Monday, July 26, 2010

Tuhan.. Aku mau curhat yaaa...

Tuhan..
Saat ku mulai menulis di sini.. Aku tau, aku akan banyak menangisi diriku, kebodohanku…
Bahkan dapat kukatakan inilah sisi rapuh dalam hidupku, ketakutanku..
Ketakutan yang sama yang pernah muncul padaku bertahun-tahun lalu.
Aku tau, kau tau sekali apa yang tengah kurasakan saat ini..
Mimpi-mimpiku.. Keinginanku.. Kebimbangan bahkah hal yang mungkin tak kusadari.

Tuhan..
Aku kangen sekali.. Aku kangen mereka sekalipun aku tak ingin bersama mereka.
Tapi aku membenci apa yang disebut kecanggungan. Aku benci saat ini.
Apa yang kusebut dengan situasi yang ‘mematikan’ eksistensiku sebagai seorang manusia.
Sebagai seorang manusia yang dilepaskan tanpa sedikitpun niat menahanku untuk tetap tinggal.

Tuhan..
Saat ini aku ingin berbicara tentang mereka yang hampir tiga tahun lamanya bersamaku.
Semua yang diawali sebuah perkenalan. Adaptasi tanpa rasa saling memiliki.
Semua yang berjalan dalam rumah mereka sendiri selama 365 hari hingga akhirnya Kau beri janji.
Kau janjikan kami sebuah home bukan house yang dapat kami tempati 3 x 365 hari lagi. Jumlah yang jauh lebih lama dari 365 hari membosankan yang awalnya Kau berikan pada kami.
Kau berikan itu pada kami hingga membuat kami dapat tinggal dengan rasa yang tak lagi tanpa memiliki.
Jujur, aku tak pernah tau apa yang ada dalam pikiran mereka. Yang aku tau aku merasa nyaman-nyaman saja bersama mereka.

Sungguh Tuhan!
Aku sangat nyaman berada disana. Dan malam ini aku sangat berharap kalau saat itu mereka pun nyaman tinggal bersamaku dalam home yang luas dan penuh tawa itu.

½ x 365 pertama, aku tahu aku menemukan kembali apa yang disebut Two-D.
Saat-saat aku dengan bebasnya keluar masuk dalam lingkar yang sebenarnya mengikatku.

½ x 365 kedua, aku tahu bahwa cinta selalu ada dan ‘no heart feelings’ hanya sebuah tanda tanya.
Tapi aku percaya, itulah saat-saat merajanya sebuah masa bahkan yang paling menggila, kamilah sang penguasa. Inilah Glatto Splato kedua yang pernah hidup dan membuat duniaku berwarna.

½ x 365 ketiga, rasanya aku tak berani mengatakan apa-apa. Saat dimana semua begitu menekan namun aku tak mampu berteriak menyebut nama mereka. Tak ingin melibatkan mereka. Saat dimana aku tau, aku bermain dengan hati. Aku menyisakan hatiku untuk mereka.

½ x 365 keempat, semua dimulai dengan air mata.
Kau tau? Tak sampai hati aku melihat mereka seperti itu.
Seolah kembali berhadapan dengan The Black Team. Ada keengganan, tapi aku tau aku marah jika ada yang menyakiti mereka. Bahkan aku tak terima saat beberapa dari orang di luar kami mulai berkata yang sebenarnya tentang kami. Yang mungkin saat itu tak kami sadari. Kami telah berubah.
Tempat itu menjadi lebih buruk dari 365 hari paling awal yang belum Kau janjikan apa-apa.

Tuhan..
Aku sayang sekali dengan mereka…
Duhh.. berkaca-kaca lagi deh nulisnya.

Aku menyadari roda berputar. Ada masanya kami superior dan mungkin inilah saatnya kami tampak begitu inferior –setidaknya seperti itu dimataku-.
Tapi sekali lagi aku ingin mengatakan.. Aku sangat sayang mereka.
Aku akan memberitahukan kepadaMu mengapa aku bisa begitu meyayangi mereka.
Tapi sebelum itu, aku juga ingin mengatakan mengapa aku ‘membenci’ mereka.
Aku kehilangan ‘home’. Bahkan mereka tak lagi membuat ‘house’, tapi lebih memilih tinggal di apartemen mereka. Sendirian.

Aku akan sangat bersalah – menurut beberapa orang- jika menjadikan berbagai assignments sebagai excuse yang membuat semua situasi menjadi seperti ini. Tapi kenyataannya sampai saat ini, memang itulah alasan yang sering kumaki karena telah menghilangkan ‘home’ku.
Aku muak dengan semua yang tampak begitu ‘baik’ di tengah suasana hatiku yang sangat buruk.
Entah mereka yang benar-benar ‘baik’ atau berusaha tampak ‘baik’, aku menganggap ‘baik’ = palsu.
Atau bahkan memang aku-lah yang telah mengacaukan semua yang kini nampak baik.
Aku tak mendapat pembenaran jika memilih salah satunya karena kedua alasan itu adalah yang sebenarnya. Aku memang telah sangat tidak adil pada mereka, tapi aku hanya ingin mengungkapkan apa yang saat ini aku rasakan.
Tapi sekali lagi kukatakan.. Aku sayang mereka dengan alasan yang berkali lipat banyaknya dibandingkan dari apa yang telah membuatku ‘malas’ dengan mereka.

Mereka yang selalu membuatku tertawa, bahkan disaat paling mengenaskan yang saat itu menimpaku.
Mereka membuatku lupa bahwa tanggal 27 itu ada di setiap bulannya nahkan disetiap tahunnya.
Mereka adalah tumbuhan yang mengajakku tumbuh, belajar dan bangkit dari ‘kematian’.
Merekalah kegilaan dan kebandelan yang kerap kami ekspresikan sebagai bentuk dari kebebasan.

Pada dasarnya mereka sangatlah baik dan jauh dari palsu.
Aku tau, palsu hanya bentuk dari adaptasi, bukan?
Bentuk repres sebagai kata ganti dari melindungi.
Melindungi siapa lagi kalau bukan melindungi eksistensi kami.
Aku berani bertaruh, tak hanya aku yang merasakan hal seperti ini. Ketidakwarasan ini. Keanehan ini.
Tapi aku lebih berani lagi untuk bertaruh bahwa tak hanya aku yang menginginkan dan berusaha agar ‘home’ itu kembali.

Tuhan..
Aku mohon di 365 hari terakhir yang akan Kau berikan nanti, Kau kembalikan ‘home’ kami.
Bukan kami tak menginginkan apartemen yang juga kau berikan, tapi tolong..
Untuk kali ini kembalikan kami.
Tak hanya ‘home’, tapi kami..
Tak hanya aku dan mereka, tapi kami..

Tuhan..
Sungguh aku begitu familiar dengan situasi ini. Aku tak ingin mengulang waktu yang salah itu lagi.
Jadi aku mohon..
Dimanapun mereka berada saat ini, jaga mereka ya, Tuhan..
Karena aku sayang mereka..
S A Y A N G . . .

No comments: