Rabu, 24 Maret 2010 adalah hari yang sama dengan hari-hari sebelumnya…
Hari dimana bergulir dengan dimulainya dinihari, fajar, pagi, tengah hari, siang, sore, petang dan malam. Hari dimana jam berdetak 60 detik setiap menit, 60 menit setiap satu jam dan 24 jam sehari. Hari dimana sholat wajib dilakukan 5 waktu sehari, 17 rakaat sehari dari takbiratul ihram hingga salam.
Hari yang dimulai dengan perkuliahan pada pukul 10.20 hingga 15.50. Hari dimana 6B masih disebut Bd1. Masih berisi manusia-manusia yang sama dengan kelakuan yang nyaris ‘gila’ di setiap harinya. Hari dimana kelas masih dipakai secara bergantian. Hari yang… Entah apa lagi yang harus dijabarkan untuk mengungkapkan bahwa secara umum, hari itu adalah hari yang sama dengan hari-hari lain. HARI YANG SAMA…
Berhari-hari berlalu dan pada kenyataannya semua memaksa untuk kembali pada hari itu. Maka jelas, hari itu tak dapat dikatakan sebagai hari yang sama. Hari itu berbeda. Sangat berbeda. Begitu berbeda.
Hari yang mengubah begitu banyak ‘isi’ karena sebuah konstitusi. Hari yang begitu menguras hati dalam pergulatan nurani. Hari yang membuat kami berpikir dari banyak dan terlalu banyak sisi hingga saya –jika tidak boleh digeneralisasikan akan saya katakan KAMI- merasa inilah ‘panggung sandiwara’ selanjutnya yang kembali menawarkan sebuah peran antagonis maupun protagonis dimana kami akan terlibat tanpa harus berujung mati.
Panggung Sandiwara…
Tanpa bermaksud menyinggung pihak manapun, tapi bagi saya, panggung sandiwara kali ini tak sebesar dan semegah apa yang pernah saya jalani sebelumnya. Yang mungkin mereka semua tak tahu seperti apa panggung yang –menurut saya- megah. Pada panggung sandiwara yang hingga saat ini pun belum mencapai ending.
Pertunjukan kali ini cukup menegangkan namun buruk! Alurnya berantakan. Skripnya dibuat terlalu terburu-buru hingga satu sama lain terasa pecah dalam akting yang pas-pasan bahkan cenderung dibuat-buat oleh beberapa pemain. Pertunjukannya membosankan karena beberapa scene hanya mengulang dari scene sebelumnya! Berlebihan dan terlalu mengada-ada. Lebih cocok disebut sebagai sinetron daripada sebuah film dokumenter!
Tapi apa alasan yang membuat saya begitu ingin terlibat dan ‘bermain’ disana?
Pertama, sandiwara ini membutuhkan begitu banyak pemain untuk mengisi setiap peran yang dibutuhkan. Saya katakan beberapa dari mereka tak mampu memainkan perannya dengan baik, tapi lebih banyak lagi peran-peran yang dilakukan dengan sangat baik.
Kedua, sandiwara ini menghabiskan budget yang tidak sedikit. Setidaknya untuk membuatnya saja, kini memasuki minggu ketiga dengan skrip yang masih belum selesai dan melihat ratingnya yang semakin memanas ini, sudah tentu akan memperpanjang masa penayangannya secara otomatis, honor yang saya dapatkan akan semakin besar. –Oh ya? Benarkah begitu??-
Ketiga, sandiwara ini dapat membuat saya tertawa dan menangis di saat yang bersamaan. Hebat bukan? –Bipolar banget!!-
Keempat, sandiwara ini belum memiliki judul dan sepertinya, PH baru akan memberikan judul ketika sandiwara ini selesai dibuat dan itu membuat saya bertanya-tanya sekaligus ingin tahu.
Kelima, alasan terpenting dan paling penting!! Dapat saya katakan bahwa saya –kami- terpilih bermain dalam panggung sandiwara ini. Saya yakin, kami tidak pernah mau menjadi bagian dari semua ini. Semua ini bukan keinginan kami!
Saya mencoba memahami satu hal.
KAMI TERPILIH BUKAN KARENA KEINGINAN KAMI. TAKDIR YANG MEMILIH KAMI.
Katakanlah ini bukan LoC External. Tapi..
Karena Dia percaya bahwa kami dapat sabar menunggu revisi skrip yang tak kunjung selesai. Karena Dia percaya bahwa kami kuat menjalani dan menyelesaikan setiap scenenya. Karena Dia percaya bahwa kami sebagai pemegang kendali yang akan terus hidup meski dihujani rasa tak berarti. Karena Dia percaya bahwa kami pantas mendapat bonus ‘rasa sayang’Nya dengan cara yang berbeda. Karena Dia percaya bahwa kami adalah pemain watak yang paling berhak mendapat kesempatan menghidupkan alur cerita yang terlanjur berantakan. Karena Dia percaya bahwa kami yang akan mengantar panggung ini di puncak penghargaan megahnya penguasa anarki. Karena Dia percaya bahwa kami dapat mengubah imej sinetron ini menjadi sebuah film dokumenter yang akan terekam tak pernah mati di setiap pemain dan penontonnya.
Karena Dia menyayangi kami..
No comments:
Post a Comment