Saya tidak tau kenapa saat ini saya menulis. Terkadang saya bahkan tidak tau apa yang saya lakukan, apa yang saya rasakan, apa yang saya interpretasikan.
Saya bukan sosok yang sempurna. Saya SANGAT jauh dari sempurna.
Terkadang saya melakukan hal-hal yang bahkan orang terdekat saya tidak memahami mengapa saya melakukan hal tersebut.
Saya mengatakan sesuatu yang hanya akan membuat orang-orang mengerutkan kening. Tidak memahami apa yang saya maksud.
Saya menganggap wajar hal-hal yang banyak orang menganggapnya tak wajar dan saya melakukan begitu sering ketidakwajaran setidaknya dalam kacamata orang lain.
Salahkah saya seperti itu?
Salah, untuk mereka yang hanya mendengar apa yang saya katakan.
Saya adalah seorang yang keras kepala bahkan untuk hal yang mempertaruhkan diri saya juga masa depan saya.
Mungkin saya tidak selalu benar, tapi setidaknya biarkan saya belajar dengan cara saya. Dengan kekeraskepalaan saya.
Saya bisa menjadi seorang yang sangat sok tau karna kekeraskepalaan saya. Namun di sisi lain, kekeraskepalaan saya yang mengantarkan saya pada apa yang saya inginkan.
Saya bukanlah seorang yang menyukai hubungan kausal, itu mengapa saya menjadi pemberontak dalam hidup saya sendiri. Dalam eksistensi saya yang nyata-nyata tengah mati.
Jika-maka, sudah tidak menjadi keharusan dalam perbandaharaan saya. Saya mengatakan apa yang saya pikirkan dan itu jauh dari apa yang mereka harapkan.
Saya bukan Plato yang belajar dengan bertanya untuk memuaskan keingintahuannya.
Disaat cukup banyak orang yang mengatakan saya selalu memakai logika, disaat yang sama, begitu banyak orang mengatakan saya tidak berlogika.
Logika membuat saya gila. Setidaknya untuk saat ini.
Bagi saya, tidak semua hal mampu dijelaskan dengan logika tapi saya percaya, kebenaran hanya ada satu. Sama seperti saya percaya Tuhan hanya satu.
Dan bukankah begitu banyak jalan menuju Roma? Sama banyaknya dengan begitu banyak jalan menuju kebenaran -yang hanya ada satu itu-.
Saya bukanlah seseorang yang akan menjawab sesuatu dengan mendetail dan terkadang saya enggan menjelaskan apa yang tengah saya pikirkan dengan lisan atau tulisan sehingga membuat orang lain berang karna saya tidaklah memuaskan.
Maaf jika mungkin saya tidak memahami apa yang mereka katakan, apa yang mereka maksud dan apa yang mereka interpretasikan. Saya mencoba melihat begitu banyak sisi yang terkadang justru membuat saya lelah. Hingga akhirnya membuat saya berjalan pada sesuatu yang saya yakini.
Entah sejak kapan saya menjadi seperti itu.
Saya orang yang banyak bercerita, dulu. Tapi sekarang, saya kurang menyukai saat dimana saya harus bercerita tentang apapun.
Saya suka memikirkan hal yang remeh selain hal yang besar, tapi jika hal tersebut tidak menarik bagi saya, saya akan dengan mudah melupakannya dan beralih pada hal-hal yang menarik bagi saya.
Saya bisa tahan berjam-jam membahas sesuatu yang saya sukai, even itu membahas politik negeri yang sebenarnya bukan sesuatu yang seharusnya menjadi konsumsi pembicaraan saya.
I'm freak.
Dan saya sudah terlanjur terbiasa dengan konotasi ambigu seperti itu.
Saya suka berdebat tentang sesuatu yang saya yakini, tapi dalam detik berikutnya, saya bisa keluar dari arena perdebatan dengan berbagai alasan. Yang sayangnya, begitu banyak orang menganggap saya bermain aman.
No, saya bukanlah seseorang yang suka berada dalam zona nyaman.
hanya saja saat itu saya menyadari begitu banyak hal yang akan saya lewatkan jika saya berkutat pada hal yang tidak akan ada habisnya.
Saya sendiri tidak mengerti apa mereka mengerti apa yang sejak tadi saya tulis atau tidak. Haha
Yang saya tau, semakin lama saya merasa semakin sedikit orang-orang yang mengenal saya dengan baik. Yang mengerti bagaimana cara saya berpikir.
Yang tau siapa apa kenapa bagaimamana dan mengapa tentang apa saja yang saya lakukan.
Saya tidak mengharap banyak.
Setidaknya tolong biarkan saya berpikir dengan bebas tanpa perlu terbatas oleh hal-hal yang berhubungan dengan aturan. Toh pada akhirnya saya tetap akan menyesuaikan.
Saya yang terus berpikir tanpa memikirkan keber'ADA'an saya..
Saya bukan sosok yang sempurna. Saya SANGAT jauh dari sempurna.
Terkadang saya melakukan hal-hal yang bahkan orang terdekat saya tidak memahami mengapa saya melakukan hal tersebut.
Saya mengatakan sesuatu yang hanya akan membuat orang-orang mengerutkan kening. Tidak memahami apa yang saya maksud.
Saya menganggap wajar hal-hal yang banyak orang menganggapnya tak wajar dan saya melakukan begitu sering ketidakwajaran setidaknya dalam kacamata orang lain.
Salahkah saya seperti itu?
Salah, untuk mereka yang hanya mendengar apa yang saya katakan.
Saya adalah seorang yang keras kepala bahkan untuk hal yang mempertaruhkan diri saya juga masa depan saya.
Mungkin saya tidak selalu benar, tapi setidaknya biarkan saya belajar dengan cara saya. Dengan kekeraskepalaan saya.
Saya bisa menjadi seorang yang sangat sok tau karna kekeraskepalaan saya. Namun di sisi lain, kekeraskepalaan saya yang mengantarkan saya pada apa yang saya inginkan.
Saya bukanlah seorang yang menyukai hubungan kausal, itu mengapa saya menjadi pemberontak dalam hidup saya sendiri. Dalam eksistensi saya yang nyata-nyata tengah mati.
Jika-maka, sudah tidak menjadi keharusan dalam perbandaharaan saya. Saya mengatakan apa yang saya pikirkan dan itu jauh dari apa yang mereka harapkan.
Saya bukan Plato yang belajar dengan bertanya untuk memuaskan keingintahuannya.
Disaat cukup banyak orang yang mengatakan saya selalu memakai logika, disaat yang sama, begitu banyak orang mengatakan saya tidak berlogika.
Logika membuat saya gila. Setidaknya untuk saat ini.
Bagi saya, tidak semua hal mampu dijelaskan dengan logika tapi saya percaya, kebenaran hanya ada satu. Sama seperti saya percaya Tuhan hanya satu.
Dan bukankah begitu banyak jalan menuju Roma? Sama banyaknya dengan begitu banyak jalan menuju kebenaran -yang hanya ada satu itu-.
Saya bukanlah seseorang yang akan menjawab sesuatu dengan mendetail dan terkadang saya enggan menjelaskan apa yang tengah saya pikirkan dengan lisan atau tulisan sehingga membuat orang lain berang karna saya tidaklah memuaskan.
Maaf jika mungkin saya tidak memahami apa yang mereka katakan, apa yang mereka maksud dan apa yang mereka interpretasikan. Saya mencoba melihat begitu banyak sisi yang terkadang justru membuat saya lelah. Hingga akhirnya membuat saya berjalan pada sesuatu yang saya yakini.
Entah sejak kapan saya menjadi seperti itu.
Saya orang yang banyak bercerita, dulu. Tapi sekarang, saya kurang menyukai saat dimana saya harus bercerita tentang apapun.
Saya suka memikirkan hal yang remeh selain hal yang besar, tapi jika hal tersebut tidak menarik bagi saya, saya akan dengan mudah melupakannya dan beralih pada hal-hal yang menarik bagi saya.
Saya bisa tahan berjam-jam membahas sesuatu yang saya sukai, even itu membahas politik negeri yang sebenarnya bukan sesuatu yang seharusnya menjadi konsumsi pembicaraan saya.
I'm freak.
Dan saya sudah terlanjur terbiasa dengan konotasi ambigu seperti itu.
Saya suka berdebat tentang sesuatu yang saya yakini, tapi dalam detik berikutnya, saya bisa keluar dari arena perdebatan dengan berbagai alasan. Yang sayangnya, begitu banyak orang menganggap saya bermain aman.
No, saya bukanlah seseorang yang suka berada dalam zona nyaman.
hanya saja saat itu saya menyadari begitu banyak hal yang akan saya lewatkan jika saya berkutat pada hal yang tidak akan ada habisnya.
Saya sendiri tidak mengerti apa mereka mengerti apa yang sejak tadi saya tulis atau tidak. Haha
Yang saya tau, semakin lama saya merasa semakin sedikit orang-orang yang mengenal saya dengan baik. Yang mengerti bagaimana cara saya berpikir.
Yang tau siapa apa kenapa bagaimamana dan mengapa tentang apa saja yang saya lakukan.
Saya tidak mengharap banyak.
Setidaknya tolong biarkan saya berpikir dengan bebas tanpa perlu terbatas oleh hal-hal yang berhubungan dengan aturan. Toh pada akhirnya saya tetap akan menyesuaikan.
Saya yang terus berpikir tanpa memikirkan keber'ADA'an saya..
2 comments:
Ujung2nya bakal menyesuaikan juga.
Kalo lo sering kekeuh dengan logika lo, apa pernah lo jawab ujian sesuka hati lo? Dengan logika lo? Ketika ada pertanyaan memori adalah: apa lo jwap dengan logika lo? Atau dari pembenaran2 yg pernah ada sbelumnya? Kalo lo jwap 'gue sring kok jwap pke logika gue' bukannya dgn kata lain lo lupa akan literature prihal jwapan itu? Alias mengarang bebas?
Dan apa semua logika orng lain itu selalu tampak aneh? Pernah memposisikan diri lo dgn logika orng kebanyakan? Kenapa orng berkata jika begini maka begini? Gk pernah brfikir 'wajar aja orng mikir bgini' kalo pengen orang lain berfikir 'wajar kok lo mkir begitu' mulai untuk berpikir 'wajar kok orng mikir gitu' :)
Mgkn pada akhirnya saya akan mencoba unt mematuhi norma yg ada dan meredam ego saya yg suka seenak jidat dalam mngeluarkan apa yg menjadi logika saya yang -keseringan- beda sama org lain.
Tentang bgmn cara saya menjawab soal,hehehe, kalo bole jujur, saya lebih sering menggunakn logika saya dibanding ingatan saya dan sejauh ini saya belum menemukan sesuatu yang membuat saya merutuki 'ke-logika-an' saya berkenaan dg akademis.
Tapi untuk hubungan sosial, mmm.. Sudah banyak yg tau kalo logika saya sering 'ngajak ribut' bahkan bagi sahabat saya sendiri, hal seperti ini sempat menjadi sesuatu yang -mungkin- berada dluar batas toleransinya.. ;pi norma yg ada dan meredam ego saya yg suka seenak jidat dalam mngeluarkan apa yg menjadi logika saya yang -keseringan- beda sama org lain.
Tentang bgmn cara saya menjawab soal,hehehe, kalo bole jujur, saya lebih sering menggunakn logika saya dibanding ingatan saya dan sejauh ini saya belum menemukan sesuatu yang membuat saya merutuki 'ke-logika-an' saya berkenaan dg akademis.
Tapi untuk hubungan sosial, mmm.. Sudah banyak yg tau kalo logika saya sering 'ngajak ribut' bahkan bagi sahabat saya sendiri, hal seperti ini sempat menjadi sesuatu yang -mungkin- berada dluar batas toleransinya.. ;p
Post a Comment