Friday, February 19, 2010

Cerpen Gagal gW....

Bali di Hatiku

Hari pertama di Bali…
Siang ini langit begitu cerah. Pantulan cahaya matahari membentuk bayangan hitam yang mengikuti langkahnya. Panas. Aira mempercepat langkahnya mensejajari langkah Randy, kakaknya, yang telah berjalan lebih dulu dengan trolley yang penuh barang. Randy dan Aira disambut oleh Caca dan Dini, kedua sepupunya. Mereka berpelukan erat dan cipika-cipiki saking kangennya karena hampir satu tahun lamanya mereka tak bertemu. Kedua sepupu Aira ini menetap di Yogyakarta dan mereka telah berjanji menghabiskan waktu liburan mereka di Bali. Setelah melepas kangen, mereka langsung meluncur ke Jalan Legian daerah Kuta. Daerah ini merupakan kawasan yang banyak didatangi oleh wisatawan.

Disanalah monumen ‘Ground Zero’ berdiri. Monumen ini dibangun untuk mengenang korban-korban ledakan Bom Bali I yang terjadi 12 Oktober 2002 silam. Dari monumen ‘Ground Zero’, perjalanan berlanjut menuju pantai Kuta yang juga tak jauh dari bandara Ngurah Rai. Masih ada waktu untuk melihat keindahan sunset di pantai Kuta sebelum menuju rumah Eyang Soedibyo untuk beristirahat.

***

Esok… Esoknya… Dan esoknya… Aira, Randy, Caca dan Dhini terus berwisata ke berbagai tempat dengan satu hari untuk beristirahat sebagai selingannya. Mereka mengunjungi berbagai tempat mulai dari Tanah Lot yang menurut legenda pura di Tanah Lot ini dijaga sejenis ular laut yang memiliki ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan sangat beracun, juga menikmati kesejukan dan indahnya danau di Bedugul, menyusuri hamparan pasir di pantai Dream Land, bermain kano di pantai Sanur, mengunjungi Bali Art Centre, keluar masuk pusat perbelanjaan di sepanjang Jalan Sudirman dan Jalan Teuku Umar hingga berbelanja di pasar Sukawati.

Hari ini, Aira, Caca dan Dhini mengarahkan tujuan berikutnya dengan mengunjungi Garuda Wisnu Kencana atau yang akrab disebut GWK yang berlokasi di Bukit Unggasan. Randy yang lelah menemani adik dan kedua sepupunya yang super heboh berjalan-jalan memilih beristirahat di rumah Eyang Soedibyo. GWK sendiri merupakan karya masterpiece Bali, I Nyoman Nuarta. Patung tersebut berwujud Dewa Wisnu yang dalam agama Hindu adalah Dewa Pelindung yang sedang mengendarai burung Garuda.

Aira terkagum-kagum dengan apa yang tengah dilihatnya. GWK merupakan bukit kapur yang disulap menjadi keindahan yang patut disyukuri. Seniman-seniman Bali begitu berbakat dan terlatih untuk membentuk bongkahan-bongkahan bukit kapur menjadi tempat wisata yang menarik. GWK dapat dikatakan sebagai kota mini karena memiliki berbagai fasilitas di tanah seluas puluhan hektar. Dari atas, pemandangan pantai Kuta dan Jimbaran terlihat begitu indah. Saat ini GWK dikembangkan sebagai taman budaya bagi pariwisata Bali dan Indonesia.

Lelah berjalan diantara bukit kapur, Aira, Caca dan Dhini merasakan bunyi di perut mereka. Ternyata sudah waktunya makan siang.

“Kita lunch di café yang ada hotspotnya ya…” Pinta Aira pada Caca yang bertindak sebagai driver.

“Beres, Sist…” Caca mengacungkan jempolnya.

Mobil pun meninggalkan kawasan GWK.

Selama beberapa menit mereka berkendaraan menyusuri jalan-jalan Bali yang cenderung lebih sepi jika dibandingkan dengan Jakarta. Dalam hari Aira bersyukur, apa jadinya jika ia kembali bertemu dengan macet. Bisa-bisa niatnya untuk refreshing akan gagal total.

“Kiri, Kak!” Seru Dhini seperti menghentikan angkot. Tangannya menunjuk sebuah café di pinggir jalan. Sebuah papan menunjukkan bahwa café tersebut dilengkapi dengan hotspot. Logo Speedy terlihat jelas dibawah tulisan hotspot dan membuat Caca menepikan mobil.

Mereka masuk dan memilih duduk di dekat jendela agar view di luar café masih dapat mereka nikmati. Seorang pelayan café datang menanyakan pesanan makanan. Usai memesan makanan, Aira mulai sibuk dengan laptopnya. Seperti ABG kebanyakan, Aira yang juga penggila situs-situs pertemanan seperti Friendster, Hi5, Facebook, Twitter, Plurk, Tumblr dan lain-lain mulai bertingkah seperti cacing kepanasan.


Dia membuka account facebook miliknya dan memulai dengan mengganti status pada home miliknya. ‘Abis marathon di GWK buat gue laper!!!!’, begitulah bunyi status baru Aira. Agak berlebihan memang. Lebai, begitu ucap beberapa teman-temannya. Namun seperti itulah cara Aira berekspresi. Setelah merubah status facebooknya, Aira mulai mengecek notificationnya yang mendadak membludak karena sudah beberapa hari dia tak menjamah dunia mayanya.

“Pasti habis bikin status lebai ya, Kak?” Dhini mencibir melihat tingkah kakak sepupunya. Selama beberapa saat Aira telah terbius oleh pesona facebook.

“Nggak kok.” Aira mengelak sambil memeletkan lidahnya. Dihadapannya, kedua sepupunya juga tampak sibuk dengan BB mereka.

“Hahahaha… Nggak apanya? Lebai kali ke’, Kak!” Dhini tertawa membaca status baru Aira dari BB-nya. Disebelahnya Caca ikut tertawa membaca status baru Aira.

“Sekalian aja ke’ tulis, ‘Abis manjatin bukit kapur di GWK… Capek!!!’.” Caca ikut meledek Aira.

“Yeeee.. Ke’ juga pada suka lebai kalau bikin status.” Beberapa hari di Bali membuat logat ketiganya tak ubahnya dengan mereka yang telah lama tinggal di Bali.

“Itu biar eksis, Kak…” Dhini terkekeh.

“Tuh tau…” Aira tertawa. Dia mulai menjawab satu per satu notification yang masuk.

Dari sekian banyak situs pertemanan, facebook adalah favorit Aira. Terbukti dari jumlah teman Aira yang mencapat angka lebih dari seribu. Lewat facebook, selain mendapat banyak teman baru, Aira juga menemukan teman-teman lamanya. Mulai dari teman TK dan SD selama ia masih tinggal di Bali, sampai teman SMP dan SMA pun tumplek ruah di facebooknya. Di rumah pun setiap hari Aira tak pernah absen untuk online. Beruntung kedua orangtuanya memfasilitasinya dengan sebuah laptop dan Speedy. Asalkan nilai pelajaran Aira tidak jatuh, Aira mendapat kebebasan untuk mengakses berbagai informasi melalui Speedy yang memang terjamin memiliki koneksi yang cepat dalam mengakses informasi dan memiliki berbagai penawaran yang menggiurkan bagi pelanggannya. Dengan Speedy pula Aira terbiasa mencari referensi untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya.

Beberapa notification yang masuk mengomentari status ‘lebai’ Aira. Aira membacanya dengan senyum tersungging sampai sebuah ajakan chat membuat Aira terkejut.

‘Allo, Aira.. Ini Tania, temen SD kamu dulu… Masih inget gak?? Kamu lagi di Bali ya??? Ketemuan yuk!!!’

Aira tercenung sejenak memandangi foto Tania. Mereka memang baru berteman di facebook. Dia mencoba mengingat Tania. Tania adalah teman SD-nya. Sudah tujuh tahun mereka tak bertemu dan itu menggelitik hari Aira untuk menerima ajakan Tania.

‘Tania… Inget-inget! Iya, aku lagi di Bali nih!! Ketemuan?? Hayuk!!! Kapan??’

Chatting via facebook berlanjut, mereka pun membuat janji untuk bertemu di salah satu tempat di kota Denpasar.

“Makan, Ra.” Teguran Caca membuat Aira tersadar. Pesanan mereka telah datang. Aira menyingkirkan laptopnya dan mulai melahap ayam bakar bumbu Bali pesanan mereka.

***

Hari ini adalah hari terakhir Aira di Bali. Besok siang ia akan kembali ke Jakarta. Aira melirik jam tangannya sekilas lalu kembali berkonsentrasi menatap jalanan. Kali ini ia pergi sendirian. Setelah mengantar Caca dan Dhini ke sebuah pusat perbelanjaan, Aira pamit untuk memenuhi janjinya bertemu dengan Tania. Pelan, Aira membawa Avanza biru milik Eyang Soedibyo menyusuri jalan-jalan di kota Denpasar.

Setelah melewati SMANSA Denpasar dan pasar Kreneng, Aira membelokkan mobil menyusuri Jalan Kapten Japa. Meski telah lama tinggal di Jakarta, Aira tak pernah lupa jalan-jalan di kota kelahirannya.

Rupanya Aira menuju Lapangan Puputan Renon atau yang juga disebut Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Denpasar. Di lapangan yang terletak di depan Kantor Gubernur Kepala Daerah Propinsi Bali yang juga di depan Gedung DPRD Propinsi Bali Niti Mandala Renon terdapat Monumen Bajra Sandhi. Monumen ini merupakan Perjuangan Rakyat Bali untuk memberi hormat pada para pahlawan. Di sinilah Aira dan Tania berjanji untuk bertemu. Perlahan Aira turun dan menuju sebuah anak tangga yang terdekat dari pintu monumen.

“Lapangannya luas ya, Ra.” Aira terperangah mendengar sapaan yang terdengar dari belakang. Ia berbalik dan mendapati seorang gadis berkulit putih tersenyum kepadanya. Kaos pink dengan aksesoris senada membuat Aira ikut tersenyum. Pinky Girl, sebutan untuk sahabat kecilnya ini tak berubah. Tania masih mencintai warna girly itu.

“Yang di tengah ini monumennya. Di dalam monumen ini ada ruang informasi, ruang keperpustakaan, ruang pameran, ruang pertemuan, ruang administrasi, gedung dan toilet. Ada juga pajangan miniatur perjuangan rakyat Bali dari masa ke masa. Tempat ini digolongkan dalam jenis museum khusus. Pelestarian sejarah dan kebudayaannya benar-benar dijaga lho, Ra. Maka dari itu, kita sebagai generasi mudah jangan hanya tahu segala macam hal yang terdapat di luar negeri. Justru yang di dalam negeri dulu yang perlu digali. Jadi nggak ada lagi hasil kebudayaan kita yang diambil alih dan diakui negara lain.” Dengan penuh semangat Tania memberi penjelasan mengenai apa yang ia ketahui tentang tempat ini.

“Kita janjian ketemu bukan untuk buat kamu mendadak jadi tour guide gini kan, Tan?” Aira merespon penjelasan Tania dengan senyum geli. Setiap kali bersama Tania, ia selalu mendapatkan hal-hal baru yang menyenangkan dan mengenyangkan wawasannya. Selain Pinky Girl, Tania layak mendapat julukan Ensiklopedia Berjalan. Tania memang berbeda. Maka Aira tak heran saat Tania mengajaknya bertemu di lapangan Renon, bukan di mall seperti layaknya ABG lainnya.

“Itu bonusnya! Yang pasti, aku mau ketemu kamu! Kangen!!” Tania langsung berhambur ke pelukan Aira. Aira balas memeluk Tania sambil tertawa-tawa.
Satu jam mereka habiskan untuk berputar-putar mengelilingi monumen. Tak lupa mengobrol seru sambil menyantap es kelapa muda seperti layaknya jaman SD dulu. Karena hari semakin sore, Aira dan Tania berpisah. Mereka berjanji untuk saling bertukar kabar sesampainya Aira di Jakarta.

***

Siang ini Aira kembali berada di perut si Burung Besi. Belum ada satu jam meninggalkan Bali rasanya Aira sudah kembali merindukan kota kelahirannya. Merindukan keluarga besarnya. Kedua sepupu gilanya, Caca, Dhini juga Tania. Ia tak dapat memejamkan mata. Di sebelahnya, Randy telah tertidur dengan mulut menganga dan telinga tertutup earphone yang tersambung pada ipod-nya. Dalam hatinya Aira bersenandung. Sungguh indah di pulau Bali… Pulau Dewata, menawan hati… Sayang-sayang waktuku pulang teringat selalu di pulau ini… Begitulah sepenggal lirik lagu Tina Toon yang berjudul Pulau Bali. Seperti itu pula yang dirasakan Aira sekarang.
Rasanya Aira ingin segera sampai di rumah untuk menyalakan laptop lalu mengkoneksikannya dengan Speedy dan kembali berselancar di dunia maya. Speedy membuatnya bertemu dengan barbagai wajah di belahan bumi manapun. Speedy membantunya menemukan berbagai informasi dengan cepat dan akurat. Speedy memudahkannya bertukar kabar dengan keluarganya. Dan Speedy membuatnya menemukan sahabat-sahabat baru!

SPEEDY…
Speed that you can trust...

-Cerpen yang gue kirim di salah satu lomba nulis..-

Bentuk syukur yang tak mampu menggantikan nikmatNya

Pagi ini gue lihat dengan jelas salah satu potret buruk mungkin ini yang termasuk paling buruk dari yang terburuk di negara ini. Udah kayak lagunya Andra and the backbone. Lagi… Lagi… dan Lagi… Rasanya sedih banget!!!

Ngelihat bayi yang baru beberapa bulan -atau mungkin masih hitungan hari- menghirup napas dunia harus kembali ke pangkuanNya karena kemiskinan. Mungkin dulu gue juga hampir lewat alias koit yang nggak lain Englishnya tuh pass away tapi bukan karena kemiskinan. Nggak tau deh apa sebabnya, gue juga nggak mau tau pastinya kenapa. Tapi kata Bundaku tercinta and tersayang… Sebulan setelah gue dilahirin dan mencium aura setan di sekeliling, gue dirawat di rumah sakit dan langsung ditemani dokter, suster and nggak ketinggalan jarum infus. Itu kali’ yang sampai sekarang buat gue agak malay diajak ke rumah sakit atau ketemu dokter.

Masih di TV, gue ngelihat bocah berumur di bawah sepuluh tahun –tapi nggak kelihatan berusia sepuluh tahun- harus mengalami gizi buruk karena ketiadaan makanan dan obat di rumahnya. Badan tuh bocah kuruuuuuuusss…. Banget! Cuma tulang yang berbalut kulit. Mulutnya terus terbuka seperti huruf ‘O’. Gue perhatiin anatomi tubuhnya juga nggak berfungsi dengan semestinya. Menyedihkan...

Gue nangis -untung aja udah pagi buta dan orang rumah udah pada bobok. Nggak lucu aja kalau gue kegep nangis gara-gara nonton TV. Belum ada judul tuh! Dan ngelihat si anak itu hanya dikasih makan bubur putih yang enceeerr… banget! Plus air putih yang KATANYA sebagai pengganti susu. Orang tuanya nggak bisa beli susu atau memang si anak yang udah nggak bisa lagi mencerna makanan selain dua jenis makanan dan minuman yang tadi gue sebut. Gue nggak berani berspekulasi.

Sedih aja karena situasi yang gue lihat beda banget sama keadaan di rumah gue yang setiap hari makanan tersedia dengan lengkap. Mau pagi, siang sampai malam dan ketemu pagi lagi. Bundaku nggak akan pernah ngebiarin anak-anaknya kelaparan! Kata Bundaku kalau lapar kita nggak bisa mikir! Pantes aja Bundaku pinter wong Bundaku nggak pernah lapar. Hehehe…

Belum pernah sekalipun dalam hidup gue ngerasain hanya makan dengan bubur encer dan air putih. Kalau pun gue sakit paling nggak bubur yang dibuat untuk gue tuh kental dan nggak hanya bubur. Pasti ada aksesoris tambahan macam ayam suwir, daging pokoknya banyak, di permukaannya yang buat lidah gue yang pahit jadi berselera untuk menyantapnya meski hanya beberapa suap. Dan nggak lama tayangan berganti memperlihatkan seorang anak perempuan mungkin juga berumur kurang dari sepuluh tahun. Dia harus menderita saat perawat dan dokter berusaha membersihkan luka menganga yang terus mengucurkan darah dari tangan dan lengannya akibat gigitan anjing.

Dasar Anjing! Memang nggak ada makanan lain apa selain ngegigitin tangan??!! Sekali-sekali makan rumput kan cukup sehat dan nggak buat si Anjing menjemput maut terus mati! Bervitamin lagi! Anggap aja sayur. Majikannya juga nggak tau diri! Mau ngelepas anjing dari kandangnya atau memang sengaja dibuang! Gue nggak peduli yang pasti Anjing gila itu udah merugikan.

Pihak rumah sakit hanya memberi anak itu antiseptik tanpa suntikan anti rabies. Aduhh... Pasti sakit banget rasanya! Gue nggak kebayang. Gue lihat anak itu terus nangis dan ibunya duduk di sebelahnya berusaha menenangkan anak itu.

Kalau Bundaku yang jadi si ibu and gue jadi anaknya… Atau malah gue yang jadi si ibu and punya anak yang kegigit anjing… Gue yakin banget Bundaku bakal ngelakuin apa aja yang penting gue dapat suntikan rabies and nggak nangis lagi. Bodo’ amat dengan semua harga yang harus Bundaku bayar. Yang penting anaknya sembuh. Itu juga yang bakal gue lakuin. Yahhh… Gue sadar banget semua masalah mereka bermuara pada uang…

Karena orang tuanya nggak punya uang untuk membiayai pengobatannya.

Karena rumah sakit udah nggak peduli lagi dengan seonggok kartu askes.

Karena lebih dari satu triliyun pemerintah kita berhutang pada rumah sakit.

Masih banyak ‘karena’ yang lain dan membuat pihak rumah sakit tidak memberikan pelayanan yang maksimal. Pelayanan yang seharusnya layak pasien dapatkan dari suster dan dokternya. Sayangnya semua baru akan bergerak bila iming-iming uang sudah ada di tangannya. Kalau gitu dimana sumpah yang pernah diambil sebelum mereka memperoleh jubah putih dan stetoskop yang selalu menggantung di leher mereka. Gue nggak skeptis, gue percaya masih ada orang baik yang selalu bersedia menjadi perantara bagi sesamanya. Jumlahnya aja yang nggak sebanding dengan yang membutuhkan uluran tangan.

Ijinkan aku memberikan cintaMu lewat tanganku...

Hari gini siapa sih yang nggak tertarik sama uang, fulus, duit, doku, hepeng dan banyak istilah lainnya. Gue juga nggak bakal nolak kalau dikasih. Asal dengan cara yang halal. Nurani kadang tak terkendali.

Kemudian tayangan pun beralih pada satu situasi yang sudah tak asing lagi. Banjir yang lagi-lagi –LAGI- merendam banyak kota di negeri ini. Bibir pantai di Ancol semakin lama semakin pendek aja. Nggak lucu deh kalau beberapa tahun lagi Jakarta udah the end! Lama-lama kita harus belajar sama Belanda dengan dam-nya yang bisa survive di bawah laut. Ini membuat deretan PR pemerintah semakin bertambah panjang dan mungkin bisa buat kita nggak naik kelas lagi! Sampai kapan kita mau terus berada di posisi tiga berteman dengan negara-negara yang melarat alias miskin. Parahnya Indonesia nggak hanya miskin materi tapi juga miskin moral. Dan hebatnya! Nggak sedikit juga mereka yang miskin moral ini mulai nyari dan udah dapat kambing hitam untuk dipersalahkan atas semua yang terjadi saat ini. Gue nyaris bosen mengikuti semua gosip yang sangat benar itu. Yang mana wakil rakyat di ‘sono’ banyak yang ketahuan korupsi, selingkuh sampai in action dalam video mesum.

Apa kabar dunia?? Teteeep Kacau!!!

Belum lagi hal lain yang bakal ngabisin pagi gue ini –mungkin bahkan seluruh hidup- kalau yang gue lakuin membongkar segala kemirisan yang terjadi di Indonesia. Kapan ya Indonesia berubah dari negara berkembang –baca: melarat- menjadi negara adi kuasa bak Amerika Serikat. Hufff... Ngebayangin pun rasanya gue takut. Takut kecewa atas ekspektasi gue ini.

Separah itukah yang selama ini sempat terabaikan oleh hidup gue yang baru menginjak usia 19? Kemana aja gue selama ini??

Jawabannya tidur di kamar setelah begadang semalam ngantuk buat bikin novel emosional yang udah empat tahun ini nggak jadi-jadi karena banyak sebab bertema ‘Kepuasan Diri versi A-N-A’. -ANA tuh inisial gue-

Tiap dapat libur kuliah, dunia gue seolah terbalik. Tidur di waktu Subuh bangun udah Zuhur aja. Tidur pagi dan melek tengah malam. Selalu kayak gitu. Jadi anak kalong yang nggak sehat tapi tetap optimis berusaha!!

Mungkin gue udah sering denger berita kayak gitu tapi baru pagi ini gue bener-bener terhanyut dengan semua tayangan itu. Gue bisa sampai merinding dan empati –satu sikap yang jarang banget gue tunjukin di depan umum- tiba-tiba datang begitu dalam. Sangat menyentuh...

Kenapa harus mereka yang ikut menanggung kebopengan dari negara ini??

Tapi gue juga mencoba melihat dari sisi lain. Mungkin juga hukum alam yang harus mereka terima karena belum juga diintrospeksi. Who knows??!

Gue yakin di luar sana masih banyak cerita yang bisa mengoyak-oyak batin gue. Yang selama ini berusaha terus gue tutup mata dan kuping gue tiap kali Bundaku menceritakan topik berita yang telah ditontonnya. Malam eh pagi ini nggak sengaja dan kecolongan. Nggak sengaja ganti channel tipi pas lagi asyik-asyiknya nonton iklan yang memotong DVD The Ring Two yang iseng banget gue tonton sendirian. Ternyata buat banyak pelajaran dalam hidup gue. Paling nggak kecolongan berhasil buka mata dan kuping gue yang sempat ketutup. Itu bisa buat gue lebih bersyukur.

Bersyukur karena udah dikasih banyak warna dalam hidup gue. Selain Hitam dan Putih ternyata masih ada Abu-Abu. Warna terakhir adalah tempat gue bergerak bebas dan selalu jadi pegangan gue. Setiap orang nggak seputih dan sehitam yang elo kira kok. Kalau kulit lo hitam mah udah dari sononya kali’ ye... Kalau nggak salahin Bunda lo kenapa ngawinin Bokap yang hitam dan sebaliknya.
Just kidding... Semua harus disyukuri...

Bersyukur karena masih diijinin buka mata setiap harinya.

Bersyukur karena oksigen yang gue hirup tiap hari nggak perlu bayar dan nyampah CO2 juga nggak pakai pajak kayak kendaraan dan rumah. Not for sale!

Bersyukur karena Tuhan masih ngasih kepercayaan sama gue untuk memecahkan banyak masalah. Mau penting atau nggak, gue nggak peduli. Pastinya buat gue terus introspeksi.

Bersyukur karena masih punya orang tua yang lengkap.

Bersyukur karena masih punya dua pasang Eyang Kakung dan Eyang Uti yang sayang sama gue, punya tante-oom dan sepupu-sepupu yang kompak banget kalau disuruh bikin rusuh. Bersyukur karena masih memiliki keluarga besar yang… Gue nggak punya kata-kata yang menakjubkan dan pantas untuk menggambarkan betapa bersyukurnya gue dilahirkan ke dunia tanpa cacat fisik.

Bersyukur karena masih dikelilingi keluarga yang solid biarpun kadang menjengkolkan. Nggak ada yang lebih menjengkolkan dan membahagiakan selain berada di dalam rumah lo sendiri. Percaya sama gue…

Bersyukur karena masih bisa makan sehari tiga kali walaupun yang lebih sering gue lakuin sih makan sehari sekali.

Bersyukur karena masih bisa tidur berselimut di kasur yang empuk di dalam rumah yang sampai saat ini belum pernah terendam banjir. Seumur hidup gue belum tau rasanya kena banjir tapi nyicipin akibatnya sih sering. Semoga Tuhan yang Maha Esa selalu berbaik hati dan menghindarkan gue dari banjir sampai ku menutup mata… Alasan tersimpel dan nggak neko-neko, gue nggak bisa berenang dan gue nggak mau mati tenggelam.

Bersyukur karena masih bisa ngerasain nikmatnya ngopi dan ngunyah bubble gum rasa mint sambil ngetik di depan laptop sampai pagi.

Bersyukur karena masih dibiarkan untuk berfantasi setiap detiknya. Gue akan coba mewujudkan semua fantasi gue berkali-kali lebih besar daripada DuFan yang udah beranak seribu kali lipat!

Bersyukur karena masih ada banyak manusia sehat lahir batin yang mau jadi teman sekaligus SxHxBxT makhluk lemot, kritis, narsis, childish, skeptis, kontroversial, dingin, egois, nyebelin, namun ngangenin and nggak akan pernah terlupakan kayak gue. Nidji buat lagu ‘Jangan Lupakan’ untuk semua makhluk yang nggak pernah mau dilupain. Buat mereka yang selalu nulis ‘Don’t Forget Me!’ di buku tahunan atau seragam sekolah temannya sesaat setelah Depdiknas mengumumkan kelulusan. Yup! Dilupain itu merupakan satu fase yang sangat menyebalkan. Jangan sampai deh menimpa gue karena gue juga berusaha keras untuk tidak melupakan.

Bersyukur karena masih dikasih kesempatan untuk merasakan sedikit kebanggaan melihat nama gue masuk koran dan mendapat ‘kursi panas’ di salah satu universitas negeri beberapa tahun lalu. Bersyukur karena dapat jurusan yang sesuai dengan minat gue.
Bersyukur karena masih bisa bolak-balik ke kampus dengan selamat meski sempat mengalami kehilangan ponsel yang buat masyarakat mungkin udah biasa aja. Buat gue nggak!!!

Bersyukur karena nilai-nilai UAS gue lumayan buat gue terhindar dari bisikan Bundaku meski belum sampai target yang gue harapkan.

Bersyukur karena masih diberi mata untuk melihat banyak ketegaran yang sangat memuakkan dan telinga untuk melewati masa yang penuh konflik gila ini.
Wow!! Kita harus bisa mendekorasi ulang Bunda Pertiwi. Bukan dengan sekedar doa namun juga analisa dan perbuatan nyata.

Bersyukur… Bersyukur… Dan Bersyukur… Atas banyak hal yang udah Tuhan kasih sama gue yang nggak bisa gue sebutin satu per satu. Gile aja lo kalau gue tulis satu per satu di sini, yang ada isinya bikin gue males buat baca ulang saking begitu Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Sang Pencipta.

Gue nggak mau sok idealis di sini karena semua idealisme gue nggak akan bisa terwujud hanya dengan ngeluh dan mengumbar banyak janji surga yang mungkin sangat berpeluang untuk buatin tiket emas untuk gue untuk semakin berlama-lama di neraka. Nanti… Gue nggak mau ada tayangan memalukan yang akan semua orang lihat nanti waktu perhitungan akan catatan malaikat.

Untuk semua makhluk hidup yang udah lulus kejar paket A, B dan C -yang bukan makhluk hidup gue harap nggak ikutan- yang mungkin bakal ketawa geli atau bahkan ngakak dan juga nggak menutup kemungkinan buat lo semua terpesona dengan segala uraian gue. Gue harap ada manfaatnya karena gue nggak belajar untuk lebai dan bukan omong kosong!
Itu yang bener-bener gue rasain pas nonton berita di salah satu stasiun televisi swasta dinihari ini. Itu yang gue rasain saat lagi-lagi ngelihat ketidakadilan merajalela dan tertawa gembira. Saat airmata kembali tertumpah tanpa sempat tertahan dan terjelaskan. Itu yang gue rasain sampai buat gue rela nggak bobok hanya untuk ber- Queen Drama kayak gini.

Cukup! Ini saatnya kita bergerak.
Berusaha keras merubah dunia… Di mulai dari diri kita sendiri…
It’s Me!!
Yang lagi kesambet jin ifrit karena kebanyakan begadang. Hehehe…