Friday, February 19, 2010

Cerpen Gagal gW....

Bali di Hatiku

Hari pertama di Bali…
Siang ini langit begitu cerah. Pantulan cahaya matahari membentuk bayangan hitam yang mengikuti langkahnya. Panas. Aira mempercepat langkahnya mensejajari langkah Randy, kakaknya, yang telah berjalan lebih dulu dengan trolley yang penuh barang. Randy dan Aira disambut oleh Caca dan Dini, kedua sepupunya. Mereka berpelukan erat dan cipika-cipiki saking kangennya karena hampir satu tahun lamanya mereka tak bertemu. Kedua sepupu Aira ini menetap di Yogyakarta dan mereka telah berjanji menghabiskan waktu liburan mereka di Bali. Setelah melepas kangen, mereka langsung meluncur ke Jalan Legian daerah Kuta. Daerah ini merupakan kawasan yang banyak didatangi oleh wisatawan.

Disanalah monumen ‘Ground Zero’ berdiri. Monumen ini dibangun untuk mengenang korban-korban ledakan Bom Bali I yang terjadi 12 Oktober 2002 silam. Dari monumen ‘Ground Zero’, perjalanan berlanjut menuju pantai Kuta yang juga tak jauh dari bandara Ngurah Rai. Masih ada waktu untuk melihat keindahan sunset di pantai Kuta sebelum menuju rumah Eyang Soedibyo untuk beristirahat.

***

Esok… Esoknya… Dan esoknya… Aira, Randy, Caca dan Dhini terus berwisata ke berbagai tempat dengan satu hari untuk beristirahat sebagai selingannya. Mereka mengunjungi berbagai tempat mulai dari Tanah Lot yang menurut legenda pura di Tanah Lot ini dijaga sejenis ular laut yang memiliki ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan sangat beracun, juga menikmati kesejukan dan indahnya danau di Bedugul, menyusuri hamparan pasir di pantai Dream Land, bermain kano di pantai Sanur, mengunjungi Bali Art Centre, keluar masuk pusat perbelanjaan di sepanjang Jalan Sudirman dan Jalan Teuku Umar hingga berbelanja di pasar Sukawati.

Hari ini, Aira, Caca dan Dhini mengarahkan tujuan berikutnya dengan mengunjungi Garuda Wisnu Kencana atau yang akrab disebut GWK yang berlokasi di Bukit Unggasan. Randy yang lelah menemani adik dan kedua sepupunya yang super heboh berjalan-jalan memilih beristirahat di rumah Eyang Soedibyo. GWK sendiri merupakan karya masterpiece Bali, I Nyoman Nuarta. Patung tersebut berwujud Dewa Wisnu yang dalam agama Hindu adalah Dewa Pelindung yang sedang mengendarai burung Garuda.

Aira terkagum-kagum dengan apa yang tengah dilihatnya. GWK merupakan bukit kapur yang disulap menjadi keindahan yang patut disyukuri. Seniman-seniman Bali begitu berbakat dan terlatih untuk membentuk bongkahan-bongkahan bukit kapur menjadi tempat wisata yang menarik. GWK dapat dikatakan sebagai kota mini karena memiliki berbagai fasilitas di tanah seluas puluhan hektar. Dari atas, pemandangan pantai Kuta dan Jimbaran terlihat begitu indah. Saat ini GWK dikembangkan sebagai taman budaya bagi pariwisata Bali dan Indonesia.

Lelah berjalan diantara bukit kapur, Aira, Caca dan Dhini merasakan bunyi di perut mereka. Ternyata sudah waktunya makan siang.

“Kita lunch di café yang ada hotspotnya ya…” Pinta Aira pada Caca yang bertindak sebagai driver.

“Beres, Sist…” Caca mengacungkan jempolnya.

Mobil pun meninggalkan kawasan GWK.

Selama beberapa menit mereka berkendaraan menyusuri jalan-jalan Bali yang cenderung lebih sepi jika dibandingkan dengan Jakarta. Dalam hari Aira bersyukur, apa jadinya jika ia kembali bertemu dengan macet. Bisa-bisa niatnya untuk refreshing akan gagal total.

“Kiri, Kak!” Seru Dhini seperti menghentikan angkot. Tangannya menunjuk sebuah café di pinggir jalan. Sebuah papan menunjukkan bahwa café tersebut dilengkapi dengan hotspot. Logo Speedy terlihat jelas dibawah tulisan hotspot dan membuat Caca menepikan mobil.

