Saturday, July 11, 2009

Matahari... Bumi... Bulan...

Terjaga ku di sisi hantui mimpi-mimpi sepiku tentangmu
Walau tlah habis waktu ku coba tuk tutupi hatiku lukaku
Kau terlalu dalam mengisi jiwaku kini
Kau tak terjamah dan kini ku bertanya
Salahkah ku tunggu dalam waktuku
Salahkah ku berlari untuk dirimu
Salahkah ku jadikan keindahanmu
Mengisi ruang di hatiku
Selamanya…
Ku coba tuk berdiri hapuskan ketakutan harapku untukmu
Langkahku tak berhanti menunggu satu arti darimu untukku
Kau terlalu dalam mengisi jiwaku kini
Kau tak terjamah dan kini ku bertanya
Salahkah ku tunggu dalam waktuku
Salahkah ku berlari untuk dirimu
Salahkah ku jadikan keindahanmu
Alasan tuk teriakkan…
Alasan tuk teriakkan…
Alasan tuk teriakkan…
Rindu… Rindu… Rindu… Kamu!
(aisH-Salahkah)

Tiga nama…
Entah sejak kapan ketiganya begitu indah terukir di sini
Tak berbanding…
Membuat khayalku menunduk tanpa asa dalam kilau mimpiku
Hingga lirik itu tak dapat menyebutkan siapa yang sebenarnya yang begitu mengharu biru
Matahariku… Bumiku… ataukah Bulanku?

Dia adalah cahayaku
Matahariku dalam kejaran waktu yang berlalu tak menentu
Yang selalu memaksaku untuk menentangnya dalam sisa pergolakan batinku
Tak disadari begitu panas dan membakar seluruh pori-poriku
Aku tak pernah berharap mengharapnya lebih
Tidak kemarin, sekarang atau esok
Yang ku tahu hanya menentangnya
Berseberangan dengannya
Yang memiliki ego yang berlawanan dengan egoku
Menjadi pemenang dalam setiap lelah dunia bersamanya
Dengan sikap, tutur dan emosi yang begitu rupa
Namun saat batasan itu bergejolak
Mengapa semua kini berubah?
Panasnya tak lagi kurasakan
Ku coba menyalakannya dengan pematikku namun tak juga dia bergeming
Ku paksa menghakimi dalam caci namun dia hanya diam
Auranya kini tenang
Tak bergejolak
Begitu menenangkan..
Dan itu membuatku tercengang…

Dia adalah Gaia
Pemilik utopia terindah dalam hidupku
Yang hingga kini belum terganti meski begitu banyak manusia mengilhami
Kusakiti dia dalam permainan hatiku namun dia tak juga melangkah mundur
Dengan pasti, dia menggenggam hatiku
Membuatku luluh dalam kekakuan egoku
Merengkuh dawai imajiku untuk tak bergerak menoleh ke arah lain
Dia… Bumi yang begitu nyaman melindungiku
Menjadi atap di bawah sengatan matahari
Menjagaku dari keinginan semesta yang menyakitiku
Dia yang memelukku tanpa janji namun penuh emosi
Aku menyayanginya dalam kurun waktu tak tentu
Tanpa syarat dan tak berbatas
Sampai akhirnya dia melepaskan genggamannya
Pelan namun melukaiku cukup dalam
Tapi aku tak menyalahkannya
Aku hanya ingin dia dapat tetap berdiri dalam dunianya
Dalam segenap emosi yang entah mengapa belum saatnya untuk mati
Semua masih menyala begitu indah…
Di sini…

Dia adalah satelitku
Titaniumku yang melebur dalam batas kewajaran akalku
Yang beredar mengelilingku dalam waktu yang begitu singkat
Pelan namun pasti mengoyak sisi kesetiaanku
Dalam kebimbanganku dia begitu menguatkan
Lelah.. Namun ku coba tetap bertahan
Dia yang membuat semuanya menjadi begitu abstrak
Tak berawal juga tak berakhir
Jujur.. Ingin ku gapai dia dengan tanganku
Sekali lagi…
Dalam bulir-bulir rasa yang sejak dulu tertahan karena etika
Merengkuhnya dalam dunia nyata yang dulu begitu dekat namun tak dapat ku dekap
Yang begitu kuat melekat hingga sempat menyisakan penyesalan tak terucap
Hangat… Setiap kali namanya terlisankan dalam hatiku
Entah apa yang terpikir olehnya
Aku hanya ingin dia mengerti
Semua yang telah berlalu seolah imaji tak terberi
Aku tak memintanya untuk kembali
Hanya ingin memintanya untuk tak membenci
Karena aku tak pernah menyalahi apa yang pernah terjadi
Tidak dengannya…
Karena apa yang menyangkut padanya
Masih menjadi teka-teki

Berlalu… Berlalu…
Berlalu sudah detik yang mengharu biru
Sampai kini aku belum dapat menghapus salah satunya
Tidak pula kuhimpit dengan sebuah nama baru
Hufff..
Ingin rasanya kuhapus semua itu dan menggantinya dengan sebuah nama bagi rusukku
Tidak tahukah mereka bahwa semua ini begitu menekanku?
Memabukkanku dalam angan yang memuakkan
Yang begitu ingin kulupakan dengan berjuta kesibukan tak berbatas
Karena kini aku mulai lelah
Aku lelah terus berjibaku dengan nuraniku
Aku lelah terus berdiri dalam kediamanku
Aku lelah terus berlari mengalahkan egoku
Aku hanya ingin sebuah tempat bersandar
Untuk berhenti dari semua ketidakpastian ini
Tidak dengan matahariku… Bumiku… atau Bulanku…
Tapi dengan kamu…
Chakra baru yang nanti jadi milikku…

No comments: