gitu dimana sumpah yang pernah diambil sebelum mereka memperoleh jubah putih dan stetoskop yang selalu menggantung di leher mereka. Gue nggak skeptis, gue percaya masih ada orang baik yang selalu bersedia menjadi perantara bagi sesamanya. Jumlahnya aja yang nggak sebanding dengan yang membutuhkan uluran tangan.
Ijinkan aku memberikan cintaMu lewat tanganku...
Hari gini siapa sih yang nggak tertarik sama uang, fulus, duit, doku, hepeng dan banyak istilah lainnya. Gue juga nggak bakal nolak kalau dikasih. Asal dengan cara yang halal. Nurani kadang tak terkendali.
Kemudian tayangan pun beralih pada satu situasi yang sudah tak asing lagi. Banjir yang lagi-lagi –LAGI- merendam banyak kota di negeri ini. Bibir pantai di Ancol semakin lama semakin pendek aja. Nggak lucu deh kalau beberapa tahun lagi Jakarta udah the end! Lama-lama kita harus belajar sama Belanda dengan dam-nya yang bisa survive di bawah laut. Ini membuat deretan PR pemerintah semakin bertambah panjang dan mungkin bisa buat kita nggak naik kelas lagi! Sampai kapan kita mau terus berada di posisi tiga berteman dengan negara-negara yang melarat alias miskin. Parahnya Indonesia nggak hanya miskin materi tapi juga miskin moral. Dan hebatnya! Nggak sedikit juga mereka yang miskin moral ini mulai nyari dan udah dapat kambing hitam untuk dipersalahkan atas semua yang terjadi saat ini. Gue nyaris bosen mengikuti semua gosip yang sangat benar itu. Yang mana wakil rakyat di ‘sono’ banyak yang ketahuan korupsi, selingkuh sampai in action dalam video mesum.
Apa kabar dunia?? Teteeep Kacau!!!
Belum lagi hal lain yang bakal ngabisin pagi gue ini –mungkin bahkan seluruh hidup- kalau yang gue lakuin membongkar segala kemirisan yang terjadi di Indonesia. Kapan ya Indonesia berubah dari negara berkembang –baca: melarat- menjadi negara adi kuasa bak Amerika Serikat. Hufff... Ngebayangin pun rasanya gue takut. Takut kecewa atas ekspektasi gue ini.
Separah itukah yang selama ini sempat terabaikan oleh hidup gue yang baru menginjak usia 19? Kemana aja gue selama ini??
Jawabannya tidur di kamar setelah begadang semalam ngantuk buat bikin novel emosional yang udah empat tahun ini nggak jadi-jadi karena banyak sebab bertema ‘Kepuasan Diri versi A-N-A’. -ANA tuh inisial gue-
Tiap dapat libur kuliah, dunia gue seolah terbalik. Tidur di waktu Subuh bangun udah Zuhur aja. Tidur pagi dan melek tengah malam. Selalu kayak gitu. Jadi anak kalong yang nggak sehat tapi tetap optimis berusaha!!
Mungkin gue udah sering denger berita kayak gitu tapi baru pagi ini gue bener-bener terhanyut dengan semua tayangan itu. Gue bisa sampai merinding dan empati –satu sikap yang jarang banget gue tunjukin di depan umum- tiba-tiba datang begitu dalam. Sangat menyentuh...
Kenapa harus mereka yang ikut menanggung kebopengan dari negara ini??
Tapi gue juga mencoba melihat dari sisi lain. Mungkin juga hukum alam yang harus mereka terima karena belum juga diintrospeksi. Who knows??!
Gue yakin di luar sana masih banyak cerita yang bisa mengoyak-oyak batin gue. Yang selama ini berusaha terus gue tutup mata dan kuping gue tiap kali Bundaku menceritakan topik berita yang telah ditontonnya. Malam eh pagi ini nggak sengaja dan kecolongan. Nggak sengaja ganti channel tipi pas lagi asyik-asyiknya nonton iklan yang memotong DVD The Ring Two yang iseng banget gue tonton sendirian. Ternyata buat banyak pelajaran dalam hidup gue. Paling nggak kecolongan berhasil buka mata dan kuping gue yang sempat ketutup. Itu bisa buat gue lebih bersyukur.
Bersyukur karena udah dikasih banyak warna dalam hidup gue. Selain Hitam dan Putih ternyata masih ada Abu-Abu. Warna terakhir adalah tempat gue bergerak bebas dan selalu jadi pegangan gue. Setiap orang nggak seputih dan sehitam yang elo kira kok. Kalau kulit lo hitam mah udah dari sononya kali’ ye... Kalau nggak salahin Bunda lo kenapa ngawinin Bokap yang hitam dan sebaliknya.
Just kidding... Semua harus disyukuri...
Bersyukur karena masih diijinin buka mata setiap harinya.
Bersyukur karena oksigen yang gue hirup tiap hari nggak perlu bayar dan nyampah CO2 juga nggak pakai pajak kayak kendaraan dan rumah. Not for sale!
Bersyukur karena Tuhan masih ngasih kepercayaan sama gue untuk memecahkan banyak masalah. Mau penting atau nggak, gue nggak peduli. Pastinya buat gue terus introspeksi.
Bersyukur karena masih punya orang tua yang lengkap.
Bersyukur karena masih punya dua pasang Eyang Kakung dan Eyang Uti yang sayang sama gue, punya tante-oom dan sepupu-sepupu yang kompak banget kalau disuruh bikin rusuh. Bersyukur karena masih memiliki keluarga besar yang… Gue nggak punya kata-kata yang menakjubkan dan pantas untuk menggambarkan betapa bersyukurnya gue dilahirkan ke dunia tanpa cacat fisik.
Bersyukur karena masih dikelilingi keluarga yang solid biarpun kadang menjengkolkan. Nggak ada yang lebih menjengkolkan dan membahagiakan selain berada di dalam rumah lo sendiri. Percaya sama gue…
Bersyukur karena masih bisa makan sehari tiga kali walaupun yang lebih sering gue lakuin sih makan sehari sekali.
Bersyukur karena masih bisa tidur berselimut di kasur yang empuk di dalam rumah yang sampai saat ini belum pernah terendam banjir. Seumur hidup gue belum tau rasanya kena banjir tapi nyicipin akibatnya sih sering. Semoga Tuhan yang Maha Esa selalu berbaik hati dan menghindarkan gue dari banjir sampai ku menutup mata… Alasan tersimpel dan nggak neko-neko, gue nggak bisa berenang dan gue nggak mau mati tenggelam.
Bersyukur karena masih bisa ngerasain nikmatnya ngopi dan ngunyah bubble gum rasa mint sambil ngetik di depan laptop sampai pagi.
Bersyukur karena masih dibiarkan untuk berfantasi setiap detiknya. Gue akan coba mewujudkan semua fantasi gue berkali-kali lebih besar daripada DuFan yang udah beranak seribu kali lipat!
Bersyukur karena masih ada banyak manusia sehat lahir batin yang mau jadi teman sekaligus SxHxBxT makhluk lemot, kritis, narsis, childish, skeptis, kontroversial, dingin, egois, nyebelin, namun ngangenin and nggak akan pernah terlupakan kayak gue. Nidji buat lagu ‘Jangan Lupakan’ untuk semua makhluk yang nggak pernah mau dilupain. Buat mereka yang selalu nulis ‘Don’t Forget Me!’ di buku tahunan atau seragam sekolah temannya sesaat setelah Depdiknas mengumumkan kelulusan. Yup! Dilupain itu merupakan satu fase yang sangat menyebalkan. Jangan sampai deh menimpa gue karena gue juga berusaha keras untuk tidak melupakan.
Bersyukur karena masih dikasih kesempatan untuk merasakan sedikit kebanggaan melihat nama gue masuk koran dan mendapat ‘kursi panas’ di salah satu universitas negeri beberapa tahun lalu. Bersyukur karena dapat jurusan yang sesuai dengan minat gue.
Bersyukur karena masih bisa bolak-balik ke kampus dengan selamat meski sempat mengalami kehilangan ponsel yang buat masyarakat mungkin udah biasa aja. Buat gue nggak!!!
Bersyukur karena nilai-nilai UAS gue lumayan buat gue terhindar dari bisikan Bundaku meski belum sampai target yang gue harapkan.
Bersyukur karena masih diberi mata untuk melihat banyak ketegaran yang sangat memuakkan dan telinga untuk melewati masa yang penuh konflik gila ini.
Wow!! Kita harus bisa mendekorasi ulang Bunda Pertiwi. Bukan dengan sekedar doa namun juga analisa dan perbuatan nyata.
Bersyukur… Bersyukur… Dan Bersyukur… Atas banyak hal yang udah Tuhan kasih sama gue yang nggak bisa gue sebutin satu per satu. Gile aja lo kalau gue tulis satu per satu di sini, yang ada isinya bikin gue males buat baca ulang saking begitu Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Sang Pencipta.
Gue nggak mau sok idealis di sini karena semua idealisme gue nggak akan bisa terwujud hanya dengan ngeluh dan mengumbar banyak janji surga yang mungkin sangat berpeluang untuk buatin tiket emas untuk gue untuk semakin berlama-lama di neraka. Nanti… Gue nggak mau ada tayangan memalukan yang akan semua orang lihat nanti waktu perhitungan akan catatan malaikat.
Untuk semua makhluk hidup yang udah lulus kejar paket A, B dan C -yang bukan makhluk hidup gue harap nggak ikutan- yang mungkin bakal ketawa geli atau bahkan ngakak dan juga nggak menutup kemungkinan buat lo semua terpesona dengan segala uraian gue. Gue harap ada manfaatnya karena gue nggak belajar untuk lebai dan bukan omong kosong!
Itu yang bener-bener gue rasain pas nonton berita di salah satu stasiun televisi swasta dinihari ini. Itu yang gue rasain saat lagi-lagi ngelihat ketidakadilan merajalela dan tertawa gembira. Saat airmata kembali tertumpah tanpa sempat tertahan dan terjelaskan. Itu yang gue rasain sampai buat gue rela nggak bobok hanya untuk ber- Queen Drama kayak gini.
Cukup! Ini saatnya kita bergerak.
Berusaha keras merubah dunia… Di mulai dari diri kita sendiri…
It’s Me!!
Yang lagi kesambet jin ifrit karena kebanyakan begadang. Hehehe…
Tuesday, January 26, 2010
Untuk Mereka Yang Bermimpi Bersama @betheone
17 Juli 2009-19 Januari 2010
Enam bulan terlewat.. Sesuatu yang tak berasa namun masih tersisa. Yang bahkan pada awalnya saya merasa tidak mampu melewatinya. Yang pada awalnya membuat saya takluk dan nyaris menyerah.
Nyaris… Menyerah…
Tak seperti biasanya. Saya yang biasanya begitu tenang dan santai jika diberikan kepercayaan untuk ‘membawa’ sesuatu mendadak kehilangan gairah. Untuk pertama kali saya merasa takut dan setengah hati untuk menerima kepercayaan yang teman-teman berikan banyak alasan. Ketakutan konyol yang pada berakar pada sebuah komposisi yang nyaris sempurna dari sebuah kotak yang cukup membuat saya merasa nyaman. Jika diingat, saya sungguh cengeng… hehehe
Menjadi seorang yang katanya KM di kelas yang penuh aura dan beraneka rasa mood juga dinamika suasana adalah sebuah tanggung jawab yang berat -menurut saya-. Saya mencoba menggambarkan apa yang telah kita –Bd1- lewati selama dua setengah tahun terakhir.
Kelas yang –mungkin- terbentuk dengan randomisasi atau pertimbangan akademik ini, pertama kali dipimpin oleh Bahtiar Hanafi S. Selama satu semester, kecenderungan yang terjadi KM seperti pelayan kelas. Ingat! PELAYAN KELAS! Seorang diri sang Kepala Suku mengurus kita. Mengambil LCD, mengumpulkan tugas de el el. Ini dikarenakan pada saat itu kita belum menyadari bahwa kelas adalah sebuah negara yang selayaknya memiliki sistem pemerintahan.
Jujur saya mengatakan ini berantakan dan –jeleknya- saya sendiri belum peduli dan belum tergerak untuk membantu. Terlihat juga dengan teman-teman yang lain yang masih sibuk dengan sosialita masing-masing. Kotak… Kotak… dan kotak… Ada banyak kotak di dalam kotak. Sebuah suasana yang sesungguhnya sangat saya benci… Dan entah sejak kapan saya tidak menyukai kotak dalam kotak. Dan sekali lagi, saya tidak menyalahkan sang Kepala Suku. Semua ini salah kita. Kekacauan ini karena kita. Keserabutan ini dimunculkan oleh kita. Tak banyak yang saya ingat tentang saat itu. Mungkin saat itu saya pun sibuk dengan sosialita saya dan lupa kalau dunia saya tidak hanya milik sosialita saya.
Semester dua mulai bergulir dan kepemimpinan berpindah pada Teddy Dj Kurniawan. Terdapat beberapa perubahan di semester ini. Yang saya ingat, Kepala Suku kali ini sungguh care dengan penampilan mahasiswi di kelas. Selama hampir satu semester, kita –para wanita terindah a.k.a xxxxx Girl- selalu diberi inspeksi mendadak oleh sang Kepala Suku. Beruntung sang kepala suku tak memaksa kita memakai karung goni ke kampus. Hehehehe… Piss, Ky..
Disini mulai ada koordinasi antar kita meski saya akui masih terdapat belang bentongnya. Saya masih melihat terkadang sang Kepala Suku bekerja sendirian. Mungkin ini terjadi karena belum terdapat keterikatan hari diantara kita *Jiaaahhhh… Agak jijay saya dengan penggunaan kata-kata diatas*.
Memasuki semester tiga… Untuk pertama kalinya Kepala Suku dipindahkan pada seorang wanita yaitu Astrid Febry Nurdiani. Saya tak banyak mengingat apa yang terjadi pada semester tiga ini. Berubah haluan dari kepemimpinan maskulin menjadi feminin –Oh ya??-. Semester tiga belum begitu banyak perubahan dari semester sebelumnya, hanya saja saya dapat merasakan perlahan tapi pasti sosialita-sosialita yang sempat membuat saya muak mulai mencair. Kita mulai melebur menjadi satu. Mungkin dikarenakan di kelas kita mayoritas wanita sehingga akan lebih mudah memasuki celah-celah sosialita itu jika dilakukan oleh wanita juga. Apapun caranya, saya mulai menyukai kita. Kita mulai banyak menghabiskan waktu bersama. Entah belajar bersama, sholat bersama, kongkow tak tentu, foto-foto konyol sampai membuat video yang acapkali kita lakukan di gedung pascasarjana tak jauh dari gedung Psikologi baru. Diakhir semester sempat diadakan tamasya –ihhh… waww!!- ke Ragunan dimana saya tidak ikut karena banyak alasan. Yang mana dan terutama… I hate animals!!!
Semester empat… Kursi panas masih diduduki Astrid Febry Nurdiani. Sepertinya peraturan pemerintahan seperti layaknya presiden yang dapat dipilih dua kali berlangsung saat itu. Pada semester ini sistem pemerintahan mulai diberlakukan. Nama Afif Mustafa, Ardelin Ayu Primythasari, Arini Nur Haque, Asmasarih Dewi Mandiri, Bahtiar Hanafi S, Endang Laksanawati, Laras Santoso, M. Ahfadh F, Maulida Disa Pratiwi, Mega Amalia, Nurul Khoirunnisa, Nurul Aini, Puri Novianti, Putri Lenggogeni, Ridwansyah, Rina Wulandari, Saiful Bakhri, Septi Aininur dan Teddy Dj Kurniawan menjadi tangan-tangan Kepala Suku di kelas.
Good job… Saya suka dengan keteraturan ini…
Keteraturan bukan peraturan.
Setidaknya kita tak perlu terlihat seperti anak ayam kehilangan induk meski kita masih kehilangan sosok PA. Hahaha… Semakin hari saya merasa kelas ini semakin kompak, loyal, dan yang paling penting, mulai terlihat adanya ikatan emosi. Perubahan yang baik. Sesuatu yang terlihat berubah namun tidak mengubah satu pun dari kita. Kita tetap menjadi kita dalam satu kotak baru yang saat itu hingga kini disebut dengan betheone (Bd1).
Pada semester ini pula lagu dengan judul ‘Be The One’ rampung di tangan MEALODREAM!!!
Sampai akhirnya semester empat berakhir dan pencarian tumbal baru –seperti itulah saya menyebut pemilihan KM setiap semesternya- dimulai. Saya –dengan sangat jujur- tak pernah membayangkan apalagi berharap menjadi tumbal berikutnya. Namun pada realitasnya, kenyataan berkata lain. Sepertinya saya tak sempat mengintip Lauhul Mahfuzh yang Allah tulis sejak jaman Azali, dimana Allah telah menetapkan bahwa pada semester lima nanti saya akan menjadi seorang prefek. GUBRAK! GLUDUK… GLUDUK… GLUDUK… GEDEBUG!! JEDUK!
Hahahaha… Saya merasa mereka yang memilih saya sangatlah salah-salah pilih!!
Apa yang dapat saya berikan pada mereka? Apa yang membuat mereka percaya kepada saya?
Saya adalah seseorang yang sibuk dengan dunia saya sendiri. Saya lebih suka berjibaku dengan benda mati dan tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar saya. Saya adalah seorang K-M dengan kecenderungan egois, asal ngejeplak, tidak sabaran, pemberontak, dan saya bukanlah sosok yang dapat peduli, care, dan segala bentuk sikap juga perasaan yang saya tuliskan tadi bukankah menunjukkan bahwa saya tidak pantas??
Saya adalah penonton, bukan pembuat film apalagi playmaker dalam sebuah pertandingan. Saya lebih suka bekerja di belakang layar dan saya tidak suka menjadi sorotan apalagi pusat perhatian sebagaimana yang terceplak di jidat para prefek selama ini. Tapi dalam sekejap sebuah keputusan mengubah semua itu. Mengubah ‘ke-AKU-an’ saya.
Dan kini enam bulan berlalu… Saya ingin mereview apapun yang telah saya lewati sekaligus apa kejadian yang telah saya lalui bersama mereka.
Dimulai dari ketakutan saya yang sebenarnya justru itu adalah bentuk arogansi saya yang tidak mau menerima bahwa semester ini adalah tanggung jawab saya berada di kelas dengan sebuah nuansa yang berbeda. Sampai saya terlibat perdebatan alot dengan ex-KM yang saat itu ‘seolah’ menantang saya untuk terus berjalan atau kabur kayak pengecut. Panas juga rasanya ditantang kayak gitu. Ditambah sebuah kata-kata dari ex-KM yang lain yang intinya mengatakan… ‘Saya belajar untuk tidak memindahtangankan amanah dan bertanggung jawab atas apa yang telah dipercayakan kepada saya sekalipun itu akan banyak menghabiskan waktu saya…’
Well, saya tidak akan lari… TIDAK AKAN LARI…
Saya mulai merombak struktur kepengurusan yang sebelumnya dengan struktur kepengurusan baru yang berpegang dengan nama-nama yang telah masuk dalam pemilihan calon KM via SMS. Saya ingin mengulas semuanya dimulai dengan mereka yang saya sebut dengan ‘Malaikat Pembawa Kabar Buruk’ a.k.a PJ mata kuliah. Saya urutkan dari hari Senin hingga Kamis..
Islam dan Psikologi…
PJ mata kuliah ini adalah Amalia Ulfah a.k.a Amal. Sejauh ini tak banyak kekagetan yang terjadi pada mata kuliah tersebut selain handout yang sulit didapat dan kontroversi pengumpulan tugas kelompok yang sempat terjadi. Sang dosen –bukan masalah sih- yang sempat mendapat tugas ke Aussie membuat kita sempat terluntang-lantung dengan presentasi yang hanya dari kita, oleh kita dan untuk kita… Yang saya ingat pada mata kuliah ini adalah foto bersama Pak Mujib dengan berbatik!! Batik Days!!! Mata kuliah ini adalah satu-satunya mata kuliah di semester ini yang tidak menerapkan UTS dan UAS tertulis!
Psikologi Agama…
PJ mata kuliah ini adalah Amalia Kusuma Putri a.k.a Amel. Saya merasa cukup merepotkan sang PJ akibat tugas jurnal dimana kita harus mengumpulkan sebuah softcopy, dua buah hardcopy, sebuah translate dan sebuah resume jurnal. Itu belum termasuk sang PJ merapikan semua jurnal-jurnal tersebut lalu menjilidnya dengan hard cover untuk perpus dan dosen tentunya. Satu hal yang saya ingat dari PJ mata kuliah ini, ia mengingatkan saya bahwa kita sangat bersusah payah mentranslate buku Psi.Agama (dan buku in English lainnnya yang disebut buku Bangke! Hahaha) dan semua itu ada harganya. Yang tidak pernah dilupakan adalah saat-saat presentasi dimana presentator akan tegang jika ‘beliau’ hadir. Dan entah kenapa, pada mata kuliah ini kita tak banyak berkicau.
Akhlak Tassawuf…
PJ mata kuliah ini adalah Nurul Khoirunnisa a.k.a Icha. Awalnya saya menganggap mata kuliah ini hanya mata kuliah yang menuh-menuhin SKS alias tak banyak berguna. Alasan pertama, kita bukan sufi. Alasan berikutnya tak jauh dari mata kuliah yang bikin ngantuklah, terlalu sianglah de el el. Yang lambat laun sang Dosen membuka mata kita dengan sebuah pencerahan yang sangat mengena di sini. Terutama tentang ‘mobil parkir dan mental playgroup’. Yang sekarang justru membuat saya berharap beliau akan kembali mengajar kita di mata kuliah berikutnya. Yang saya ingat dari PJ mata kuliah ini adalah sebuah kasus tentang ‘JAM 3’. Hari dimana saat itu kita tampak sebagai pemberontak yang KEREN! Hehehe..
Psikometri..
PJ mata kuliah ini adalah Rina Wulandari a.k.a Rina. Baru menuliskan mata kuliah ini saja sudah membuat saya cengengesan *cengar-cengir tak jelas*. Kalau diingat mata kuliah ini sungguh mengharu biru! Wakakak.. Tak terhitung *lebayyy* berapa kali kita berkasus disini. Dimulai dari LCD yang tidak bisa menyala, mengcopas tugas yang dikerjakan bersama sampai petang dan membuat saya sempat disapa ‘olehnya’ selepas maghrib, gosip sana-sini yang membuat saya tertawa lepas, komentar-komentar di facebook, miscom yang mendadak membuat bete sang PJ juga kita. Dan mata kuliah inilah yang menutup kabinet saya dengan sebuah kasus pemberontakan konyol yang berakar dari sebuah notes di facebook. Sekali lagi, saya merasa kita sungguh PEMBERONTAK yang COOL dan SANTAI!!! I LOVE BD1!!!
Metodologi Penelitian II…
PJ mata kuliah ini adalah Ardelin Ayu Primythasari a.k.a Adel. Berbulan-bulan jadi PJ mata kuliah ini, Adel pantas aja dinobatkan sebagai PJ tergahol dan tersantai!! hehehe… Saya akui mata kuliah ini cukup menguras hati, fisik dan psikis. Tidak etis juga kalau saya jabarkan seberapa besar penderitaan kita pada mata kuliah ini *lebayy lagi*. Sampai saya pun sempat mengatakan bahwa saya sakit hati pada mata kuliah ini atas ketidakkonsistenan yang pernah ada selama berjalannya KBM. Tapi PJ-nya pasti lebih sakit hati daripada saya. Bukan begitu, Del?? Hohoho.. Sesulit apapun yang kita hadapi pada beberapa bulan di kelas ‘neraka’ *upppsss*, toh dengan kekuatan bulan dan gotong royong serta tolong menolong, pada akhirnya kita melewatinya dan saat itulah kita –saya tepatnya- merasa satu ikatan sudah terlepas dalam hidup saya. HORE!!!
Psikologi Kepribadian I..
PJ mata kuliah ini adalah Asmasarih Dewi Mandiri a.k.a Ade. Satu-satunya PJ mata kuliah yang selama 5 bulan masa jabatannya tak pernah membawa kabar buruk akhirnya memecahkan telornya sendiri dengan sebuah kabar buruk ‘BESOK PRESENTASI LANGSUNG 3 KELOMPOK YAA…’ yang sampai di telinga eh inbox SMS saya pada pukul 20.00 dan membuat Nurul Khoirunnisa, Rina Wulandari, Teddy Dj Kurniawan, Astrid Febry Nurdiani, Arini Nur Haque dan Yushi Widya Pramita selaku kelompok yang akan berpresentasi kelabakan dan bekerja keras hingga keesokan paginya. Meski begitu –banyak diantara- kita yang menganggap mata kuliah inilah yang paling MENEMPEL pada semester ini. Memang menurut saya mata kuliah ini menarik dan tak banyak menuntut. Bahkan mendekati akhir perkuliahan Bu Rena malah mencabut tugas terakhir yang sebelumnya telah tercantum di silabus. SENANGNYA!!!
Psikodiagnostik Observasi…
PJ mata kuliah ini adalah Putri Lenggogeni a.k.a Putri. Hal yang paling berkesan pada mata kuliah ini adalah kenomadenan kita akibat kurang cakapnya koordinasi di akademik. Yang membuat saya mengeluarkan sumpah serapah dalam hati atas kelas yang terus disabot hampir di setiap minggunya. Tak terhitung berapa kali kita harus mengais kelas padahal seharusnya kita mendapat kelas yang tetap. Membuat saya dan Putri berulang kali naik turun tangga mencari kelas yang kosong. Belum lagi LCD yang kerap bermasalah. Beruntung dosen mata kuliah ini adalah sosok yang sabar –terutama menanggapi kita yang kadang tak terkendali-. Seingat saya, hanya pada mata kuliah ini kita terlibat perdebatan yang cukup alot dan keras. Dan saya akan sangat merindukan saat-saat itu...
Psikologi Eksperimen…
PJ mata kuliah ini adalah Puri Novianti a.k.a Puri. Saya akan mengatakan bahwa pada mata kuliah inilah saya benar-benar merasa kuliah. BENAR-BENAR KULIAH! Merasa tertantang dan ditantang. Sesaat kita seolah terbagi dan terpaku hanya pada kelompok-kelompok kecil dimana pada kelompok itulah kita membuat sesuatu yang tak biasa dari mata kuliah lain. Sebuah penelitian eksperimen! Sesaat juga saya merasa mata kuliah ini hanya memporak-porandakan kita saja. Setiap saat yang terlihat kelompok.. Kelompok… Dan kelompok. Seperti kembali ke semester satu. Namun pada akhirnya saya kembal ke satu titik… Semua ini tidak akan mengubah kita… Semua ini hanya sesaat. HANYA SESAAT! Dan saya pun ikut terbawa di detik-detik 5 Januari 2010 yang mendebarkan itu. Ketegangan yang diakhiri sebuah apresiasi.. YIPPIE!!!
Psikodiagnostik Wawancara…
PJ mata kuliah ini adalah Laras Santoso a.k.a Laras. Mata kuliah yang juga tak banyak menuntut. Kita diberikan tugas membuat video, PP dan juga makalah sesuai topik yang telah dibagikan –Itu mah banyak juga ya??? Hahaha-. Tak banyak kesulitan -kecuali UAS yang berasa TOEFL English- di dalam perjalanan mata kuliah ini. Hanya sedikit sandungan yang tak jauh berbeda dengan mata kuliah lain seperti kelas disabotase, LCD error de el el yang tidak terlalu memeras otak saya. Tayangan video menjadi satu hal yang paling ditunggu setiap mata kuliah ini berlangsung. Yang tak pernah saya lupa adalah sebuah kejadian rutin yang terjadi setiap kali mata kuliah ini berlangsung. Setiap minggunya… Dari rentang waktu 10 menit sebelum azan zuhur hingga setengah satu, secara ‘ajaib’ pintu ruang kelas selalu terbuka dengan sendirinya dan itu selalu membuat kita menoleh secara bersamaan pula! Ihhh… WAW!!!
Berikutnya, saya ingin mengulas PJ yang lainnya…
Maulida Disa Pratiwi dan Arini Nur Haque sebagai PJ absensi juga Septi Aininur dan Maria Zakiah sebagai bendahara kelas. Saya merasa bersalah kepada mereka karena pada kenyataannya saya tidak selalu mem-back up catatan harian absensi juga laporan keuangan yang telah mereka lakukan setiap harinya. Entah apa yang terjadi dengan saya. Saya ternyata cukup berantakan dan terlalu terfokus dengan PJ mata kuliah yang hampir setiap harinya meng-up date kabar terbaru yang lebih sering Bad News-nya. Hehehe
Endang Laksanawati, Suci Indah Triedna dan Larassofi Iqlima sebagai PJ fotocopy. Dengan ketiga PJ ini saya juga kurang berkontribusi. Saya jarang menanyakan apa masalah yang mereka hadapi dalam menjalankan tugas tersebut. Mudah-mudahan sih tidak ada masalah berarti. Sekali lagi… Saya melewatkan sebuah tangung jawab.
Ridwansyah sebagai PJ LCD. Satu-satunya pria dalam kepengurusan ini. Mungkin juga tak banyak masalah dan sang PJ sering ketiban pulung kalau teman-teman lupa dengan jadwal pengambilan LCD. Semoga Ridwan menikmati tanggung jawabnya selama beberapa bulan terakhir ini.
Saya ucapkan banyak terima kasih kepada ketujuhbelas rekan saya di atas. Mohon maaf kalau selama ini saya banyak mengatur, menuntut, bawel, dan banyak kesalahan lainnya. Saya ingin mengatakan hal yang sama dengan apa yang saya tuliskan via SMS waktu itu…
Semua ini DARI KITA… OLEH KITA… UNTUK KITA…
KITA = BE THE ONE
Kepada ketujuhbelas rekan Bd1 yang lainnya.Yang tetap berkontribusi banyak dalam kepengurusan ini. Mohon maaf karena tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Terima kasih atas kesediaannya menjadi tangan-tangan saya (terutama bagi PJ LCD). Semoga semua ini tetap berjalan sesuai apa yang kita harapkan.
Kepada ketiga ex-KM Bd1.. Bahtiar Hanafi S, Teddy Dj Kurniawan dan Astrid Febry Nurdiani yang selama ini cukup saya repotkan dalam diskusi-diskusi kecil menyangkut kelas. Ketiga orang diataslah yang cukup menjadi beban saya pada awalnya. Saya takut merusak apa yang telah mereka jalani selama dua tahun terakhir. Apa yang telah mereka bangun dengan pelan namun pasti. Saya takut merusak konstitusi yang sudah mereka jalani dengan baik dan kompak ini. Dan alasan terbesar dari ketakutan saya dikarenakan bagi saya, kelas ini bukan sekedar kelas.
Kelas ini adalah keluarga..
Kelas ini adalah kumpulan hati, emosi, obsesi dan juga ekspresi yang begitu meluap-luap. Yang mana saat itu saya merasa tidak pantas memimpin sebuah keluarga yang begitu hidup. Bahkan mungkin terlalu hidup dalam hidup saya yang sebenarnya juga sangat hidup. Hehehe..
Saya senang bekerja sama dengan teman-teman saya… Saya bangga menjadi bagian dalam Bd1..
Maaf… jika selama ini masih terdapat banyak kekurangan, belang-bentong sana-sini..
Maaf… jika saya belum bisa memberikan sesuatu seperti yang teman-teman harapkan. Saya berusaha mencoba semampu saya. Melewati batas dari apa yang saya bayangkan akan dapat saya lakukan dan beberapa bulan yang telah terlewat adalah bentuknya. Semua itu memang bukan aktualisasi tertinggi yang saya miliki, namun itulah yang telah saya beri dengan hati, bukan lagi arogansi. Saya sungguh menikmati detik-detik itu…
Kini…
Selamat atas terpilihnya Amalia Kusuma Putri sebagai Kepala Suku Bd1 ter-gress. Apapun caranya… Kita percaya pada dirimu, Mel…!!! Hehehehe
SEMANGAT!!! I LOVE U FULL, BD1!!!
Enam bulan terlewat.. Sesuatu yang tak berasa namun masih tersisa. Yang bahkan pada awalnya saya merasa tidak mampu melewatinya. Yang pada awalnya membuat saya takluk dan nyaris menyerah.
Nyaris… Menyerah…
Tak seperti biasanya. Saya yang biasanya begitu tenang dan santai jika diberikan kepercayaan untuk ‘membawa’ sesuatu mendadak kehilangan gairah. Untuk pertama kali saya merasa takut dan setengah hati untuk menerima kepercayaan yang teman-teman berikan banyak alasan. Ketakutan konyol yang pada berakar pada sebuah komposisi yang nyaris sempurna dari sebuah kotak yang cukup membuat saya merasa nyaman. Jika diingat, saya sungguh cengeng… hehehe
Menjadi seorang yang katanya KM di kelas yang penuh aura dan beraneka rasa mood juga dinamika suasana adalah sebuah tanggung jawab yang berat -menurut saya-. Saya mencoba menggambarkan apa yang telah kita –Bd1- lewati selama dua setengah tahun terakhir.
Kelas yang –mungkin- terbentuk dengan randomisasi atau pertimbangan akademik ini, pertama kali dipimpin oleh Bahtiar Hanafi S. Selama satu semester, kecenderungan yang terjadi KM seperti pelayan kelas. Ingat! PELAYAN KELAS! Seorang diri sang Kepala Suku mengurus kita. Mengambil LCD, mengumpulkan tugas de el el. Ini dikarenakan pada saat itu kita belum menyadari bahwa kelas adalah sebuah negara yang selayaknya memiliki sistem pemerintahan.
Jujur saya mengatakan ini berantakan dan –jeleknya- saya sendiri belum peduli dan belum tergerak untuk membantu. Terlihat juga dengan teman-teman yang lain yang masih sibuk dengan sosialita masing-masing. Kotak… Kotak… dan kotak… Ada banyak kotak di dalam kotak. Sebuah suasana yang sesungguhnya sangat saya benci… Dan entah sejak kapan saya tidak menyukai kotak dalam kotak. Dan sekali lagi, saya tidak menyalahkan sang Kepala Suku. Semua ini salah kita. Kekacauan ini karena kita. Keserabutan ini dimunculkan oleh kita. Tak banyak yang saya ingat tentang saat itu. Mungkin saat itu saya pun sibuk dengan sosialita saya dan lupa kalau dunia saya tidak hanya milik sosialita saya.
Semester dua mulai bergulir dan kepemimpinan berpindah pada Teddy Dj Kurniawan. Terdapat beberapa perubahan di semester ini. Yang saya ingat, Kepala Suku kali ini sungguh care dengan penampilan mahasiswi di kelas. Selama hampir satu semester, kita –para wanita terindah a.k.a xxxxx Girl- selalu diberi inspeksi mendadak oleh sang Kepala Suku. Beruntung sang kepala suku tak memaksa kita memakai karung goni ke kampus. Hehehehe… Piss, Ky..
Disini mulai ada koordinasi antar kita meski saya akui masih terdapat belang bentongnya. Saya masih melihat terkadang sang Kepala Suku bekerja sendirian. Mungkin ini terjadi karena belum terdapat keterikatan hari diantara kita *Jiaaahhhh… Agak jijay saya dengan penggunaan kata-kata diatas*.
