Sebenernya udah lama gue pengen ngebahas film yang akhir-akhir ini jadi kontroversial. Lebih tepatnya beberapa saat setelah gue meninggalkan bangku H11 di 21, 23 Januari 2009 lalu. Setelah Si Jago Merah menjadi film Indonesia yang menutup tahun 2008 –karena setelah film itu, gue sama sekali nggak nonton film Indo tapi film luar mulu- film Perempuan Berkalung Sorban –PBS- menjadi pilihan gue untuk menjadi tontonan di awal tahun ini. Eh, nggak pertama juga sih secara sebelomnya beberapa film sempet mampir di depan mata gue cuma ya itu… film luar mulu. Tapi daripada gue nonton film Indo laen yang gue yakin mutunya di bawah PBS atau film luar yang di bioskop itu hanya ada Twilight yang udah gue tonton 2 kali di dua bioskop yang berbeda dan nyatanya nggak ada perubahan dari segi gambar, suara maupun pemaennya kecuali tempat duduk gue –ya iyalah! Secara pas nonton di PH gue dapet tempat paling bawah, udah gitu pojokan lagi! Baru deh pas nonton di PIM gue dapet tempat pewe! Hehehe- mendingan gue nonton PBS. Gue nonton nih film sama si Adhut, secara siapa lagi temen gue yang hari gini bisa diajak menggila kalo bukan dia? Kalo jalan sama temen RRG, B’d1, atau Glatto, gue lebih milih nonton film luar dah. Lagian anak-anak juga lagi pada sibuk. Kalo ama Rangers-rangers baru kita nasionalis walopun nontonnya juga selektif.
Awalnya gue sempet garing juga milih nonton film beginian. Itu pendapat gue sebelom tuh film mulai. Tapi berhubung yang ngegarap Hanung Bramantyo –yang cukup memuaskan gue tiap kali gue nonton film-filmnya-, gue yakin nih film nggak ngecewain.
Menit-menit pertama gue nonton nih film, paradigma gue seketika berubah. Gue interest banget sama nih film. Apalagi film ini mengangkat PEREMPUAN sebagai objeknya. Bukan berasa narsis karena gue juga cewek, tapi di sini gue bisa liat ketegaran, ketabahan, kesabaran, dan ke-ke-ke-an lain perempuan yang gue yakin belom tentu sosok laki-laki bisa lakuin. Piss, Bro!
Bukan juga mau lebai, tapi gue tersentuh sama film ini. Gue rasa cowok gelo yang saat nonton duduk di sebelah gue juaga tersentuh secara nih cowok bukan tipikal player seperti kebanyakan temen cowok gue. Dan buat gue PBS jauh lebih oke dari pada AAC. Hohoho… -berarti di catatan gue film Indo yang pertama paling oke tetep Petualangan Sherina, AADC, Tusuk Jelangkung, Gie, Laskar Pelangi, PBS, baru deh AAC. Abis itu baru berderet film-film lain di belakangnya.-
Seperti biasa… film-film Hanung selalu ada Hanungnya –teteeeepp…-. Buat gue dari sisi karakter, pemainnya dapet banget. Pas! Nggak lebai kayak banyaknya film Indo yang muncul akhir-akhir ini. Nggak lagi-lagi dah gue nonton film yang majang banyak pemain –terutama PELAWAK!- yang nyatanya nggak mengeksplor kemampuan mereka di film itu. GARING! NGGAK LUCU! JAYUS! Dan sarapnya, yang banyak ditonjolkan justru sisi seksnya padahal menurut gue hal-hal seperti itu justru ngerusak film. Hanya buang-buang duit dan ngabisin roll film ditambah ngabisin waktu orang-orang di LSF. Sampe saat ini, untuk film komedi masih hasil karya Hanung dkk yang gue percaya. Yang bisa bikin ketawa secara alami. Contoh aja Jomblo, Get Married, Tarix Jabrix, Si Jago Merah dll. Yang laen mah bisanya majang muka pelawak segambreng tapi isi filmnya nggak banget. Nonsense… Norak! Kalo ada yang punya satu kata laen yang bisa menggambarkan kalo tuh film amat sangat jelek banget! Kapok gue nonton film begituan. Kebanyakan nggak mendidiknya tapi maksa ketawa biar gue nggak ngerasa rugi banget beli tiketnya. Dan tanpa bermaksud memperbandingkan dengan AAC, buat gue, PBS jauh lebih baik. Setiap pemainnya mampu menghidupkan karakter yang mereka mainin. Sampe gue bisa ikutan sebel sama bokap, kakak-kakak dan suaminya si Annisa. Padahal sebenernya gue demen banget mantengin Reza Rahadian yang jadi pemeran suami pertamanya Annisa di FTV atau pas dia lagi jadi host. Hehehe.. Hanung selalu mampu mengkaryakan pemain yang sedikit namun berbobot.
Sedangkan dari sisi cerita… Bukannya gue mau ikutan buka aib atau mojokin pihak pesantren dan segala macam rupa isinya. Gue emang bukan anak pesantren tapi udah dari jabang bayi gue dididik dalam lingkungan yang Islami. Kalo nggak bisa dibilang religius banget yaaa… religius okelah…
Dari kecil gue diajarkan pelajaran agama. Shalat, puasa, berbuat baik, segalanya! Saat masih di Denpasar, setiap maghrib diwajibkan mengaji di Masjid. Setelah pindah ke Jakarta pun –justru- gue menimba ilmu agama di sebuah TPA dan TQA. Itu berlangsung selama 6 tahun. So, bukan maksud sombong dengan gue mengatakan gue bukan orang yang buta agama. Terutama Islam. Agama gue. Gue mau jadi seseorang yang mengerti agama bukan sekedar stempel yang tertulis di KTP gue doang.
Begitu banyak kontroversi yang terjadi mengenai penayangan PBS di bioskop-bioskop buat gue mau nggak mau ikutan ikutan mikir dan mengeluarkan argumentasi gue sebagai salah seorang yang udah nonton PBS. Ada yang bilang tontonan tsb menyimpang, sesat, tak layak, membodohi masyarakat, memperburuk citra Islam, merusak nama baik pesantren, menyinggung pemuka agama Islam berikut santriwan-santriwatinya.
Anehnya… Kok gue nggak merasakan hal yang sama ya???
Dari alur cerita, pesan moral yang gue dapet, sampai spirit yang gue rasain saat gue mulai nonton –terasa banget kalo film ini dibuat dengan hati, bukan emosi-, menikmati sampe tersenyum puas di akhir film, gue nggak menangkap sinyal-sinyal yang mengarah pada sebuah kesesatan.
Oke, dalam film ini memang ada beberapa adegan yang cukup keras jika disebut dalam sebuah film berlatar agama Islam yang begitu mengagungkan perdamaian dan kebaikan. Tapi adegan-adegan tersebut diperuntukkan untuk menunjukkan kesalahan-kesalahan yang terjadi di beberapa pesantren yang –mungkin- hingga kini masih saklek seperti itu. Dalam hal ini, gue nggak pukul rata. Hanya beberapa pesantren yang seperti itu. Selama gue menjadi bagian dalam TPA dan TQA, gue belajar tata cara beribadah, bergaul, bersikap dan segala hal yang bertujuan memperbaiki akhlak bukan sebaliknya. Dalam film ini pun tak hanya menunjukkan letak kesalahan tapi juga memberikan feedback apa yang seharusnya dilakukan dengan kesabaran, keikhlasan dan kepasrahan kepada Allah. Bukan semata-mata kesalahan tanpa penyelesaian. Hehehehe… Agak aneh juga kenapa gue sampe segininya berargumentasi demi PBS. Sebenernya bukan demi PBS tapi demi apa yang gue coba yakini setelah sekian lama gue ikutan nonton berbagai perdebatan di TV maupun radio tentang PBS. Gue mencoba menyuarakan suara hati gue aja yang nggak sependapat dengan mereka yang merasa tersinggung. Gue sedih denger mereka –yang merasa tersinggung dll- berpikir sempit seperti itu. Menganggap semua kesalahan ada pada film ini. Menganggap diri mereka PALING benar, PALING mengerti, PALING tau tanpa mencoba menelaaah dari banyak sisi. Islam membuat umatnya berpikir cerdas bukan picik. Islam agama yang indah dan penuh seni. Islam agama yang penuh toleransi. Islam agama yang maju. Gue bukannya sok tau, sok paling ngerti atau sok-sokan apa kek. Gue tau diri kalo gue masih anak kemaren sore yang nyentuh angka 20 aja belom. Gue masih seorang Muslimah yang belom menjalankan ajaran Islam secara kaffah karena kadang sholat gue masih bolong, baca Qur’an nggak rajin, masih slengean, begajulan, dan nutup aurat juga belom beres –gue jadi buka aib gue sendiri kan??-. Tapi gue mencoba objektif menilai PBS dari banyak sisi. Nggak hanya satu sisi. Mereka nggak pernah riset apa ya??
Sekali lagi gue tekankan, gue menulis ini bukan untuk menjatuhkan berdirinya pesantren dan produk keluaran pesantren. Wong keluarga gue juga banyak yang jebolan pesantren tapi nggak sesaklek itu dalam pemikirannya. Salah seorang sepupu gue aja –Mas gue dah!- malah nyuruh gue kritis terhadap banyak hal yang terlalu konservatif sampai-sampai mengabaikan kebaikan kecil yang sebenarnya akan muncul jika saja kita mau sedikit kooperatif dengan segala kekonservatifan yang ada. Nggak semua yang berhubungan dengan pesantren itu PASTI baik. Ada beberapa oknum yang emang nggak mencitrakan Islam yang sesungguhnya meski ia adalah jebolan pesantren. Bisa dibilang, temen-temen gue juga banyak yang jebolan pesantren tapi NGGAK SEMUA dari mereka itu baik. Beberapa temen gue –yang jebolan pesantren- bisa dengan santai dan tanpa merasa bersalah nggak puasa pas Ramadhan padahal mereka cowok dan nggak mungkin kan kedatengan tamu bulanan?? Justru temen-temen gue yang bukan dari pesantren malah menjalankan ibadah Ramadhan dengan lebih khusyu’ dan sungguh-sungguh. Ada juga yang di Hpnya masih nyimpen foto dan video-video bokep, masih nyoba-nyoba miras dan main cewek. Ini fakta. Kenyataan yang gue dapet langsung dengan mata kepala gue sendiri bukan minjem dari mata orang laen. Kenyataan yang terlanjur melebur di sekitar gue. Di kehidupan gue yang naudzubillah deh kalo gue sampe terpengaruh sama yang beginian. Gue bukan orang baek secara mutlak tapi sebisa mungkin gue menjaga diri gue dari hal-hal buruk yang merusak diri gue –terutama agama gue-. Insya Allah… Gue nggak mau bikin malu agama gue.
Tapi ada juga temen gue yang jebolan pesantren yang sangat santun, sopan, pengertian, penyayang, duhh.., pokoknya segala bentuk kebaikan insya Allah dia lakukan demi agama, bangsa, dan keluarganya. Yang seperti ini yang gue jadikan contoh produk keluaran pesantren yang TOPBGT! Gue jadiin calon imam juga hayuk deh. Hahaha
Buat gue pribadi, dia jebolan pesantren atau nggak bukan suatu cerminan mereka pasti baek. Setiap manusia punya sisi dimana ia salah, lupa, khilaf. Dan di PBS itu, semua kekhilafan dipertontonkan plus dengan cara menyingkapinya. Manusia bukan Tuhan, bukan pula malaikat. Pernyataan-pernyataan yang mereka keluarkan di TV ataupun radio malah menunjukkan arogansi, keegoisan, dan sempitnya pola pikir cendikiawan yang seharusnya lebih memahami dan mendalami Islam. Dengan mereka mengeluarkan penyataan-pernyataan keras yang –bagi gue- malah menunjukkan… haduh… gue harus make kata apa ya yang lebih halus daripada bodoh –MAAF!-.
Kekolotan –nah, kayaknya make kata kolot lebih oke daripada bodoh- ini justru membuat gue –yang terhitung generasi muda- jadi males dan underestimate sama mereka yang memandang sesuatu hanya dari satu sisi. Jujur, gue malu denger argumentasi-argumentasi yang mereka keluarkan demi membuktikan apa yang mereka anggap salah itu benar-benar salah. Padahal nggak semua yang salah itu akan salah dengan mutlak. Semua yang ada di dunia ini masih berdiri dengan hukum keseimbangan. 50:50. Gue pun nggak menyalahkan mereka yang nyata-nyata masih menganggap PBS sebagai sebuah kesalahan besar. Mereka memiliki argumentasi sendiri dan begitu pula dengan gue.
