Friday, February 13, 2009

Kontroversi Perempuan Berkalung Sorban?? Penting ya???

Sebenernya udah lama gue pengen ngebahas film yang akhir-akhir ini jadi kontroversial. Lebih tepatnya beberapa saat setelah gue meninggalkan bangku H11 di 21, 23 Januari 2009 lalu. Setelah Si Jago Merah menjadi film Indonesia yang menutup tahun 2008 –karena setelah film itu, gue sama sekali nggak nonton film Indo tapi film luar mulu- film Perempuan Berkalung Sorban –PBS- menjadi pilihan gue untuk menjadi tontonan di awal tahun ini. Eh, nggak pertama juga sih secara sebelomnya beberapa film sempet mampir di depan mata gue cuma ya itu… film luar mulu. Tapi daripada gue nonton film Indo laen yang gue yakin mutunya di bawah PBS atau film luar yang di bioskop itu hanya ada Twilight yang udah gue tonton 2 kali di dua bioskop yang berbeda dan nyatanya nggak ada perubahan dari segi gambar, suara maupun pemaennya kecuali tempat duduk gue –ya iyalah! Secara pas nonton di PH gue dapet tempat paling bawah, udah gitu pojokan lagi! Baru deh pas nonton di PIM gue dapet tempat pewe! Hehehe- mendingan gue nonton PBS. Gue nonton nih film sama si Adhut, secara siapa lagi temen gue yang hari gini bisa diajak menggila kalo bukan dia? Kalo jalan sama temen RRG, B’d1, atau Glatto, gue lebih milih nonton film luar dah. Lagian anak-anak juga lagi pada sibuk. Kalo ama Rangers-rangers baru kita nasionalis walopun nontonnya juga selektif.
Awalnya gue sempet garing juga milih nonton film beginian. Itu pendapat gue sebelom tuh film mulai. Tapi berhubung yang ngegarap Hanung Bramantyo –yang cukup memuaskan gue tiap kali gue nonton film-filmnya-, gue yakin nih film nggak ngecewain.
Menit-menit pertama gue nonton nih film, paradigma gue seketika berubah. Gue interest banget sama nih film. Apalagi film ini mengangkat PEREMPUAN sebagai objeknya. Bukan berasa narsis karena gue juga cewek, tapi di sini gue bisa liat ketegaran, ketabahan, kesabaran, dan ke-ke-ke-an lain perempuan yang gue yakin belom tentu sosok laki-laki bisa lakuin. Piss, Bro!
Bukan juga mau lebai, tapi gue tersentuh sama film ini. Gue rasa cowok gelo yang saat nonton duduk di sebelah gue juaga tersentuh secara nih cowok bukan tipikal player seperti kebanyakan temen cowok gue. Dan buat gue PBS jauh lebih oke dari pada AAC. Hohoho… -berarti di catatan gue film Indo yang pertama paling oke tetep Petualangan Sherina, AADC, Tusuk Jelangkung, Gie, Laskar Pelangi, PBS, baru deh AAC. Abis itu baru berderet film-film lain di belakangnya.-
Seperti biasa… film-film Hanung selalu ada Hanungnya –teteeeepp…-. Buat gue dari sisi karakter, pemainnya dapet banget. Pas! Nggak lebai kayak banyaknya film Indo yang muncul akhir-akhir ini. Nggak lagi-lagi dah gue nonton film yang majang banyak pemain –terutama PELAWAK!- yang nyatanya nggak mengeksplor kemampuan mereka di film itu. GARING! NGGAK LUCU! JAYUS! Dan sarapnya, yang banyak ditonjolkan justru sisi seksnya padahal menurut gue hal-hal seperti itu justru ngerusak film. Hanya buang-buang duit dan ngabisin roll film ditambah ngabisin waktu orang-orang di LSF. Sampe saat ini, untuk film komedi masih hasil karya Hanung dkk yang gue percaya. Yang bisa bikin ketawa secara alami. Contoh aja Jomblo, Get Married, Tarix Jabrix, Si Jago Merah dll. Yang laen mah bisanya majang muka pelawak segambreng tapi isi filmnya nggak banget. Nonsense… Norak! Kalo ada yang punya satu kata laen yang bisa menggambarkan kalo tuh film amat sangat jelek banget! Kapok gue nonton film begituan. Kebanyakan nggak mendidiknya tapi maksa ketawa biar gue nggak ngerasa rugi banget beli tiketnya. Dan tanpa bermaksud memperbandingkan dengan AAC, buat gue, PBS jauh lebih baik. Setiap pemainnya mampu menghidupkan karakter yang mereka mainin. Sampe gue bisa ikutan sebel sama bokap, kakak-kakak dan suaminya si Annisa. Padahal sebenernya gue demen banget mantengin Reza Rahadian yang jadi pemeran suami pertamanya Annisa di FTV atau pas dia lagi jadi host. Hehehe.. Hanung selalu mampu mengkaryakan pemain yang sedikit namun berbobot.
Sedangkan dari sisi cerita… Bukannya gue mau ikutan buka aib atau mojokin pihak pesantren dan segala macam rupa isinya. Gue emang bukan anak pesantren tapi udah dari jabang bayi gue dididik dalam lingkungan yang Islami. Kalo nggak bisa dibilang religius banget yaaa… religius okelah…
Dari kecil gue diajarkan pelajaran agama. Shalat, puasa, berbuat baik, segalanya! Saat masih di Denpasar, setiap maghrib diwajibkan mengaji di Masjid. Setelah pindah ke Jakarta pun –justru- gue menimba ilmu agama di sebuah TPA dan TQA. Itu berlangsung selama 6 tahun. So, bukan maksud sombong dengan gue mengatakan gue bukan orang yang buta agama. Terutama Islam. Agama gue. Gue mau jadi seseorang yang mengerti agama bukan sekedar stempel yang tertulis di KTP gue doang.
Begitu banyak kontroversi yang terjadi mengenai penayangan PBS di bioskop-bioskop buat gue mau nggak mau ikutan ikutan mikir dan mengeluarkan argumentasi gue sebagai salah seorang yang udah nonton PBS. Ada yang bilang tontonan tsb menyimpang, sesat, tak layak, membodohi masyarakat, memperburuk citra Islam, merusak nama baik pesantren, menyinggung pemuka agama Islam berikut santriwan-santriwatinya.
Anehnya… Kok gue nggak merasakan hal yang sama ya???
Dari alur cerita, pesan moral yang gue dapet, sampai spirit yang gue rasain saat gue mulai nonton –terasa banget kalo film ini dibuat dengan hati, bukan emosi-, menikmati sampe tersenyum puas di akhir film, gue nggak menangkap sinyal-sinyal yang mengarah pada sebuah kesesatan.
Oke, dalam film ini memang ada beberapa adegan yang cukup keras jika disebut dalam sebuah film berlatar agama Islam yang begitu mengagungkan perdamaian dan kebaikan. Tapi adegan-adegan tersebut diperuntukkan untuk menunjukkan kesalahan-kesalahan yang terjadi di beberapa pesantren yang –mungkin- hingga kini masih saklek seperti itu. Dalam hal ini, gue nggak pukul rata. Hanya beberapa pesantren yang seperti itu. Selama gue menjadi bagian dalam TPA dan TQA, gue belajar tata cara beribadah, bergaul, bersikap dan segala hal yang bertujuan memperbaiki akhlak bukan sebaliknya. Dalam film ini pun tak hanya menunjukkan letak kesalahan tapi juga memberikan feedback apa yang seharusnya dilakukan dengan kesabaran, keikhlasan dan kepasrahan kepada Allah. Bukan semata-mata kesalahan tanpa penyelesaian. Hehehehe… Agak aneh juga kenapa gue sampe segininya berargumentasi demi PBS. Sebenernya bukan demi PBS tapi demi apa yang gue coba yakini setelah sekian lama gue ikutan nonton berbagai perdebatan di TV maupun radio tentang PBS. Gue mencoba menyuarakan suara hati gue aja yang nggak sependapat dengan mereka yang merasa tersinggung. Gue sedih denger mereka –yang merasa tersinggung dll- berpikir sempit seperti itu. Menganggap semua kesalahan ada pada film ini. Menganggap diri mereka PALING benar, PALING mengerti, PALING tau tanpa mencoba menelaaah dari banyak sisi. Islam membuat umatnya berpikir cerdas bukan picik. Islam agama yang indah dan penuh seni. Islam agama yang penuh toleransi. Islam agama yang maju. Gue bukannya sok tau, sok paling ngerti atau sok-sokan apa kek. Gue tau diri kalo gue masih anak kemaren sore yang nyentuh angka 20 aja belom. Gue masih seorang Muslimah yang belom menjalankan ajaran Islam secara kaffah karena kadang sholat gue masih bolong, baca Qur’an nggak rajin, masih slengean, begajulan, dan nutup aurat juga belom beres –gue jadi buka aib gue sendiri kan??-. Tapi gue mencoba objektif menilai PBS dari banyak sisi. Nggak hanya satu sisi. Mereka nggak pernah riset apa ya??
Sekali lagi gue tekankan, gue menulis ini bukan untuk menjatuhkan berdirinya pesantren dan produk keluaran pesantren. Wong keluarga gue juga banyak yang jebolan pesantren tapi nggak sesaklek itu dalam pemikirannya. Salah seorang sepupu gue aja –Mas gue dah!- malah nyuruh gue kritis terhadap banyak hal yang terlalu konservatif sampai-sampai mengabaikan kebaikan kecil yang sebenarnya akan muncul jika saja kita mau sedikit kooperatif dengan segala kekonservatifan yang ada. Nggak semua yang berhubungan dengan pesantren itu PASTI baik. Ada beberapa oknum yang emang nggak mencitrakan Islam yang sesungguhnya meski ia adalah jebolan pesantren. Bisa dibilang, temen-temen gue juga banyak yang jebolan pesantren tapi NGGAK SEMUA dari mereka itu baik. Beberapa temen gue –yang jebolan pesantren- bisa dengan santai dan tanpa merasa bersalah nggak puasa pas Ramadhan padahal mereka cowok dan nggak mungkin kan kedatengan tamu bulanan?? Justru temen-temen gue yang bukan dari pesantren malah menjalankan ibadah Ramadhan dengan lebih khusyu’ dan sungguh-sungguh. Ada juga yang di Hpnya masih nyimpen foto dan video-video bokep, masih nyoba-nyoba miras dan main cewek. Ini fakta. Kenyataan yang gue dapet langsung dengan mata kepala gue sendiri bukan minjem dari mata orang laen. Kenyataan yang terlanjur melebur di sekitar gue. Di kehidupan gue yang naudzubillah deh kalo gue sampe terpengaruh sama yang beginian. Gue bukan orang baek secara mutlak tapi sebisa mungkin gue menjaga diri gue dari hal-hal buruk yang merusak diri gue –terutama agama gue-. Insya Allah… Gue nggak mau bikin malu agama gue.
Tapi ada juga temen gue yang jebolan pesantren yang sangat santun, sopan, pengertian, penyayang, duhh.., pokoknya segala bentuk kebaikan insya Allah dia lakukan demi agama, bangsa, dan keluarganya. Yang seperti ini yang gue jadikan contoh produk keluaran pesantren yang TOPBGT! Gue jadiin calon imam juga hayuk deh. Hahaha
Buat gue pribadi, dia jebolan pesantren atau nggak bukan suatu cerminan mereka pasti baek. Setiap manusia punya sisi dimana ia salah, lupa, khilaf. Dan di PBS itu, semua kekhilafan dipertontonkan plus dengan cara menyingkapinya. Manusia bukan Tuhan, bukan pula malaikat. Pernyataan-pernyataan yang mereka keluarkan di TV ataupun radio malah menunjukkan arogansi, keegoisan, dan sempitnya pola pikir cendikiawan yang seharusnya lebih memahami dan mendalami Islam. Dengan mereka mengeluarkan penyataan-pernyataan keras yang –bagi gue- malah menunjukkan… haduh… gue harus make kata apa ya yang lebih halus daripada bodoh –MAAF!-.
Kekolotan –nah, kayaknya make kata kolot lebih oke daripada bodoh- ini justru membuat gue –yang terhitung generasi muda- jadi males dan underestimate sama mereka yang memandang sesuatu hanya dari satu sisi. Jujur, gue malu denger argumentasi-argumentasi yang mereka keluarkan demi membuktikan apa yang mereka anggap salah itu benar-benar salah. Padahal nggak semua yang salah itu akan salah dengan mutlak. Semua yang ada di dunia ini masih berdiri dengan hukum keseimbangan. 50:50. Gue pun nggak menyalahkan mereka yang nyata-nyata masih menganggap PBS sebagai sebuah kesalahan besar. Mereka memiliki argumentasi sendiri dan begitu pula dengan gue.
Perdebatan PBS ternyata nggak hanya berlangsung di TV. Di ruang keluarga gue pun terjadi antara gue, Nduty –adek gue yang cowok-, Ayah dan Bunda. Ternyata bokap gue sama aja kayak mereka yang berkoar-koar di TV. Menganggap gue –si generasi muda, anak bawang, anak bau kencur, anak kemaren sore- yang kurang pengalaman dan nggak menghargai mereka yang lebih tua -yang bergelar Prof. XX, H. XX, Hj. XX, XX M.Ag, XX S.Ag- yang lebih dulu mengenal Islam berikut sendi-sendi juga dalil-dalil Al-Qur’an dan Haditsnya. Anak yang nggak tau apa-apa dan seenaknya berargumentasi macem-macem tentang Islam dan segala keindahannya. Hadddduuuuu… Ampun deh! Gue harus kayak gimana lagi coba?? Dengarkan aku…
Sekali lagi! Umur gue emang belom ada separuh umur Ayah-Bunda, tapi apa yang gue liat, yang gue rasa, yang gue alami, bertentangan dengan Islam yang selama ini diajarkan sama gue. Lingkungan ini hampir rusak oleh kejahiliyahan yang sadar atau nggak semakin merajalela. Mungkin bokap gue belom tau aja kalo anak jaman sekarang hampir semuanya brengsek –mungkin nggak terkecuali gue-. Jaman bokap gue remaja sama jaman gue puber aja masa remaja bokap gue udah kalah jauh tuh! Hehehe… Anak-anak jaman dulu mungkin baek-baek. Tapi kan nggak untuk yang sekarang dan mungkin yang baek itu yang keliatan aja tapi dalemnya busuk dan udah banyak belatungnya. Hiiiiiii… Untung aja diskusi ini bisa dibilang dimenangkan pihak pro PBS karena Bundaku dan Nduty juga berpikiran sama seperti gue. Yippppiiiieee!!!!!
Bukan gue nggak menghargai. Tapi mau gimana lagi kalo nyatanya segala argumentasi yang keluar tidak memiliki kekuatan absolut. Ya iyalah! Daritadi gue juga menganggap nggak ada yang absolut di sini. Semua masih bisa dibelokkan dan gue bukan orang yang anti mengakui kalo gue salah. Yang paling pasti di sini tuh, gue nggak berubah sholat subuh jam lima sore dan nggak sholat maghrib jam sembilan pagi. Gue nggak menyimpang jadi sesat abis nonton PBS. Gue nggak murtad abis nonton PBS. Gue nggak menyekutukan Allah abis gue nonton PBS dan gue nggak digampar bokap abis gue nonton PBS.
So, semua yang dikatakan sebagai kesalahan, penyimpangan, kesesatan, pembodohan, penghinaaan, keburukan, kemudaratan… kembali kepada pemikiran, pemahaman dan hati kita untuk menerima segala sesuatu dari segala sisi. Kembali kepada keimanan kita untuk terus menganggap Allah sebagai yang esa. Kembali pada keyakinan kita atas ajaran agama kita yang begitu damai, ikhlas, penuh kasih sayang, indah, dan menjanjikan keselamatan di dunia dan akhirat. Amin…

NB:
Gue nulis ini tanpa ada emosi negatif dan maksud menjelek-jelekkan. Ini adalah suara hati yang beberapa minggu ini terpaksa terpendam karena ada hal-hal lain yang harus gue prioritaskan lebih dahulu. Heee… So, gue menerima segala kritik dan saran atas apa yang udah gue ungkapkan ini.

Gue Nggak Keliatan?!

Hari ini gue ke kampus pake baju warna merah marun -tau dah tulisan yang bener kayak apa. Haha-. Sebenernya nggak ngefek dan nggak penting juga gue pake baju apa kalo ngampus. Sampe kejadian sore ini bikin gue ngakak sendirian di bus.
Seperti biasa gue pulang kampus tuh nunggu bus di Ps.Jumat. Kalo biasanya bareng si Arini ak.a bakpao sama Rina, hari ini gue cuma bareng Rina karena si Bakpao panda dapet tebengan temen gue yang kebetulan mau ke depok -daerah rumah bakpao-.
Rina yang naek Kopaja P20 mah langsung dapet tuh kopaja dan tinggalah gue sendiri merenung menunggu sang Prima!
Semenit, 5menit sampe 15 menit si Prima nggak muncul-munul! Yang ada deborah malah ngelewatin gue terus-terusan. Huff... Kalopun Bakpao bareng gue pasti ujung-ujungnya gue tetep sendiri!
Sampe akhirnya di menit ke-20 moncong Prima muncul juga.
HufF.. Di bangku pojok di bawah AC bener-bener nikmat! Di situlah tempat favorit gue di bus. Hahay!
Mulailah bus berjalan dan mendekati pintu tol sang kondektur narikin duit ongkos. Gue pun mengeluarkan cebanan saat ibu-ibu di sebelah gue membayar ongkos. Nggak lama si kondektur langsung ngeloyor pergi tanpa nagih ongkos sama gue. Dan sebagai pnumpang yang baek dan budiman, gue memanggil kondektur itu kembali.
Bukannya langsung nerima duit gue, dia malah ngomong gini, ’saya kira nggak ada orang, Neng. Habisnya si Enang nggak keliatan. Warna baju, jilbab dan duitnya sama kayak warna tempat duduknya.’
GUBRAK!!!
Antara tengsin, gondok ama geli, akhirnya gue milih cengengesan aja. Ibu-ibu si sebelah gue malah udah ketawa-katiwi nggak jelas. Dia pikir gue ngelenong apa?
SiauL!

Nggak Tau Harus Apa...

Gue sadar banget akhir-akhir ini isi blog gue kebanyakan nuntut, ngomong nggak jelas, sok idealis dan banyak hal lainnya –yang terkesan negatif-. Blog gue yang dulu –mungkin- bisa bikin ketawa, sekarang mungkin membuat orang-orang –yang baca- mengerutkan dahi dan bilang, ‘penting ya masalah kayak gini dibahas?’, ‘nih orang kurang kerjaan banget seh?’ dll. Hehehe… sadar diri bangat gue. Hahay!! Gue kembali narsis!
Gue sendiri bingung kemana kekonyolan, kegilaan, dan banyak katidakwarasan yang biasa menghampiri gue itu. Hidup gue masih ada canda, masih ada tawa, masih ada cela-cela jenaka dan masih ada hal-hal yang buat orang-orang ngakak kalo gue ceritain, tapi nggak tau kenapa tulisan-tulisan gue selalu balik ke persoalan yang akhir-akhir ini jadi tanggung jawab sekaligus kewajiban gue.
Gue kelimpungan sama masalah printil-printil di CPA. Secara CPA juga belom ada setahun dan kita juga masih minim pengalaman. Soal suratlah, proposal ditolaklah, birokrasi sekolah-sekolah yang sok eksis, sok penting, kurang kooperatif atau memang takut ketauan nyembunyiin koruptor?? Gue tau banyak kekurangan yang kami lakukan di sini tapi kami juga butuh kerjasama. Butuh bimbingan dari mereka yang lebih ngerti. Di luar itu gue salut banget sama semangat tahan banting dan kerja keras temen-temen gue yang udah rela capek ngurus semuanya. Gue tau ini saatnya kami sama-sama berjuang. Mencoba berdiri di atas kaki sendiri dan memperjuangkan ViMis kami. Gue tau temen-temen CPA nggak hanya sibuk di CPA dan gue menghargai setiap pertemuan yang pernah tercipta. Dari segala hal yang udah terjadi, yang perlu kita bina tuh ya kekompakan dan rasa memiliki terhadap CPA. Itu baru yang printil-printil. Khusus job gue… Hiks.. Gue juga masih kelabakan ngurus keuangan CPA. Duit kemana-kemananya gue ngerti, gue tau dan gue bingung bikin pembukuan secara anak-anak CPA nggak pernah ngumpul lengkap dan nggak bisa rajin-rajin gue tarikin duit kas. Gue percaya… Gue bisa naruh sebagian beban gue di sini…
Gue agak ribet dengan job baru gue di TC. Bingung kudu nyelesein darimana walopun sebenernya gue udah tau apa aja yang bakal gue kerjain. Kayak apa bentuknya dan semua hal itu gue mengerti. Semua file udah sama gue. Buku biru juga di tangan. Gue punya partner yang bantuin gue nyelesein Juklak. Gue punya kepengurusan yang –Insya Allah- solid dan saling ngisi satu sama lain. So??? So-toy… gue bingung!!!! Mungkin bukan kerjaannya yang bikin bingung tapi lebih kepada konsentrasi gue yang –saat ini- terlanjur terpecah.
Di saat bersamaan gue gabung dalam panitia jaket B’d1. Keliatannya simpel… Cuma jaket sekelas. 40 orang… Tapi kenyataannya??? Hal printil-printil pun jadi masalah. Jujur aja… gue kepikiran banget sama yang ini mengingat dana yang dibutuhin nggak sedikit, kita dikejar waktu, dan yang terpenting… Kebeban sama rasa takut ngecewain B’d1. Karena jujur… Nggak sepeser pun panitia nyatut duit anak-anak. Nggak sepeserpun kita minta ganti rugi atas apa yang akhir-akhir ini jadi beban mental panitia. Nggak ada dari satu pun panitia pengen ngeliat wajah kecewa B’d1.. Nggak ada satu pun dari panitia yang rela dapet hasil yang jelek atas kepercayaan yang udah B’d1 kasih… Nggak ada…
Di saat bersamaan gue masih mikirin hal-hal laen yang terlanjur mendominasi pikiran gue akhir-akhir ini. Yang buat gue mendadak gampang ketawa karena itu semata-mata untuk nutupin ketegangan yang sedang hot-hotnya di sini (GUBRAK! Hahay..). Untuk hal satu ini gue butuh temen-temen gue demi meredam apa yang sedang bergejolak di sini (ceileeee…. Gaya bener dah gue!).
Di saat bersamaan gue kepikiran permintaan reuni temen-temen SMP gue. Hadooohhh… Gue emang Ex-Ketua OSIS tapi bukan berarti gue juga kan yang harus jadi Ketua Panitia Pelaksana reuni??? Jujur untuk setahun ke depan gue masih bingung nyari selanya… Hayuuuuukkkk…. Temen-temen SMP gue yang bersedia jalan bareng merealisasikan acara kita hubungi gue ya… I Need U, Guys…!!!
Di saat bersamaan kepala gue ngingetin kalo makin lama gue makin banyak bikin salah sama temen-temen gue karena berulang kali mengundurkan diri dari acara, ngebatalin janji karena ada acara mendadak dan banyak alasan yang mengharuskan gue nggak menepati janji-janji gue. Wallahi.. Gue nggak maksud ingkar janji. Maaf.. Maaf… Bukannya janji-janji kita nggak jadi perioritas tapi ada hal lain yang menjadikan gue menganggapnya lebih prioritas. Sesuatu yang terlanjur jadi tanggung jawab dan kewajiban gue. Maaf…
Dari segala macam yang gue jabarkan di atas… buat gue cukup sadar kalo manajemen waktu gue masih berantakan!! Penempatan slot-slot memory di kepala gue kayaknya juga butuh tambal sana-sini.
Gue masih butuh banyak belajar…
Gue masih butuh banyak introspeksi…
Gue masih butuh pemahaman yang lebih untuk mengerti situasi (yang gue harap sih nggak menjadikan intelegensi gue menurun… hehehe)
Gue butuh mendisiplinkan diri gue lebih dari sebelumnya…
Mungkin sedikit keras terhadap diri gue nggak papa kali ya??? Hohoho
Gue masih butuh pengingat di kepala dan hati gue…
Aku selalu butuh Allah ada dalam setiap langkahku…

Tahun Demi Tahun...

Empat tahun lalu…
Dengan kotak sejuta mimpi, aku datang menghampirimu
Ku perlihatkan semua hartaku..
Kita slalu berpendapat, ’KITA INI YANG TERHEBAT!’
Kesombongan di masa muda yang indah…

Waktu bergulir demi tahun-tahun setelah berdirinya tanggal itu. Aku pernah menyatakan bahwa sahabat itu bukan kata tapi rasa. Tapi aku juga tidak dapat menerima kalau kata sahabat itu hanya ada di sebelah pihak dan sebelah pihak lainnya menganggap itu adalah sesuatu yang nothing. Aku tidak pernah mengerti kenapa aku bisa menyayangi manusia yang tanpa aku tahu apakah kata itu ada dalam hati mereka.
Suatu waktu seseorang dari mereka pernah mengatakan, ‘Selama gue belum mati, lo nggak bakal kesepian karena lo sohib gue yang terbaek’
Di waktu yang lain, mereka yang lain pun berucap, ‘Menurut gue itu penting karena itu pertama kalinya gue kenal sama sahabat-sahabat gue. Mungkin nggak semuanya ngganggap itu penting, tapi DULU Qta pernah nganggep itu penting kan? Terserah yang laen ngganggepna apa yang pasti gue cukup tau aja kalo ada 'KITA' di tanggal itu’
Dua kalimat itu buatku berpikir bahwa hati dan pikiran seseorang itu memang beda. Aku harus bisa menghargai itu walaupun terdengar cukup menyebalkan dan sangat sulit untuk kulakukan.
Mmm... Aku pun tak pernah menyesal untuk sekedar tahu bahwa apa yang aku lakukan selama ini memang tidak menghasilkan sesuatu yang maksimal. Yang membuatku tak bisa untuk lupa walau berkali-kali aku berusaha untuk itu.
Masih di tahun yang sama…
Pagi hari di atas sebuah sepeda motor yang melaju menuju sebuah gedung pemerintah, aku mendengarnya berkata, ‘Habis SMA lo mau kuliah dimana? Bareng yuk! Gue yakin banget kalo Qta nggak bareng, Qta pasti nggak akan pernah bisa ketemu lagi. SMP Qta udah bareng-bareng. SMA Qta pisah. Gue nggak mau kalo Qta jadi nggak bisa ketemu kayak gini’
Terucap lirih di bibir yang lain, ‘Gue sayang lo… Gue sayang kita…’
Damn! Semua itu sudah cukup membuatku yakin bahwa Mimpi itu masih ada… Masih sangat berarti walau diungkapkan dengan cara yang berbeda. Cuma satu dan paling bikin pusing. Apa salah jika saat itu aku begitu ingin berseberangan dengan mereka?

Tiga tahun lalu…
Aku slalu membanggakanmu, Kau pun slalu menyanjungku
Aku dan Kamu darah abadi…
Demi bermain bersama Kita duakan segalanya
Merdeka Kita… Kita merdeka…

Aku melewati satu malam yang menjadi anniversary Qta yang sempat tertunda. Jika di tahun-tahun sebelumnya selalu berada di puncak kejenuhan. Malam itu semuanya terbayar. Thank's GOD. The Biggest Spirit in my life. Ternyata benar apa yang pernah kubaca. Ada banyak jalan untuk menuju sebuah keindahan, sebuah kesenangan, sebuah kedamaian, sebuah kebahagiaan dan sebuah kenangan. Ini.... Akan selalu menjadi Sebuah KISAH KLASIK yang tak BERUJUNG.
Aku ingin bersama selamanya...
GOD... Ini memang kuasaMu. Mereka Engkau ciptakan untuk menjadi hikmah dari kemarahan panjangku. Bodoh sekali karena aku sempat meragukannya. Bodoh karena aku baru menyadarinya. Tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali kan??? Dan itu tidak sia-sia. Aku bersyukur bertemu mereka, Walau banyak kejadian buruk yang Engkau anugerahkan untuk Qta.
Doaku…
Allah... Dalam tiap langkahku, tiap waktu, doa dan sujudku.... Aku benar-benar berharap.... Selamanya mereka akan tetap menjadi Sabda Pendita Ratu dalam hidupku...

Dua tahun lalu…
Pegang pundakku jangan pernah lepaskan
Bila ku mulai lelah, lelah dan tak bersinar…
Remas sayapku jangan pernah lepaskan
Bila ku ingin terbang, terbang meninggalkanmu…

Di puncak sebuah gedung pertokoan aku dan dua orang sahabatku pernah membicarakan sebuah masa depan…
‘Sepuluh tahun lagi, kita kayak apa ya??’
Seorang temanku menjawab, ‘Kita akan sukses…!!’
‘Sukses seperti apa?’ tanyaku waktu itu.
‘Sukses…’ Sejenak pandangan kami tertuju ke bawah dimana kendaraan bermotor dan orang-orang berjualan berjalan hilir mudik, ‘sepuluh tahun dari sekarang… kita akan jadi manusia yang lebih bijak. Lebih dewasa…’
‘Sok tua lo!’ aku hanya tertawa menanggapinya. ‘tadinya gue mikir… gue mau cabs ke luar kota… Gue mau jauh-jauh dari lo-lo pada…’
‘Bagus dong! Gue juga pengen gitu’
Aku agak terhenyak. Memang apa yang diimpikan tak selamanya berjalan mulus. Toh pada kenyataannya sudah ada di antara kami yang harus pergi meninggalkan kota ini jauh sebelum pengumuman SPMB dikumandangkan.
‘Sebenernya yang gue pengen, minimal lima tahun ini diantara kita nggak usah ada yang ketemu. Jadi nanti sekalinya kita ketemu rasanya pasti berkesan banget!!’
Aku berusaha menelaah kalimat itu.
Sampai akhirnya tiba juga saatnya…
Kita memilih jalan kita masing-masing…


Setahun yang lalu…
Saat kau meratap, saat kau bahagia, ku ingin ada di sana…
Saat ku melangkah, saat ku berpijak, adakah kau bersamaku??

Saat itu hanya ini yang dapat ku tekankan…
PERSAHABATAN ADALAH CINTA YANG PENUH PENGERTIAN…

Hari ini…
Tak pernah Kita pikirkan ujung perjalanan ini
Tak usah Kita pikirkan ujung perjalanan ini…
Dan tak usah Kita pikirkan ujung perjalanan ini…

Tulisan ini gue buat bukan untuk satu sarang aisH… Tapi untuk semua sarang aisH…
Maaf kalo ceritanya lebih mendominasi ke satu sarang. Satu sarang itu ibaratnya ilustrasi.
Tapi jujur ini untuk kamu, Teman…
AKU BUTUH KAMU!!!