Memasuki semester tiga… Untuk pertama kalinya Kepala Suku dipindahkan pada seorang wanita yaitu Astrid Febry Nurdiani. Saya tak banyak mengingat apa yang terjadi pada semester tiga ini. Berubah haluan dari kepemimpinan maskulin menjadi feminin –Oh ya??-. Semester tiga belum begitu banyak perubahan dari semester sebelumnya, hanya saja saya dapat merasakan perlahan tapi pasti sosialita-sosialita yang sempat membuat saya muak mulai mencair. Kita mulai melebur menjadi satu. Mungkin dikarenakan di kelas kita mayoritas wanita sehingga akan lebih mudah memasuki celah-celah sosialita itu jika dilakukan oleh wanita juga. Apapun caranya, saya mulai menyukai kita. Kita mulai banyak menghabiskan waktu bersama. Entah belajar bersama, sholat bersama, kongkow tak tentu, foto-foto konyol sampai membuat video yang acapkali kita lakukan di gedung pascasarjana tak jauh dari gedung Psikologi baru. Diakhir semester sempat diadakan tamasya –ihhh… waww!!- ke Ragunan dimana saya tidak ikut karena banyak alasan. Yang mana dan terutama… I hate animals!!!
Semester empat… Kursi panas masih diduduki Astrid Febry Nurdiani. Sepertinya peraturan pemerintahan seperti layaknya presiden yang dapat dipilih dua kali berlangsung saat itu. Pada semester ini sistem pemerintahan mulai diberlakukan. Nama Afif Mustafa, Ardelin Ayu Primythasari, Arini Nur Haque, Asmasarih Dewi Mandiri, Bahtiar Hanafi S, Endang Laksanawati, Laras Santoso, M. Ahfadh F, Maulida Disa Pratiwi, Mega Amalia, Nurul Khoirunnisa, Nurul Aini, Puri Novianti, Putri Lenggogeni, Ridwansyah, Rina Wulandari, Saiful Bakhri, Septi Aininur dan Teddy Dj Kurniawan menjadi tangan-tangan Kepala Suku di kelas.
Good job… Saya suka dengan keteraturan ini…
Keteraturan bukan peraturan.
Setidaknya kita tak perlu terlihat seperti anak ayam kehilangan induk meski kita masih kehilangan sosok PA. Hahaha… Semakin hari saya merasa kelas ini semakin kompak, loyal, dan yang paling penting, mulai terlihat adanya ikatan emosi. Perubahan yang baik. Sesuatu yang terlihat berubah namun tidak mengubah satu pun dari kita. Kita tetap menjadi kita dalam satu kotak baru yang saat itu hingga kini disebut dengan betheone (Bd1).
Pada semester ini pula lagu dengan judul ‘Be The One’ rampung di tangan MEALODREAM!!!
Sampai akhirnya semester empat berakhir dan pencarian tumbal baru –seperti itulah saya menyebut pemilihan KM setiap semesternya- dimulai. Saya –dengan sangat jujur- tak pernah membayangkan apalagi berharap menjadi tumbal berikutnya. Namun pada realitasnya, kenyataan berkata lain. Sepertinya saya tak sempat mengintip Lauhul Mahfuzh yang Allah tulis sejak jaman Azali, dimana Allah telah menetapkan bahwa pada semester lima nanti saya akan menjadi seorang prefek. GUBRAK! GLUDUK… GLUDUK… GLUDUK… GEDEBUG!! JEDUK!
Hahahaha… Saya merasa mereka yang memilih saya sangatlah salah-salah pilih!!
Apa yang dapat saya berikan pada mereka? Apa yang membuat mereka percaya kepada saya?
Saya adalah seseorang yang sibuk dengan dunia saya sendiri. Saya lebih suka berjibaku dengan benda mati dan tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar saya. Saya adalah seorang K-M dengan kecenderungan egois, asal ngejeplak, tidak sabaran, pemberontak, dan saya bukanlah sosok yang dapat peduli, care, dan segala bentuk sikap juga perasaan yang saya tuliskan tadi bukankah menunjukkan bahwa saya tidak pantas??
Saya adalah penonton, bukan pembuat film apalagi playmaker dalam sebuah pertandingan. Saya lebih suka bekerja di belakang layar dan saya tidak suka menjadi sorotan apalagi pusat perhatian sebagaimana yang terceplak di jidat para prefek selama ini. Tapi dalam sekejap sebuah keputusan mengubah semua itu. Mengubah ‘ke-AKU-an’ saya.
Dan kini enam bulan berlalu… Saya ingin mereview apapun yang telah saya lewati sekaligus apa kejadian yang telah saya lalui bersama mereka.
Dimulai dari ketakutan saya yang sebenarnya justru itu adalah bentuk arogansi saya yang tidak mau menerima bahwa semester ini adalah tanggung jawab saya berada di kelas dengan sebuah nuansa yang berbeda. Sampai saya terlibat perdebatan alot dengan ex-KM yang saat itu ‘seolah’ menantang saya untuk terus berjalan atau kabur kayak pengecut. Panas juga rasanya ditantang kayak gitu. Ditambah sebuah kata-kata dari ex-KM yang lain yang intinya mengatakan… ‘Saya belajar untuk tidak memindahtangankan amanah dan bertanggung jawab atas apa yang telah dipercayakan kepada saya sekalipun itu akan banyak menghabiskan waktu saya…’
Well, saya tidak akan lari… TIDAK AKAN LARI…
Saya mulai merombak struktur kepengurusan yang sebelumnya dengan struktur kepengurusan baru yang berpegang dengan nama-nama yang telah masuk dalam pemilihan calon KM via SMS. Saya ingin mengulas semuanya dimulai dengan mereka yang saya sebut dengan ‘Malaikat Pembawa Kabar Buruk’ a.k.a PJ mata kuliah. Saya urutkan dari hari Senin hingga Kamis..
Islam dan Psikologi…
PJ mata kuliah ini adalah Amalia Ulfah a.k.a Amal. Sejauh ini tak banyak kekagetan yang terjadi pada mata kuliah tersebut selain handout yang sulit didapat dan kontroversi pengumpulan tugas kelompok yang sempat terjadi. Sang dosen –bukan masalah sih- yang sempat mendapat tugas ke Aussie membuat kita sempat terluntang-lantung dengan presentasi yang hanya dari kita, oleh kita dan untuk kita… Yang saya ingat pada mata kuliah ini adalah foto bersama Pak Mujib dengan berbatik!! Batik Days!!! Mata kuliah ini adalah satu-satunya mata kuliah di semester ini yang tidak menerapkan UTS dan UAS tertulis!
Psikologi Agama…
PJ mata kuliah ini adalah Amalia Kusuma Putri a.k.a Amel. Saya merasa cukup merepotkan sang PJ akibat tugas jurnal dimana kita harus mengumpulkan sebuah softcopy, dua buah hardcopy, sebuah translate dan sebuah resume jurnal. Itu belum termasuk sang PJ merapikan semua jurnal-jurnal tersebut lalu menjilidnya dengan hard cover untuk perpus dan dosen tentunya. Satu hal yang saya ingat dari PJ mata kuliah ini, ia mengingatkan saya bahwa kita sangat bersusah payah mentranslate buku Psi.Agama (dan buku in English lainnnya yang disebut buku Bangke! Hahaha) dan semua itu ada harganya. Yang tidak pernah dilupakan adalah saat-saat presentasi dimana presentator akan tegang jika ‘beliau’ hadir. Dan entah kenapa, pada mata kuliah ini kita tak banyak berkicau.
Akhlak Tassawuf…
PJ mata kuliah ini adalah Nurul Khoirunnisa a.k.a Icha. Awalnya saya menganggap mata kuliah ini hanya mata kuliah yang menuh-menuhin SKS alias tak banyak berguna. Alasan pertama, kita bukan sufi. Alasan berikutnya tak jauh dari mata kuliah yang bikin ngantuklah, terlalu sianglah de el el. Yang lambat laun sang Dosen membuka mata kita dengan sebuah pencerahan yang sangat mengena di sini. Terutama tentang ‘mobil parkir dan mental playgroup’. Yang sekarang justru membuat saya berharap beliau akan kembali mengajar kita di mata kuliah berikutnya. Yang saya ingat dari PJ mata kuliah ini adalah sebuah kasus tentang ‘JAM 3’. Hari dimana saat itu kita tampak sebagai pemberontak yang KEREN! Hehehe..
Psikometri..
PJ mata kuliah ini adalah Rina Wulandari a.k.a Rina. Baru menuliskan mata kuliah ini saja sudah membuat saya cengengesan *cengar-cengir tak jelas*. Kalau diingat mata kuliah ini sungguh mengharu biru! Wakakak.. Tak terhitung *lebayyy* berapa kali kita berkasus disini. Dimulai dari LCD yang tidak bisa menyala, mengcopas tugas yang dikerjakan bersama sampai petang dan membuat saya sempat disapa ‘olehnya’ selepas maghrib, gosip sana-sini yang membuat saya tertawa lepas, komentar-komentar di facebook, miscom yang mendadak membuat bete sang PJ juga kita. Dan mata kuliah inilah yang menutup kabinet saya dengan sebuah kasus pemberontakan konyol yang berakar dari sebuah notes di facebook. Sekali lagi, saya merasa kita sungguh PEMBERONTAK yang COOL dan SANTAI!!! I LOVE BD1!!!
Metodologi Penelitian II…
PJ mata kuliah ini adalah Ardelin Ayu Primythasari a.k.a Adel. Berbulan-bulan jadi PJ mata kuliah ini, Adel pantas aja dinobatkan sebagai PJ tergahol dan tersantai!! hehehe… Saya akui mata kuliah ini cukup menguras hati, fisik dan psikis. Tidak etis juga kalau saya jabarkan seberapa besar penderitaan kita pada mata kuliah ini *lebayy lagi*. Sampai saya pun sempat mengatakan bahwa saya sakit hati pada mata kuliah ini atas ketidakkonsistenan yang pernah ada selama berjalannya KBM. Tapi PJ-nya pasti lebih sakit hati daripada saya. Bukan begitu, Del?? Hohoho.. Sesulit apapun yang kita hadapi pada beberapa bulan di kelas ‘neraka’ *upppsss*, toh dengan kekuatan bulan dan gotong royong serta tolong menolong, pada akhirnya kita melewatinya dan saat itulah kita –saya tepatnya- merasa satu ikatan sudah terlepas dalam hidup saya. HORE!!!
Psikologi Kepribadian I..
PJ mata kuliah ini adalah Asmasarih Dewi Mandiri a.k.a Ade. Satu-satunya PJ mata kuliah yang selama 5 bulan masa jabatannya tak pernah membawa kabar buruk akhirnya memecahkan telornya sendiri dengan sebuah kabar buruk ‘BESOK PRESENTASI LANGSUNG 3 KELOMPOK YAA…’ yang sampai di telinga eh inbox SMS saya pada pukul 20.00 dan membuat Nurul Khoirunnisa, Rina Wulandari, Teddy Dj Kurniawan, Astrid Febry Nurdiani, Arini Nur Haque dan Yushi Widya Pramita selaku kelompok yang akan berpresentasi kelabakan dan bekerja keras hingga keesokan paginya. Meski begitu –banyak diantara- kita yang menganggap mata kuliah inilah yang paling MENEMPEL pada semester ini. Memang menurut saya mata kuliah ini menarik dan tak banyak menuntut. Bahkan mendekati akhir perkuliahan Bu Rena malah mencabut tugas terakhir yang sebelumnya telah tercantum di silabus. SENANGNYA!!!
Psikodiagnostik Observasi…
PJ mata kuliah ini adalah Putri Lenggogeni a.k.a Putri. Hal yang paling berkesan pada mata kuliah ini adalah kenomadenan kita akibat kurang cakapnya koordinasi di akademik. Yang membuat saya mengeluarkan sumpah serapah dalam hati atas kelas yang terus disabot hampir di setiap minggunya. Tak terhitung berapa kali kita harus mengais kelas padahal seharusnya kita mendapat kelas yang tetap. Membuat saya dan Putri berulang kali naik turun tangga mencari kelas yang kosong. Belum lagi LCD yang kerap bermasalah. Beruntung dosen mata kuliah ini adalah sosok yang sabar –terutama menanggapi kita yang kadang tak terkendali-. Seingat saya, hanya pada mata kuliah ini kita terlibat perdebatan yang cukup alot dan keras. Dan saya akan sangat merindukan saat-saat itu...
Psikologi Eksperimen…
PJ mata kuliah ini adalah Puri Novianti a.k.a Puri. Saya akan mengatakan bahwa pada mata kuliah inilah saya benar-benar merasa kuliah. BENAR-BENAR KULIAH! Merasa tertantang dan ditantang. Sesaat kita seolah terbagi dan terpaku hanya pada kelompok-kelompok kecil dimana pada kelompok itulah kita membuat sesuatu yang tak biasa dari mata kuliah lain. Sebuah penelitian eksperimen! Sesaat juga saya merasa mata kuliah ini hanya memporak-porandakan kita saja. Setiap saat yang terlihat kelompok.. Kelompok… Dan kelompok. Seperti kembali ke semester satu. Namun pada akhirnya saya kembal ke satu titik… Semua ini tidak akan mengubah kita… Semua ini hanya sesaat. HANYA SESAAT! Dan saya pun ikut terbawa di detik-detik 5 Januari 2010 yang mendebarkan itu. Ketegangan yang diakhiri sebuah apresiasi.. YIPPIE!!!
Psikodiagnostik Wawancara…
PJ mata kuliah ini adalah Laras Santoso a.k.a Laras. Mata kuliah yang juga tak banyak menuntut. Kita diberikan tugas membuat video, PP dan juga makalah sesuai topik yang telah dibagikan –Itu mah banyak juga ya??? Hahaha-. Tak banyak kesulitan -kecuali UAS yang berasa TOEFL English- di dalam perjalanan mata kuliah ini. Hanya sedikit sandungan yang tak jauh berbeda dengan mata kuliah lain seperti kelas disabotase, LCD error de el el yang tidak terlalu memeras otak saya. Tayangan video menjadi satu hal yang paling ditunggu setiap mata kuliah ini berlangsung. Yang tak pernah saya lupa adalah sebuah kejadian rutin yang terjadi setiap kali mata kuliah ini berlangsung. Setiap minggunya… Dari rentang waktu 10 menit sebelum azan zuhur hingga setengah satu, secara ‘ajaib’ pintu ruang kelas selalu terbuka dengan sendirinya dan itu selalu membuat kita menoleh secara bersamaan pula! Ihhh… WAW!!!
Berikutnya, saya ingin mengulas PJ yang lainnya…
Maulida Disa Pratiwi dan Arini Nur Haque sebagai PJ absensi juga Septi Aininur dan Maria Zakiah sebagai bendahara kelas. Saya merasa bersalah kepada mereka karena pada kenyataannya saya tidak selalu mem-back up catatan harian absensi juga laporan keuangan yang telah mereka lakukan setiap harinya. Entah apa yang terjadi dengan saya. Saya ternyata cukup berantakan dan terlalu terfokus dengan PJ mata kuliah yang hampir setiap harinya meng-up date kabar terbaru yang lebih sering Bad News-nya. Hehehe
Endang Laksanawati, Suci Indah Triedna dan Larassofi Iqlima sebagai PJ fotocopy. Dengan ketiga PJ ini saya juga kurang berkontribusi. Saya jarang menanyakan apa masalah yang mereka hadapi dalam menjalankan tugas tersebut. Mudah-mudahan sih tidak ada masalah berarti. Sekali lagi… Saya melewatkan sebuah tangung jawab.
Ridwansyah sebagai PJ LCD. Satu-satunya pria dalam kepengurusan ini. Mungkin juga tak banyak masalah dan sang PJ sering ketiban pulung kalau teman-teman lupa dengan jadwal pengambilan LCD. Semoga Ridwan menikmati tanggung jawabnya selama beberapa bulan terakhir ini.
Saya ucapkan banyak terima kasih kepada ketujuhbelas rekan saya di atas. Mohon maaf kalau selama ini saya banyak mengatur, menuntut, bawel, dan banyak kesalahan lainnya. Saya ingin mengatakan hal yang sama dengan apa yang saya tuliskan via SMS waktu itu…
Semua ini DARI KITA… OLEH KITA… UNTUK KITA…
KITA = BE THE ONE
Kepada ketujuhbelas rekan Bd1 yang lainnya.Yang tetap berkontribusi banyak dalam kepengurusan ini. Mohon maaf karena tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Terima kasih atas kesediaannya menjadi tangan-tangan saya (terutama bagi PJ LCD). Semoga semua ini tetap berjalan sesuai apa yang kita harapkan.
Kepada ketiga ex-KM Bd1.. Bahtiar Hanafi S, Teddy Dj Kurniawan dan Astrid Febry Nurdiani yang selama ini cukup saya repotkan dalam diskusi-diskusi kecil menyangkut kelas. Ketiga orang diataslah yang cukup menjadi beban saya pada awalnya. Saya takut merusak apa yang telah mereka jalani selama dua tahun terakhir. Apa yang telah mereka bangun dengan pelan namun pasti. Saya takut merusak konstitusi yang sudah mereka jalani dengan baik dan kompak ini. Dan alasan terbesar dari ketakutan saya dikarenakan bagi saya, kelas ini bukan sekedar kelas.
Kelas ini adalah keluarga..
Kelas ini adalah kumpulan hati, emosi, obsesi dan juga ekspresi yang begitu meluap-luap. Yang mana saat itu saya merasa tidak pantas memimpin sebuah keluarga yang begitu hidup. Bahkan mungkin terlalu hidup dalam hidup saya yang sebenarnya juga sangat hidup. Hehehe..
Saya senang bekerja sama dengan teman-teman saya… Saya bangga menjadi bagian dalam Bd1..
Maaf… jika selama ini masih terdapat banyak kekurangan, belang-bentong sana-sini..
Maaf… jika saya belum bisa memberikan sesuatu seperti yang teman-teman harapkan. Saya berusaha mencoba semampu saya. Melewati batas dari apa yang saya bayangkan akan dapat saya lakukan dan beberapa bulan yang telah terlewat adalah bentuknya. Semua itu memang bukan aktualisasi tertinggi yang saya miliki, namun itulah yang telah saya beri dengan hati, bukan lagi arogansi. Saya sungguh menikmati detik-detik itu…
Kini…
Selamat atas terpilihnya Amalia Kusuma Putri sebagai Kepala Suku Bd1 ter-gress. Apapun caranya… Kita percaya pada dirimu, Mel…!!! Hehehehe
SEMANGAT!!! I LOVE U FULL, BD1!!!
Hompimpa Alaihum Gambreng!!!
Sebut saja kita ini adalah para wanita terindah hasil randomisasi kelompok kelas pada mata kuliah Psikologi Eksperimen. Terbentuklah kelompok 2 (saya baru menyadari bahwa kami kelompok 2 setelah hampir dua bulan kelompok ini terbentuk. Hahaha). Dimana kami diharapkan melakukan sebuah penelitian dengan bobot nilai tertinggi 35% yang juga dijadikan sebagai nilai UAS!! Oh my… Allahu Akbar!! Hehehe
Kelompok Expe ini terdiri dari saya (Aisyah Ning Asih) a.k.a aish yang sangat lucu (semoga yang baca nggak muntah!!), yang kadang kala suka menghilang saat teman-teman berkumpul karena berbagai alasan menyangkut kelas, organsasi dan kelompok mata kuliah lain. Saya yang sering dijadikan ‘tumbal’ untuk berdiskusi dengan kakak-kakak mentor. Yang kalau kata anak-anak kelompok, kalau nggak ada saya, kelompok ini nggak jalan-jalan. Ya iyalah, kalau jalan-jalan kan nggak kelar-kelar. Ngerjain tugas kan sambil duduk dan ditemani tumpukan buku. hehehe
Dewi Susanti a.k.a Diwe sang pencari sekolah untuk Expe, pengaduk-aduk Point Square untuk mencari VCD Dora dan tukang belanja makanan buat Expe. Entah apa kompensasi yang ia berikan kepada kepala sekolah hingga memberikan jalan yang mulus bagi kita semua. Cieeee… yang bakal magang akibat kompensasi expe. hehehe
Eka Rahmawati a.k.a Eka yang juga nyariin sekolah yang tadinya mau kita jadiin pilot study tapi kagak jadi mengingat waktu yang semakin menjepit namun tugas-tugas lain semakin membebani kita. Dia yang suka bingung mau ngapain kalau lagi ngumpul.Yang penting mah ngumpul, Ka… Ngapainnya nggak usah dipikir… Ntar juga jadi. Hehehe..
Laras Santoso a.k.a Laras adalah biang kerok dan penggodok tawa dalam kelompok ini. Jangan tertipu dengan wajah polosnya karena dibalik itu semua tersimpan sesuatu yang luar biasa sarap! Hahaha.. Biar ngocol-ngocol gitu, kalau orang-orang di dalam kelompok udah pada stuck, dia bisa nyeletukin sesuatu yang ujung-ujungnya adalah solusi walopun diceletukin dengan cara yang agak ‘maksiat’ alias jail. hahaha
Larassofi Iqlima a.k.a Mbip merupakan pasangan sarap dari Laras. Nggak tau kenapa mereka berdua itu kayaknya dilahirin untuk memprodsuksi eh memproduksi tawa. Kalau Larasnya udah capek ngelawak, pasti gantian deh nih orang yang ngelawak. Begitu juga sebaliknya. Dan kalau mereka berdua sarapnya barengan, alhasil kita kelamaan ngelawak daripada ngerjain tugas.
Nurul Khoirunnisa a.k.a Icha yang paling rajin diantara kita semua. Icha yang paling rajin ngingetin ngerjain tugas. Paling rajin nyari bahan. Paling rajin diskusi sama senior. Paling rajin ke perpus. Paling rajin memberhentikan tawa kita karena kelamaan ketawanya dan penyebar virus rajin ke Lipi. Pokoknya Icha tuh yang paling rajin deh. Hahaha
Rina Wulandari a.k.a Rina sang pembawa kue. Dikarenakan ibu Rina jago membuat kue, Rina juga didaulat mengurusi konsumsi. Rina yang paling sering nyari bahan dari google. Rina itu yang paling sabar. Kalau kita pada nyeleneh, Rina senyum-senyum aja. Tapi Rina pernah bandel juga saat bersama dengan gue dan Mbip lagi kumat isengnya. Cerita selengkapnya akan dikupas pada pembahasan selanjutnya.
Bagi saya Expe seperti hidup dan mati. Mata kuliah yang tak hanya membutuhkan IQ, tapi juga EQ dan SQ. IQ jelas penting, mengingat kalau salah satu dari kami moron atau Idiot, dapat dipastikan hanya akan menyusahkan yang lain. EQ, lebih penting karena semester 4 kita tidak hanya disuapi makul expe tapi juga makul lain yang nyaris membuat otak meledak. Dan EQ dibutuhkan untuk menjaga stabilitas mood, adaptasi tak hanya antar teman sekelompok tapi juga pada AKADEMIK dan pihak sekolah yang akan kita eksperimen. SQ, tak kalah penting menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta. Banyak-banyak berdoa semoga penelitian ini berjalan dengan baik dan lancar. Bisa dibilang kita rada parno dan sempat berucap, “Nggak muluk-muluk sampai 35%, 30% pun udah makasih banget sama Allah…”
Beberapa hal yang sempat terekam tak pernah mati selama kurang lebih 4 bulan lamanya dengan para wanita terindah tersebut:
1. Makul ini membuat saya menginjak LIPI untuk pertama kalinya. Dapat saya katakan, kelompok saya yang paling sering menginjakkan kaki ke LIPI. Paling banyak dari anggota kelompok ini mungkin 3-4 kali, sedangkan saya baru 2 kali. Tapi paling tidak, kelompok 2 yang paling sering mengingat kelompok lain tak banyak yang melakukan hal yang sama.
2. Kelompok 2 beberapa kali sempat mengganti judul penelitian. Judul pertama yang dibuat pada saat jam makul Expe berlangsung itu kalau tidak salah adalah ‘Pengaruh Jarak Tempuh Kuliah Antara Mahasiswa Yang Ngekost Dan Tidak Terhadap Prestasi Belajar’ yang langsung mendapat sambutan hangat dari sang mentor, “Kalian mau buat eksperimen dengan nyuruh mereka yang biasa ngekost naik angkot pulang pergi dan yang nggak ngekos terus ngekost?”… Amplop!!! Dodol sangat tuh judul. Untung aja belom ke publish sampai ke Bu Yunita dan anak-anak Bd1 yang lain. Langsung aja kita ganti dengan judul lain yang saya lupa judulnya apa. Kalau nggak salah judulnya berbau-bau –sok make- Anova gitu soalnya ada tingkatan IV tentang kata mudah, kata sedang dan kata sulit. Entahlah… Kalau saya boleh sok inget kayaknya ‘Pengaruh Perbandaharaan Kata Terhadap Kemampuan Berbahasa Pada Anak Usia Dini’.Pokoknya seperti itulah garis besar judul kedua kita seperti itu deh. Dan hal bego kita lakukan pas kita nentuin apa yang dimatching atau diblocking. Kita (kecuali Icha secara dia yang paling waras di kelompok ini) malah sok-sokan niruin kata-kata tertentu dengan logat Batak, Ambon, Bali, Jawa, Tegal, Solo, Sunda, Padang, dll, untuk mencari tau apakah jenis suku menjadi sesuatu yang harus di blocking?? Dodol…
3. Mendekati weekend –setelah Expe hari Kamis usai-, Icha ngajakin ke LIPI. Saya yang belum pernah kesana menyambut antusias. Saya sempat ngotot-ngototan kalau Sabtu LIPI tutup tapi kenyataannya buka. Duhh… Bikin malu aja sama Icha. Hehehe… Kalau tidak salah pertama kali ke LIPI hanya saya, Icha dan Laras aja. Saat itu Icha dan Laras menemukan IV-IV baru (tapi yang saya ingat hanya satu) yaitu, Metode Pembelajaran Jollyponic’. Saya yang tak mengerti hanya mengangguk-angguk dan berharap Lasa-Icha benar-benar mengerti apa itu si Jolly-jolly karena saya sama sekali tidak mengerti. Parahhh…
4. Satu minggu sudah ‘Pengaruh Metode Pembelajaran Jollyponic Terhadap Kemampuan Bahasa Terhadap Anak Usia Dini’ resmi menjadi judul kita. Kita mulai mengumpulkan bahan-bahan yang berujung… BATAL! Seminggu lamanya, 50% dari kami -termasuk saya- tak mampu menguasai materi tersebut. Kami pun memerah otak mencari judul –lebih tepatnya IV- pengganti yang sekiranya dapat kita gunakan namun tanpa mengurangi rasa hormat terhadap bahan-bahan lain yang telah kita kumpulkan.
5. Berpikir… Berpikir.. Berpikir.., dengan berbagai gaya (yang dapat saya pastikan hanya Icha seorang yang gayanya masih layak disebut orang normal) mulai dari duduk, berdiri, terlentang, telungkup, split (khusus buat Mbip. Hahaha), Kaki di kepala, kepala di kaki (yang ini lagu Peterpan), akhirnya lahirlah sebuah judul baru. Dengan bangga kita persembahkan judul sebagai berikut, ‘Pengaruh Tayangan Dora The Explorer terhadap Kemampuan Berbahasa pada Anak Usia Dini’. Yippieee!!! Ini sih gancilll!!!
6. Mulailah kami merumuskan titik permasalahan –saya heran, kenapa laporan penelitian dalam bentuk apapun selalu mencari masalah-, menyusun laporan dengan mencari data dan instrumen yang dibutuhkan. Sempat kita mengganti judul menjadi ‘Pengaruh Tayangan Dora The Explorer terhadap Kosakata Bahasa Inggris pada Anak Usia Dini’. Saat itulah kita menyadari bahwa film Dora itu hanya sedikit menggunakan kosakata yang kita butuhkan. Belum lagi kebanyakan film Dora dengan banyak vocab ternyata full in English. Dengan santainya Mbip sempat bilang ‘Udah, kita kasihin subtitle aja..’. Rina pun mulai mengcopy film Dora. Selama film dicopy, seperti biasa kita sibuk bergosip, foto-foto dan bertingkah gaje di dalam perpus yang ujung-ujungnya Rina berkata, “Filmnya nggak bisa dicopy!” Ohh.. My… Padahal gampangnya, harusnya dari awal kita nggak perlu ngopy untuk ngasih subtitle karena anak usia dini itu belom bisa baca. Hehehe
7. Karena perpus fakultas yang memiliki waktu operasional sangat cepat, akhirnya kita berpindah ke dalam salah satu kelas. Dalam kelas itu, yang saya ingat ada kelompok 5 (Ade, Amel, Arini, Nuni, Fitri, Puri, Arki, Nino) yang juga mengerjakan Expe dipojok ruangan. Ada juga Acid, Ridwan dan Eda dari kelompok 3 Expe yang entah mengerjakan apa. Kalau nggak salah Acid ngerjain Metlit, Eda ngerjain Psi.Agama. Ada juga Gusti dari kelompok 4 Expe yang juga sedang mengerjakan tugas kelompok bareng Eda dan Ade. Juga Babe yang gaje dah tuh orang ngapain di kelas. Di kelas, kita mulai menyambungkan koneksi via internet demi membuka situs yang mencari flm Dora.
Terbukalah pameran laptop di kelas. Lepi Mbip, Diwe, Laras dan Icha terbuka. Laras, Mbip, Rina dan Icha bergantian membuka youtube mencari-cari film. Ridwan, Eda dan Babe telah menghilang dikarenakan Jum’atan. Tinggallah kami para wanita berjibaku dengan tugas-tugasnya. Hingga tiba saatnya Laras dan Eka yang berhadapan mencari film, Entah apa yang mereka –ditambah Acid- lakukan hingga terkikik geli di depan layar. Hingga akhirnya Laras mencetuskan grup baru bernama xxxxx Grl! Hwahahahaha… SARAP!!! Saya hanya bisa tertawa sambil nungging-nunging mendengar celetukan polos Laras yang terkena bujuk rayu jin macam Eka dan Acid. Walopun sebenarnya Laras pasti pemilik andil terbesar atas terbentuknya nama kontroversial tersebut. Piss, Ras… ahaha
8. Sejak saat itulah genk xxxxx girl itu mendunia di Bd1. Mulai tercipta lagi lebel lain macam papan PxxxGxxxxxN, TxxPxxKx, KxMPxS, de el el… Semua berawal dari searching film kelompok kita. Haduhh… Namun kabar baik diatas kenakalan kita diatas adalah… Berjodohnya kita dengan sebuah film yang dapat mendukung penelitian kami yaitu film ‘Lets learn English blablabla..’ yang sialnya tidak bisa didonlot. Hiks… Karena itulah weekend kita penuh dengan ketegangan. Kita harus mendapatkan VCD itu! Hidup atau Mati! Hahaha… Masing-masing dari kita terus mencari VCD tersebut bagai Ghostbuster mencari hantu sampai akhirnya Rina membuat tag via FB yang menyatakan bahwa ia menemukan VCD Lets Learn English Vol.2 tersebut di Giant dekat rumahnya… Ohhh mayyy gooottt!!! Kita pun menarik napas lega dan dapat tidur dengan tenang.
9. Hari-hari berlalu dengan kami yang menyusun laporan dengan judul baru, ‘Pengaruh Tayangan Film Kartun dwibahasa (Inggris-Indonesia) terhadap Perbendaharaan Kata pada Anak-anak Awal’ diiringi sikap-sikap labil, panggung sandiwara, video gaje dan foto-foto narsis dimanapun kita berkumpul. Nggak keitung apa dan berapa celetukan yang bisa buat perut sakit dan pembaca mungkin sudah bisa menebak siapa pemberi stimulus dari kegilaan kita ini. Duo nama kembar itulah otak dari segalanya.
10. Mangapa kelompok ini disebut dengan Hompimpa Alaihum Gambreng??? Itu dikarenakan banyak hal. Kita selalu menggunakan hompimpa saat melakukan berbagai hal seperti membuat surat, membagi tugas bahkan menentukan kelompok kontrol dan Expe. Pokoknya sementok-mentoknya menggunakan hompimpa. Hehehe
11. Tibalah saat-saat penelitian.. Saya, Rina, Eka dan Diwe yang rumahnya nun jauh di mato, direlakan menginap di kosan Icha-Laras juga kontrakan Mbip, Yushi dan Eva. Malam saat mengnap itulah saya, Mbip dan Rina melakukan kejahilan pada Icha yang sampai sekarang Icha tak menyadari bahwa tengah kita jahili. Malam-malam kita emang belom ngecek LCD sampai akhirnya Icha ngingetin. Ohhh mayyyy Gooott!! Lupa euy.. Kita pun beranjak mencoba LCD tapi bilang sama Icha kalau kita udah pada ngantuk dan mau bobok. Dan itu membuat Icha agak kalang kabut. LCDnya memang sempat tidak menyala dan malah kita jadiin latar buat foto-foto, namun akhirnya muncul Pahlawab Bertopeng dengan wujud Ridwan (Makasih banget, Wan!!) yang bersedia datang ke apartemen pada jam 11 malam dan membuat LCD itu menyala dengan terang benderang! Hore!!!
12. Tertidurlah kita dengan sebait doa nan tulus semoga Allah memudahkan penelitian kita juga kelompok 5 pada esok hari. Kita bangun pagi-pagi… Berangkan dengan taksi disaat mentari belum menampakkan wujudnya dengan sebuah doa yang baik. Mbip sama Eka sempet-sempetnya minta restu nyokap masing-masing pas di dalam taksi. Dan sesampainya di sekolah tersebut… Kita menemukan masalah baru. Kita lupa bawa speaker. Kembalilah Diwe ke rumahnya untuk membawa speaker dan penelitian berlangsung dengan semestinya. Biar kata peneltan berlangsung selama 2 jam, kelakuan anak-anak bocah itu suksesmerontokkan badan juga suara kita. Alhamdulillah, semua dilewati dengan baik..
13. Melewati tahap menelitian, kita mula menggodok hasil penelitian dengan H2C yang sangat besar. Saya dan Icha yang ketiban tugas menganalisis hasil berusaha menenangkan diri. Yang lain melengkapi bahan kajian teori demi suksesnya penelitian kita. Berhari-hari penuh diskusi dengan sesama Bd1, juga mentor membuat laporan penelitian kita selesai tepat waktu. Uhuy!!! Sempat ada accident kehilangan surat penelitian yang berujung saya, Eka dan Diwe ‘membantu’ Pak Yordan merapikan berkas-berkas surat di akademik demi mendapat copyan surat penelitian kita. Oh, No!
14. Untung tak dapat diraih tapi malang sempat ditolak, pada 4 Januari 2010, tepat di har pengumpulan laporanpenelitian, kita menyadari sebuah kesalahan cukup fatal yang kita lakukan. Sebenarnya yang duluan nyadar tuh Rina sih. Hehehe… Beruntung laporan belum dikumpulkan ke pusat sehingga pihak akademik mengijinkan untuk merapikannya dan… jreng-jreng-jreng-jreng…!!! Selesai juga dalam waktu kurang dari setengah jam!!!! Kita kembali berkumpul untuk membahas pembagian tugas presentasi yang lagi-lagi dengan hompimpa!
15. Tepat 5 januari 2010, setelah semalam saya kebingungan menentukan jadwal kuliah Expe, presentasi kelompok dimulai. Kita kembali menyadari kekurangan -BUKAN KESALAHAN- kita pada laporan penelitian Expe kemarin. Selain itu, kita yang awalnya telah bersiap dengan pembagian per bab mendadak jengah saat mengetahui waktu presentasi yang diberikan hanya 10 menit dan presentator hanya seorang -paling banyak 2 orang presentator plus pengatur PP-. Sontak kepala anak-anak kelompok 2 mengarah pada saya. Saya aware, “Apa tuh maksud tatapan itu?”. Mereka cengengesan. “Yang maju elo aja ya???”… Wakwawww… Saya??? TERLALU! ITU SEMUA TIDAK MUNGKIN! *LEBAYYY!!!* Hahahaha… Semalam saya belum membaca apa-apa mengingat hasil hompimpa menunjukkan bahwa takdir saya mempresentasikan bab 5. Tapi kayaknya takdir itu hanya berlaku sampai tanggal 4 Januari usai karena kenyataannya 15 menit kemudian saya bercuap-cuap mempresentasikan hasil penelitian sendirian dan ditemani Mbip yang mengatur slide-slide presentasi kita. Menit-menit berlalu Bu Yunita akhirnya memberikan nilai yang cukup memuaskan 30%!!! Kalau diingat, seperti itulah doa kita sebelum memulai penelitian dan Allah menjawabnya. Saya makin girang saat melihat catatan yang penilai yang menuliskan bahwa presentasinya oke! Kita toast dan kegirangan seketika karena nilai tersebut tertinggi kedua dan menjadi hak milik kelompok 2 dan 3 dimana disana bersemayam Adel, Acid, Maul, Puri, Ratu, Eda dan Ridwan.
