Ada sebuah cerita tentang lima anak manusia yang dipertemukan dalam sebuah masa tanpa perjanjian. Yang diberikan waktu untuk menuliskan sesuatu yang sebenarnya telah tertulis lebih dulu dalam lauhul mahfuzh.
Kisah ini mengambil background dalam satu dasawarsa. Di awal milenium. Mereka bertemu tepat di tahun dimana menara kembar WTC sukses diluluhlantakkan. Menjalani hari-hari ditemani seiring menggaungnya Rasa Baru dari Sebuah Kisah Klasik seorang Mistikus Cinta yang berjalan melewati 18 Segitiga Taman Langit dan berusaha meraih Sesuatu Yang Tertunda.
Sebut mereka si Red, Pink, Blue, Yellow, Green..
Mereka menempuh pendidikan di tempat yang sama, namun sayangnya hanya si RYG yang acapkali berada di kelas yang sama. Meski begitu, lewat campur tangan Tuhan dan secondary variable dunia, mereka menjalani sesuatu atas nama 'kebersamaan' hingga 6 bulan sebelum gelombang tsunami menghancurkan Serambi Mekah.
Perubahan warna di bagian bawah pakaian tepat di tahun pemerintahan SBY berdiri membuat mereka terpisah di empat tempat berbeda. Hanya GB yang masih bernaung di satu tempat yang sama. Tuhan tak lagi memberi mereka kesempatan untuk menjalani 'kebersamaan' bersama dalam waktu yang relatif lama. Namun Tuhan sering memberikan kejutan kecil yang manis untuk mereka. Kecil dan manis.. Setidaknya Tuhan menunjukkan bahwa mereka masih 'hidup'.
Hingga 3 tahun berlalu sejak mereka beranjak menuju remaja akhir dari sebuah perjalanan perkembangan anak manusia. Dan mereka bersiap menanggalkan sebuah seragam.
Di suatu pagi terkirim sebuah pesan pendek dari yang intinya..
'Kalo lo ngerasa hubungan kita berharga.. Kalo lo ngerasa kita punya tempat khusus di hati lo..
Gue tunggu di FTS dari jam 6-8 malam. Nggak usah tanya yang lain dateng atau nggak. Lo tanya aja sama hati lo.'
Dan hanya dengan sebuah SMS dari P, mereka berkumpul di FTS. Mereka menghabiskan sekotak eskrim Walls bersama menyambut hari jadi mereka yang ke-5. Dan sebelum perpisahan malam itu, terucap satu janji untuk bertemu di tempat dengan waktu yang sama pada tahun berikutnya tanpa bertanya sebelumnya apakah yang lain datang atau tidak.
Singkat cerita..
Mereka kembali terpisah. RPYG berdomisili di ibukota dan B berada di daerah istimewa.
Di tahun berikutnya, di tempat yang sama dan di waktu yang sama Tuhan hanya mempertemukan YG. Tanpa ada sebuah kabar yang menjelaskan dimana RPB.
Saat dikonfirmasi pada yang lain terdapat satu inti jawaban..
LUPA..
Semudah itukah sebuah janji dilupakan? Terlupakan?
Pada akhirnya apa yang terjadi di hari itu mencoba dilupakan oleh YG. Dan Allah berbaik hati menggantinya dengan sebuah hari di bulan Oktober untuk mereka habiskan bersama.
Satu tahun pun kembali berlalu..
Di tempat dan waktu yang sama yang -kembali- mempertemukan YG. Hanya mereka. Berdua. Dan mereka kembali menunggu bahkan melebihi dari waktu yang telah mereka sepakati dua tahun sebelumnya. Dan kembali mereka tidak mendapat penjelasan mengapa RPB tidak muncul. RPB pun tak memberikan kabar satupun sekalipun itu hanya sebuah SMS pendek.
Dimana mereka?
Beberapa hari kemudian Y mencoba bertanya dan sedikit protes tentang ketiadaan yang lain dan jawaban yang ia dapat, 'Nggak semua yang lo mau bisa terwujud.. Nggak usah dipusinginlah..'
Oke, satu jawaban yang cukup menguji kesabaran. YG kembali berusaha melupakan apa yang terjadi.
Belum setahun berlalu -lebih tepatnya 8 bulan setelahnya, secara tak diduga Allah kembali memberi mereka satu kesempatan bersama di hari ulang tahun R. RPBYG berkumpul di sebuah rumah makan di daerah Jengki.
Di tahun itu.. Pada waktu dan tempat yang sama..
Y duduk sendirian di tempat itu, ditemani setangkup roti bakar dan segelas frappogalo (baca 99 Minutes, red) dia mencoba memenuhi janji. Setengah jam melewati waktu yang ditentukan, ia masih sendiri. Tanpa ia tau, di sudut yang lain G pun menunggu. Sendirian.
Sekali lagi tak ada kabar sedikitpun dimana RPB. Tak ada telepon. Tak ada SMS. Padahal Tuhan sudah begitu baik menganugerahi manusia kemampuan untuk menciptakan sebuah ponsel.
Satu catatan yang sedikit terlupakan..
Y pernah menulis..
'Selama masih ada jejak yang belum terhapus, gue janji.. Gue akan tetap ada, setiap saat dalam hidup mereka.. Gue akan tetap ada, di setiap tempat dan sudut mati.. Gue akan tetap ada, di saat mereka nangis dan tertawa.. Dan gue akan tetap ada, dalam segumpal mimpi dan sekotak memori..'
Y akan tetap menepati janji itu, bahkan mungkin sampai di tahun ini. Semua boleh menyebutnya ‘Hachiko’.
But now..
Sekarang ia sudah tidak lagi memakai hati.. Setidaknya sedikit membekukan hati. Ia hanya mencoba memenuhi janji yang belun terhenti. Dia hanya mencoba mengeksekusi arti dari sebuah mimpi. Mimpi masa muda..
Sebuah mimpi yang terlampau sempurna..
Belum cukup sampai di sini..
No comments:
Post a Comment