Friday, January 7, 2011
Di mata saya, semua tampak abu-abu
Ini belum akhir dan sepertinya saya akan mengukir hal yang sama. Damn! Akankah saya kembali gagal mengeksekusi waktu seperti tahun-tahun sebelumnya? Hanya menyisakan hitam setelah sekian lama saya telah mengukir warna. Semua yang berawal dari teori tabula rasa kini -seharusnya- terisi beraneka warna. Mejikuhibiniu, singkatnya. Tapi yang saya lakukan membuatnya memecah, bias dan berakhir dengan abu-abu. Ya, sekarang semuanya tampak abu-abu. Warna itu memudar begitu cepat. Secepat kedipan mata yang beranjak menyongsong matahari di tengah malam. Saya kehilangan, Tuhan.. Kembali kehilangan.. Hahaha.. Seharusnya saya mempersiapkannya sejak lama kan ya, Tuhan?? Dan seharusnya saya tak memulai sesuatu yang saya tahu tak mungkin saya mampu menghadapinya. Saya jengah. Kau dapat tertawa karena saya yang kini resah. Saya pasrah.. Setidaknya hanya itu yang membuat saya jauh dari gelisah. Dan terhindar untuk menghantamkan kepala saya dalam rasa bersalah. Meski saya tahu, saya-lah yang bersalah..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment