Tuesday, January 26, 2010

Untuk Mereka Yang Bermimpi Bersama @betheone

17 Juli 2009-19 Januari 2010
Enam bulan terlewat.. Sesuatu yang tak berasa namun masih tersisa. Yang bahkan pada awalnya saya merasa tidak mampu melewatinya. Yang pada awalnya membuat saya takluk dan nyaris menyerah.

Nyaris… Menyerah…

Tak seperti biasanya. Saya yang biasanya begitu tenang dan santai jika diberikan kepercayaan untuk ‘membawa’ sesuatu mendadak kehilangan gairah. Untuk pertama kali saya merasa takut dan setengah hati untuk menerima kepercayaan yang teman-teman berikan banyak alasan. Ketakutan konyol yang pada berakar pada sebuah komposisi yang nyaris sempurna dari sebuah kotak yang cukup membuat saya merasa nyaman. Jika diingat, saya sungguh cengeng… hehehe

Menjadi seorang yang katanya KM di kelas yang penuh aura dan beraneka rasa mood juga dinamika suasana adalah sebuah tanggung jawab yang berat -menurut saya-. Saya mencoba menggambarkan apa yang telah kita –Bd1- lewati selama dua setengah tahun terakhir.

Kelas yang –mungkin- terbentuk dengan randomisasi atau pertimbangan akademik ini, pertama kali dipimpin oleh Bahtiar Hanafi S. Selama satu semester, kecenderungan yang terjadi KM seperti pelayan kelas. Ingat! PELAYAN KELAS! Seorang diri sang Kepala Suku mengurus kita. Mengambil LCD, mengumpulkan tugas de el el. Ini dikarenakan pada saat itu kita belum menyadari bahwa kelas adalah sebuah negara yang selayaknya memiliki sistem pemerintahan.

Jujur saya mengatakan ini berantakan dan –jeleknya- saya sendiri belum peduli dan belum tergerak untuk membantu. Terlihat juga dengan teman-teman yang lain yang masih sibuk dengan sosialita masing-masing. Kotak… Kotak… dan kotak… Ada banyak kotak di dalam kotak. Sebuah suasana yang sesungguhnya sangat saya benci… Dan entah sejak kapan saya tidak menyukai kotak dalam kotak. Dan sekali lagi, saya tidak menyalahkan sang Kepala Suku. Semua ini salah kita. Kekacauan ini karena kita. Keserabutan ini dimunculkan oleh kita. Tak banyak yang saya ingat tentang saat itu. Mungkin saat itu saya pun sibuk dengan sosialita saya dan lupa kalau dunia saya tidak hanya milik sosialita saya.

Semester dua mulai bergulir dan kepemimpinan berpindah pada Teddy Dj Kurniawan. Terdapat beberapa perubahan di semester ini. Yang saya ingat, Kepala Suku kali ini sungguh care dengan penampilan mahasiswi di kelas. Selama hampir satu semester, kita –para wanita terindah a.k.a xxxxx Girl- selalu diberi inspeksi mendadak oleh sang Kepala Suku. Beruntung sang kepala suku tak memaksa kita memakai karung goni ke kampus. Hehehehe… Piss, Ky..

Disini mulai ada koordinasi antar kita meski saya akui masih terdapat belang bentongnya. Saya masih melihat terkadang sang Kepala Suku bekerja sendirian. Mungkin ini terjadi karena belum terdapat keterikatan hari diantara kita *Jiaaahhhh… Agak jijay saya dengan penggunaan kata-kata diatas*.
Memasuki semester tiga… Untuk pertama kalinya Kepala Suku dipindahkan pada seorang wanita yaitu Astrid Febry Nurdiani. Saya tak banyak mengingat apa yang terjadi pada semester tiga ini. Berubah haluan dari kepemimpinan maskulin menjadi feminin –Oh ya??-. Semester tiga belum begitu banyak perubahan dari semester sebelumnya, hanya saja saya dapat merasakan perlahan tapi pasti sosialita-sosialita yang sempat membuat saya muak mulai mencair. Kita mulai melebur menjadi satu. Mungkin dikarenakan di kelas kita mayoritas wanita sehingga akan lebih mudah memasuki celah-celah sosialita itu jika dilakukan oleh wanita juga. Apapun caranya, saya mulai menyukai kita. Kita mulai banyak menghabiskan waktu bersama. Entah belajar bersama, sholat bersama, kongkow tak tentu, foto-foto konyol sampai membuat video yang acapkali kita lakukan di gedung pascasarjana tak jauh dari gedung Psikologi baru. Diakhir semester sempat diadakan tamasya –ihhh… waww!!- ke Ragunan dimana saya tidak ikut karena banyak alasan. Yang mana dan terutama… I hate animals!!!

Semester empat… Kursi panas masih diduduki Astrid Febry Nurdiani. Sepertinya peraturan pemerintahan seperti layaknya presiden yang dapat dipilih dua kali berlangsung saat itu. Pada semester ini sistem pemerintahan mulai diberlakukan. Nama Afif Mustafa, Ardelin Ayu Primythasari, Arini Nur Haque, Asmasarih Dewi Mandiri, Bahtiar Hanafi S, Endang Laksanawati, Laras Santoso, M. Ahfadh F, Maulida Disa Pratiwi, Mega Amalia, Nurul Khoirunnisa, Nurul Aini, Puri Novianti, Putri Lenggogeni, Ridwansyah, Rina Wulandari, Saiful Bakhri, Septi Aininur dan Teddy Dj Kurniawan menjadi tangan-tangan Kepala Suku di kelas.

Good job… Saya suka dengan keteraturan ini…

Keteraturan bukan peraturan.

Setidaknya kita tak perlu terlihat seperti anak ayam kehilangan induk meski kita masih kehilangan sosok PA. Hahaha… Semakin hari saya merasa kelas ini semakin kompak, loyal, dan yang paling penting, mulai terlihat adanya ikatan emosi. Perubahan yang baik. Sesuatu yang terlihat berubah namun tidak mengubah satu pun dari kita. Kita tetap menjadi kita dalam satu kotak baru yang saat itu hingga kini disebut dengan betheone (Bd1).

Pada semester ini pula lagu dengan judul ‘Be The One’ rampung di tangan MEALODREAM!!!
Sampai akhirnya semester empat berakhir dan pencarian tumbal baru –seperti itulah saya menyebut pemilihan KM setiap semesternya- dimulai. Saya –dengan sangat jujur- tak pernah membayangkan apalagi berharap menjadi tumbal berikutnya. Namun pada realitasnya, kenyataan berkata lain. Sepertinya saya tak sempat mengintip Lauhul Mahfuzh yang Allah tulis sejak jaman Azali, dimana Allah telah menetapkan bahwa pada semester lima nanti saya akan menjadi seorang prefek. GUBRAK! GLUDUK… GLUDUK… GLUDUK… GEDEBUG!! JEDUK!

Hahahaha… Saya merasa mereka yang memilih saya sangatlah salah-salah pilih!!

Apa yang dapat saya berikan pada mereka? Apa yang membuat mereka percaya kepada saya?
Saya adalah seseorang yang sibuk dengan dunia saya sendiri. Saya lebih suka berjibaku dengan benda mati dan tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar saya. Saya adalah seorang K-M dengan kecenderungan egois, asal ngejeplak, tidak sabaran, pemberontak, dan saya bukanlah sosok yang dapat peduli, care, dan segala bentuk sikap juga perasaan yang saya tuliskan tadi bukankah menunjukkan bahwa saya tidak pantas??

Saya adalah penonton, bukan pembuat film apalagi playmaker dalam sebuah pertandingan. Saya lebih suka bekerja di belakang layar dan saya tidak suka menjadi sorotan apalagi pusat perhatian sebagaimana yang terceplak di jidat para prefek selama ini. Tapi dalam sekejap sebuah keputusan mengubah semua itu. Mengubah ‘ke-AKU-an’ saya.

Dan kini enam bulan berlalu… Saya ingin mereview apapun yang telah saya lewati sekaligus apa kejadian yang telah saya lalui bersama mereka.

Dimulai dari ketakutan saya yang sebenarnya justru itu adalah bentuk arogansi saya yang tidak mau menerima bahwa semester ini adalah tanggung jawab saya berada di kelas dengan sebuah nuansa yang berbeda. Sampai saya terlibat perdebatan alot dengan ex-KM yang saat itu ‘seolah’ menantang saya untuk terus berjalan atau kabur kayak pengecut. Panas juga rasanya ditantang kayak gitu. Ditambah sebuah kata-kata dari ex-KM yang lain yang intinya mengatakan… ‘Saya belajar untuk tidak memindahtangankan amanah dan bertanggung jawab atas apa yang telah dipercayakan kepada saya sekalipun itu akan banyak menghabiskan waktu saya…’

Well, saya tidak akan lari… TIDAK AKAN LARI…

Saya mulai merombak struktur kepengurusan yang sebelumnya dengan struktur kepengurusan baru yang berpegang dengan nama-nama yang telah masuk dalam pemilihan calon KM via SMS. Saya ingin mengulas semuanya dimulai dengan mereka yang saya sebut dengan ‘Malaikat Pembawa Kabar Buruk’ a.k.a PJ mata kuliah. Saya urutkan dari hari Senin hingga Kamis..

Islam dan Psikologi…
PJ mata kuliah ini adalah Amalia Ulfah a.k.a Amal. Sejauh ini tak banyak kekagetan yang terjadi pada mata kuliah tersebut selain handout yang sulit didapat dan kontroversi pengumpulan tugas kelompok yang sempat terjadi. Sang dosen –bukan masalah sih- yang sempat mendapat tugas ke Aussie membuat kita sempat terluntang-lantung dengan presentasi yang hanya dari kita, oleh kita dan untuk kita… Yang saya ingat pada mata kuliah ini adalah foto bersama Pak Mujib dengan berbatik!! Batik Days!!! Mata kuliah ini adalah satu-satunya mata kuliah di semester ini yang tidak menerapkan UTS dan UAS tertulis!

Psikologi Agama…
PJ mata kuliah ini adalah Amalia Kusuma Putri a.k.a Amel. Saya merasa cukup merepotkan sang PJ akibat tugas jurnal dimana kita harus mengumpulkan sebuah softcopy, dua buah hardcopy, sebuah translate dan sebuah resume jurnal. Itu belum termasuk sang PJ merapikan semua jurnal-jurnal tersebut lalu menjilidnya dengan hard cover untuk perpus dan dosen tentunya. Satu hal yang saya ingat dari PJ mata kuliah ini, ia mengingatkan saya bahwa kita sangat bersusah payah mentranslate buku Psi.Agama (dan buku in English lainnnya yang disebut buku Bangke! Hahaha) dan semua itu ada harganya. Yang tidak pernah dilupakan adalah saat-saat presentasi dimana presentator akan tegang jika ‘beliau’ hadir. Dan entah kenapa, pada mata kuliah ini kita tak banyak berkicau.

Akhlak Tassawuf…
PJ mata kuliah ini adalah Nurul Khoirunnisa a.k.a Icha. Awalnya saya menganggap mata kuliah ini hanya mata kuliah yang menuh-menuhin SKS alias tak banyak berguna. Alasan pertama, kita bukan sufi. Alasan berikutnya tak jauh dari mata kuliah yang bikin ngantuklah, terlalu sianglah de el el. Yang lambat laun sang Dosen membuka mata kita dengan sebuah pencerahan yang sangat mengena di sini. Terutama tentang ‘mobil parkir dan mental playgroup’. Yang sekarang justru membuat saya berharap beliau akan kembali mengajar kita di mata kuliah berikutnya. Yang saya ingat dari PJ mata kuliah ini adalah sebuah kasus tentang ‘JAM 3’. Hari dimana saat itu kita tampak sebagai pemberontak yang KEREN! Hehehe..

Psikometri..
PJ mata kuliah ini adalah Rina Wulandari a.k.a Rina. Baru menuliskan mata kuliah ini saja sudah membuat saya cengengesan *cengar-cengir tak jelas*. Kalau diingat mata kuliah ini sungguh mengharu biru! Wakakak.. Tak terhitung *lebayyy* berapa kali kita berkasus disini. Dimulai dari LCD yang tidak bisa menyala, mengcopas tugas yang dikerjakan bersama sampai petang dan membuat saya sempat disapa ‘olehnya’ selepas maghrib, gosip sana-sini yang membuat saya tertawa lepas, komentar-komentar di facebook, miscom yang mendadak membuat bete sang PJ juga kita. Dan mata kuliah inilah yang menutup kabinet saya dengan sebuah kasus pemberontakan konyol yang berakar dari sebuah notes di facebook. Sekali lagi, saya merasa kita sungguh PEMBERONTAK yang COOL dan SANTAI!!! I LOVE BD1!!!

Metodologi Penelitian II…
PJ mata kuliah ini adalah Ardelin Ayu Primythasari a.k.a Adel. Berbulan-bulan jadi PJ mata kuliah ini, Adel pantas aja dinobatkan sebagai PJ tergahol dan tersantai!! hehehe… Saya akui mata kuliah ini cukup menguras hati, fisik dan psikis. Tidak etis juga kalau saya jabarkan seberapa besar penderitaan kita pada mata kuliah ini *lebayy lagi*. Sampai saya pun sempat mengatakan bahwa saya sakit hati pada mata kuliah ini atas ketidakkonsistenan yang pernah ada selama berjalannya KBM. Tapi PJ-nya pasti lebih sakit hati daripada saya. Bukan begitu, Del?? Hohoho.. Sesulit apapun yang kita hadapi pada beberapa bulan di kelas ‘neraka’ *upppsss*, toh dengan kekuatan bulan dan gotong royong serta tolong menolong, pada akhirnya kita melewatinya dan saat itulah kita –saya tepatnya- merasa satu ikatan sudah terlepas dalam hidup saya. HORE!!!

Psikologi Kepribadian I..
PJ mata kuliah ini adalah Asmasarih Dewi Mandiri a.k.a Ade. Satu-satunya PJ mata kuliah yang selama 5 bulan masa jabatannya tak pernah membawa kabar buruk akhirnya memecahkan telornya sendiri dengan sebuah kabar buruk ‘BESOK PRESENTASI LANGSUNG 3 KELOMPOK YAA…’ yang sampai di telinga eh inbox SMS saya pada pukul 20.00 dan membuat Nurul Khoirunnisa, Rina Wulandari, Teddy Dj Kurniawan, Astrid Febry Nurdiani, Arini Nur Haque dan Yushi Widya Pramita selaku kelompok yang akan berpresentasi kelabakan dan bekerja keras hingga keesokan paginya. Meski begitu –banyak diantara- kita yang menganggap mata kuliah inilah yang paling MENEMPEL pada semester ini. Memang menurut saya mata kuliah ini menarik dan tak banyak menuntut. Bahkan mendekati akhir perkuliahan Bu Rena malah mencabut tugas terakhir yang sebelumnya telah tercantum di silabus. SENANGNYA!!!

Psikodiagnostik Observasi…
PJ mata kuliah ini adalah Putri Lenggogeni a.k.a Putri. Hal yang paling berkesan pada mata kuliah ini adalah kenomadenan kita akibat kurang cakapnya koordinasi di akademik. Yang membuat saya mengeluarkan sumpah serapah dalam hati atas kelas yang terus disabot hampir di setiap minggunya. Tak terhitung berapa kali kita harus mengais kelas padahal seharusnya kita mendapat kelas yang tetap. Membuat saya dan Putri berulang kali naik turun tangga mencari kelas yang kosong. Belum lagi LCD yang kerap bermasalah. Beruntung dosen mata kuliah ini adalah sosok yang sabar –terutama menanggapi kita yang kadang tak terkendali-. Seingat saya, hanya pada mata kuliah ini kita terlibat perdebatan yang cukup alot dan keras. Dan saya akan sangat merindukan saat-saat itu...

Psikologi Eksperimen…
PJ mata kuliah ini adalah Puri Novianti a.k.a Puri. Saya akan mengatakan bahwa pada mata kuliah inilah saya benar-benar merasa kuliah. BENAR-BENAR KULIAH! Merasa tertantang dan ditantang. Sesaat kita seolah terbagi dan terpaku hanya pada kelompok-kelompok kecil dimana pada kelompok itulah kita membuat sesuatu yang tak biasa dari mata kuliah lain. Sebuah penelitian eksperimen! Sesaat juga saya merasa mata kuliah ini hanya memporak-porandakan kita saja. Setiap saat yang terlihat kelompok.. Kelompok… Dan kelompok. Seperti kembali ke semester satu. Namun pada akhirnya saya kembal ke satu titik… Semua ini tidak akan mengubah kita… Semua ini hanya sesaat. HANYA SESAAT! Dan saya pun ikut terbawa di detik-detik 5 Januari 2010 yang mendebarkan itu. Ketegangan yang diakhiri sebuah apresiasi.. YIPPIE!!!

Psikodiagnostik Wawancara…
PJ mata kuliah ini adalah Laras Santoso a.k.a Laras. Mata kuliah yang juga tak banyak menuntut. Kita diberikan tugas membuat video, PP dan juga makalah sesuai topik yang telah dibagikan –Itu mah banyak juga ya??? Hahaha-. Tak banyak kesulitan -kecuali UAS yang berasa TOEFL English- di dalam perjalanan mata kuliah ini. Hanya sedikit sandungan yang tak jauh berbeda dengan mata kuliah lain seperti kelas disabotase, LCD error de el el yang tidak terlalu memeras otak saya. Tayangan video menjadi satu hal yang paling ditunggu setiap mata kuliah ini berlangsung. Yang tak pernah saya lupa adalah sebuah kejadian rutin yang terjadi setiap kali mata kuliah ini berlangsung. Setiap minggunya… Dari rentang waktu 10 menit sebelum azan zuhur hingga setengah satu, secara ‘ajaib’ pintu ruang kelas selalu terbuka dengan sendirinya dan itu selalu membuat kita menoleh secara bersamaan pula! Ihhh… WAW!!!

Berikutnya, saya ingin mengulas PJ yang lainnya…
Maulida Disa Pratiwi dan Arini Nur Haque sebagai PJ absensi juga Septi Aininur dan Maria Zakiah sebagai bendahara kelas. Saya merasa bersalah kepada mereka karena pada kenyataannya saya tidak selalu mem-back up catatan harian absensi juga laporan keuangan yang telah mereka lakukan setiap harinya. Entah apa yang terjadi dengan saya. Saya ternyata cukup berantakan dan terlalu terfokus dengan PJ mata kuliah yang hampir setiap harinya meng-up date kabar terbaru yang lebih sering Bad News-nya. Hehehe

Endang Laksanawati, Suci Indah Triedna dan Larassofi Iqlima sebagai PJ fotocopy. Dengan ketiga PJ ini saya juga kurang berkontribusi. Saya jarang menanyakan apa masalah yang mereka hadapi dalam menjalankan tugas tersebut. Mudah-mudahan sih tidak ada masalah berarti. Sekali lagi… Saya melewatkan sebuah tangung jawab.

Ridwansyah sebagai PJ LCD. Satu-satunya pria dalam kepengurusan ini. Mungkin juga tak banyak masalah dan sang PJ sering ketiban pulung kalau teman-teman lupa dengan jadwal pengambilan LCD. Semoga Ridwan menikmati tanggung jawabnya selama beberapa bulan terakhir ini.
Saya ucapkan banyak terima kasih kepada ketujuhbelas rekan saya di atas. Mohon maaf kalau selama ini saya banyak mengatur, menuntut, bawel, dan banyak kesalahan lainnya. Saya ingin mengatakan hal yang sama dengan apa yang saya tuliskan via SMS waktu itu…

Semua ini DARI KITA… OLEH KITA… UNTUK KITA…
KITA = BE THE ONE

Kepada ketujuhbelas rekan Bd1 yang lainnya.Yang tetap berkontribusi banyak dalam kepengurusan ini. Mohon maaf karena tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Terima kasih atas kesediaannya menjadi tangan-tangan saya (terutama bagi PJ LCD). Semoga semua ini tetap berjalan sesuai apa yang kita harapkan.

Kepada ketiga ex-KM Bd1.. Bahtiar Hanafi S, Teddy Dj Kurniawan dan Astrid Febry Nurdiani yang selama ini cukup saya repotkan dalam diskusi-diskusi kecil menyangkut kelas. Ketiga orang diataslah yang cukup menjadi beban saya pada awalnya. Saya takut merusak apa yang telah mereka jalani selama dua tahun terakhir. Apa yang telah mereka bangun dengan pelan namun pasti. Saya takut merusak konstitusi yang sudah mereka jalani dengan baik dan kompak ini. Dan alasan terbesar dari ketakutan saya dikarenakan bagi saya, kelas ini bukan sekedar kelas.

Kelas ini adalah keluarga..

Kelas ini adalah kumpulan hati, emosi, obsesi dan juga ekspresi yang begitu meluap-luap. Yang mana saat itu saya merasa tidak pantas memimpin sebuah keluarga yang begitu hidup. Bahkan mungkin terlalu hidup dalam hidup saya yang sebenarnya juga sangat hidup. Hehehe..

Saya senang bekerja sama dengan teman-teman saya… Saya bangga menjadi bagian dalam Bd1..

Maaf… jika selama ini masih terdapat banyak kekurangan, belang-bentong sana-sini..

Maaf… jika saya belum bisa memberikan sesuatu seperti yang teman-teman harapkan. Saya berusaha mencoba semampu saya. Melewati batas dari apa yang saya bayangkan akan dapat saya lakukan dan beberapa bulan yang telah terlewat adalah bentuknya. Semua itu memang bukan aktualisasi tertinggi yang saya miliki, namun itulah yang telah saya beri dengan hati, bukan lagi arogansi. Saya sungguh menikmati detik-detik itu…

Kini…

Selamat atas terpilihnya Amalia Kusuma Putri sebagai Kepala Suku Bd1 ter-gress. Apapun caranya… Kita percaya pada dirimu, Mel…!!! Hehehehe

SEMANGAT!!! I LOVE U FULL, BD1!!!

Hompimpa Alaihum Gambreng!!!

Sebut saja kita ini adalah para wanita terindah hasil randomisasi kelompok kelas pada mata kuliah Psikologi Eksperimen. Terbentuklah kelompok 2 (saya baru menyadari bahwa kami kelompok 2 setelah hampir dua bulan kelompok ini terbentuk. Hahaha). Dimana kami diharapkan melakukan sebuah penelitian dengan bobot nilai tertinggi 35% yang juga dijadikan sebagai nilai UAS!! Oh my… Allahu Akbar!! Hehehe

Kelompok Expe ini terdiri dari saya (Aisyah Ning Asih) a.k.a aish yang sangat lucu (semoga yang baca nggak muntah!!), yang kadang kala suka menghilang saat teman-teman berkumpul karena berbagai alasan menyangkut kelas, organsasi dan kelompok mata kuliah lain. Saya yang sering dijadikan ‘tumbal’ untuk berdiskusi dengan kakak-kakak mentor. Yang kalau kata anak-anak kelompok, kalau nggak ada saya, kelompok ini nggak jalan-jalan. Ya iyalah, kalau jalan-jalan kan nggak kelar-kelar. Ngerjain tugas kan sambil duduk dan ditemani tumpukan buku. hehehe

Dewi Susanti a.k.a Diwe sang pencari sekolah untuk Expe, pengaduk-aduk Point Square untuk mencari VCD Dora dan tukang belanja makanan buat Expe. Entah apa kompensasi yang ia berikan kepada kepala sekolah hingga memberikan jalan yang mulus bagi kita semua. Cieeee… yang bakal magang akibat kompensasi expe. hehehe

Eka Rahmawati a.k.a Eka yang juga nyariin sekolah yang tadinya mau kita jadiin pilot study tapi kagak jadi mengingat waktu yang semakin menjepit namun tugas-tugas lain semakin membebani kita. Dia yang suka bingung mau ngapain kalau lagi ngumpul.Yang penting mah ngumpul, Ka… Ngapainnya nggak usah dipikir… Ntar juga jadi. Hehehe..

Laras Santoso a.k.a Laras adalah biang kerok dan penggodok tawa dalam kelompok ini. Jangan tertipu dengan wajah polosnya karena dibalik itu semua tersimpan sesuatu yang luar biasa sarap! Hahaha.. Biar ngocol-ngocol gitu, kalau orang-orang di dalam kelompok udah pada stuck, dia bisa nyeletukin sesuatu yang ujung-ujungnya adalah solusi walopun diceletukin dengan cara yang agak ‘maksiat’ alias jail. hahaha

Larassofi Iqlima a.k.a Mbip merupakan pasangan sarap dari Laras. Nggak tau kenapa mereka berdua itu kayaknya dilahirin untuk memprodsuksi eh memproduksi tawa. Kalau Larasnya udah capek ngelawak, pasti gantian deh nih orang yang ngelawak. Begitu juga sebaliknya. Dan kalau mereka berdua sarapnya barengan, alhasil kita kelamaan ngelawak daripada ngerjain tugas.

Nurul Khoirunnisa a.k.a Icha yang paling rajin diantara kita semua. Icha yang paling rajin ngingetin ngerjain tugas. Paling rajin nyari bahan. Paling rajin diskusi sama senior. Paling rajin ke perpus. Paling rajin memberhentikan tawa kita karena kelamaan ketawanya dan penyebar virus rajin ke Lipi. Pokoknya Icha tuh yang paling rajin deh. Hahaha

Rina Wulandari a.k.a Rina sang pembawa kue. Dikarenakan ibu Rina jago membuat kue, Rina juga didaulat mengurusi konsumsi. Rina yang paling sering nyari bahan dari google. Rina itu yang paling sabar. Kalau kita pada nyeleneh, Rina senyum-senyum aja. Tapi Rina pernah bandel juga saat bersama dengan gue dan Mbip lagi kumat isengnya. Cerita selengkapnya akan dikupas pada pembahasan selanjutnya.

Bagi saya Expe seperti hidup dan mati. Mata kuliah yang tak hanya membutuhkan IQ, tapi juga EQ dan SQ. IQ jelas penting, mengingat kalau salah satu dari kami moron atau Idiot, dapat dipastikan hanya akan menyusahkan yang lain. EQ, lebih penting karena semester 4 kita tidak hanya disuapi makul expe tapi juga makul lain yang nyaris membuat otak meledak. Dan EQ dibutuhkan untuk menjaga stabilitas mood, adaptasi tak hanya antar teman sekelompok tapi juga pada AKADEMIK dan pihak sekolah yang akan kita eksperimen. SQ, tak kalah penting menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta. Banyak-banyak berdoa semoga penelitian ini berjalan dengan baik dan lancar. Bisa dibilang kita rada parno dan sempat berucap, “Nggak muluk-muluk sampai 35%, 30% pun udah makasih banget sama Allah…”

Beberapa hal yang sempat terekam tak pernah mati selama kurang lebih 4 bulan lamanya dengan para wanita terindah tersebut:
1. Makul ini membuat saya menginjak LIPI untuk pertama kalinya. Dapat saya katakan, kelompok saya yang paling sering menginjakkan kaki ke LIPI. Paling banyak dari anggota kelompok ini mungkin 3-4 kali, sedangkan saya baru 2 kali. Tapi paling tidak, kelompok 2 yang paling sering mengingat kelompok lain tak banyak yang melakukan hal yang sama.

2. Kelompok 2 beberapa kali sempat mengganti judul penelitian. Judul pertama yang dibuat pada saat jam makul Expe berlangsung itu kalau tidak salah adalah ‘Pengaruh Jarak Tempuh Kuliah Antara Mahasiswa Yang Ngekost Dan Tidak Terhadap Prestasi Belajar’ yang langsung mendapat sambutan hangat dari sang mentor, “Kalian mau buat eksperimen dengan nyuruh mereka yang biasa ngekost naik angkot pulang pergi dan yang nggak ngekos terus ngekost?”… Amplop!!! Dodol sangat tuh judul. Untung aja belom ke publish sampai ke Bu Yunita dan anak-anak Bd1 yang lain. Langsung aja kita ganti dengan judul lain yang saya lupa judulnya apa. Kalau nggak salah judulnya berbau-bau –sok make- Anova gitu soalnya ada tingkatan IV tentang kata mudah, kata sedang dan kata sulit. Entahlah… Kalau saya boleh sok inget kayaknya ‘Pengaruh Perbandaharaan Kata Terhadap Kemampuan Berbahasa Pada Anak Usia Dini’.Pokoknya seperti itulah garis besar judul kedua kita seperti itu deh. Dan hal bego kita lakukan pas kita nentuin apa yang dimatching atau diblocking. Kita (kecuali Icha secara dia yang paling waras di kelompok ini) malah sok-sokan niruin kata-kata tertentu dengan logat Batak, Ambon, Bali, Jawa, Tegal, Solo, Sunda, Padang, dll, untuk mencari tau apakah jenis suku menjadi sesuatu yang harus di blocking?? Dodol…

3. Mendekati weekend –setelah Expe hari Kamis usai-, Icha ngajakin ke LIPI. Saya yang belum pernah kesana menyambut antusias. Saya sempat ngotot-ngototan kalau Sabtu LIPI tutup tapi kenyataannya buka. Duhh… Bikin malu aja sama Icha. Hehehe… Kalau tidak salah pertama kali ke LIPI hanya saya, Icha dan Laras aja. Saat itu Icha dan Laras menemukan IV-IV baru (tapi yang saya ingat hanya satu) yaitu, Metode Pembelajaran Jollyponic’. Saya yang tak mengerti hanya mengangguk-angguk dan berharap Lasa-Icha benar-benar mengerti apa itu si Jolly-jolly karena saya sama sekali tidak mengerti. Parahhh…

4. Satu minggu sudah ‘Pengaruh Metode Pembelajaran Jollyponic Terhadap Kemampuan Bahasa Terhadap Anak Usia Dini’ resmi menjadi judul kita. Kita mulai mengumpulkan bahan-bahan yang berujung… BATAL! Seminggu lamanya, 50% dari kami -termasuk saya- tak mampu menguasai materi tersebut. Kami pun memerah otak mencari judul –lebih tepatnya IV- pengganti yang sekiranya dapat kita gunakan namun tanpa mengurangi rasa hormat terhadap bahan-bahan lain yang telah kita kumpulkan.

5. Berpikir… Berpikir.. Berpikir.., dengan berbagai gaya (yang dapat saya pastikan hanya Icha seorang yang gayanya masih layak disebut orang normal) mulai dari duduk, berdiri, terlentang, telungkup, split (khusus buat Mbip. Hahaha), Kaki di kepala, kepala di kaki (yang ini lagu Peterpan), akhirnya lahirlah sebuah judul baru. Dengan bangga kita persembahkan judul sebagai berikut, ‘Pengaruh Tayangan Dora The Explorer terhadap Kemampuan Berbahasa pada Anak Usia Dini’. Yippieee!!! Ini sih gancilll!!!

6. Mulailah kami merumuskan titik permasalahan –saya heran, kenapa laporan penelitian dalam bentuk apapun selalu mencari masalah-, menyusun laporan dengan mencari data dan instrumen yang dibutuhkan. Sempat kita mengganti judul menjadi ‘Pengaruh Tayangan Dora The Explorer terhadap Kosakata Bahasa Inggris pada Anak Usia Dini’. Saat itulah kita menyadari bahwa film Dora itu hanya sedikit menggunakan kosakata yang kita butuhkan. Belum lagi kebanyakan film Dora dengan banyak vocab ternyata full in English. Dengan santainya Mbip sempat bilang ‘Udah, kita kasihin subtitle aja..’. Rina pun mulai mengcopy film Dora. Selama film dicopy, seperti biasa kita sibuk bergosip, foto-foto dan bertingkah gaje di dalam perpus yang ujung-ujungnya Rina berkata, “Filmnya nggak bisa dicopy!” Ohh.. My… Padahal gampangnya, harusnya dari awal kita nggak perlu ngopy untuk ngasih subtitle karena anak usia dini itu belom bisa baca. Hehehe

7. Karena perpus fakultas yang memiliki waktu operasional sangat cepat, akhirnya kita berpindah ke dalam salah satu kelas. Dalam kelas itu, yang saya ingat ada kelompok 5 (Ade, Amel, Arini, Nuni, Fitri, Puri, Arki, Nino) yang juga mengerjakan Expe dipojok ruangan. Ada juga Acid, Ridwan dan Eda dari kelompok 3 Expe yang entah mengerjakan apa. Kalau nggak salah Acid ngerjain Metlit, Eda ngerjain Psi.Agama. Ada juga Gusti dari kelompok 4 Expe yang juga sedang mengerjakan tugas kelompok bareng Eda dan Ade. Juga Babe yang gaje dah tuh orang ngapain di kelas. Di kelas, kita mulai menyambungkan koneksi via internet demi membuka situs yang mencari flm Dora.

Terbukalah pameran laptop di kelas. Lepi Mbip, Diwe, Laras dan Icha terbuka. Laras, Mbip, Rina dan Icha bergantian membuka youtube mencari-cari film. Ridwan, Eda dan Babe telah menghilang dikarenakan Jum’atan. Tinggallah kami para wanita berjibaku dengan tugas-tugasnya. Hingga tiba saatnya Laras dan Eka yang berhadapan mencari film, Entah apa yang mereka –ditambah Acid- lakukan hingga terkikik geli di depan layar. Hingga akhirnya Laras mencetuskan grup baru bernama xxxxx Grl! Hwahahahaha… SARAP!!! Saya hanya bisa tertawa sambil nungging-nunging mendengar celetukan polos Laras yang terkena bujuk rayu jin macam Eka dan Acid. Walopun sebenarnya Laras pasti pemilik andil terbesar atas terbentuknya nama kontroversial tersebut. Piss, Ras… ahaha

8. Sejak saat itulah genk xxxxx girl itu mendunia di Bd1. Mulai tercipta lagi lebel lain macam papan PxxxGxxxxxN, TxxPxxKx, KxMPxS, de el el… Semua berawal dari searching film kelompok kita. Haduhh… Namun kabar baik diatas kenakalan kita diatas adalah… Berjodohnya kita dengan sebuah film yang dapat mendukung penelitian kami yaitu film ‘Lets learn English blablabla..’ yang sialnya tidak bisa didonlot. Hiks… Karena itulah weekend kita penuh dengan ketegangan. Kita harus mendapatkan VCD itu! Hidup atau Mati! Hahaha… Masing-masing dari kita terus mencari VCD tersebut bagai Ghostbuster mencari hantu sampai akhirnya Rina membuat tag via FB yang menyatakan bahwa ia menemukan VCD Lets Learn English Vol.2 tersebut di Giant dekat rumahnya… Ohhh mayyy gooottt!!! Kita pun menarik napas lega dan dapat tidur dengan tenang.

9. Hari-hari berlalu dengan kami yang menyusun laporan dengan judul baru, ‘Pengaruh Tayangan Film Kartun dwibahasa (Inggris-Indonesia) terhadap Perbendaharaan Kata pada Anak-anak Awal’ diiringi sikap-sikap labil, panggung sandiwara, video gaje dan foto-foto narsis dimanapun kita berkumpul. Nggak keitung apa dan berapa celetukan yang bisa buat perut sakit dan pembaca mungkin sudah bisa menebak siapa pemberi stimulus dari kegilaan kita ini. Duo nama kembar itulah otak dari segalanya.

10. Mangapa kelompok ini disebut dengan Hompimpa Alaihum Gambreng??? Itu dikarenakan banyak hal. Kita selalu menggunakan hompimpa saat melakukan berbagai hal seperti membuat surat, membagi tugas bahkan menentukan kelompok kontrol dan Expe. Pokoknya sementok-mentoknya menggunakan hompimpa. Hehehe

11. Tibalah saat-saat penelitian.. Saya, Rina, Eka dan Diwe yang rumahnya nun jauh di mato, direlakan menginap di kosan Icha-Laras juga kontrakan Mbip, Yushi dan Eva. Malam saat mengnap itulah saya, Mbip dan Rina melakukan kejahilan pada Icha yang sampai sekarang Icha tak menyadari bahwa tengah kita jahili. Malam-malam kita emang belom ngecek LCD sampai akhirnya Icha ngingetin. Ohhh mayyyy Gooott!! Lupa euy.. Kita pun beranjak mencoba LCD tapi bilang sama Icha kalau kita udah pada ngantuk dan mau bobok. Dan itu membuat Icha agak kalang kabut. LCDnya memang sempat tidak menyala dan malah kita jadiin latar buat foto-foto, namun akhirnya muncul Pahlawab Bertopeng dengan wujud Ridwan (Makasih banget, Wan!!) yang bersedia datang ke apartemen pada jam 11 malam dan membuat LCD itu menyala dengan terang benderang! Hore!!!

12. Tertidurlah kita dengan sebait doa nan tulus semoga Allah memudahkan penelitian kita juga kelompok 5 pada esok hari. Kita bangun pagi-pagi… Berangkan dengan taksi disaat mentari belum menampakkan wujudnya dengan sebuah doa yang baik. Mbip sama Eka sempet-sempetnya minta restu nyokap masing-masing pas di dalam taksi. Dan sesampainya di sekolah tersebut… Kita menemukan masalah baru. Kita lupa bawa speaker. Kembalilah Diwe ke rumahnya untuk membawa speaker dan penelitian berlangsung dengan semestinya. Biar kata peneltan berlangsung selama 2 jam, kelakuan anak-anak bocah itu suksesmerontokkan badan juga suara kita. Alhamdulillah, semua dilewati dengan baik..

13. Melewati tahap menelitian, kita mula menggodok hasil penelitian dengan H2C yang sangat besar. Saya dan Icha yang ketiban tugas menganalisis hasil berusaha menenangkan diri. Yang lain melengkapi bahan kajian teori demi suksesnya penelitian kita. Berhari-hari penuh diskusi dengan sesama Bd1, juga mentor membuat laporan penelitian kita selesai tepat waktu. Uhuy!!! Sempat ada accident kehilangan surat penelitian yang berujung saya, Eka dan Diwe ‘membantu’ Pak Yordan merapikan berkas-berkas surat di akademik demi mendapat copyan surat penelitian kita. Oh, No!

14. Untung tak dapat diraih tapi malang sempat ditolak, pada 4 Januari 2010, tepat di har pengumpulan laporanpenelitian, kita menyadari sebuah kesalahan cukup fatal yang kita lakukan. Sebenarnya yang duluan nyadar tuh Rina sih. Hehehe… Beruntung laporan belum dikumpulkan ke pusat sehingga pihak akademik mengijinkan untuk merapikannya dan… jreng-jreng-jreng-jreng…!!! Selesai juga dalam waktu kurang dari setengah jam!!!! Kita kembali berkumpul untuk membahas pembagian tugas presentasi yang lagi-lagi dengan hompimpa!

15. Tepat 5 januari 2010, setelah semalam saya kebingungan menentukan jadwal kuliah Expe, presentasi kelompok dimulai. Kita kembali menyadari kekurangan -BUKAN KESALAHAN- kita pada laporan penelitian Expe kemarin. Selain itu, kita yang awalnya telah bersiap dengan pembagian per bab mendadak jengah saat mengetahui waktu presentasi yang diberikan hanya 10 menit dan presentator hanya seorang -paling banyak 2 orang presentator plus pengatur PP-. Sontak kepala anak-anak kelompok 2 mengarah pada saya. Saya aware, “Apa tuh maksud tatapan itu?”. Mereka cengengesan. “Yang maju elo aja ya???”… Wakwawww… Saya??? TERLALU! ITU SEMUA TIDAK MUNGKIN! *LEBAYYY!!!* Hahahaha… Semalam saya belum membaca apa-apa mengingat hasil hompimpa menunjukkan bahwa takdir saya mempresentasikan bab 5. Tapi kayaknya takdir itu hanya berlaku sampai tanggal 4 Januari usai karena kenyataannya 15 menit kemudian saya bercuap-cuap mempresentasikan hasil penelitian sendirian dan ditemani Mbip yang mengatur slide-slide presentasi kita. Menit-menit berlalu Bu Yunita akhirnya memberikan nilai yang cukup memuaskan 30%!!! Kalau diingat, seperti itulah doa kita sebelum memulai penelitian dan Allah menjawabnya. Saya makin girang saat melihat catatan yang penilai yang menuliskan bahwa presentasinya oke! Kita toast dan kegirangan seketika karena nilai tersebut tertinggi kedua dan menjadi hak milik kelompok 2 dan 3 dimana disana bersemayam Adel, Acid, Maul, Puri, Ratu, Eda dan Ridwan.

AHA! Usai sudah penelitian kita… Namun semoga bukan menjadi kerjaama kita yang terakhir. Tapi kita belum sempat celebrate mengingat setelah ini langsung UAS dan libur panjang… Hwaaaa… Pengen ke Blenger, PH atau KFC Petronas… Kemana kek, paling ujung-ujungnya hompimpa dulu.

Entah seperti apa Allah menuliskan jalanNya hingga mempertemukan saya dengan enam gadis beraneka rupa tersebut dalam satu kelompok…

Saya sangat menikmati masa-masa penelitian ini berjalan. Kebingungan, kebodohan, kelemotan, kecanggungan, ketakutan, kelelahan, ketegangan, kesenangan, kegembiraan, kepuasan dan berbagai perasaan yang telah bercampur aduk disini.. Semua menjadi satu momen tyang tak terganti juga tak terlupakan di semseter ini selain pengalaman menjadi KM juga pengerjaan tugas pada kelompok-kelompok pada mata kuliah lain. Notes ini ada karena rentang waktu yang saya pergunakan dengan mereka adalah yang terbanyak juga terpanjang jika dibandingkan dengan kelompok di makul lain.

Setiap kelompok pada makul memiliki kesan juga harapan. Tanpa bermaksud mengabaktirikan yang lain dengan membuat notes ini, saya sangat berterima kasih dengan semua teman yang telah bekerja sama dengan saya pada semester ini juga semester-semester sebelumnya. Semoga apa yang teman-teman lihat pada diri saya tidak membuat teman-teman bosan berkelompok dengan saya yang sangat lucu,baik hati dan tidak sombong ini…

Makasih untuk Acid, Rina, Arki, Nuni, Aat pada makul Psi. Islam…

Makasih untuk Mega dan Ipul pada makul Psi. Agama…

Makasih untuk Laras, Arini, Adel, Aat, Putri, Eda, Arki, Ipul pada makul Akhlak Tassawuf..

Makasih untuk Mbip, Ipul, Milcham pada makul Psikometri…

Makasih untuk Diwe, Icha, Eka, Laras, Mbip, Rina pada makul Metlit 2 dan Expe…

Makasih untuk Indah - Gusti pada makul Psi. Kepribadian…

Makasih untuk Adel, Arini, Puri, Yushi, Janu, Rahma, Nino pada makul Pd. Observasi…

Makasih untuk Yushi, Amal, Ratu pada makul Pd. Wawancara…

Makasih untuk semua member Bd1…

Selamat bertemu pada kelompok-kelompok selanjutnya!!! Cheeerzzzz!!! ^,^

Sulung

Gak tau kenapa mendadak pengen ngebahas tentang posisi gue dalam keluarga. Gue persembahin ini untuk sekedar bacaan ringan dan jangan dimasukin dalam hati karena gue nulisnya juga nggak dipikir alias asal ngejeplak dan mungkin akan merubah pandangan temen-temen gue tentang gue. Gue nggak sebaek yang lo kira, Guys! Hehehe... Hanya curahan hati seorang cewek yang 18 tahun menjadi si sulung. Hohoho...

Gue adalah si sulung dari tiga bersaudara. Gue memiliki dua adek, cewek-cowok. Dan seperti kebanyakan si sulung di luar sana, menjadi anak tertua bukanlah hal yang mudah. Tua bukan berarti sekedar usia yang lebih tua, bukan sekedar wajah yang berkeriput dan bukan sekedar mereka yang harus lebih dihormati.

Lebih tua menandakan kematangan sikap dan pola pikir meski itu tak mutlak. Karena banyak terlihat di sekeliling gue menyalahartikan maksud kata tua –dalam usia- tersebut. Banyak yang merasa lebih hebat daripada yang muda –gue pun sempat sombong seperti itu-, banyak menganggap sebelah mata bagi mereka yang usianya jauh atau relatif sebaya dengan kita. Belum lagi kesenioritasan yang banyak terjadi si sekolah-sekolah dan kampus yang berakar dari gue kan lebih tua daripada lo. Jadinya lo harus nurut sama gue. Padahal –sekali lagi- tua bukan sekedar masalah waktu.
Sulung... Berarti menjadi anak pertama dalam posisi urutan kelahiran dalam keluarga. Satu hal yang bisa buat gue bangga –walaupun sebenernya picik banget dan sama sekali nggak ilmiah gue ngebanggain hal ini-, menjadi sulung berarti pertama untuk segalanya. ‘Produk’ paling gres hasil kerjasama yang baik antara dua insan manusia yang saling mencinta. Wakakak...

Beberapa fakta yang gue ambil langsung dari gue dan sekeliling gue –terutama guelah!- baik positif maupun negatif (ini gag mutlak dimiliki anak sulung, gue sekedar sharing kalo ini tuh baek [kalo emang dianggap baek] dan jeleknya gue):

Gue tipikal orang yang gag mau kalah. Kalo adek gue dapet piala dari lomba apa gitu, gue pasti pengen dapet piala juga dari lomba yang lain. Kesannya gue mungkin nggak mau kalah, tapi satu sisi yang ada dalam pikiran gue. Kalo adek gue bisa kenapa gue nggak?! Itu jadi semacam motivasi pribadi buat gue. Toh, ujung-ujungnya tetep harus gue yang selalu ngalah ngedepin adek-adek gue.

Terkadang gue menganggap gue otoriter. Atau bisa juga dibilang Bossy!! Apa yang gue pengen ya sebisa mungkin jadi. Gue nggak suka dibantah apalagi sama adek-adek gue sendiri dan kalo pun gue salah, selalu ada jalan yang –secara ajaib- membuat apa yang gue anggap benar itu akan menjadi benar. Gue juga heran kenapa bisa begitu... Feeling, maybe... Tapi terkadang gue sempat berpikir kalo itu salah satu bentuk menipulasi dan cara mempengaruhi yang gue lakukan agar orang lain ngikutin gue. Oke, manipulatif identik dengan licik. Tapi untuk hal yang satu ini, gue mengklaimnya dengan cerdas. Gue nggak –bukan belum- pernah menyalahgunakan amanah dan kepercayaan. Amin... semoga seterusnya kayak gitu karena gue nggak mau belajar jadi buaya. Hahaha

Gue adalah seseorang yang cukup bertanggung jawab –kalo nggak bisa dibilang sangat bertanggung jawab, tentunya-. Bukannya narsis, untuk yang namanya tanggung jawab, gue berani untuk ngomong kalo gue-lah anak Ayah-Bunda yang paling bertanggung jawab. Gue yang nggak pernah ngeluh setiap ada tugas kuliah yang buat gue tidur jam 3 pagi dan jam 7 udah sampai kampus yang beda provinsi sama tempat tinggal gue (lebai...). Sampai-sampai di semester kemarin secara mengejutkan Ayah minta gue beberapa hari bolos kuliah gara-gara gue hampir selalu pergi pagi pulang malam, ngalahin jam kerja orang kantoran. Gue selalu ngumpulin tugas kuliah tepat waktu, rajin belajar (hahaha bullshit mode:on). Gue nggak pernah ngerengek nyari pembelaan tiap ada ribut-ribu ama temen-temen gue (Semua gue selesein sendiri, dengan cara gue! Ya iyalah! Kan ini masalah gue, ngapain juga orang lain ikut campur.)

Buat gue, tanggung jawab kayak harga mati dari eksistensi gue. Apa sih tanggung jawab anak yang baru beranjak menjadi dewasa awal macem gue?? Kuliah yang bener sukur-sukur berprestasi, bertanggung jawab atas diri sendiri, jaga nama baik keluarga, apa lagi??

Paling beresin kamar sendiri, ngurusin dan nyimpen barang-barang tanpa perlu ngegerecokin bonyok gue lagi dengan pertanyaan “Ibu, liat nggak dimana jaketku yang lengannya kepotong sebelah?”, atau... “Ayah, tau nggak dimana kaos kaki Kakak yang gambar Spoongebop?”
Plisss deh… hari gini gue masih nanya pertanyaan kayak gitu??? Belum tentu juga ayah gue tau siapa itu Spoongebop, Patrick, Thomas c Kereta Api (gue kenal mereka semua itu juga dari sepupu-sepupu gue yang berumur -10). Hehehe

Monggo yang mau nambahin tanggung jawab macem apa yang harus diemban seorang yang beranjak menuju dewasa awal ini... Kita sharing lebih banyak lagi.

Tanggung jawab semacam itu seharusnya bukan tekanan buat gue dan kalo sampai gue nggak bisa ngelakuin sendiri... Berarti eksistensi gue sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah belum tercapai alias malu-maluin banget hidup gue.

Hehehe.. opini berikutnya gue dapet dari mulut adek gue sendiri. Hahaha... Terkadang kalo gue udah sebel karena kemauan gue nggak dituruti adek-adek gue, mulai dah keluar ancaman-ancaman gue. Ancamannya sifatnya konyol sih, kayak kadang gue bilang gini sama adek gue.

“Gue bilangin temen lo lho kalo lo masi disuapin ...” –padahal kadang gue juga disuapin-

“Awas lho, ntar gag gue temenin ke belakang…” –secara adek gue takut ke kamar mandi sendirian.

“Awas aja kalau gue punya komik baru gag gue pinjemin deh.” –Childish abis gue!-

“Eh, semalem kan gue liat ada bayangan item noh di deket kamar lo…”

Dan ancaman lain yang akhirnya buat adek gue menuruti gue. Padahal kalau gue pikir, ancaman gue tuh norak dan basi banget! Huaahhh… Padahal akhir-akhir ini gue baru aja dapet masukan segala hal yang baik-buruk dalam menghadapi anak. Gue tau kalau semua itu nggak baek tapi tetep aja nggak sadar gue lakuin. Emang rusuh bet gue jadi kakak.
Gue suka geli ngeliat salah satu iklan susu versi kakak-adek yang lagi belajar puasa. Si Kakak jail banget ngerjain Adeknya tentang apa aja yang nggak ngebatalin puasa kayak nggak boleh nangis, makan angin dan ngeluarin angin alisa eh alias kentut. Tapi tetep aja si Adek menganggap Kakaknya tuh panutan dan minta terus diajarin walaupun Kakaknya jail banget. Emang yang namanya karisma seorang kakak kadang nggak bisa dibantah ya?

(Gue yakin para Adek nggak setuju sama steatment gue ini. Hehehe.. Piss)

Berikutnya, gue mau flashback mengingat persahabatan 5 remaja awal dimana semuanya adalah anak pertama alias sulung. Yang mau gue share…

Kalau 5 orang ini lagi berantem agak susah untuk menunggu salah satu yang mau ngalah, keras kepala semua, sulit banget untuk bilang maaf, dan jaga gengsi. Batu! Tapi satu yang paling terasa di sini… Semuanya punya satu kepekaan untuk ngelindungi satu sama lain. Gue paling nggak suka kalau ada yang nyakitin temen gue, ada yang ganggu temen gue. Mungkin klasikal, tapi kalau gue tau temen gue nggak salah tapi disakitin, gue mau ribut buat temen gue. Mungkin memang secara naluri berusaha melindungi. Hahaha
Seperti itukah salah satu karakter sulung?? Cuma mereka yang merasa anak sulung yang bisa merefleksikan pada diri mereka sendiri.

Hal lain yang terkadang buat beban ya… jaga sikap. Semua orang memang harus jaga sikap tapi nggak tau kenapa, apa yang gue lakuin pasti dicopas ama adek gue dan berujung gue juga yang kena omel bonyok gue.

Gue suka tidur malem, gue juga sering keluar malem, gue suka kelayapan sesuka gue, nginep dan gegilaan di rumah temen gue atau kelayapan di jalan sekedar nongkrong sampai pagi (tapi tetep dengan ijin bonyok) dan sialnya adek-adek gue suka banget make kata-kata, “Kakak aja boleh keluar malem masa adek nggak?”, “Kakak aja boleh nginep masa aku nggak?” dan blabalbla… yang akhirnya buat gue mendapat SP, “Kurangin keluar rumahnya, Kak. Adek jadi ikut-ikutan tuh!”

Tapi dibalik semua obsesi gue yang amit-amit itu ada hal-hal yang buat gue berpikir ulang. Gue nggak pernah pengen bikin persaingan ama adek-adek gue untuk selalu jadi yang pertama meski gue tetep nggak mau kalah (tetep…!!!). Apa yang bisa gue dapet dan gue capai ini nggak ada artinya kalau gue nggak bisa ngasi sesuatu yang positif buat adek-adek gue.

Rasanya gimana gitu –kayak ada yang nabok- pas adek cewek gue ngomong gini, “kenapa sih Adek nggak bisa jadi Ketua Osis kayak Kakak?”

Ini terjadi sehari dia mengikuti pencalonan OSIS karena gue dan adek cowok gue pernah dikasi amanah untuk berada di posisi 3 Dewanya OSIS. Malem sebelumnya, gue ngeliat adek gue usaha banget buat kepilih. Mulai dari bikin pidato visi-misi sampe latian baca pidatonya hingga tengah malem yang entah kenapa gue temenin juga dia latian orasi walopun terkantuk-kantuk. Dan saat gue tau adek gue nggak kepilih, gue ngerasa gagal gitu jadi kakak. Nggak tau gue terlalu sensi atau lebai tapi emang itu yang gue rasain. Rasanya apa yang gue dapet beberapa tahun lalu nggak ada apa-apanya pas tau gue nggak bisa dukung adek gue sampe adek gue bisa jadi apa yang dia mau. Gagal ya gagal.. Gue gagal jadi kakak…

Dan pertanyan adek gue buat gue mikir ulang. Gue bisa menarik beberapa hikmah menjadi si Sulung yang terkadang tertekan dengan peraturan tidak tertulis di sekitarnya. Saat gue ada di posisi adek gue beberapa tahun lalu, gue nggak perlu ngarasa kebeban dengan pemilihan seperti itu. Gue nggak mikirin, ‘Kakak gue bisa dan gue juga pengen seperti kakak gue, Kakak gue inilah… itulah… dan lain sebagainya’. Sama sekali gue nggak kepikiran hal kayak gitu. Gue ngelewati pemilihan OSIS berikut pidato-pidatonya dengan santai, nggak mikir apa-apa bahkan spontan alias gue pidato ya pidato aja langsung pas disuru pidato. Modal gue saat itu ya gue dan skill yang gue punya. Nggak kayak adek gue yang udah meres otak bikin ViMis dan latian tapi yang di dapat nggak seperti yang diharap.

Kegagalan adek gue ya berarti kegagalan gue! Keberhasilan adek gue berarti keberhasilan gue! Keberhasilan gue juga keberhasilan adek gue! Tapi kalau kegagalan gue ya berarti gue yang gagal. Hehehe

Apa yang udah gue dapet selama ini, kebanyakan itu tanpa pernah gue harap. Ya terjadi begitu aja. Anggaplah niat gue cuma nyelesein tantangan yang dikasih sama gue. Gue nggak merebut peluang atau menjemput bola tapi menerima peluang dan bisa dibilang bola udah di tangan gue dan tinggal gue membuat keputusan untuk terus menggenggam atau pelepaskan bola tersebut. Sebenernya statis, tapi justru kebanyakan seperti itu yang terjadi. Kalau gue bisa lewatin sukur, kalau nggak ya udah, berarti gue belum mampu. Gue akan dan terus belajar dari semua kegagalan gue. Dan nggak tau kenapa, gue anti nolak tantangan. Nolak berarti kalah sebelom perang. Saia tidak suka itu. Hoho..
Kadang juga gue ngerasa jahat banget dengan segala yang udah gue capai selama ini karena kadang secara nggak sadar bonyok gue suka ngompare gue sama adek-adek gue kayak gini:

“Mas, ikut paskibraka juga dong biar kayak Kakak..”

“Mas kuliahnya harus yang pinter ya… Kakak aja nggak pernah jelek.”

“Adek nggak boleh males ah, kalau males gimana dapet piala kayak kakak”

“Adek harus bisa juga lulus ujian kayak SPMB kakak ya..”

Kakak… Kakak.. Kakak terus…!!!

Oh God… Gue tau rasanya dibandingin dan itu adalah hal paling memuakkan yang pernah gue dapet. Kadang gue pengen says sorry sama adek-adek gue karena secara nggak langsung ngebebanin mereka –kalau mereka kebeban. Kalau nggak ya sukur..-.

Gue manusia biasa.. Kadang ada rasa bangga jadi pembanding bukan sebagai yang dibandingin tapi tetep aja itu nggak fair. Gue seseorang yang menuntut keadilan yang setinggi-tingginya. Tapi gue yakin nggak ada orang tua yang sengaja ngompare anak-anaknya untuk ngejatohin. Insya Allah ada niat baik di sana. Amin..

Tuh, bahasan gue jadi melenceng jauh gini dah…
Menjadi anak tertua membuat gue harus lebih dewasa dalam bersikap. Lebih sabar menghadapi adek-adek gue –bahkan nggak jarang juga sih gue meledak-, lebih tenang saat Ayah-Bunda gue berpesan macam-macam yang kadang tak sesuai dengan keinginan gue, dan yang lebih penting membuat gue lebih mandiri.

Not bad-lah menjadi si Sulung. Setiap posisi selalu ada baik dan buruk. Sama kayak uang yang memiliki dua sisi. Dunia ini masih terjadi hukum keseimbangan. Yin dan Yang.

Dan semua tergantung individu yang menjalankannya...
Udah lama gue simpen tulisan itu dan sekaranglah saatnya gue persembahkan uini untuk mereka si ‘Sulung’ dengan berbagai karakter yang entah gue juga nggak bisa nebak… Kita share disini ya… hehehe