Udah 3 hari ini nama itu mendadak eksis diantara anak-anak betheone -sebenernya gue udah males nyebut lengkap atau nyingkat nama kelas gue secara orang bisa berekspektasi macem-macem CUMA DARI sebuah nama kelas. Jadi saya putuskan untuk menyebutnya 'kelas gue' atau 'kelas saya' aja-.
Awal kemunculannya cukup simpel. Beliau membuat account Twitter, yang sepertinya -sori kalo gue kegeeran- khusus untuk ngefollow gue seorang dan mengirimkan 4 buah mention sebagai tanda kepeduliannya terhadap kelas gue. Jangan tanya apa isi tulisannya. Gue udah nggak pengen nginget-nginget. Tulisannya sederhana tapi cukup buat gue mengerutkan dahi. Buat gue penasaran siapa gerangan dirinya. Apakah dia seorang lelaki, wanita atau waria. Apakah dia tinggi, pendek, berperut buncit atau kering kerontang, berjilbab atau berpeci, berambut atau botak. Intinya gue nggak tau gimana bentuk rupa dan kepribadiannya. Yang gue tau dia sedang menyampaikan uneg-unegnya dibalik akun @nanidesi.
Tulisan itu cukup hidup. Dalam arti, ada beberapa bagian yang gue iyakan. Gue salut dengan cara kerja otak beliau. Belom lagi ketenangannya yang cukup mengagumkan. Buat gue pribadi, dia nggak sepenuhnya salah juga mengirimkan kritikan membangunnya itu. Kelas gue mungkin emang perlu digituin sekali-kali biar pada melek kalo masih ada yang ngerasa bukan siapa-siapa di kelas. Yang mungkin gue juga nggak peka kalo ternyata nggak semua ngerasain hal yang sama dengan apa yang gue rasa selama gue duduk di kelas tsb. Untuk kasus ini maaf gue nggak peduli siapapun yang baca mau ngejudge apa juga ke gue. Mau bilang gue menye kek, terlalu mikirin kek, maximize problem kek, mengagungkan kelas gue kek, bodo amat! =p
Cuma ya kok dengan cara seperti itu ya beliau mengungkapkannya? Hahaha yaudahlah.. Mungkin beliau bingung untuk bicara secara langsung. Salahnya, gue nggak nyelesein ini sendiri tapi malah ngepublish ke beberapa anak kelas gue. Nggak salah juga sih, maksud gue ini kan menyangkut kelas so nggak ada salahnya gue sharing sama temen-temen gue. Tapi yang terjadi selanjutnya cukup di luar kendali dan buat gue mikir kalo jalan yang gue ambil salah. Perang via twitter apaantao.
Jujur sebenernya gue kasian sama beliau. Kalo gue jadi dia pasti rasanya sesek udah ngerepres ini bertahun-tahun. Ngerasa minor, tersisih, terabaikan dan gak guna begitu lama. Sampe di kelas sendiri aja ngerasain hal seperti itu. Apa LB yang buat dia sebegitu kritis mengkritik apa yang selama ini terjadi. Bisa ngomentarin macem-macem tentang temen-temen gue. Tapi ujung-ujungnya yaudahlah suka-suka beliau. Toh pada akhirnya dia menghapus akunnya dan menyisakan tanda tanya.
Satu yang mau gue bilang sama beliau, besok-besok tolong pakai cara yang lebih dewasa. Cara beliau ini hanya akan menambah dosa mengingat otak gue nggak bisa berenti mikir dan menduga siapa dibalik telor ungunya nanidesi. Kenapa juga gue yang difollow dan diajak memulai permainannya? Kalo kata seseorang, jangan pernah tanya kenapa dan mengapa gue karna aturan mainnya emang udah dibuat kayak begitu. Dan banyak dugaan-dugaan laen yang sebenernya nggak penting dan cuma bikin gue nggak rasional. Buat gue mencurigai warga kelas gue sendiri. Buat gue terhibur juga sih awalnya walopun sebenernya lebih banyak sedihnya karena tampaknya beliau tidak merasakan seperti yang saya rasakan terhadap kelas saya. Istilahnya, nggak satu ion.
Dimanapun Anda berada, dan apa kek yang sedang Anda lakukan sekarang..
Congrats, Anda sukses!
Sampai jumpa di kehidupan yang lain. Semoga kita masih dikasih kesempatan untuk bertatap muka di satu meja yang sama.
Siapapun Anda, kalau Anda membaca ini dan berniat menyelesaikan dengan dewasa, ponsel saya aktif 24 jam, Anda bisa menghubungi saya kapanpun yang Anda mau. Akan saya tanggapi. Account FB, Twitter, Blogspot, Tumblr, YM, Gtalk saya masih aktif meski tidak setiap hari saya buka. Silahkan Anda hubungi saya..
Saya tau Anda care pada saya dan teman-teman saya dan begitu pula dengan saya pada Anda.
Kalaupun Anda tidak ingin melibatkan wajah lain, Anda bisa melakukannya cukup dengan saya seorang sebagaimana Anda memulai permainan Anda di Twitter.
Bisa kan kita selesaikan ini secara baik dan dewasa?
Bukan siapa Anda yang saat ini saya pikirkan, tapi bagaimana saya bisa membuat Anda percaya bahwa Anda tidaklah minor..
Saya percaya, rencanaNya selalu indah kok, dan Anda adalah salah satu caraNya menunjukkan bahwa Dia sayang pada saya, Anda dan teman-teman saya yang lain.. =) ;D
No comments:
Post a Comment