Mereka masuk dan memilih duduk di dekat jendela agar view di luar café masih dapat mereka nikmati. Seorang pelayan café datang menanyakan pesanan makanan. Usai memesan makanan, Aira mulai sibuk dengan laptopnya. Seperti ABG kebanyakan, Aira yang juga penggila situs-situs pertemanan seperti Friendster, Hi5, Facebook, Twitter, Plurk, Tumblr dan lain-lain mulai bertingkah seperti cacing kepanasan.


Dia membuka account facebook miliknya dan memulai dengan mengganti status pada home miliknya. ‘Abis marathon di GWK buat gue laper!!!!’, begitulah bunyi status baru Aira. Agak berlebihan memang. Lebai, begitu ucap beberapa teman-temannya. Namun seperti itulah cara Aira berekspresi. Setelah merubah status facebooknya, Aira mulai mengecek notificationnya yang mendadak membludak karena sudah beberapa hari dia tak menjamah dunia mayanya.

“Pasti habis bikin status lebai ya, Kak?” Dhini mencibir melihat tingkah kakak sepupunya. Selama beberapa saat Aira telah terbius oleh pesona facebook.

“Nggak kok.” Aira mengelak sambil memeletkan lidahnya. Dihadapannya, kedua sepupunya juga tampak sibuk dengan BB mereka.

“Hahahaha… Nggak apanya? Lebai kali ke’, Kak!” Dhini tertawa membaca status baru Aira dari BB-nya. Disebelahnya Caca ikut tertawa membaca status baru Aira.

“Sekalian aja ke’ tulis, ‘Abis manjatin bukit kapur di GWK… Capek!!!’.” Caca ikut meledek Aira.

“Yeeee.. Ke’ juga pada suka lebai kalau bikin status.” Beberapa hari di Bali membuat logat ketiganya tak ubahnya dengan mereka yang telah lama tinggal di Bali.

“Itu biar eksis, Kak…” Dhini terkekeh.

“Tuh tau…” Aira tertawa. Dia mulai menjawab satu per satu notification yang masuk.

Dari sekian banyak situs pertemanan, facebook adalah favorit Aira. Terbukti dari jumlah teman Aira yang mencapat angka lebih dari seribu. Lewat facebook, selain mendapat banyak teman baru, Aira juga menemukan teman-teman lamanya. Mulai dari teman TK dan SD selama ia masih tinggal di Bali, sampai teman SMP dan SMA pun tumplek ruah di facebooknya. Di rumah pun setiap hari Aira tak pernah absen untuk online. Beruntung kedua orangtuanya memfasilitasinya dengan sebuah laptop dan Speedy. Asalkan nilai pelajaran Aira tidak jatuh, Aira mendapat kebebasan untuk mengakses berbagai informasi melalui Speedy yang memang terjamin memiliki koneksi yang cepat dalam mengakses informasi dan memiliki berbagai penawaran yang menggiurkan bagi pelanggannya. Dengan Speedy pula Aira terbiasa mencari referensi untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya.

Beberapa notification yang masuk mengomentari status ‘lebai’ Aira. Aira membacanya dengan senyum tersungging sampai sebuah ajakan chat membuat Aira terkejut.

‘Allo, Aira.. Ini Tania, temen SD kamu dulu… Masih inget gak?? Kamu lagi di Bali ya??? Ketemuan yuk!!!’

Aira tercenung sejenak memandangi foto Tania. Mereka memang baru berteman di facebook. Dia mencoba mengingat Tania. Tania adalah teman SD-nya. Sudah tujuh tahun mereka tak bertemu dan itu menggelitik hari Aira untuk menerima ajakan Tania.

‘Tania… Inget-inget! Iya, aku lagi di Bali nih!! Ketemuan?? Hayuk!!! Kapan??’

Chatting via facebook berlanjut, mereka pun membuat janji untuk bertemu di salah satu tempat di kota Denpasar.

“Makan, Ra.” Teguran Caca membuat Aira tersadar. Pesanan mereka telah datang. Aira menyingkirkan laptopnya dan mulai melahap ayam bakar bumbu Bali pesanan mereka.

***

Hari ini adalah hari terakhir Aira di Bali. Besok siang ia akan kembali ke Jakarta. Aira melirik jam tangannya sekilas lalu kembali berkonsentrasi menatap jalanan. Kali ini ia pergi sendirian. Setelah mengantar Caca dan Dhini ke sebuah pusat perbelanjaan, Aira pamit untuk memenuhi janjinya bertemu dengan Tania. Pelan, Aira membawa Avanza biru milik Eyang Soedibyo menyusuri jalan-jalan di kota Denpasar.

