Waktu SD gue sama sekali nggak suka nulis. Kalo baca emang GILA! Gue nggak bisa hidup sehari tanpa baca buku, komik sampai kertas lecek pun jadi bacaan buat gue. Bisa dibilang buku itu senjata gue untuk menghindar dari pergaulan. Dulu, gue agak males kalo disuruh bersosialisasi.
Beranjak ke SMP... Gue mulai suka nulis. Bukan cerpen, cerbung apalagi novel. Hanya puisi dan itu pun karena ada seorang temen gue yang jadi motivasi gue untuk terus buat puisi. Waktu itu kita selalu... apa ya? Bukan saingan hanya saja tuker-tukeran puisi atau bisa dikatakan berbicara dan curhat dengan bahasa puisi. Tapi itu bukan menjadi prioritas utama gue karena saat itu gue lagi narsis-narsisnya menikmati peran gue sebagai Dewa tertinggi di OSIS dan gue juga tergila-gila ngeband sama band gue. Dheva. Jadi vocalis yang kadang-kadang merangkap sebagai rhytm buat gue lebih menarik dibanding jadi penulis yang pastinya sama dengan pemusik, menghasilkan sebuah karya. Dan itu berlanjut sampai awal SMA.
Kelas X, itu pertama kali gue nulis sebuah cerpen. Tugas bahasa Indonesia yang HANYA tiga halaman dan itu membuat gue mengeluarkan sumpah serapah panjang karena gue nggak tau harus nulis apa. Sampai akhirnya gue menceritakan sebuah cerita persahabatan lima remaja yang kekanakan menghadapi permasalahan mereka yang nggak lain adalah salah satu kisah hidup gue dan 27 gue. Itu terjadi sekitar akhir 2004.
Sampai akhirnya tanpa sadar...
Tiga halaman itu telah menjadi kurang lebih 1200 halaman yang terbagi dalam empat judul dan 300 halaman lainnya yang akan menyusul dengan tema lain yang sebenarnya masih memiliki benang merah satu sama lain.
Semua sumpah serapah gue empat tahun lalu berubah jadi sebuah terima kasih yang gue nggak tau harus gue bayar pake apa untuk guru gue itu. Halaman-halaman cerita gue itu nggak akan terjadi kalo gue nggak mengembangkan tiga halaman yang menjadi bibit dari idealisme gue ini. Tanpa sadar gue punya ikatan yang kuat banget sama cerita-cerita gue itu. Gue berubah menjadi seorang pengkhayal, pemimpi bahkan mungkin nggak pernah sadar kalau gue juga punya kehidupan nyata.
Empat tahun gue habiskan untuk melakukan kegiatan yang sampai sekarang gue sendiri bingung... Untuk apa??
Malam ini gue sampai di satu titik...
Bukan titik nadir... Hanya satu titik dimana gue harus mereview ulang apa yang sebenarnya gue pengen... Gue mau... dan gue capai...
Apa gue bener-bener suka nulis??
Hobi atau sekedar suka? Itu apa bedanya juga??
Suka atau hanya pengisi waktu karena nggak ada hal lain yang bisa gue lakuin?
Apa gue bener-bener pengen jadi penulis?
Atau gue hanya terobsesi karena terlalu sering melihat dunia lain yang sebenarnya sederhana namun begitu indah di mata gue. Yang semua itu terjadi –mungkin- karena ketidakpekaan gue untuk melihat lebih dalam dari yang terdalam.
Dunia yang dibuat oleh mereka, para penulis hebat.
Setelah sekian lama, sekian tahun gue terfokus pada satu wacana yang membuat gue rela nggak tidur sampai pagi, rela ngebuang energi, waktu dan DUIT yang nggak sedikit... Paling nggak kalo nggak gue buang demi idealisme gue ini, gue udah bisa beli satu HP. Tapi ujung-ujungnya semua hanya tersimpan di memori eksternal gue aja.
Haruskah gue pertanyakan lagi??
Gue beneran suka nulis-kah??
Kalo gue suka nulis kenapa gue ragu?
Gue ragu karena gue nggak suka atau karena gue udah bosen?
Atau bukan karena keduanya? Terus karena apa?
Kadang gue mikir ulang lagi...
Kalo gue nulis sedikitnya, gue merasa menjadi tuhan untuk tulisan gue sendiri. Gue merasa punya segalanya yang belum pernah terbeli dengan materi. Gue ngerasa punya dunia lain yang orang lain nggak punya. DUNIA GUE!
Hanya ada gue dan karakter ciptaan gue berikut jalan ceritanya.
Tapi akhir-akhir ini gue nggak dapetin lagi RASA yang bisa buat gue WOW atas apa yang udah gue tulis. Padahal itu tulisan gue sendiri. Nggak ada lagi rasa puas apalagi bangga karena udah bisa membuat sebuah tulisan. Sebuah alam semesta baru.
Kehilangan RASA yang buat gue nggak tau harus melanjutkannya ke arah mana.
Gue jadi meragukan kemampuan gue sendiri...
Apa sih yang gue bisa...???
Yang selama ini gue lakuin nggak lebih dari menghabiskan waktu.
Padahal kemarin gue masih sangat yakin bahwa masa depan gue itu terletak di kesepuluh jari tangan gue. Karena lewat jari-jari gue ini gue bisa nulis, gue bisa main gitar, gue bisa ngetik di laptop, gue bisa main basket, gue bisa ngetik SMS, gue bisa ngegas motor... dan masih banyak yang bisa gue lakuin dengan jari-jari gue.
Tapi RASA... TASTE...
Gue ngerasa itu udah nggak ada lagi di sini...
Gue butuh itu lagi...
Sekarang...
1 comment:
cantik
Post a Comment