HARI YANG MENAKJUBKAN!
Begitu menakjubkannya sampai gue lupa masih ada yang harus gue selesaikan.
Allah menjawab doa kita dengan tiga cara...
Pertama, Dia akan langsung mengabulkan doa kita.
Kedua, Dia akan menahan doa kita lalu mengabulkannya di saat yang lebih tepat.
Ketiga, Dia tidak akan mengabulkannya dan akan menggantinya dengan satu hal yang jauh lebih baik bagi kita.
Dan akhirnya hari ini berakhir juga...
Ketakutan gue sama sekali nggak terwujud. Bahkan gue dapat lebih atas apa yang selama ini gue ekspektasikan. Di antara begitu banyak taste yang hilang... Hari ini gue menemukan salah satunya. Gue menemukan satu taste yang sempat hilang dan nyaris gue lupakan!! Allah menjawab doa gue dengan cara ketiga.
Adakah sedikit kebesaran hati untuk memperbaiki semuanya.
Suatu cara untuk mengembalikan segalanya.
Serta setitik kesadaran kalau kita saling membutuhkan...
Kata-kata di atas menjadi SO di FS salah satu sarang gue. Jujur aja, pertama kali gue membacanya, rasanya sedih banget. Gue ngerasa nggak punya apa-apa sekaligus merasa banyak memiliki. Gue kembali diingatkan kalau gue harus menyelesaikan kebimbangan atas apa yang udah gue miliki tujuh tahun ini.
Gue masih butuh, bahkan nagih karena terlalu lama dibiarkan menunggu saatnya tiba.
Gue punya KITA...
Gue punya 2705...
Gue sempat ingin melepaskan hal itu karena satu hal yang sebenarnya simpel tapi cukup prinsipil untuk gue. Sebuah janji –nggak tau deh sebenarnya janji atau bukan- yang sempat terucap tahun lalu sekaligus perpisahan kita yang sama sekali nggak terpenuhi pada tahun ini, sempat membuat gue ragu. Haruskah gue pertahankan?
Beberapa hari yang lalu gue masih menulis bahwa gue sedang dalam satu pertimbangan untuk melepaskan dan hari ini jawabannya. Saat gue begitu yakin dan meminta rasa untuk melepaskan, Dia menggantinya dengan sebuah momen yang jauh lebih indah dari apa yang udah gue bayangkan.
Thank’s God! Kau memberikannya di saat yang tepat.
Sekali lagi… Gue mencoba bertahan… Gue nggak bisa ngelepasnya…
Awalnya gue pikir, gue nggak akan menemukan taste itu pada hari ini. Kenyataannya… Mereka membanjiri gue dengan semua taste yang sangat gue inginkan. Banjir... Overloud... Semua masih tersisa di sini... Deep...
Kejujuran itu masih ada... Pure... Honest...
Tawa itu masih ada, bahkan semakin menggila...
Kenangan itu masih ada, bahkan semakin melekat di sisi terdalam otak gue...
Terlalu panjang waktu dan bentangan jarak buat KITA begitu abstrak dan nggak bisa dipahami. Sampai hari ini pun gue tetap nggak bisa memahami itu. Hubungan yang aneh.
Kadang terasa begitu semu. Saling menyakiti, merasa disakiti. Saling meninggalkan dan juga merasa ditinggalkan. Hufff... Lelah tapi menantang!
Kadang terasa begitu nyaman. Selalu melindungi, mereka yang memang harus dilindungi. Memperhatikan tanpa kata tapi dengan rasa.
Sampai kapan ini akan berakhir??
Setahun? Dua tahun? Bahkan tujuh tahun kebersamaan ini nggak bisa menjawabnya.
Menikmati dengan hati. Mungkin itu jawabannya.
Hari ini mereka bisa membuat gue sangat –bahkan terlalu- nyaman...
Next??
Gue nggak pernah berharap lebih untuk sesuatu yang nggak pasti.
Gue hanya berharap apa yang terjadi hari ini bukan yang terakhir, justru menjadi pembuka lagi atas apa yang pernah terjadi di tahun-tahun lalu.
Mereka sarang pertama gue. Manusia-manusia yang pertama kali buat gue nyaman berada di tempat ini –Jkt-. Buat gue merasa memiliki dan belajar menyayangi. Membuat gue tertawa, menangis dan banyak perasaan yang terkukung dan tak pernah mati. Mengikat gue dengan iramanya yang selalu dinamis. Naik-turun. Mempermainkan isi kepala juga hati gue dan membuat gue bertahan. Di Kota matiku.
Gue nulis kayak gini bukan berarti gue lupa gue punya sarang-sarang lain.
Gue selalu ingat itu!
Gue punya banyak hati yang juga harus gue jaga. Seperti yang sarang gue lakukan juga sama gue. Gue berusaha nggak menyakiti. Gue sangat berusaha untuk bersikap adil. Namun layaknya orang yang berpoligami, adil adalah satu kata yang susah-susah gampang mewujudkannya.
Promise... Gue akan berusaha. Bantu gue ya...
Masih banyak taste yang harus gue kumpulkan. Termasuk belajar mengurangi kenaifan dan keposesifan yang suka nggak jelas ini. Hehehe...
Pertemuan takdirku...
Sahabat itu bukan kata, tapi rasa...
Semoga ini tak pernah padam...
No comments:
Post a Comment