Gue sering terkagum-kagum dengan bagaimana seorang penulis itu menulis. Membuat Lauhul Mahfuzh versinya. Menjadikan dirinya Tuhan atas karyanya. Bagaimana bisa semua itu tercipta dari tangannya? Atas nama Tuhan-kah? Tentu saja.
Sampai saat ini gue sendiri nggak tau sejauh mana gue mencintai hobi menulis ini. Bahagiakah gue saat temen-temen gue melabeling gue sebagai penulis, cerpenis atau novelis? Apa gue puas? Apa itu yang gue cari selama ini? Yang buat gue pernah terjaga selama tiga hari dua malam lamanya hanya untuk menulis. Membuat gue muka tembok untuk mempublish postingan-postingan gue di blog, tumblr, FB atau Twitter. Apakah gue benar-benar menulis secara benar atau mencari pelarian atas apa yang gue anggap nggak sesuai dengan ideal self gue sampai akhirnya membuat ‘dunia’ gue? Yang gue tau apa yang gue tulis itu apa yang gue rasain. *Sama kayak yang sekarang gue tulis, nggak jelas dan nggak tau sebenernya apa yang gue bahas.
Udah cukup lama gue memikirkan hal ini *muka serius, dahi terlipat, alis naik satu dan bersidekap.
Kenapa kebanyakan novel cinta –mau itu teenlit, chicklit, apa juga- mensetting pemeran utamanya adalah sepasang laki-laki dan perempuan yang sering sekali bertengkar tapi nanti endingnya mereka jadian –saling sayang- dengan maha unyunya? (_ _,!)
Dan dalam proses menuju ending tersebut selalu ada hal-hal ‘kebetulan’ yang membuat pasangan tersebut bukannya semakin membenci malah menunjukkan bahwa berantem itu adalah bentuk cinta mereka. Yang biasanya alur cerita dibumbui dengan kemunculan pihak ketiga atau keempat yang akhirnya membuat mereka menyadari bahwa bertengkar = cinta. Bahwa pertengkaran itulah yang membuat mereka merasa bahwa lawan bertengkarnya adalah nyata dan kedamaian adalah hampa. Ekspresi emosi yang justru membuat pertengkaran itu adalah sesuatu yang layak dinikmati. Membuat mereka akhirnya menyadari bahwa ‘kehilangan’ pertengkaran itu seperti ada yang kurang. Seperti ada yang hilang. Kosong.
Jadi pengen ketawa sendiri… Gue pun menulis dengan cara seperti itu. Cara yang serupa. Cara dimana gue membuat dua tokoh utama gue tak ubahnya Tom-Jerry, U-S, Sylvester-Tweety, Rangga-Cinta, Holmes-Adler, Kudo-Mouri, Han Ji Eun-Lee Yong Jae, Hattori-Toyama dan masih banyak lagi tokoh serupa.
Apakah seperti itu yang banyak terjadi dalam sebuah relationship? Atau memang penulisnya saja yang memiliki story seperti itu dan menghidupkannya kembali seperti apa yang dia inginkan?
Mudahnya, gue belum pernah mengalami relationship dengan alur seperti itu. Dimana gue memiliki ending jadian dengan seseorang yang telah menjadi rival gue. Bukan berarti gue nggak punya rival. Gue pernah punya teman bertengkar. Gue dan dia adalah squabbler yang selalu mencari kesempatan untuk bertengkar. Setiap kali bertemu yang kami lakukan hanya bertengkar, beradu mulut, memperdebatkan hal-hal yang kecil bahkan remeh. Saling cela, saling mengejek, saling membalas cengan. Tapi apa pada saat kita berada dalam keadaan damai lalu apa gue ngerasa ada yang hilang? Nope.
Gue menjalani hari-hari gue seperti biasa… meski kadang gue kangen sama pertengkaran itu. Toh gue tetep hidup seperti biasa. FYI, udah lebih dari tiga tahun lamanya gue kehilangan teman bertengkar. Dan gue kangen berat!! Maha kangen!!! Kangen tingkat dewa!! Kangen tingkat Kaio Shin!! *Dewanya Dewa di komik Dragon Ball
Mamammm.. kangen euy!!
Setiap kali adu mulut sama dia itu seru!! Ngeselin sih tapi dia emang ngeselin.. *ini kenapa gue ngebahas rival gue ya?? (--!)
Ideal self (IS): eh lu lagi galau ya??
Real self (RS): iya *manggut2
IS : udeeee kagak usah gegalau.. kayak dia mikirin elu aja.. mendingan lo mikirin laporan KKL lo ato sekeripsi lu nohhh
RS : Tapi gue kangen ama dia
IS : Jahhhh lo masukin itu orang dalem koper terus lo kunci rapet2.. abis itu koncinya lo buang deh.. dia kagak bakal muncul..
RS : ehh dodol!! lo ngerti kangen ga c?? gue kangen...!!!
IS : terserah lo deh.. suka-suka lo... lo ini yang rugi..
RS : bengong.. *jedot-jedotin pala terus tedooorrrrr
No comments:
Post a Comment