AHA! Usai sudah penelitian kita… Namun semoga bukan menjadi kerjaama kita yang terakhir. Tapi kita belum sempat celebrate mengingat setelah ini langsung UAS dan libur panjang… Hwaaaa… Pengen ke Blenger, PH atau KFC Petronas… Kemana kek, paling ujung-ujungnya hompimpa dulu.
Entah seperti apa Allah menuliskan jalanNya hingga mempertemukan saya dengan enam gadis beraneka rupa tersebut dalam satu kelompok…
Saya sangat menikmati masa-masa penelitian ini berjalan. Kebingungan, kebodohan, kelemotan, kecanggungan, ketakutan, kelelahan, ketegangan, kesenangan, kegembiraan, kepuasan dan berbagai perasaan yang telah bercampur aduk disini.. Semua menjadi satu momen tyang tak terganti juga tak terlupakan di semseter ini selain pengalaman menjadi KM juga pengerjaan tugas pada kelompok-kelompok pada mata kuliah lain. Notes ini ada karena rentang waktu yang saya pergunakan dengan mereka adalah yang terbanyak juga terpanjang jika dibandingkan dengan kelompok di makul lain.
Setiap kelompok pada makul memiliki kesan juga harapan. Tanpa bermaksud mengabaktirikan yang lain dengan membuat notes ini, saya sangat berterima kasih dengan semua teman yang telah bekerja sama dengan saya pada semester ini juga semester-semester sebelumnya. Semoga apa yang teman-teman lihat pada diri saya tidak membuat teman-teman bosan berkelompok dengan saya yang sangat lucu,baik hati dan tidak sombong ini…
Makasih untuk Acid, Rina, Arki, Nuni, Aat pada makul Psi. Islam…
Makasih untuk Mega dan Ipul pada makul Psi. Agama…
Makasih untuk Laras, Arini, Adel, Aat, Putri, Eda, Arki, Ipul pada makul Akhlak Tassawuf..
Makasih untuk Mbip, Ipul, Milcham pada makul Psikometri…
Makasih untuk Diwe, Icha, Eka, Laras, Mbip, Rina pada makul Metlit 2 dan Expe…
Makasih untuk Indah - Gusti pada makul Psi. Kepribadian…
Makasih untuk Adel, Arini, Puri, Yushi, Janu, Rahma, Nino pada makul Pd. Observasi…
Makasih untuk Yushi, Amal, Ratu pada makul Pd. Wawancara…
Makasih untuk semua member Bd1…
Selamat bertemu pada kelompok-kelompok selanjutnya!!! Cheeerzzzz!!! ^,^
Kelompok Expe ini terdiri dari saya (Aisyah Ning Asih) a.k.a aish yang sangat lucu (semoga yang baca nggak muntah!!), yang kadang kala suka menghilang saat teman-teman berkumpul karena berbagai alasan menyangkut kelas, organsasi dan kelompok mata kuliah lain. Saya yang sering dijadikan ‘tumbal’ untuk berdiskusi dengan kakak-kakak mentor. Yang kalau kata anak-anak kelompok, kalau nggak ada saya, kelompok ini nggak jalan-jalan. Ya iyalah, kalau jalan-jalan kan nggak kelar-kelar. Ngerjain tugas kan sambil duduk dan ditemani tumpukan buku. hehehe
Dewi Susanti a.k.a Diwe sang pencari sekolah untuk Expe, pengaduk-aduk Point Square untuk mencari VCD Dora dan tukang belanja makanan buat Expe. Entah apa kompensasi yang ia berikan kepada kepala sekolah hingga memberikan jalan yang mulus bagi kita semua. Cieeee… yang bakal magang akibat kompensasi expe. hehehe
Eka Rahmawati a.k.a Eka yang juga nyariin sekolah yang tadinya mau kita jadiin pilot study tapi kagak jadi mengingat waktu yang semakin menjepit namun tugas-tugas lain semakin membebani kita. Dia yang suka bingung mau ngapain kalau lagi ngumpul.Yang penting mah ngumpul, Ka… Ngapainnya nggak usah dipikir… Ntar juga jadi. Hehehe..
Laras Santoso a.k.a Laras adalah biang kerok dan penggodok tawa dalam kelompok ini. Jangan tertipu dengan wajah polosnya karena dibalik itu semua tersimpan sesuatu yang luar biasa sarap! Hahaha.. Biar ngocol-ngocol gitu, kalau orang-orang di dalam kelompok udah pada stuck, dia bisa nyeletukin sesuatu yang ujung-ujungnya adalah solusi walopun diceletukin dengan cara yang agak ‘maksiat’ alias jail. hahaha
Larassofi Iqlima a.k.a Mbip merupakan pasangan sarap dari Laras. Nggak tau kenapa mereka berdua itu kayaknya dilahirin untuk memprodsuksi eh memproduksi tawa. Kalau Larasnya udah capek ngelawak, pasti gantian deh nih orang yang ngelawak. Begitu juga sebaliknya. Dan kalau mereka berdua sarapnya barengan, alhasil kita kelamaan ngelawak daripada ngerjain tugas.
Nurul Khoirunnisa a.k.a Icha yang paling rajin diantara kita semua. Icha yang paling rajin ngingetin ngerjain tugas. Paling rajin nyari bahan. Paling rajin diskusi sama senior. Paling rajin ke perpus. Paling rajin memberhentikan tawa kita karena kelamaan ketawanya dan penyebar virus rajin ke Lipi. Pokoknya Icha tuh yang paling rajin deh. Hahaha
Rina Wulandari a.k.a Rina sang pembawa kue. Dikarenakan ibu Rina jago membuat kue, Rina juga didaulat mengurusi konsumsi. Rina yang paling sering nyari bahan dari google. Rina itu yang paling sabar. Kalau kita pada nyeleneh, Rina senyum-senyum aja. Tapi Rina pernah bandel juga saat bersama dengan gue dan Mbip lagi kumat isengnya. Cerita selengkapnya akan dikupas pada pembahasan selanjutnya.
Bagi saya Expe seperti hidup dan mati. Mata kuliah yang tak hanya membutuhkan IQ, tapi juga EQ dan SQ. IQ jelas penting, mengingat kalau salah satu dari kami moron atau Idiot, dapat dipastikan hanya akan menyusahkan yang lain. EQ, lebih penting karena semester 4 kita tidak hanya disuapi makul expe tapi juga makul lain yang nyaris membuat otak meledak. Dan EQ dibutuhkan untuk menjaga stabilitas mood, adaptasi tak hanya antar teman sekelompok tapi juga pada AKADEMIK dan pihak sekolah yang akan kita eksperimen. SQ, tak kalah penting menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta. Banyak-banyak berdoa semoga penelitian ini berjalan dengan baik dan lancar. Bisa dibilang kita rada parno dan sempat berucap, “Nggak muluk-muluk sampai 35%, 30% pun udah makasih banget sama Allah…”
Beberapa hal yang sempat terekam tak pernah mati selama kurang lebih 4 bulan lamanya dengan para wanita terindah tersebut:
1. Makul ini membuat saya menginjak LIPI untuk pertama kalinya. Dapat saya katakan, kelompok saya yang paling sering menginjakkan kaki ke LIPI. Paling banyak dari anggota kelompok ini mungkin 3-4 kali, sedangkan saya baru 2 kali. Tapi paling tidak, kelompok 2 yang paling sering mengingat kelompok lain tak banyak yang melakukan hal yang sama.
2. Kelompok 2 beberapa kali sempat mengganti judul penelitian. Judul pertama yang dibuat pada saat jam makul Expe berlangsung itu kalau tidak salah adalah ‘Pengaruh Jarak Tempuh Kuliah Antara Mahasiswa Yang Ngekost Dan Tidak Terhadap Prestasi Belajar’ yang langsung mendapat sambutan hangat dari sang mentor, “Kalian mau buat eksperimen dengan nyuruh mereka yang biasa ngekost naik angkot pulang pergi dan yang nggak ngekos terus ngekost?”… Amplop!!! Dodol sangat tuh judul. Untung aja belom ke publish sampai ke Bu Yunita dan anak-anak Bd1 yang lain. Langsung aja kita ganti dengan judul lain yang saya lupa judulnya apa. Kalau nggak salah judulnya berbau-bau –sok make- Anova gitu soalnya ada tingkatan IV tentang kata mudah, kata sedang dan kata sulit. Entahlah… Kalau saya boleh sok inget kayaknya ‘Pengaruh Perbandaharaan Kata Terhadap Kemampuan Berbahasa Pada Anak Usia Dini’.Pokoknya seperti itulah garis besar judul kedua kita seperti itu deh. Dan hal bego kita lakukan pas kita nentuin apa yang dimatching atau diblocking. Kita (kecuali Icha secara dia yang paling waras di kelompok ini) malah sok-sokan niruin kata-kata tertentu dengan logat Batak, Ambon, Bali, Jawa, Tegal, Solo, Sunda, Padang, dll, untuk mencari tau apakah jenis suku menjadi sesuatu yang harus di blocking?? Dodol…
3. Mendekati weekend –setelah Expe hari Kamis usai-, Icha ngajakin ke LIPI. Saya yang belum pernah kesana menyambut antusias. Saya sempat ngotot-ngototan kalau Sabtu LIPI tutup tapi kenyataannya buka. Duhh… Bikin malu aja sama Icha. Hehehe… Kalau tidak salah pertama kali ke LIPI hanya saya, Icha dan Laras aja. Saat itu Icha dan Laras menemukan IV-IV baru (tapi yang saya ingat hanya satu) yaitu, Metode Pembelajaran Jollyponic’. Saya yang tak mengerti hanya mengangguk-angguk dan berharap Lasa-Icha benar-benar mengerti apa itu si Jolly-jolly karena saya sama sekali tidak mengerti. Parahhh…
4. Satu minggu sudah ‘Pengaruh Metode Pembelajaran Jollyponic Terhadap Kemampuan Bahasa Terhadap Anak Usia Dini’ resmi menjadi judul kita. Kita mulai mengumpulkan bahan-bahan yang berujung… BATAL! Seminggu lamanya, 50% dari kami -termasuk saya- tak mampu menguasai materi tersebut. Kami pun memerah otak mencari judul –lebih tepatnya IV- pengganti yang sekiranya dapat kita gunakan namun tanpa mengurangi rasa hormat terhadap bahan-bahan lain yang telah kita kumpulkan.
5. Berpikir… Berpikir.. Berpikir.., dengan berbagai gaya (yang dapat saya pastikan hanya Icha seorang yang gayanya masih layak disebut orang normal) mulai dari duduk, berdiri, terlentang, telungkup, split (khusus buat Mbip. Hahaha), Kaki di kepala, kepala di kaki (yang ini lagu Peterpan), akhirnya lahirlah sebuah judul baru. Dengan bangga kita persembahkan judul sebagai berikut, ‘Pengaruh Tayangan Dora The Explorer terhadap Kemampuan Berbahasa pada Anak Usia Dini’. Yippieee!!! Ini sih gancilll!!!
6. Mulailah kami merumuskan titik permasalahan –saya heran, kenapa laporan penelitian dalam bentuk apapun selalu mencari masalah-, menyusun laporan dengan mencari data dan instrumen yang dibutuhkan. Sempat kita mengganti judul menjadi ‘Pengaruh Tayangan Dora The Explorer terhadap Kosakata Bahasa Inggris pada Anak Usia Dini’. Saat itulah kita menyadari bahwa film Dora itu hanya sedikit menggunakan kosakata yang kita butuhkan. Belum lagi kebanyakan film Dora dengan banyak vocab ternyata full in English. Dengan santainya Mbip sempat bilang ‘Udah, kita kasihin subtitle aja..’. Rina pun mulai mengcopy film Dora. Selama film dicopy, seperti biasa kita sibuk bergosip, foto-foto dan bertingkah gaje di dalam perpus yang ujung-ujungnya Rina berkata, “Filmnya nggak bisa dicopy!” Ohh.. My… Padahal gampangnya, harusnya dari awal kita nggak perlu ngopy untuk ngasih subtitle karena anak usia dini itu belom bisa baca. Hehehe
7. Karena perpus fakultas yang memiliki waktu operasional sangat cepat, akhirnya kita berpindah ke dalam salah satu kelas. Dalam kelas itu, yang saya ingat ada kelompok 5 (Ade, Amel, Arini, Nuni, Fitri, Puri, Arki, Nino) yang juga mengerjakan Expe dipojok ruangan. Ada juga Acid, Ridwan dan Eda dari kelompok 3 Expe yang entah mengerjakan apa. Kalau nggak salah Acid ngerjain Metlit, Eda ngerjain Psi.Agama. Ada juga Gusti dari kelompok 4 Expe yang juga sedang mengerjakan tugas kelompok bareng Eda dan Ade. Juga Babe yang gaje dah tuh orang ngapain di kelas. Di kelas, kita mulai menyambungkan koneksi via internet demi membuka situs yang mencari flm Dora.
Terbukalah pameran laptop di kelas. Lepi Mbip, Diwe, Laras dan Icha terbuka. Laras, Mbip, Rina dan Icha bergantian membuka youtube mencari-cari film. Ridwan, Eda dan Babe telah menghilang dikarenakan Jum’atan. Tinggallah kami para wanita berjibaku dengan tugas-tugasnya. Hingga tiba saatnya Laras dan Eka yang berhadapan mencari film, Entah apa yang mereka –ditambah Acid- lakukan hingga terkikik geli di depan layar. Hingga akhirnya Laras mencetuskan grup baru bernama xxxxx Grl! Hwahahahaha… SARAP!!! Saya hanya bisa tertawa sambil nungging-nunging mendengar celetukan polos Laras yang terkena bujuk rayu jin macam Eka dan Acid. Walopun sebenarnya Laras pasti pemilik andil terbesar atas terbentuknya nama kontroversial tersebut. Piss, Ras… ahaha
8. Sejak saat itulah genk xxxxx girl itu mendunia di Bd1. Mulai tercipta lagi lebel lain macam papan PxxxGxxxxxN, TxxPxxKx, KxMPxS, de el el… Semua berawal dari searching film kelompok kita. Haduhh… Namun kabar baik diatas kenakalan kita diatas adalah… Berjodohnya kita dengan sebuah film yang dapat mendukung penelitian kami yaitu film ‘Lets learn English blablabla..’ yang sialnya tidak bisa didonlot. Hiks… Karena itulah weekend kita penuh dengan ketegangan. Kita harus mendapatkan VCD itu! Hidup atau Mati! Hahaha… Masing-masing dari kita terus mencari VCD tersebut bagai Ghostbuster mencari hantu sampai akhirnya Rina membuat tag via FB yang menyatakan bahwa ia menemukan VCD Lets Learn English Vol.2 tersebut di Giant dekat rumahnya… Ohhh mayyy gooottt!!! Kita pun menarik napas lega dan dapat tidur dengan tenang.
9. Hari-hari berlalu dengan kami yang menyusun laporan dengan judul baru, ‘Pengaruh Tayangan Film Kartun dwibahasa (Inggris-Indonesia) terhadap Perbendaharaan Kata pada Anak-anak Awal’ diiringi sikap-sikap labil, panggung sandiwara, video gaje dan foto-foto narsis dimanapun kita berkumpul. Nggak keitung apa dan berapa celetukan yang bisa buat perut sakit dan pembaca mungkin sudah bisa menebak siapa pemberi stimulus dari kegilaan kita ini. Duo nama kembar itulah otak dari segalanya.
10. Mangapa kelompok ini disebut dengan Hompimpa Alaihum Gambreng??? Itu dikarenakan banyak hal. Kita selalu menggunakan hompimpa saat melakukan berbagai hal seperti membuat surat, membagi tugas bahkan menentukan kelompok kontrol dan Expe. Pokoknya sementok-mentoknya menggunakan hompimpa. Hehehe
11. Tibalah saat-saat penelitian.. Saya, Rina, Eka dan Diwe yang rumahnya nun jauh di mato, direlakan menginap di kosan Icha-Laras juga kontrakan Mbip, Yushi dan Eva. Malam saat mengnap itulah saya, Mbip dan Rina melakukan kejahilan pada Icha yang sampai sekarang Icha tak menyadari bahwa tengah kita jahili. Malam-malam kita emang belom ngecek LCD sampai akhirnya Icha ngingetin. Ohhh mayyyy Gooott!! Lupa euy.. Kita pun beranjak mencoba LCD tapi bilang sama Icha kalau kita udah pada ngantuk dan mau bobok. Dan itu membuat Icha agak kalang kabut. LCDnya memang sempat tidak menyala dan malah kita jadiin latar buat foto-foto, namun akhirnya muncul Pahlawab Bertopeng dengan wujud Ridwan (Makasih banget, Wan!!) yang bersedia datang ke apartemen pada jam 11 malam dan membuat LCD itu menyala dengan terang benderang! Hore!!!
12. Tertidurlah kita dengan sebait doa nan tulus semoga Allah memudahkan penelitian kita juga kelompok 5 pada esok hari. Kita bangun pagi-pagi… Berangkan dengan taksi disaat mentari belum menampakkan wujudnya dengan sebuah doa yang baik. Mbip sama Eka sempet-sempetnya minta restu nyokap masing-masing pas di dalam taksi. Dan sesampainya di sekolah tersebut… Kita menemukan masalah baru. Kita lupa bawa speaker. Kembalilah Diwe ke rumahnya untuk membawa speaker dan penelitian berlangsung dengan semestinya. Biar kata peneltan berlangsung selama 2 jam, kelakuan anak-anak bocah itu suksesmerontokkan badan juga suara kita. Alhamdulillah, semua dilewati dengan baik..
13. Melewati tahap menelitian, kita mula menggodok hasil penelitian dengan H2C yang sangat besar. Saya dan Icha yang ketiban tugas menganalisis hasil berusaha menenangkan diri. Yang lain melengkapi bahan kajian teori demi suksesnya penelitian kita. Berhari-hari penuh diskusi dengan sesama Bd1, juga mentor membuat laporan penelitian kita selesai tepat waktu. Uhuy!!! Sempat ada accident kehilangan surat penelitian yang berujung saya, Eka dan Diwe ‘membantu’ Pak Yordan merapikan berkas-berkas surat di akademik demi mendapat copyan surat penelitian kita. Oh, No!
14. Untung tak dapat diraih tapi malang sempat ditolak, pada 4 Januari 2010, tepat di har pengumpulan laporanpenelitian, kita menyadari sebuah kesalahan cukup fatal yang kita lakukan. Sebenarnya yang duluan nyadar tuh Rina sih. Hehehe… Beruntung laporan belum dikumpulkan ke pusat sehingga pihak akademik mengijinkan untuk merapikannya dan… jreng-jreng-jreng-jreng…!!! Selesai juga dalam waktu kurang dari setengah jam!!!! Kita kembali berkumpul untuk membahas pembagian tugas presentasi yang lagi-lagi dengan hompimpa!
15. Tepat 5 januari 2010, setelah semalam saya kebingungan menentukan jadwal kuliah Expe, presentasi kelompok dimulai. Kita kembali menyadari kekurangan -BUKAN KESALAHAN- kita pada laporan penelitian Expe kemarin. Selain itu, kita yang awalnya telah bersiap dengan pembagian per bab mendadak jengah saat mengetahui waktu presentasi yang diberikan hanya 10 menit dan presentator hanya seorang -paling banyak 2 orang presentator plus pengatur PP-. Sontak kepala anak-anak kelompok 2 mengarah pada saya. Saya aware, “Apa tuh maksud tatapan itu?”. Mereka cengengesan. “Yang maju elo aja ya???”… Wakwawww… Saya??? TERLALU! ITU SEMUA TIDAK MUNGKIN! *LEBAYYY!!!* Hahahaha… Semalam saya belum membaca apa-apa mengingat hasil hompimpa menunjukkan bahwa takdir saya mempresentasikan bab 5. Tapi kayaknya takdir itu hanya berlaku sampai tanggal 4 Januari usai karena kenyataannya 15 menit kemudian saya bercuap-cuap mempresentasikan hasil penelitian sendirian dan ditemani Mbip yang mengatur slide-slide presentasi kita. Menit-menit berlalu Bu Yunita akhirnya memberikan nilai yang cukup memuaskan 30%!!! Kalau diingat, seperti itulah doa kita sebelum memulai penelitian dan Allah menjawabnya. Saya makin girang saat melihat catatan yang penilai yang menuliskan bahwa presentasinya oke! Kita toast dan kegirangan seketika karena nilai tersebut tertinggi kedua dan menjadi hak milik kelompok 2 dan 3 dimana disana bersemayam Adel, Acid, Maul, Puri, Ratu, Eda dan Ridwan.
AHA! Usai sudah penelitian kita… Namun semoga bukan menjadi kerjaama kita yang terakhir. Tapi kita belum sempat celebrate mengingat setelah ini langsung UAS dan libur panjang… Hwaaaa… Pengen ke Blenger, PH atau KFC Petronas… Kemana kek, paling ujung-ujungnya hompimpa dulu.
Entah seperti apa Allah menuliskan jalanNya hingga mempertemukan saya dengan enam gadis beraneka rupa tersebut dalam satu kelompok…
Saya sangat menikmati masa-masa penelitian ini berjalan. Kebingungan, kebodohan, kelemotan, kecanggungan, ketakutan, kelelahan, ketegangan, kesenangan, kegembiraan, kepuasan dan berbagai perasaan yang telah bercampur aduk disini.. Semua menjadi satu momen tyang tak terganti juga tak terlupakan di semseter ini selain pengalaman menjadi KM juga pengerjaan tugas pada kelompok-kelompok pada mata kuliah lain. Notes ini ada karena rentang waktu yang saya pergunakan dengan mereka adalah yang terbanyak juga terpanjang jika dibandingkan dengan kelompok di makul lain.
Setiap kelompok pada makul memiliki kesan juga harapan. Tanpa bermaksud mengabaktirikan yang lain dengan membuat notes ini, saya sangat berterima kasih dengan semua teman yang telah bekerja sama dengan saya pada semester ini juga semester-semester sebelumnya. Semoga apa yang teman-teman lihat pada diri saya tidak membuat teman-teman bosan berkelompok dengan saya yang sangat lucu,baik hati dan tidak sombong ini…
Makasih untuk Acid, Rina, Arki, Nuni, Aat pada makul Psi. Islam…
Makasih untuk Mega dan Ipul pada makul Psi. Agama…
Makasih untuk Laras, Arini, Adel, Aat, Putri, Eda, Arki, Ipul pada makul Akhlak Tassawuf..
Makasih untuk Mbip, Ipul, Milcham pada makul Psikometri…
Makasih untuk Diwe, Icha, Eka, Laras, Mbip, Rina pada makul Metlit 2 dan Expe…
Makasih untuk Indah - Gusti pada makul Psi. Kepribadian…
Makasih untuk Adel, Arini, Puri, Yushi, Janu, Rahma, Nino pada makul Pd. Observasi…
Makasih untuk Yushi, Amal, Ratu pada makul Pd. Wawancara…
Makasih untuk semua member Bd1…
Selamat bertemu pada kelompok-kelompok selanjutnya!!! Cheeerzzzz!!! ^,^
Subscribe to:
Comments (Atom)