Perdebatan PBS ternyata nggak hanya berlangsung di TV. Di ruang keluarga gue pun terjadi antara gue, Nduty –adek gue yang cowok-, Ayah dan Bunda. Ternyata bokap gue sama aja kayak mereka yang berkoar-koar di TV. Menganggap gue –si generasi muda, anak bawang, anak bau kencur, anak kemaren sore- yang kurang pengalaman dan nggak menghargai mereka yang lebih tua -yang bergelar Prof. XX, H. XX, Hj. XX, XX M.Ag, XX S.Ag- yang lebih dulu mengenal Islam berikut sendi-sendi juga dalil-dalil Al-Qur’an dan Haditsnya. Anak yang nggak tau apa-apa dan seenaknya berargumentasi macem-macem tentang Islam dan segala keindahannya. Hadddduuuuu… Ampun deh! Gue harus kayak gimana lagi coba?? Dengarkan aku…
Sekali lagi! Umur gue emang belom ada separuh umur Ayah-Bunda, tapi apa yang gue liat, yang gue rasa, yang gue alami, bertentangan dengan Islam yang selama ini diajarkan sama gue. Lingkungan ini hampir rusak oleh kejahiliyahan yang sadar atau nggak semakin merajalela. Mungkin bokap gue belom tau aja kalo anak jaman sekarang hampir semuanya brengsek –mungkin nggak terkecuali gue-. Jaman bokap gue remaja sama jaman gue puber aja masa remaja bokap gue udah kalah jauh tuh! Hehehe… Anak-anak jaman dulu mungkin baek-baek. Tapi kan nggak untuk yang sekarang dan mungkin yang baek itu yang keliatan aja tapi dalemnya busuk dan udah banyak belatungnya. Hiiiiiii… Untung aja diskusi ini bisa dibilang dimenangkan pihak pro PBS karena Bundaku dan Nduty juga berpikiran sama seperti gue. Yippppiiiieee!!!!!
Bukan gue nggak menghargai. Tapi mau gimana lagi kalo nyatanya segala argumentasi yang keluar tidak memiliki kekuatan absolut. Ya iyalah! Daritadi gue juga menganggap nggak ada yang absolut di sini. Semua masih bisa dibelokkan dan gue bukan orang yang anti mengakui kalo gue salah. Yang paling pasti di sini tuh, gue nggak berubah sholat subuh jam lima sore dan nggak sholat maghrib jam sembilan pagi. Gue nggak menyimpang jadi sesat abis nonton PBS. Gue nggak murtad abis nonton PBS. Gue nggak menyekutukan Allah abis gue nonton PBS dan gue nggak digampar bokap abis gue nonton PBS.
So, semua yang dikatakan sebagai kesalahan, penyimpangan, kesesatan, pembodohan, penghinaaan, keburukan, kemudaratan… kembali kepada pemikiran, pemahaman dan hati kita untuk menerima segala sesuatu dari segala sisi. Kembali kepada keimanan kita untuk terus menganggap Allah sebagai yang esa. Kembali pada keyakinan kita atas ajaran agama kita yang begitu damai, ikhlas, penuh kasih sayang, indah, dan menjanjikan keselamatan di dunia dan akhirat. Amin…
NB:
Gue nulis ini tanpa ada emosi negatif dan maksud menjelek-jelekkan. Ini adalah suara hati yang beberapa minggu ini terpaksa terpendam karena ada hal-hal lain yang harus gue prioritaskan lebih dahulu. Heee… So, gue menerima segala kritik dan saran atas apa yang udah gue ungkapkan ini.
2 comments:
gw kayak dengerin lo ngomong dah is, bukan baca argumentasi lo.. hahahaaa
:D
setelah baca review lo, gw jadi penasaran ma PBS itu.. jd pengen nonton gw. hahahahaa
Hahahahaha... emang gitu ya Ul???
Sepertinya saia terlalu bersemangat!!! Wakakakak
Sebenernya tuh film dibilang jelek nggak, bagus banget juga nggak... tapi kontroversinya itu lho!!!
Post a Comment