Setelah melewati SMANSA Denpasar dan pasar Kreneng, Aira membelokkan mobil menyusuri Jalan Kapten Japa. Meski telah lama tinggal di Jakarta, Aira tak pernah lupa jalan-jalan di kota kelahirannya.

Rupanya Aira menuju Lapangan Puputan Renon atau yang juga disebut Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Denpasar. Di lapangan yang terletak di depan Kantor Gubernur Kepala Daerah Propinsi Bali yang juga di depan Gedung DPRD Propinsi Bali Niti Mandala Renon terdapat Monumen Bajra Sandhi. Monumen ini merupakan Perjuangan Rakyat Bali untuk memberi hormat pada para pahlawan. Di sinilah Aira dan Tania berjanji untuk bertemu. Perlahan Aira turun dan menuju sebuah anak tangga yang terdekat dari pintu monumen.

“Lapangannya luas ya, Ra.” Aira terperangah mendengar sapaan yang terdengar dari belakang. Ia berbalik dan mendapati seorang gadis berkulit putih tersenyum kepadanya. Kaos pink dengan aksesoris senada membuat Aira ikut tersenyum. Pinky Girl, sebutan untuk sahabat kecilnya ini tak berubah. Tania masih mencintai warna girly itu.

“Yang di tengah ini monumennya. Di dalam monumen ini ada ruang informasi, ruang keperpustakaan, ruang pameran, ruang pertemuan, ruang administrasi, gedung dan toilet. Ada juga pajangan miniatur perjuangan rakyat Bali dari masa ke masa. Tempat ini digolongkan dalam jenis museum khusus. Pelestarian sejarah dan kebudayaannya benar-benar dijaga lho, Ra. Maka dari itu, kita sebagai generasi mudah jangan hanya tahu segala macam hal yang terdapat di luar negeri. Justru yang di dalam negeri dulu yang perlu digali. Jadi nggak ada lagi hasil kebudayaan kita yang diambil alih dan diakui negara lain.” Dengan penuh semangat Tania memberi penjelasan mengenai apa yang ia ketahui tentang tempat ini.

“Kita janjian ketemu bukan untuk buat kamu mendadak jadi tour guide gini kan, Tan?” Aira merespon penjelasan Tania dengan senyum geli. Setiap kali bersama Tania, ia selalu mendapatkan hal-hal baru yang menyenangkan dan mengenyangkan wawasannya. Selain Pinky Girl, Tania layak mendapat julukan Ensiklopedia Berjalan. Tania memang berbeda. Maka Aira tak heran saat Tania mengajaknya bertemu di lapangan Renon, bukan di mall seperti layaknya ABG lainnya.

“Itu bonusnya! Yang pasti, aku mau ketemu kamu! Kangen!!” Tania langsung berhambur ke pelukan Aira. Aira balas memeluk Tania sambil tertawa-tawa.
Satu jam mereka habiskan untuk berputar-putar mengelilingi monumen. Tak lupa mengobrol seru sambil menyantap es kelapa muda seperti layaknya jaman SD dulu. Karena hari semakin sore, Aira dan Tania berpisah. Mereka berjanji untuk saling bertukar kabar sesampainya Aira di Jakarta.

***

Siang ini Aira kembali berada di perut si Burung Besi. Belum ada satu jam meninggalkan Bali rasanya Aira sudah kembali merindukan kota kelahirannya. Merindukan keluarga besarnya. Kedua sepupu gilanya, Caca, Dhini juga Tania. Ia tak dapat memejamkan mata. Di sebelahnya, Randy telah tertidur dengan mulut menganga dan telinga tertutup earphone yang tersambung pada ipod-nya. Dalam hatinya Aira bersenandung. Sungguh indah di pulau Bali… Pulau Dewata, menawan hati… Sayang-sayang waktuku pulang teringat selalu di pulau ini… Begitulah sepenggal lirik lagu Tina Toon yang berjudul Pulau Bali. Seperti itu pula yang dirasakan Aira sekarang.
Rasanya Aira ingin segera sampai di rumah untuk menyalakan laptop lalu mengkoneksikannya dengan Speedy dan kembali berselancar di dunia maya. Speedy membuatnya bertemu dengan barbagai wajah di belahan bumi manapun. Speedy membantunya menemukan berbagai informasi dengan cepat dan akurat. Speedy memudahkannya bertukar kabar dengan keluarganya. Dan Speedy membuatnya menemukan sahabat-sahabat baru!

SPEEDY…
Speed that you can trust...

-Cerpen yang gue kirim di salah satu lomba nulis..-

No comments: