Seperti saat gue memilih perguruan tinggi satu setengah tahun lalu. Gue bersyukur banget kerja keras gue –tiap hari tidur paling cepet jam 2 pagi demi bercumbu dengan soal-soal SPMB- membuahkan hasil. Biarpun nggak diterima dipilihan pertama dan kedua yang dua-duanya FAVORIT, seenggaknya nama gue masih nyangkut di pilihan ketiga dalam perebutan kursi SPMB. Saat itu –wajar
Dan disaat bersamaan ternyata gue juga diterima sebagai calon mahasiswa Psikologi di salah satu universitas negeri yang awalmya hanya gue jadiin pelarian aja –jahatnya gue!!! Hahaha-.
OMG!!! Itu jurusan yang udah jadi impian gue sejak berseragam putih-biru sekarang terhampar di depan mata!! Walaupun bukan kampus yang gue bayangkan paling nggak tetep psikologi. Pertempuran hati pun terjadi. Gue yang awalnya udah teken kontrak sama bonyok untuk kuliah di
Saat itu sadar banget kalo gue udah mempermalukan diri gue sendiri dengan bersikap sangat tidak komit dengan keputusan awal gue. Gue liat banyak mata yang menatap aneh ke gue karena melepaskan SPMB yang diperebutkan banyak orang hanya demi apa yang udah jadi mimpi gue selama tujuh tahun lamanya. Gue denger banyak yang menyesali keputusan gue. Dan gue bersyukur segala pandangan itu nggak ada pada Ayah-Bunda gue. Pada keluarga gue. Mereka mendukung keputusan gue dan buat gue itu udah lebih dari cukup untuk gue percaya kalo gue mampu ngejalanin ini dan mempersembahkan S.Psi di waktu yang tepat. Amin…
Terkadang pula, kita terjebak dalam sebuah situasi dimana kita menjadi seorang yang menentukan sebuah keputusan atas suatu permasalahan –tadi juga masalah sih tapi nggak tau kenapa gue menganggap masalah di sini tuh nggak sama dengan masalah di atas-. Menjadi hakim yang mengetokkan palu. Saat itu yang kita –jika memang orang yang baik dan bertanggung jawab- lakukan tentu memikirkan masak-masak apakah pilihan yang kita ambil merupakan jalan yang terbaik untuk semua. Namun seringkali apa yang kita anggap baik untuk semua ternyata bukan itu yang menjadi realitasnya.
Sadar atau tidak, seringkali keputusan yang kita ambil –tentu- akan lebih mengarah pada hal yang lebih menguntungkan kita dibandingkan orang lain –contohnya kasus gue tadilah-. Kalaupun tidak, paling tidak kita yang lebih sedikit merugi dibandingkan orang lain. Tapi di lain pihak, kita juga menjadi orang awam yang terkondisikan dalam sebuah keputusan yang telah dibuat oleh orang lain. Menjadi bagian dalam kontroversial pro-kontra yang sebenarnya tidak seharusnya melibatkan kita. Yahhh… kalo itu yang terjadi mah pinter-pinter kitanya aja kali ya… Tapi sialnya gue sering banget terjebak dalam situasi termehek-mehek kayak begitu. Kalo nggak jadi tempat curhat, jadi broker ya jadi saksi kunci bahkan nggak jarang gue yang jadi Hakim Ketuanya. So far gue menikmati hal itu.
Sebagai seorang yang kerap menjadi tong sampah, broker, saksi kunci sampe jadi Hakim Ketua, seringkali gue dimintai pendapat atas masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh temen-temen gue itu. Dan alhamdulillah apa yang tercetus dari bibir gue ini cukup sering memberi dampak dan solusi yang baik bagi permasalahan mereka.
Dan nggak jarang juga gue jadi berpikir ulang atas apa yang udah gue beri sama temen-temen gue itu. Teori itu mudah. Saat temen gue menceritakan masalahnya sama gue, gue selalu berpikir dari dua sisi –positif dan negatif-, gue nggak cuma ngasih dampak baek tapi juga buruknya dan urusan yang mana yang akan diambil temen gue ya itu ada di tangannya. Saat itu sih gue mencoba memahami apa yang sedang mereka rasakan –walaupun sebenernya nggak seluruh perasaan mereka itu gue tau- dan terciptalah solusi-solusi tadi.
Tapi saat gue yang dihadapkan dengan masalah yang sama –yang dulu saat temen gue curhat dapat gue pecahkan dengan begitu mudahnya- ternyata nggak semudah itu untuk gue lakukan.
Praktek nggak semudah teori… Salut banget buat temen-temen gue yang akhirnya masih bisa berdiri dan tersenyum di atas masalah-masalahnya. Karena setiap masalah tentu diciptakan untuk membuat sebuah perubahan. Dan kembali perubahan itu terjadi karena sebuah pilihan, bukan?
Terkadang susah buat gue untuk mengakui kalo gue itu nggak mampu –punya kelemahan-. Gue selalu berusaha mencari jalan-jalan lain dimana itu membuat kelemahan gue sedikitnya tertutupi oleh kamulflase yang gue buat dengan jalan lain –yang pastinya nggak buruk-.
Saat ini pun… Saat gue tengah berjalan di atas pilihan gue, gue masih bertanya. Apakah ini pilihan yang terbaik? Apakah proses ini yang nantinya akan membentuk gue atau sebaliknya gue yang memegang kendali atas proses ini?
Pilihan buat gue hanya ada dua. MAJU atau MUNDUR. Bergerak, kemanapun kita itu lebih baik dibandingkan jalan di tempat. Maju untuk satu hal yang sekiranya obsesif, progresif, mungkin akan menjadi baik jika telah dipikirkan secara matang. Sekalipun kita memilih untuk mundur dan merasakan perasaan menjadi seorang pecundang, setidaknya kita membuat sebuah pilihan.
Sebuah gerakan.
Sebuah perubahan.
Gue nggak akan jalan di tempat karena gue bukanlah seorang penonton yang baik. Gue adalah seorang pelaku. Sekalipun itu buruk –mudah-mudahan sih nggak- gue adalah otak dari mimpi-mimpi gue. Gue adalah perantaraNya yang diberi hak veto untuk memilih. Gue adalah gue yang akan terus berjalan tanpa memikirkan bahwa gue hidup dengan takdir.
Bukan takdir yang menghidupkan gue tapi gue yang menghidupkan takdir… Takdir tanpa hidup dari gue nggak akan membentuk sebuah takdir. Bukan takdir yang mengendalikan gue tapi gue yang mengendalikan takdir. Terlepas dari seberapa besar takdir akan mempengaruhi gue, gue yang diberi banyak jalan untuk merubah atau memotong garis takdir.
Jadi jangan pernah menyalahkan takdir atas apa yang lo alami saat ini.
Mungkin tulisan gue rada sarkastik dan gajebo, tapi paling nggak itu yang tengah gue alami.
Thanks buat Rahma –Sori, Ul! Kekasih lo gue pinjem! Lo presentasi yang bener aja ya di depan kelas. ☺- yang mau jadi partner diskusi yang menyenangkan di tengah diskusi Tafsir yang nggak jelas ntu di kelas. Diskusi kita masih to be continue ya… Hehehe…
22 Desember 2008
No comments:
Post a Comment