Sunday, December 21, 2008

Antara Aku dan Sarang-Sarangku

Gue tipikal orang yang bisa menclok sana-sini kalo berteman. Gue punya teman-teman yang beraneka ragam bentuk rupanya. Sama kayak Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika. Tapi... Ada tapinya juga...

Sebanyak apa pun teman gue, pasti ada komunitas yang lebih kecil yang lebih sering berinteraksi sama gue atau bisa dibilang intensitas kebersamaannya lebih banyak, lebih tau mulus-boroknya gue, saling mengenal dengan keintiman yang lebih dari sekedar kenalan atau teman. Mungkin itu yang bisa dikatakan sahabat. Persahabatan. Sebuah relationship yang cukup kontroversi.

Sama seperti pacaran, persahabatan itu perlu dipupuk –berasa tanaman aja-. Perlu dijaga, disirami kasih sayang dan terutama chemistry yang menunjukkan persahabatan itu sendiri. Lebai banget nggak sih tuh pernyataan gue?? Sebenarnya gue geli juga kalo ngebaca ulang. Whatever-lah. Gue lagi males nyari kata-kata lain.

Seorang teman gue –bisa dibilang penasihat, secret box, teman ngember jaman SMA dll- pernah mengingatkan gue untuk tidak keseringan nge-gank atau membuat komunitas kecil melulu seperti yang selama ini gue lakukan karena yang terjadi justru banyak masalahnya. Gue pun membenarkan karena memang begitu adanya. Namun mengingat adanya hukum keseimbangan di jagad raya ini. Hidup adalah pilihan dan pilihan itu bagai dua sisi mata uang. Ada baik dan buruknya.

Gue punya banyak sarang –baca: komunitas persahabatan-. Yang menjadikan karakter gue berbeda di setiap sarangnya. Bukan maksud gue memanipulasi diri atas apa yang tengah gue hadapi. Tapi itu yang harus gue lakukan demi mendapat kenyamanan di setiap sarang yang berbeda. Beda sarang, beda juga sikap gue. Tapi itu nggak mutlak karena karakter dasar gue nggak akan pernah berubah.

Di dunia ini nggak ada yang namanya kebetulan. Semua itu udah tertulis dalam takdir gue, teman-teman gue dan semua makhluk hidup ciptaan Tuhan. Gue menyebut hubungan gue dengan teman-teman gue ini adalah hubungan yang terjalin karena pertemuan takdir. Jodoh. Karena memang kita harus dipertemukan dengan banyak rahasia di dalamnya.

Ada sarang yang membuat gue menjadi begitu skeptis terhadap segala sesuatu karena seringnya gue merasa –mungkin hanya gue yang merasa seperti itu- dipermainkan oleh situasi, diperbudak oleh rasa sayang yang terlalu berlebihan terhadap sobat-sobat gue itu.

Ini sarang pertama gue! Kisah klasik gue yang gue harap nggak pernah mati.

Sarang yang sebenarnya mengantarkan gue ke banyak permasalahan childish yang anehnya gue pun meladeni dan menikmati semua permainan jiwa di dalamnya. Gue terhanyut di dalamnya dan gue nggak bisa lepas.

Ikatannya terlampau kuat hingga kadang gue merasa gue nggak punya ruang gerak untuk menjamah yang lain. Gue ngerasa sayang banget dan takut kehilangan.

Di sarang ini persahabatan seolah menjadi sebuah persaingan dimana pencarian, keikhlasan dan ketakutan kami sama-sama diuji. Seberapa besar kami dapat bertahan di sarang ini akan terlihat dari apa yang sebenarnya kami cari.

Di sarang ini, kami pernah mengalami satu fase dimana gue menganggap persahabatan tuh bullshit sekaligus, gue rela ngelakuin apapun untuk mereka although itu harus nyakitin diri gue sendiri. Masalah terbesar dengan susah payah terselesaikan dan itu nggak menutup kemungkinan munculnya masalah-masalah baru yang berpangkal sama.

Kita pernah punya satu masalah dimana masalah itu tak mendapat solusi -kenapa gue bilang belum butuh solusi? Karena saat itu di antara KITA belum ada yang ingin mengakhiri. Masih pada bertahan dengan situasi yang sangat memuakkan itu- dalam kurun waktu yang lama. Mungkin hampir dua tahun lamanya. Masalah yang membuat KITA sama-sama merasa benar dan berpendapat yang lain salah. Semua merasa disakiti dan dikhianatin. Tapi sebenarnya kita sendiri yang saling nyakitin satu sama lain.

Saat hancur-hancurnya itulah, seorang dari mereka mengatakan,

‘kita salah karena kita membangun sebuah rumah baru di atas puing-puing rumah yang belum dibersihkan’.

Yap! Istilahnya apa yang sedang kita bangun ini nonsense. Masih butuh perbaikan di sana-sini. Dan kami adalah tipikal orang yang senang menclok sana-sini untuk sarang yang lain. Tapi salah seorang dari kami juga sempat mengatakan,

‘Dari awal kita udah menganggap kalo kita adalah rumah. Dan segala isinya berhak untuk keluar masuk dan membuat banyak rumah baru. Tapi harapan pasti hanya satu. Berapapun banyaknya rumah baru di luar sana, rumah inilah yang akan menjadi persinggahan terakhir. Rumah ini yang akan terus terbuka apapun yang terjadi di luar sana. Rumah ini…’

Terkadang mereka bisa jadi bagian yang sangat rusak buat gue. Bagian yang pernah masuk dalam daftar orang-orang yang harus gue ‘musnahin’ dalam hidup gue. Dalam ingatan gue. Tapi gue nggak pernah bisa untuk ngelakuin itu. Yang ada mereka selalu bisa buat gue ngerasa butuh dan nagih. Walaupun nggak jarang mereka buat gue cemas. Nggak tau deh. Sarang ini misterius banget. Beda dengan banyak orang yang gampang mengekspresikan apa yang mereka rasain. Satu yang nggak pernah gue ngerti dari hubungan ini. KITA nggak akan ngebiarin seorang pun miliki hati ini seutuhnya. KITA nggak pernah ngebiarin seorang pun untuk masuk ke dalam hati ini lebih dalam lagi. Bahkan kadang status pun nggak ada di antara KITA. Hubungan ini terkadang berhasil menciptakan sebuah tembok pembatas.

Ada sarang yang membuat gue harus berdiri di satu titik religius yang begitu kuat. Bersama mereka yang mengajak gue selalu pada jalan Allah yang –kadang- masih ada kegokilan duniawi bak gejolak kawula muda. Contohnya aja habis sahur pacaran rame-rame sampai malam takbiran pun diisi dengan pacaran. ORANG GILA!!!

Kebersamaan yang butuh satu tempat ini perlahan merenggang. Namun ukhuwah islamiyah –gaya bener deh kata-kata gue- membuat kami bertahan menjalin silaturahmi di antara kami.

Ada sarang yang menjadi teman seperjuangan, teman digampar, dan terintimidasi karena kekuatan senioritas yang saat itu masih berada di atas awan. Di tempat ini untuk pertama kalinya gue belajar menangis di atas sebuah perjuangan. Menangis untuk orang lain. Di sini juga untuk pertama kalinya gue belajar tentang nasionalisme.

Ada sarang yang cukup besar yang terbentuk karena pengkotakan kelas. Ada banyak hal yang gue dapat di sini. Terutama kebersamaan menyatukan banyak kepala dan tekanan dari senior berikut tugas dari para guru.

Ada sarang yang yang membuat gue merasakan bagaimana serunya menjadi seorang wanita di antara para pria yang karakternya beraneka ragam. Cowok-cowok yang cukup famous karena otak, tampang, sensasi atau memang mereka memiliki segala hal yang bisa membuat mereka famous di sekolah. Gue belajar gila di sana. Belajar mengenal pola pikir dari keempat pejantan yang –jujur aja- membingungkan.

Gue menganggap sarang ini adalah sebuah teman semusim. Kebersamaan yang solid namun sayang hanya bertahan selama dua tahun. Setelah itu kami benar-benar berpencar karena ketiadaan komitmen yang sama seperti mulanya.

Tapi di sarang ini gue menemukan satu taste baru yang menjadikan gue tetap hidup hingga sekarang. Gue menemukan tempat dimana gue nggak perlu ragu untuk ngebuktiin kalo gue memang bisa. Gue mampu melakukan satu hal yang dulu bahkan terpikir pun tidak. Spirit yang nggak pernah mati.

Ada sarang yang dengan tegas menyatakan inilah babak baru dari cinta, persahabatan dan persaingan. Sarang ini awalnya juga terbentuk dari sebuah pengkotakan kelas tapi yang ini lebih berasa. Lebih mengikat dan tersisa di sini –hati gue-.

Di sarang ini ada cinta... dari mereka yang mencoba menggunakan hati dan otaknya secara seimbang. Rasa dimana cinta dapat tumbuh dari sebuah pertemanan muncul tanpa bisa dibantah. Dimana ada cinta disitu juga ada kata putus.

Di sini gue menyadari bahwa putus ternyata nggak cuma menyakiti mereka yang memutuskan, diputuskan atau memutuskan bersama untuk putus. Mau itu dengan baik-baik atau perang tangis dan perdebatan. Tapi kami yang berada di sekeliling mereka yang putus ikut merasakan sakitnya dampak dari perpisahan couple di antara kami. Nggak ada putus yang nggak nyakitin sekalipun itu dilakukan secara baik-baik.

Di sini gue juga belajar bagaimana berteman dengan si Ex.

Bagaimana mengendalikan rasa yang sebenarnya belum mati namun dipaksa terhenti karena situasi yang tak lagi melindungi.

Menyayangi kadangkala menyakitkan...

Di sarang ini ada persahabatan... dari mereka yang selalu ingin melindungi, menyayangi dan memperhatikan apa yang telah, sedang dan akan terjadi. Gue ngerasa dilindungi mereka. Kami menghargai apa yang sudah menjadikan keputusan sekalipun berujung menyakiti. Kami memaafkan apa yang telah disakiti maupun menyakiti. Gue punya satu keluarga yang nggak hanya bicara tapi juga bermakna. Bisa dikatakan, awal mula gue belajar jadi orang care dari mereka.

Di sarang ini ada persaingan... Pasti dan terus membara sampai sekarang! Hehehe... Persaingan di sini bukan persaingan cinta tapi persaingan intelektual. Persaingan dimana kami sama-sama berjuang untuk mendapatkan apa yang menjadi cita-cita dan impian kami. Kami adalah satu. Kami pernah satu dan gue harap selamanya menjadi satu.

Ada sarang yang kabur nggak jelas. Disini ada cinta dan persahabatan.

Kebersamaan? Punya! Kekompakan? Punya! Nangis dan tertawa bersama pun pernah kami lakukan. Hanya tiga bulan kebersamaan itu. Dimulai dari penyeleksian di bulan Mei hingga pelaksanaan tugas mulia di bulan Agustus.

Kata-kata...

Kita pasti bisa! Kita nggak boleh nyerah!

Ayo bertahan! Tiga bulan dan setelah itu kita bebas!

Selalu terekam tak pernah mati di kepala gue.

Mungkin hanya sesaat. Sebentar. Namun rasanya masih ada hingga kini.

Ada sarang yang... Huff... Untuk sarang terakhir ini rasanya gue pengen ketawa. Salut, kagum dan masih banyak kata yang gue sendiri bingung yang mana yang paling pantas. Sarang ini hanya butuh satu hari untuk menyatakan bahwa kami sedang membuat sarang! Sarang yang nggak pernah gue sangka akan menjadi sebuah sarang –terutama untuk gue yang sebenarnya nggak gampang dekat dengan orang-orang baru-.

Sarang yang hanya berisi satu gender. Padahal biasanya gue paling anti bikin sarang yang hanya satu gender. Gue kan rada underestimate segala sama hal yang nggak sepasang.

Sarang yang akhir-akhir ini mulai bikin gue takut karena ternyata sarang ini terlalu kuat untuk gue bantah –orang-orang yang berada di sarang ini mempunyai kekuatan kasih sayang, pengertian dan perhatian yang besar!-. Huff... Mungkin seharusnya gue bersyukur bukan merasa takut. Tapi mereka benar-benar mengerikan!

Kalo dibikin skala atau survey, bisa dipastikan gue adalah orang yang memiliki rasa kasih sayang, pengertian dan care yang paling minim alias lemah.

Bukan bermaksud membandingkan, tapi banyak yang gue rasakan di sarang ini sama dengan apa yang gue rasakan di sarang gue yang pertama. Baik itu cara menyelesaikan sesuatu sampai kebiasaan. Bedanya yang ini nggak bermasalah.

Yang terjadi sebenarnya, I’m afraid...

Takutnya gue nggak bisa nengok ke tempat lain lagi. Takutnya gue lupa gue punya banyak sarang lain. Sarang ini auranya bagus banget!! Gue bahkan belum tau kapan kiranya sarang ini akan menghitam seperti sarang-sarang gue sebelumnya.

Di sarang ini gue bak anak bayi yang butuh banyak pencerahan dari mereka yang memandang hidup dari banyak sisi yang berbeda. Orang-orang yang berkarakter!

Gue berasa nggak punya apa-apa dan taste keras gue seolah luluh begitu aja kalo berhadapan dengan mereka. Ini bukan gue!

Aneh! Padahal biasanya justru kerasnya gue itu yang tercipta di setiap sarang gue. Gue orang yang nggak bisa hidup dalam hubungan berirama statis tapi nggak tau kenapa dengan mereka gue mau mencoba bertahan dengan hubungan yang berirama statis. Tanpa konflik dan pertempuran hati. Gue yang terbiasa dengan persaingan pun mendadak harus mundur perlahan. Di sini nggak ada persaingan. Yang ada justru dukungan. Selalu dukungan. Apa mungkin ini karena mereka -nantinya- akan menjadi orang-orang penyemangat orang lain?

Di sarang ini keikhlasanlah yang lebih banyak gue rasain. Rasanya nyaman banget meski kadang ada aja kerikil yang ngeganggu. Nggak tau kenapa, setahun jalan sama mereka, belum ada masalah gede yang buat gue merasa ditekan seperti di sarang-sarang sebelumnya. Justru setiap gue bermasalah, di sarang ini gue bisa dapat jawaban.

Aneh memang. Tapi gue menikmati kok. Kenikmatan berbeda dari tempat yang berbeda.

Mungkin itu sekilas cerita tentang sarang gue. Kotak-kotak dalam hidup gue.

Gue pernah nulis yang sebenarnya gue tujukan pada sarang gue di salah satu tulisan gue –ya iyalah... namanya juga nulis!-

Selama hati kita udah terlanjur terbagi, kita nggak akan bisa ngejalanin seluruhnya. Gue ngomong kayak gini bukan berarti kita harus milih. Satu sisi kita pasti nyaman dengan teman-teman yang ini tapi di sisi lain kita mencoba untuk mempertahankan sesuatu yang kasarnya sesuatu itu harganya aja udah nggak layak untuk dipertaruhkan. Harganya udah turun, udah basi atau apalah itu yang membuatnya mengalami penurunan nilai. Sesuatu yang harusnya nggak usah kita pikirin.

Tapi kenapa masih dipikirkan??

Karena kita udah terlanjur sayang. Karena kita terikat.

Kalo ditanya yang mana yang lebih punya nilai dari kacamata seorang aisH, gue nggak bisa jawab. Sarang gue memiliki nilai masing-masing yang grafiknya naik turun sesuai dengan apa yang gue beri dan gue dapatkan.

Nggak adil rasanya kalo gue harus milih karena gue butuh semuanya dan semua jadi warna dalam hidup gue yang lebih banyak abu-abunya. Hoho...

Seseorang sobat gue pernah mengatakan,

‘kita mungkin banyak ketidakcocokan dengan sahabat kita. Itu lumrah. Wajar. Manusiawi. Tapi adalah tugas seorang sahabat untuk mengingatkan sahabatnya kalo sahabatnya lupa atau salah’

Pernyataan itu ada benarnya.

Tapi bagaimana mau mengingatkan kalo si seseorang itu aja mungkin nggak ingat kalo dia punya sahabat yang akan mengingatkan dia kalo dia salah atau terlupa?

Gue tipe orang yang nggak mau ribet dan nggak suka ribet dengan masalah kayak gini. Lo jual, gue beli. Terserah bagaimana si sahabat itu bersikap, gue akan membalasnya sesuai dengan apa yang dia perbuat atas persahabatan tersebut.

Senang bareng, ketawa bareng, nangis dan sedih juga bareng.

Gue nggak yakin kalo gue bisa tetap bahagia setelah gue ninggalin luka yang nggak kecil buat teman-teman gue. Mendingan gue yang disakitin deh!

Tapi lebih mending nggak ada yang disakiti ataupun menyakiti. Peace! Hehehe...

Gue masih kayak dulu. Lebih milih pake otak daripada hati. Gue nggak akan peduli sama apa yang terjadi. Gue cuma tau itu bener atau salah tapi gue nggak akan ngasih toleransi kalo sesuatu itu bener-bener salah. Saat gue bikin vonis itu salah, udah tentu gue berusaha keras untuk membuktikan kebenaran atau kesalahan dari setiap masalah gue.

Seorang teman gue juga pernah memberikan kata-kata seperti ini sama gue.

Jangan pernah berharap lebih terhadap hidup yang elo bayangkan.

Dan yang gue lakukan sebaliknya. Gue jadi termotivasi untuk merealisasikan apa yang gue bayangkan. Itu mendebarkan!!

So, jangan takut untuk mencoba banyak hal baru walaupun nantinya kita ribet sendiri sama keputusan kita. Kadang tantangan itu perlu biar hidup kita nggak statis. Yang penting pinter-pinter aja jaga diri.

Dan sekarang, gue sedang dalam satu pertimbangan untuk melepaskan sesuatu yang –gue nggak tau deh, dia sahabat, teman atau kenalan- mungkin juga udah lupa sama gue.

Simpel aja, setahun udah cukup. Setahun udah lewat dan sepertinya keberadaan ponsel, wartel, warnet atau sekedar langkah kaki untuk berkomunikasi sudah nggak mampu membenahi hubungan ini. Udah nggak ada taste...

It’s ok. Gampanglah...

Dalam hati kita, kita memiliki banyak ruangan seperti bilik-bilik kamar. Kapan aja kita bisa membuka dan menutupnya lalu menyimpan kuncinya. Mungkin ini saatnya gue menutup dan menyimpan dalam kuncinya...

Sebuah alasan simpel, sudah tidak ada chemistry dan kecocokan.

Jalan kita sudah berbeda.

Time is over...

Gue bangga jadi bagian dari mereka.

Gue bersyukur dikasih kesempatan untuk kenal dan menjalani hari-hari gue bersama mereka. Wow! Semoga ini tak pernah padam!

Saat ini gue masih punya keberanian untuk kehilangan orang-orang yang gue sayang. Tapi gue nggak yakin bakal seberani ini kalo ngalami hal ini lagi.

Dimana Kawanku??

Inginku menyapa...

Beri aku ruang...

Tempatkan diriku...

Dimana Kawanku??

Semakin menjauh...

Beri aku arti...

Tak ingin berbeda...

(Padi_Beri Aku Arti)

No comments: