Bingung deh harus mulai ngebahas hal ini dari mana. Mungkin bisa gue mulai dari definisi masing-masing kata tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, TEMBOK diartikan dengan dinding tebal dari batu-batu, sedangkan KACA diartikan sebagai benda bening keras dan mudah pecah. Ditelaah dari definisinya aja dapat disimpulkan apa yang terjadi kalo kita lagi berhadapan dengan tembok atau kaca. Kalo kita berhadapan dengan tembok -kalo tuh tembok nggak bolong-, dapat dipastikan kita nggak bisa ngeliat dan nggak bisa menyentuh apa yang ada di seberang tembok. Dan kalo kita berhadapan dengan kaca –gue lebih mengartikan ini sebagai kaca bening bukan kaca rias-, kita bisa ngeliat apa yang ada di seberang kaca tapi kita nggak bisa menyentuhnya.
Dalam sebuah hubungan –mau itu hubungan keluarga, pacar sampe temenan tapi sekarang gue lebih menekankan pada hubungan gue dengan sarang-sarang gue-, pasti pernah ngalamin hubungan tembok vs kaca itu. Dan sepertinya saat ini gue sedang mengalami satu fase antara tembok dan kaca.
Hubungan seperti tembok itu dapat diartikan sebagai sebuah hubungan dekat namun dibatasi oleh jarak sehingga kita nggak bisa terus ngeliat objek yang berhubungan dengan kita. Yaaaa… Bisa dibilang kayak hubungan gue sama
Sedangkan hubungan seperti kaca… Sebuah hubungan dimana lo bisa ngeliat objek lo itu hampir setiap hari, tapi pada kenyataannya tetep aja ada batas sekalipun batas itu rasanya tipis. Lo nggak bisa ngerti lagi apa, kenapa, bagaimana tentang dia yang sebelumnya mungkin cukup lo mengerti dan memahami. Nyesek banget nggak sih lo jarak hanya terpisah semeter tapi berasa ada batas yang justru lebih jauh dari satu meter yang misahin padahal nyatanya memang hanya semeter –dan itu hanya lo dan dia aja yang ngerti kenapa jadinya kayak gini!-?! Tuh
Terkadang hubungan tembok itu masih mendapat komunikasi dua arah dan menyesalnya yang sering terjadi pada hubungan kaca adalah hubungan yang udah kayak topeng. Menganggap seperti tidak ada apa-apa padahal kenyataannya ada kesalahan di
Pernah nggak sih, lo yang biasanya deket sama seseorang –mau itu keluarga, pacar sampe temen-, sekarang sih hubungan lo dan dia masih bisa dibilang tetep deket tapi ada yang ganjel.
Gue, sebagai orang yang saat ini –lebih dominan- bergerak dalam hubungan kaca punya alasan kenapa gue nggak bisa untuk mengutarakan (baca: ngejudge).
Alasan pertama, gue nggak pengen bikin pertempuran hati. Terlepas dari apa yang gue anggap salah itu dianggap salah atau nggak juga sama dia. Gue nggak mau bikin masalah baru. Sebulan belakangan yang terjadi hanya sebatas cukup tau tanpa komunikasi ke arah situ. Alasan kedua, apa yang terbaik buat gue belom tentu terbaik buat dia dan yang terbaik buat dia juga belom tentu baik buat gue. Sekarang yang terjadi mungkin hanya perbedaan letak. Kalo dulu sejalan, satu perahu dan lain sebagainya yang menggambarkan satu misi-visi, yang terjadi sekarang justru berseberangan dan berada di perahu yang berbeda. Gue tau alasannya apa dan gue menerima alasan tsb dengan dua konsekuensi baik-buruk, walaupun dalam analisis gue banyak buruknya –kalo dalam analisis dia nggak kayak gitu ya itu konsekuensi. Tiap orang
Mungkin dari tadi terkesan gue mengeluhkan sebuah hubungan kaca yang sedang terjadi sama gue. Gue hanya sebatas berbagi tentang keadaan kurang nyaman yang sedang gue hadapi sekarang ini. Tentang perbedaan yang sebenernya lumrah tapi membuat gerak psikis dan motorik gue sedikit kacau. Nggak banyak yang bisa dijadiin solusi selain mencoba mengerti dan memahami.
Jujur, yang paling berat dari semua ini adalah saat harus tetap berdiri dan menganggap semuanya masih baek-baek aja. Jalani aja… kalo pun di tengah perjalanan gue di beri hak veto untuk memotong jalan… Itu yang akan gue lakuin…
*Gue berasa cengeng banget nulis tulisan kayak beginian. But, thanks buat Bem yang udah telepon gue dan bahas tembok vs kaca ini. Gue nggak tau dan nggak bisa memastikan kapan kacanya bakalan pecah, tapi kalo udah waktunya pasti bakal pecah kok.. Hehehe
No comments:
Post a Comment