Monday, January 26, 2009

Tembok Vs Kaca

Bingung deh harus mulai ngebahas hal ini dari mana. Mungkin bisa gue mulai dari definisi masing-masing kata tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, TEMBOK diartikan dengan dinding tebal dari batu-batu, sedangkan KACA diartikan sebagai benda bening keras dan mudah pecah. Ditelaah dari definisinya aja dapat disimpulkan apa yang terjadi kalo kita lagi berhadapan dengan tembok atau kaca. Kalo kita berhadapan dengan tembok -kalo tuh tembok nggak bolong-, dapat dipastikan kita nggak bisa ngeliat dan nggak bisa menyentuh apa yang ada di seberang tembok. Dan kalo kita berhadapan dengan kaca –gue lebih mengartikan ini sebagai kaca bening bukan kaca rias-, kita bisa ngeliat apa yang ada di seberang kaca tapi kita nggak bisa menyentuhnya.

Dalam sebuah hubungan –mau itu hubungan keluarga, pacar sampe temenan tapi sekarang gue lebih menekankan pada hubungan gue dengan sarang-sarang gue-, pasti pernah ngalamin hubungan tembok vs kaca itu. Dan sepertinya saat ini gue sedang mengalami satu fase antara tembok dan kaca.

Hubungan seperti tembok itu dapat diartikan sebagai sebuah hubungan dekat namun dibatasi oleh jarak sehingga kita nggak bisa terus ngeliat objek yang berhubungan dengan kita. Yaaaa… Bisa dibilang kayak hubungan gue sama Ica –sepupu gue yang kuliah di Jogja, atau hubungan gue dengan sepupu-sepupu gue di Bali-, gue dengan Power Rangers, Glatto dan ex-ex gue yang jarang banget ketemu. Hubungan seperti ini buat gue sangat wajar. Kita nggak bisa melihat maupun menyentuh terlalu dalam karena memang ada batas. Ada jarak dan itu adalah hal yang nyata.

Sedangkan hubungan seperti kaca… Sebuah hubungan dimana lo bisa ngeliat objek lo itu hampir setiap hari, tapi pada kenyataannya tetep aja ada batas sekalipun batas itu rasanya tipis. Lo nggak bisa ngerti lagi apa, kenapa, bagaimana tentang dia yang sebelumnya mungkin cukup lo mengerti dan memahami. Nyesek banget nggak sih lo jarak hanya terpisah semeter tapi berasa ada batas yang justru lebih jauh dari satu meter yang misahin padahal nyatanya memang hanya semeter –dan itu hanya lo dan dia aja yang ngerti kenapa jadinya kayak gini!-?! Tuh kan belibet dah gue ngejabarinnya.

Terkadang hubungan tembok itu masih mendapat komunikasi dua arah dan menyesalnya yang sering terjadi pada hubungan kaca adalah hubungan yang udah kayak topeng. Menganggap seperti tidak ada apa-apa padahal kenyataannya ada kesalahan di sana. Gue sendiri bingung harus menjabarkan seperti apa hubungan kaca yang jelas-jelas menyakiti perlahan.

Pernah nggak sih, lo yang biasanya deket sama seseorang –mau itu keluarga, pacar sampe temen-, sekarang sih hubungan lo dan dia masih bisa dibilang tetep deket tapi ada yang ganjel. Ada something yang buat lo ngerasa nggak klik yang biasanya nggak pernah ada dalam hubungan itu. Something yang buat lo dan dia yang biasanya nggak pernah keabisan bahan omongan mendadak diem, kaku, canggung karena di dalem kepala lo yang ada hanya satu ‘gue bakal salah ngomong nggak ya???-. Something yang sebenernya lo tau itu apa tapi nggak bisa lo utarakan karena banyak faktor X, Y, Z, yang buat lo maju mundur untuk ngomong. Dan lo yakin sebenernya dia –orang yang selama ini deket sama lo- tau lo kenapa dan apa yang membuat kalian merasa ada yang salah di sini. Sekalipun itu adalah hal yang sangat-sangat sepele dan nggak penting, tapi kalo efeknya buat gue nggak nyaman – apalagi kalo menyangkut prinsip, itu warning dan yang harus gue lakukan itu terus maju atau mundur atas penyelesaian masalah yang gue anggap amat sangat sepele namun berefek besar.

Gue, sebagai orang yang saat ini –lebih dominan- bergerak dalam hubungan kaca punya alasan kenapa gue nggak bisa untuk mengutarakan (baca: ngejudge).

Alasan pertama, gue nggak pengen bikin pertempuran hati. Terlepas dari apa yang gue anggap salah itu dianggap salah atau nggak juga sama dia. Gue nggak mau bikin masalah baru. Sebulan belakangan yang terjadi hanya sebatas cukup tau tanpa komunikasi ke arah situ. Alasan kedua, apa yang terbaik buat gue belom tentu terbaik buat dia dan yang terbaik buat dia juga belom tentu baik buat gue. Sekarang yang terjadi mungkin hanya perbedaan letak. Kalo dulu sejalan, satu perahu dan lain sebagainya yang menggambarkan satu misi-visi, yang terjadi sekarang justru berseberangan dan berada di perahu yang berbeda. Gue tau alasannya apa dan gue menerima alasan tsb dengan dua konsekuensi baik-buruk, walaupun dalam analisis gue banyak buruknya –kalo dalam analisis dia nggak kayak gitu ya itu konsekuensi. Tiap orang kan beda jalan pemikirannya-. Dan itu yang membuat gue berpikir untuk meredam ego gue dan membiarkan semua tetap berjalan dengan semestinya. Alasan ketiga, prinsip. Gue nggak bisa bilang kita beda prinsip mengingat gue juga nggak tau prinsip dia apaan. Hehehe… Intinya kalo nggak mau diganggu ya jangan diganggu. Gue bukan orang yang suka ikut campur urusan orang kalo nggak dipaksa dan terpaksa. Gue bukan model Kiara di iklan Axis yang care terhadap segala sesuatu dan siap menolong 24 jam non stop! Untuk apa yang telah dan sedang terjadi sekarang ini, gue hanya akan menjadi penonton dan pemberi kritik dan saran kalo filmnya udah kelar diputer. Bisa jadi gue sedih karena ternyata filmnya happy ending dan bisa juga gue ngakak karena filmnya bad ending! Ini nih jeleknya gue kalo lagi nggak suka sama sesuatu. Segala hal yang berhubungan dengan sesuatu itu bisa aja gue jauhin. Tapi itu juga gue lakuin setelah gue nggak bisa dapet pemecahan yang lebih baik dari sekedar menjauh.

Mungkin dari tadi terkesan gue mengeluhkan sebuah hubungan kaca yang sedang terjadi sama gue. Gue hanya sebatas berbagi tentang keadaan kurang nyaman yang sedang gue hadapi sekarang ini. Tentang perbedaan yang sebenernya lumrah tapi membuat gerak psikis dan motorik gue sedikit kacau. Nggak banyak yang bisa dijadiin solusi selain mencoba mengerti dan memahami.

Jujur, yang paling berat dari semua ini adalah saat harus tetap berdiri dan menganggap semuanya masih baek-baek aja. Jalani aja… kalo pun di tengah perjalanan gue di beri hak veto untuk memotong jalan… Itu yang akan gue lakuin…

*Gue berasa cengeng banget nulis tulisan kayak beginian. But, thanks buat Bem yang udah telepon gue dan bahas tembok vs kaca ini. Gue nggak tau dan nggak bisa memastikan kapan kacanya bakalan pecah, tapi kalo udah waktunya pasti bakal pecah kok.. Hehehe

No comments: