Saturday, August 27, 2011

Seberapa jujur telinga saya ;p

Judulnya berasa berat banget tapi yang akan saya bahas bukan sesuatu yang berat. Saya kembali ingin menuliskan seperti apa musik dalam hidup saya. Tiada hari tanpa musik itu rasanya seperti ada yang mengganjal. Bagi sebagian mereka yang nggak harus seumuran gue, musik itu kebutuhan. Beda selera itu lumrah, tapi musik tetap mampu berbicara dengan bahasanya.

Di tulisan saya sebelumnya, saya terkesan membela produk dalam negeri yang seringkali dianggap plagiat, copas, nggak original dan banyak alasan lain. Saya membela bukan berdasarkan atas musikalitas musisi dalam negeri kok, so, buat mereka yang ngerasa paling ngerti kayak apa musik yang bagus, silahkan aja dengan pendapatnya. Ini negara bebas kok.

Saya banyak dan masih mendengar banyak yang menutup telinga untuk produk lokal. Cuma kalo kelewatan, saya jadi gatel sendiri pengen komentar. Terserah merekalah. Mereka punya asumsi dan selera masing-masing. Saya hanya mau jujur dengan telinga saya. Dengan apa yang saya rasakan dengan musik lokal atau SLJJ. Hahaha

Di sisi lain, saya menghargai beberapa teman saya yang terang-terangan mengaku sebagai fans dari boyband dan girlband lokal. Di tengah asumsi abege labil yang dicap buat mereka -fans boy-girlband-, apresiasi tulus mereka sedikit banyak bikin saya tersentuh. Saya aja tersentuh apalagi musisinya ya? haha Selain itu, saya sering menantikan saat-saat berdiskusi panjang tentang bagaimana musik lokal berkembang. Kadang malah cengo sendiri kalau ada teman yang bercerita panjang lebar musisi-musisi baru yang wara-wiri di Dahsyat atau Inbox yang bahkan saya nggak pernah tau kayak apa bentuknya. Entah itu musisi pop, rock, R&B, dangdut, melayu, apa kek itu. Saya senang mendengarnya dan nggak jarang jadi ikut nongkrong di depan TV untuk ngeliat langsung.

Kuping saya juga nggak mentok cuma dengerin musik musisi lokal kok. Saya masih bisa meleleh dengerin musisi luar. FYI, saya lagi suka sama Paramore meski nggak tau semua lagunya dan sampai hari ini cuma hapal reff decodenya Paramore. Masih joget-joget sendiri tiap dengerin BEP. Saya suka Muse, Avril, LP, Evanes, dan masih banyak lagi dengan catatan, jangan suruh saya menyanyikan lagu mereka tanpa teks. Itu untuk musisi yang kebarat-baratan yaa..

Untuk musisi yang masih ketimuran, beberapa teman saya sukses bikin saya cengo saat melihat MV Tokyo Jihen walaupun jenis suara unik vocalisnya bukan jenis suara yang membuat telinga saya nyaman. Do As Infinity selalu berhasil merubah mood saya dengan beberapa lagu mereka. Waktu jaman-jamannya F4 lagi booming pun saya dan teman-teman menjadikan lagu-lagunya sebagai backsound parodi kami. Kalau sekarang sih, kuping saya lagi berteman baik dengan Super Junior.

Lagi-lagi karena dicekokin kenapa akhirnya saya suka SuJu. Awalnya saya mengerutkan kening saat diajak teman melihat salah satu potongan konser mereka. Saya pikir mereka adalah sekelompok lelaki unyu yang hanya bisa joget-joget. Tapi semakin lama saya menyadari, tanpa melihat para lelaki ini joget-joget, saya bisa menikmati musik juga feel dari setiap lagu-lagunya. Saya bisa menikmati hanya dengan telinga saya.

Ada cerita nih.. sebenernya udah pengen saya ceritain dari lama, cuma waktu itu males nulisnya.
Saat saya sama sekali belum tau seperti apa itu SuJu -boro-boro suka, ngeliat aja belom, nyari yang mana muka Siwon juga masih dengan otak pentium 2- salah seorang teman saya mengatakan hal ini pada teman saya yang lain yang katanya ELF.
Dia bilang gini, 'lo nggak ngerasa dibodoh-bodohin ya ngeliat cowok-cowok ini joget-joget nggak jelas gitu?' tanyanya di tengah-tengah teman-teman saya yang asyik menonton SuJu perform.
Saya lihat muka para ELF ini kaget dan gue rasa gondok dalam hati tuh.
Tapi salah satu dari mereka menjawab, 'yaaa gue suka, emang kenapa?'
Hahahaha saya ketawa saat itu juga..

Sori meeennn.. gue ko ngerasa temen gue yang bukan ELF itu jadi terkesan sempit ya?
Apa karena dia fans berat salah satu band legend? Atau karena keseringan denger lagu berbahasa Inggris dan dia nggak ngerti bahasa Korea? Atau dia lagi gak mood? Atau karena dia juga musisi dan ngerasa kesaing?
Ehh itu pertanyaan terakhir gue ya nggak mungkin bangetlah, terkenal sekampus juga belom.. hehe
Saat itu gue mikir dengan kepala yang sama sekali nggak tau SuJu macem apa. So, tolong dipahami bukan untuk membela. Ini sama aja rasanya rasanya kayak gue denger temen gue ngebashing musik melayu tapi tetep bisa nyanyiin minimal reff-nya.
kalo kata ERK di salah satu lirik lagunya, 'memang kuping-kuping Melayu suka mendayu-dayu' jadi lumrah aja kita suka musik melayu. Rumpun sendiri kok..

Yang saya suka adalah sebagian kecil teman-teman saya yang bisa dengan adil mengapresiasikan musisi lokal, barat dan timur dengan baik. Bukannya nggak ada ya? Masih banyak yang bisa cukup adil membagi dua telinganya untuk mendengar semua itu.
Gimana mereka masih bisa jejeritan denger suara Oom Duta dan Sammy Simorangkir, meleleh melototin Ariel tapi tetep ngerti kalau disuruh nyanyiin lagunya Secondhand Serenade, sekaligus teriak-teriakan bawain MCR dan bisa ikutan joget-joget sambil cengengesan kalau mendadak diputer lagu Bukan Bang Toyib juga bikin gue cengo karena mendadak nyanyiin First Love-nya Utada Hikaru di depan muka gue dengan lengkap.
Hal lain yang buat saya senyum-senyum sendiri adalah saat saya membaca, mendengar dan melihat reaksi teman-teman saya saat musisi favoritnya ternyata di'mirip'kan dengan musisi lain. Mereka malah tertawa dan mengatakan 'bagus deh.. saling mempengaruhi, dibuat kayak gitu ternyata bagus juga ya..'
Sekali lagi tangga nada hanya tujuh, yang membuat berbeda adalah not, tanda diam, kres, mol dan sebagainya yang dalam kamus saya, anggap aja improvisasi.
Beda perkara kalau ternyata memang plagiat yaaa.. tapi ada baiknya melihat dari sisi baiknya dulu..

Udah ah.. ngantuk..
Sori sori sori meeennn.. kalo saya tampak ngenye' dengan tulisan ini..
heran aja.. kadang gemes juga sih dengan komentar-komentar yang ujungnya jadi terkesan ngebashing satu sama lain. Padahal musik itukan nggak selebar daun kelor..
Ya nggak??

Dear, You!!

Entah sudah malam keberapa, apa kamu tau?
Aku tak sampai gila, tapi seperti inilah aku
Seseorang yang telah bertahun-tahun membuang waktu
Hanya untuk menunggu
Menunggumu, Bodoh!
Dan seperti inilah si bodoh yang menunggu si bodoh yang lain..

Aku memiliki banyak alasan untuk pergi dan mencari pengganti
Tapi kenapa aku tak melakukan itu?
Maaf, bukan tidak kulakukan tapi telah kulakukan
Dan kamu tau, aku gagal

Jangan besar kepala, itu bukan karna kamu lebih baik dari semua yang berada di sekitarku
Tidak!
Bahkan mungkin karna telah begitu banyak lelaki baik tapi tidak ada yang sebrengsek kamu
Tidak ada yang sebodoh kamu

Maaf, aku tak bermaksud mengatakanmu brengsek dan bodoh
Aku hanya merasa ini begitu menyebalkan
Mengapa harus kamu?
Mungkin akan lebih mudah jika itu bukan kamu

Kamu tau, aku telah berlari
Aku telah pergi
Tapi kenapa aku kembali?
Lagi-lagi membodohi diri yang kembali menanti

Satu alasan kenapa aku ingin lupa
Entah sejak kapan, kamu membuatku tak merasa
Itu gila!
Apa aku sedang jatuh cinta?
Hahahaha
Aku hanya bisa tertawa
Mungkin salah jika aku kembali menyangkalnya
Aku pun ragu sebenarnya
Kenapa kamu?

Kamu..
Ahhh bodoh!!!
Aku terjajah, apa kamu tau?
Aku telah membunuh begitu banyak waktuku untuk sekedar membiaskan auramu

Mengabaikanmu ternyata jauh lebih melelahkan jika dibandingkan dengan melepaskan Gaia tempatku berpijak
Padahal, kamu pasti tau bagaimana aku begitu mencinta dan memujanya
Seolah-olah hanya dia yang mampu membuatku jatuh cinta
Kamu bahkan tak ada apa-apanya saat itu
Tapi disaat aku tlah bisa melepaskannya, kenapa sekarang justru kamu?
Kenapa kamu?

Banyak yang mengatakan bahwa Tuhan memberikan apa yang kubutuhkan bukan apa yang kuminta
Aku tak pernah memintamu
Bahkan terpikirpun tidak
Tapi kenapa Tuhan membiarkan aku terus mengingatmu?
Membiarkan aku kembali bertemu denganmu
Kalau aku boleh bertanya, 'apa benar Tuhan melakukan itu karna aku membutuhkanmu?'
Itu pertanyaan bodoh!
Karna jika Tuhan tau aku membutuhkanmu, Tuhan tidak akan membiarkan kita bertemu dalam situasi dimana aku harus melihatmu bersama 'pasanganmu'

Lalu menurutmu ini apa?

Hei, jangan katakan aku tak berusaha
Aku telah begitu lama berusaha
Membiarkan lima tahunku terbuang sia-sia
Kamu pikir semua ini menyenangkan?

Sudahlah..
Kamu tau, aku akan lebih berusaha
Lebih dan lebih
Sampai akhirnya aku bisa benar-benar lupa

BUBAR!!!


Bubaran Bd1 @Pondok Indah Mall



Bubaran GlattoSplato plus 2 di RadjaGurame lalu berlanjut nge J.Co di Tamini Square

Bubaran Psikologi dan XL
Dari nongkrong gaje, buka di bus sampe nonton gretongan.. maknyuuuusssss


Masih ada sih beberapa foto bubaran yang belom sempet ke tag..
Dari bubaran sama anak2 Dubes, bubaran sama Power Rangers, Bubaran sama RRG, Bubaran plus akustikan.. bubaran apalagi ya?
Hahaha nanti lanjut deh yaaaa..

Thursday, August 25, 2011

#4

What if in a man that you love, you find a best friend instead of a lover

-AntologiRasa-

Thursday, August 4, 2011

Ini butuh jawaban

Semuanya berarti
Pernah dan masih berarti
Sebut saja seperti itu
Hidupku
Duniaku
Alam mayaku
Hingga mimpi yang menjadi bunga tidurku
Semua yang tersentuh jemariku adalah apa yang kini tak mampu terasa
Jalan pikiranku mulai menjadi pemburu yang tak mampu memburu
Kurasa aku mulai membunuh apa yang selama ini menjadi nyala
Mematikan apa yang sejauh ini telah begitu berwarna
Tapi apa?

Aku tlah menjadi kehabisan kata
Aku bermimpi tentang sebuah cerita yang akhirnya menjadi nyata
Aku bicara tentang sebentuk rasa yang kurasa, tapi tak satupun memiliki makna, setidaknya untuk mereka yang kupikir juga merasa
Aku bercerita seperti itulah 'aku' tapi ternyata aku berhenti karena itu bukan aku
Lalu apa?
Siapa?

Aku berhenti di saat semua tengah berlari dan aku masih berlari disaat semua berhenti
Aku menyakiti tanpa menyadari telah meninggalkan sesuatu yang berarti
Aku mencari dan menjauh dari semua hati
Aku menghakimi dengan pasti namun sekejap aku menyesali
Aku mempermainkan sesuatu yang seharusnya tidak kujadikan bahan taruhan
Kenapa?
Untuk apa?

Taukah Kau kalau pencarianku ini terlampau panjang?
Pertanyaanku juga tak kunjung mendapat jawaban..
Sekarang ketakutanku menjadi teramat melelahkan, Kau tau?
Bagiku ini bukan lagi sebuah beban..
Aku kehilangan, Tuhan..
Aku kehilangan..
Apa Kau tau??